catatan kecil imam isnaini

Catatanku

Blog Entry[cerpen] Teman Sang GagakJun 28, '08 2:50 AM
for everyone

Aku duduk, termenung, mempertanyakan benarkah Dia selalu mencipta tanpa kesia-siaan? Benarkah semua terlahir karena suatu tugas tertentu? Punya maksud dan punya cita-cita? Kalau memang benar, lalu apa tugasku? untuk apa aku terlahir? Dan masihkah aku bisa bercita-cita? Sedangkan aku hanyalah seekor burung dengan sayap yang patah sebelah. Hidup sendiri tanpa teman. Burung gagak sepertiku yang bersayap lengkap pun hanya pembawa berita buruk, terbang berkeliling menyiarkan kematian.

Untuk sebuah cinta? Ah itu hanya bualan penyair yang mabuk kepayang. Aku menjadi seperti ini karena aku percaya bualannya. Katanya, cinta itu membawa hidup lebih bermakna. Saking percayanya aku bertaruh nyawa, berbaku hantam dengan si elang yang kurang ajar menggoda dan merayunya. Oh kekasihku dimanakah sekarang kamu berada?.

Menyesal juga rasanya, mengapa kugunakan sayap sebelah ini untuk menangkis serangannya. Lebih baik kuserahkan saja kepalaku pada cakarnya. Atau kuberikan leher ini biar dipatuknya sampai putus. Ah, seandainya kemarin aku mati.

Dulu, bila aku boleh memilih, ingin rasanya menjadi manusia. Meski ada kemungkinan menjadi mahklukNya yang paling hina, tetapi, bagaimanapun mereka masih punya harapan menjadi mahkluk yang paling tinggi dan bahagia di surga nanti. Mahkluk sepertiku ini tidak ada tempat di akhirat. Satu-satunya surga untukku hanyalah kesenangan di dunia ini. Ah, bodohnya mereka yang tidak berharap, yang tertipu dan terseret kesenangan semu.

"Dasar mahkluk yang selalu mengeluh."

Busyet, siapa yang bersuara itu. Sekelilingku hanya sepi. Tidak mungkin ada yang lain, selain diriku.

"Hei, turunlah dari punggungku."

Seketika aku melompat dari batu tempat dudukku. Benarkah batu ini yang berbicara? Perlahan aku mendekat kembali.

"Ya benar, ini aku."

"Bukankah engkau batu, mengapa bisa bicara?"

"Bener-benar mahkluk yang tak berguna, sudah pandai mengeluh, dungu lagi. Itulah akibatnya kalau kau selalu memikirkan kepentinganmu sendiri dan abai pada lingkungan sekitarmu."

"Maksudmu"

"Cobalah perhatikan semua yang ada di sekelilingmu, pohon-pohon, rumput, air, awan, gunung, bukit, semuanya bisa bicara. Terkadang mereka malah berteriak-teriak mengingatkan siapa saja yang ceroboh. Hanya saja banyak yang tidak mendengar. Yang tidak menggunakan hatinya untuk mendengar. Sebenarnya isyarat-isyarat dari mereka sangat jelas, jika orang-orang itu tidak hanya menggunakan mata yang dikepala, tetapi juga mata yang di dalam dadanya. Coba berputarlah, lihatlah mereka!"

Aku kembali memandang sekelilingku, menggunakan semua indra sesuai sarannya. Aku sangat terkejut. Semuanya menatap kearahku. Pohon-pohon melambaikan daunnya memberi salam. Angin bergerak memeluk tubuhku. Bahkan gunung dan bukit pun seolah berbicara dengan lekuk-lekuk kontur dan tonjolan bebatuan yang membentuknya.

Sejak saat itu, semuanya menjadi temanku, sahabatku. Setiap kali aku berjalan, menyusuri setapak masuk ke hutan, selalu saja bertemu mereka. Bebatuan, pohon, air, angin, gunung dan bukit menyambutku. Kadang bercanda dan tertawa, tetapi yang lebih sering mereka mencurahkan suara hatinya. Mereka sedih, mengapa mereka diperlakukan semena-mena tanpa sedikitpun berfikir bahwa mereka pun sebenarnya juga mahkluk ciptaanNya yang butuh perlindungan dan kasih sayang.

Sejak saat itu pula hidupku berubah, dari kesia-siaan menjadi penuh makna. Aku sudah melupakan bahwa aku ini seekor burung gagak yang patah sebelah sayapnya. Kini, hidup bagiku adalah sebuah pertemanan, saling membutuhkan dan kasih sayang. Inilah surgaku.

"Bukan!" kata batu tempatku berbaring.

"Mengapa bukan?"

"Percayalah padaku, ini bukan surgamu. Berjalanlah sana ke punggung bukit. Naiklah sampai keatasnya, di tepi jurangnya. Kamu akan menemukan dimana sebenarnya surgamu."

Aku menuruti sarannya. Aku melihat kearah bukit, ia memanggil-manggilku. Perlahan, dengan kebingunguan yang sangat aku melangkah setapak demi setapak naik sampai jurang yang ditunjuk batu itu.

"Terjunlah" kata bukit yang berjurang.

"Terjun, bagaimana aku bisa terjun. Aku sudah tidak bisa terbang lagi."

"Percayalah."

"Tapi."

"Yakinlah."

Ya, benar, yakin. Aku menjadi tahu bahwa yakin itu berbeda dengan percaya. Percaya itu dengan kepala, sedangkan yakin dengan hati. Mukjizat seorang nabi yang tidak masuk dikepala bisa tidak dipercayai, tetapi kalau melihatnya dengan hati bisa menjadi keyakinan, apa sih yang tidak bisa bagi Sang Pembuat Kejadian. Dengan keyakinan itulah aku melakukannya.

Aku melayang dari ketinggian sambil memejamkan mata. Buat apa melihat ke bawah sana, tempat yang akan membuatku remuk. Tidak hanya itu, aku menutup telinga dan memutus syaraf perasa, sehingga seolah aku mati duluan sebelum terbentur tanah. Aku tersadar kembali ketika sesuatu menahan tubuhkan sehingga tidak remuk membentur tanah. Aku tersangkut jaring perangkap burung. Apakah ini pertanda baik?

Di bawah, orang ramai bersorak-sorak. Jaring diturunkan. Salah satu dari mereka menangkapku. Kemudian menciumku, mengelus-elus lalu mengangkatku keatas. Orang-orang bersorak semakin keras. Aku dibawa beramai-ramai, beriringan sambil menyanyikan lagu kemenangan, lagu kebanggaan prajurit yang kembali dari medan perang membawa kemenangan. Ternyata memang benar, mereka para prajurit kerajaan. Orang-orang menyambut iring-iringan dengan sorakan yang tak kalah ramai.

Sampailah kami di depan istana yang megah. Penjaga dengan segera membuka pintunya. Semua berhenti, hanya dua orang saja yang membawaku masuk dan bertemu seorang perempuan yang sangat cantik, bergaun putih yang melambai. Sepertinya ia seorang permaisuri. Lagu kemenangan masih ramai terdengar diluar. Permaisuri itu menerimaku dengan senyumnya yang manis. Lesung di kedua pipinya menambah keanggunan wajahnya. Dengan sedikit berlari ia membawaku masuk ke dalam sebuah kamar.

"Paduka, ini yang dicari sudah kita dapatkan, semoga paduka berbahagia."

Permaisuri kemudian mengelus-elusku, merapikan bulu-buluku, mendekapku di dadanya yang hangat. Terbayang apa yang akan terjadi. Aku menjadi burung peliharaan seorang raja. Menjadi maskot kerajaan yang dipuja dan dihormati. Dilayani bak seorang pangeran calon penerus tahta. Mungkin inilah yang disebut-sebut teman-teman di hutan sebagai surgaku yang sebenarnya. Aku berucap syukur, "Tuhan, terima kasih. Kau tempatkan aku di tempat yang semulia ini."

Pesta diadakan. Tujuh hari tujuh malam. Di malam yang terakhir aku didandani. Kain sutera putih dibelitkan melingkar di leher menjuntai sampai ke ekorku. Kembali, aku dibawa ke kamar. Kali ini kelambu penutup tempat tidur dibuka. Tampaklah seseorang berbaring lemah diatas ranjang. Wajahnya pucat, matanya terpejam, tubuhnya lemas seperti kain basah terbujur. Tapi masih terlihat bekas-bekas kekekarannya. Meski pucat, ia tampak sangat tampan dan berwibawa. Ialah sang raja.

Saat tengah malam, keramaian pesta berhenti. Orang-orang yang berkumpul dialun-alun duduk bersimpuh mengelilingi panggung di tengah-tengahnya. Suasana hening dan hikmat. Permaisuri menyerahkanku pada seorang tua berkumis dan berjambang putih panjang, serasi dengan jubah dan ikat kepalanya. Dibawanya aku naik keatas panggung, lalu aku dibaringkan diatas sebuah papan kayu. Tidak lama kemudian, tangan kanannya diangkat keatas. Salah satu punggawa kerajaan berlari mendekat. Astaga, ia menyerahkan pisau. Seketika tubuhku gemetar, jantungku berdetak keras. Bayangan kesenangan berubah menjadi ketakutan. Orang tua itu berkomat-kamit, kemudian mengayunkan pisau ke arahku. Tamatlah riwayatku.

Di suatu pagi yang cerah, aku duduk diatas singgasana, dihadapan para punggawa. Aku memang sudah mati, tetapi jiwaku masih hidup, menyatu dengan jiwa sang raja. Ternyata saat itu raja sedang sakit parah. Seorang bijak mengatakan, raja akan sembuh jika memakan daging burung gagak yang patah sebelah sayapnya. Semua orang bingung, bagaimana mendapatkan obat bagi rajanya. Burung yang patah sayapnya tidak mungkin bisa terbang sangat sulit mencarinya kalau tidak menemukan sarangnya. Dimanakah sarang burung gagak?

Raja itu seorang yang bijaksana, sangat dipuja rakyatnya karena bisa mengusahakan kemakmuran bagi mereka. Semua petuahnya mendatangkan manfaat, termasuk petuah yang menganjurkan untuk baik-baik pada lingkungan. Pada alam yang menjadi gantungan hidup bagi semua. Tak heran jika seluruh wilayah kerajaan adalah tempat yang asri, indah dan nyaman. Peraturan dibuat agar semua rakyat tidak semena-mena memanfaatkan pohon, air dan batuan. Bahkan bercocok tanam pun diatur agar tidak membuat kerusakan lingkungan.

Tentu, semua rakyat bersedih karena sakitnya. Berbulan-bulan mereka mencari gagak yang patah sayapnya. Sampai pada puncak keputusasaan, mereka menaruh begitu saja jaring di bawah tebing bukit, tanpa berharap mendapatkan burung yang dimaksud. Beberapa kali ada burung yang tersangkut, tapi jelas bukan burung yang patah sayapnya karena jaring itu perangkap bagi burung yang bisa terbang. Sampai mukjizat itu terjadi, aku tersangkut jaring. Pantas saja mereka bersorak girang saat melihat sayapku.

Kini, aku mendapat teman yang baru. Jiwa raja yang bijak, jiwa yang hidup karena hatinya yang selalu mendengar dan melihat. Ketika bersamanya aku berkeliling menyusuri seluruh wilayah kerajaan, kami sampai di hutan, tempat teman-temanku dulu berada. Kami duduk diatas batu, kemudian batu itu berbicara, "berbahagialah kalian, karena pertemanan sejati adalah penyatuan jiwa."

 

Pada tengah malam yang sunyi, Sukabumi 2008


Blog EntrySang "Financial Freedom" yang KesepianJun 15, '08 12:28 AM
for everyone
[catatan sebelumnya] Di kota yang baru, saya bertemu lagi seorang bapak yang juga kesepian. Bapak yang satu ini sangat tau dunia internet dan teknologi informasi yang lain. Ia mahir juga melakukan kofigurasi ulang PC yang ia punyai, memperbaiki hard disk yang badsector dan lain-lain. Mendengar ceritanya, saya teringat teman saya yang sering memperbaiki komputer di kantor. Saya tidak tahu persis apa latar belakang pendidikannya, dan saya tidak peduli tentang itu.

Boleh dibilang ia tidak bekerja, alias menganggur. Tapi jangan salah, meski sebagian besar waktunya dihabiskan nongkrong di rumah, ia punya penghasilan dari uang sewa kamar kost yang ia punyai. Saya kira penghasilan dari sewa kost itu cukup besar, ia punya lebih dari dua puluh kamar kost. Selain itu, setiap bulan ia mendapat kiriman dari hasil bisnis keluarganya, mungkin ia punya saham disitu. Saya ingat jargon yang banyak disebut teman-teman MLM, "Financial Fredom". Ya, ia sudah mencapai tahap itu. Bukan lagi ia bekerja untuk mencari uang, tetapi uanglah yang bekerja untuknya.

Saya bisa mengatakan seperti itu karena dengan penghasilannya tiap bulan, ia dapat mencukupi kebutuhan keluarganya, bahkan bisa lebih. Ia juga mampu membiayai ketiga anaknya bersekolah, bahkan anaknya yang pertama sudah kuliah di Bogor.

Saat pertama kali saya datang ke rumahnya, saya tertarik dengan desannya. Penataan pekarangan dan ruang-ruang di dalam rumah sangat bagus. Ada beberapa sisi temboknya yang sengaja dibiarkan terbuka dengan susunan batu bata merah yang terlihat jelas. Saat saya bertanya mengapa tidak seluruh tembok dibikin seperti itu, ia menjawab, "terlalu ekstrim mas." Kelihatan kalau dia tahu banyak desain rumah.

Lalu apa yang membuatnya kesepian?

Seluruh anggota keluarganya tidak ada yang tertarik apalagi berminat di bidang teknologi informasi dan komputer. Ketiga anaknya perempuan, dan kesemuanya tidak ada yang menurun bakat ayahnya. Yang paling kecil sukanya musik. Sayangnya juga ia tidak pandai bergaul dengan tetangga-tetangga sekitar rumahnya. Jadi setiap hari ia hanya mondar-mandir di sekeliling rumahnya. Sudah banyak hobi yang coba ditekuninya, mulai bertaman, memelihara burung dan ikan. Terakhir ia suka memelihara kucing.

Kalau tidak ada yang dikerjakan sukanya nongkrong di teras rumah atau di serambi belakang di depan kamar kost saya. Nah kalau sudah begitu, istrinya harus menyediakan kopi dan rokok. Jangan sampai istrinya telat bikinin kopi atau kehabisan rokok, ia bakal marah besar. Ada istilah kopi yang membuat saya tertawa geli, ada kopi jam enam, jam sepuluh, jam dua belas sampai jam sembilan malam. Jam setengah sepuluh ganti teh manis, setelah itu ada kopi jam sepuluh dan yang terakhir kopi jam dua belas malam.

Biar nggak mikir yang enggak-enggak harus ada yang menemaninya ngobrol. Ini yang membuat istrinya kelimpungan, juga ketiga anaknya. Sebuah kemalangan besar kalau mendapat giliran menemaninya. Selain omongannya tidak nyambung juga tidak betah berlama-lama duduk tanpa mengerjakan apa-apa. Nah kalau sudah begitu, istrinya mencari korban baru. Siapa lagi kalau bukan anak kost. Teman saya satu kamar yang sering menjadi korban.

Suatu saat teman saya sedang malas, sayalah yang diperkenalkan kepada istrinya dan kemudian ia sendiri. Semula saya asyik-asyik saja ngobrol bersamanya, wajar saja kalau anak kost ingin kenal dengan bapak kostnya. Pada saat diajak ngobrol tentang internet, saya bisa nyambung sedikit, ia kelihatan senang sekali. Apalagi saat saya keceplos ngomong tentang blog, ia seperti orang yang baru bangun tidur. Rupanya ia sedang belajar membuat blog. Bergembiralah teman saya karena istrinya ganti mencari-cari saya, bukan dia.

Dua minggu terakhir ini lebih parah. Ia senang sepak bola dan ia tahu kalau saya juga senang. Ia sering mengajak saya nonton bersama di rumahnya. Hampir tiap malam saya begadang. Ada untungnya sih, saya tidak perlu mencari pos satpam atau warung kopi untuk nonton bola. Camilan dan kopi juga tersedia, istrinya sangat rajin menyediakan hidangan itu.

Tapi merepotkan istrinya juga kalau setiap malam begitu, sungkan juga rasanya. Saya berembuk dengan teman saya untuk membuat rencana menghindar. Kebetulan pas malam jum'at ada teman yang menawari kami nonton di rumahnya. Kami bilang ke istrinya, "Bu, ini malam jum'at kan, saya tidak mau mengganggu ibu dan bapak, kan kalau malam jum'at sunnah. Malam ini kami mau nginap di rumah teman, ini kunci kamar saya titipkan ke ibu. Siapa tahu ibu dan bapak butuh suasana lain, boleh kok pakai kamar kami." Istrinya melotot tapi sambil senyum-senyum. Kami tertawa sambil kabur.

Blog EntryBapak-bapak Yang KesepianJun 13, '08 9:32 AM
for everyone
Orang yang kesepian sering menunjukkan perilaku yang aneh-aneh. Misalnya, orang dewasa yang kesepian bisa bersifat kekanak-kanakan. Sebaliknya anak-anak yang kesepian bertindak layaknya orang dewasa, seperti merokok. Meskipun tidak semua anak yang merokok itu karena kesepian. Atau seperti lirik nakal lagu Iwan Fals berikut :

Tante tante yang kesepian
Bertingkah seperti perawan
Berlomba lomba mencari pasangan
..............

Saya bertemu dengan dua orang bapak. Keduanya mengalami masalah yang sama, yaitu sama-sama menderita kesepian. Bapak yang pertama menangis saat ngobrol dengan saya. Tangisannya mirip seperti anak kecil yang menangis sambil mengadu ke ibunya bahwa mainannya dirusak temannya. Bukan untuk mengejek, tetapi memang benar begitu kenyataannya.

Saya tahu kalau ia sangat kesepian setelah lama ngobrol dengannya. Ia butuh teman untuk mendengar keluhannya. Dan secara tidak sadar ia mengakuinya. Temen ngobrol sangat langka baginya. Orang-orang di kampungnya menganggap ia ketinggian omong karena banyak omongannya yang orang tidak bisa mengerti. Bahkan Pak Lurah pun ogah menampung ide-idenya.

Di rumah, tidak ada yang menganggapnya, termasuk istri dan anak-anaknya. Mereka masih tinggal satu rumah dengan mertuanya (keluarga dari istri). Bukan karena kurang mampu, tapi karena istrinya enggan untuk berumah tangga sendiri. Mertuanya pun enggan untuk berpisah dengan anaknya. Jadilah satu rumah dua keluarga.

Karena ada dua kepala keluarga dalam satu rumah, terjadilah dualisme nilai. Di satu sisi ia ingin menerapkan nilai-nilai yang dianggapnya bagus, sedangkan di sisi yang lain mertuanya menolak nilai itu dan mempunyai nilai sendiri. Misalnya, ia ingin anaknya mengurangi menonton televisi dan lebih banyak menggunakan waktunya untuk belajar. Tetapi ketika ia mencoba menerapkannya dan dengan tegas melarang anaknya menonton televisi di jam-jam belajar, mertuanya malah melindungi cucunya itu. Tentu, bagi anak akan memilih apa yang sesuai dengan kesenangannya. Lama-kelamaan ia merasa menjadi penghuni asing di rumah itu.

Kami mengobrol sampai berjam-jam. Ia sangat bersemangat sekali, seperti menemukan mata air di tengah padang gurun yang kering. Saking semangatnya, sulit bagi saya untuk mencari celah mengakhirinya, bukan apa-apa, saya harus kerja.

Salah satu yang menjadi obrolan kami adalah keinginannya untuk membangun pusat informasi bagi petani di desanya. Ia mempunyai rumah di tempat lain yang tidak ditempati. Di rumah itu ingin dipasangi komputer dengan akses internetnya. Tetapi bagaimana caranya dan berapa biayanya ia masih belum jelas. Selama ini tidak ada yang bisa diajaknya ngobrol. Kebetulan sekali saya baru mendapat penjelasan singkat tentang internet. Dari sedikit yang saya ketahui itu, saya menularkan kepadanya. Tentu yang sedikit sangat berharga bagi orang yang tidak sama sekali.

"Petani-petani itu butuh informasi mas" katanya, "informasi tentang cara bercocok tanam, cara memperoleh bibit yang unggul, bagaimana menghasilkan padi yang berkualitas dan sebagainya. Di internet kan banyak informasi tentang itu, bener nggak mas?"

Iya juga ingin rumahnya itu bisa menjadi tempat belajar. Salah satu ruangannya ingin dijadikan perpustakaan. Banyak anak-anak putus sekolah di situ, mereka bisa belajar gratis dari buku-buku dan akses yang disediakannya. Ia mengatakan, "mereka perlu kesempatan mas. Bukan tidak mungkin, jika ada kesempatan, mereka bisa mencapai cita-citanya."

Saya membenarkan dengan bercerita tentang kisah Laskar Pelangi, novel karya Andrea Hirata itu. Ia sangat tertarik dan ingin membacanya.

"Anak Bapak suka membaca juga?"

"Iya mas."

"Novel ini bisa juga menggugah kesadaran anak untuk semangat belajar Pak. Kalau anak Bapak sempat membacanya bisa jadi ia akan berubah. Tanpa disuruh dan diatur ia akan belajar sendiri." Ia semakin tidak sabar ingin membacanya.

Akhirnya saya punya alasan untuk mengakhiri obrolan kami. Sebelum pergi, ia sempat nitip untuk dibelikan Laskar Pelangi.

Setelah obrolan di pagi itu saya tidak bertemu dengannya lagi. Dua hari kemudian saya harus meninggalkan kotanya. Tapi sebelum hari itu, saya menyempatkan diri ke toko buku, membeli Laskar Pelangi untuk saya berikan kepadanya.

Bersambung ya......


Blog EntryPakaianJun 2, '08 9:48 PM
for everyone
Saya paling tidak suka menunggu tanpa melakukan aktifitas apa-apa. Makanya di dalam tas saya, selalu ada majalah atau buku bacaan. Jika kebetulan lupa membawanya, saya membeli koran. Nah suatu siang saya menunggu waktu tiba pukul satu untuk bertemu seseorang di kantornya. Sengaja, saya datang sebelum jam 12 dan menyempatkan shalat dzuhur di masjid dekat kantornya. Masih ada waktu sekitar 30 menit, saya duduk di serambi dan mengeluarkan buku bacaan.

Belum sempat saya membacanya, tiba-tiba seseorang di samping saya menyapa, "mas, boleh lihat judulnya?" Judul buku yang saya pegang dibacanya, "Menerobos Kegelapan".

Tampaknya ia berusaha memahami buku macam apa yang sedang ia lihat. Saya tersenyum ketika ia menebak buku ini semacam buku motivasi seperti buku motivasi kerja dan lain-lain. Karena masih tampak bingung, saya mengatakan bahwa buku ini biografi Karen Amstrong, mantan biarawati dan seorang yang percaya Tuhan tetapi tidak beragama. Ia tersenyum dan manggut-manggut.

Sebentar kemudian, kami ngobrol setengah diskusi. Ia bilang, "orang seperti itu banyak mas, banyak yang mengakui Islam itu baik, Kristen itu baik, tetapi tidak pernah masuk salah satunya. Tidak benar-benar menjalankan ajarannya. Orang seperti itu seperti orang yang belum pakai celana kemudian pergi ke toko, memilih-milih celana yang mau dibelinya. Karena semuanya bagus, ia bingung memilih yang mana, akhirnya tidak jadi beli."

Ia menambahkan, "menurut orang Betawi, agama itu ageman, pakaian". Saya mengerti apa yang ia maksud, dalam bahasa Jawa, ageman juga sama dengan pakaian. Agama itu mempunyai fungsi sebagaimana pakaian yang bisa meninggikan derajat manusia. Orang yang tidak beragama, sama seperti orang tidak berpakaian. "Mengerti kan mas, bagaimana jika orang tidak berpakaian" ia menambahkan.

Saya kagum dengan ulama-ulama terdahulu, mengajarkan agama dengan cara yang mudah dipahami oleh orang kebanyakan. Nilai-nilai agama diselaraskan dengan nilai-nilai yang sudah lama dianut masyarakat.

Malamnya saya merenung, memikirkan kembali obrolan tentang pakaian itu. Benarkah agama itu sama dengan pakaian? Kalau memang benar, saya melihat orang seperti Karen itu sebenarnya bukan tidak memakai pakaian, tetapi ia membuat pakaiannya sendiri karena kecewa dengan pakaian-pakaian yang ada sekarang. Pakaian yang ada sudah berubah fungsinya. Alih-alih meninggikan derajat pemakaianya, malah menjerumuskannya ke dalam sifat-sifat yang berlawanan dengan fungsi pakaian itu. Agama yang sebenarnya untuk menuntun manusia menuju jalan kebaikan, membantu menciptakan kehidupan yang damai dan sejahtera serta memberi pelita saat kegelapan, justru menghasilkan perilaku yang berlawanan dengan semua itu. Tidak salah juga kan, karena kekecewaan itu Karen menganut agamanya sendiri sesuai yang diyakininya.

Pakaian. Saya kembali merenungkannya. Saya merasa saat ini sedang berpakaian, saya meyakini pakaian yang saya kenakan bisa menempatkan diri saya lebih tinggi daripada derajat hewani. Dan pakaian saya masih berfungsi dengan baik, modelnya juga masih sesuai dengan jaman sekarang. Ini keyakinan saya dan tentu saja setiap orang mempunyai keyakinan masing-masing, bisa sama atau berbeda dengan keyakinan saya. Orang juga bisa menilai pakaian yang dikenakannya paling bagus, paling keren paling sesuai dengan tuntutan jaman. Menurut saya itu wajar, sudah menjadi ketentuan dari-Nya, setiap manusia mempunyai keyakinannya masing-masing.

Masih ngobrol tentang pakaian. Esok harinya saya menceritakan diskusi di serambi masjid itu kepada teman saya. Ia langsung bertanya, "kalau agama itu pakaian, berarti kita bisa berganti-ganti agama seperti berganti pakaian. Kalau sudah tidak nyaman dengan pakaian yang kita kenakan sekarang bisa cari-cari pakaian yang baru. Ato tergantung musimnya, musim dingin pakai yang tebal, musim panas pakai yang tipis. Pakaian juga bisa dilepas di tempat yang tersembunyi, atau saat orang lain tidak melihatnya. Benarkah demikian?"

Saya tidak bisa menjawab, cuma bengong saja.

Blog EntryPekerjaan Paling MuliaMay 28, '08 9:33 AM
for everyone
Dulu saya mempunyai anggapan, pekerjaan yang paling mulia adalah menjadi seorang dokter. Saya membayangkan betapa sangat bergunanya menjadi seorang dokter. Bisa menolong sesamanya yang sedang menderita. Membantu manusia yang lain untuk bisa menjalankan kehidupannya dengan baik. Cita-cita menjadi dokter adalah cita-cita tertinggi bagi kemanusiaan. Saya menjadi paham ketika para orang tua banyak yang menganjurkan anaknya untuk menjadi dokter. Tidak pernah saya mendengar orang tua yang ingin anaknya menjadi penulis, kecuali mungkin orang tua yang penulis itu sendiri.

Sekarang, saya mempunyai pandangan yang lain. Ternyata menjadi penulis tidak kalah mulianya dengan menjadi dokter. Penulis juga sangat berguna bagi kemanusiaan. Membaca karya seorang penulis, seseorang bisa terbuka pemikirannya, tergugah kesadarannya dan terbangun pandangan hidupnya sehingga sama seperti orang yang sembuh dari penyakit, bisa menjalankan kehidupannya dengan lebih baik.

Lebih luas lagi, pengaruh pemikiran seorang penulis mampu menggerakkan masyarakat sebuah bangsa untuk bangkit dari ketertindasannya. Juga memberikan arah bagi terbentuknya bangsa. Tengoklah Hatta, pemikirannya yang tertuang dalam "Demokrasi Kita" banyak diakui sebagai peletak dasar-dasar demokrasi yang saat ini menjadi sistem yang dianut Indonesia. Karyanya yang lain, "Dasar Politik Luar Negeri Indonesia" mampu megegaskan prinsip-prinsip kebijakan luar negeri yang sampai sekarang masih dipegang Indonesia yaitu politik bebas aktif.

"catatan seorang demonstran", sebuah catatan harian yang banyak mengilhami aktifis mahasiswa saat melakukan demonstrasi menentang kekuasaan Orde Baru. Catatan ini menjadi bacaan wajib bagi aktifis mahasiswa. "Habis Gelap Terbitlah Terang", kumpulan surat-surat Kartini tentang kebebasan dan cita-cita, memberikan pandangan yang baru bagaimana seorang perempuan menempatkan diri dan bersama-sama kaum laki-laki berkontribusi dalam menjalankan kehidupan.

Tidak kalah hebatnya, "Laskar Pelangi", menumbuhkan semangat bagi para muda sekarang mengejar cita-cita meski rintangan banyak menghadang. Saya terharu ketika seorang ibu memberi kesaksian bahwa novel Laskar Pelangi mampu menggugah anaknya untuk insaf dari pengaruh narkoba dan berjanji akan bersungguh-sungguh menempuh pendidikan di sekolah.

Wah sangat banyak jika harus saya tuliskan disini, termasuk kitab-kitab agama karangan para ulama kita. Pada akhirnya, saya akan rela ketika suatu saat nanti anak saya bilang, "yah saya ingin menjadi penulis."

Blog EntryMenulis untuk BelajarApr 29, '08 7:53 AM
for everyone
Menurut saya, ada dua kelompok penulis. Pertama, penulis yang sudah menguasai ilmu. Dia menulis tentang ilmu yang dikuasainya untuk berbagi dengan pembacanya. Sedangkan kelompok yang kedua adalah penulis yang menulis justru untuk belajar tentang ilmu.

Nah, saya termasuk kelompok yang kedua. Saya menulis untuk belajar tentang apa yang saya tulis. Menulis filsafat agar saya lebih mengerti tentangya. Begitu juga menulis tentang ilmu agama, saya ingin lebih mengerti bagaimana agama saya.

Saya percaya dengan membaca saja suatu saat saya akan lupa. Kalaupun ingat, saya tidak bisa menjelaskannya dengan sempurna. Tetapi dengan menulis otak mempunyai rangsangan untuk ingat lebih lama. Apalagi apa yang ditulis hasil dari permenungan setelah membaca, akan lebih mengerti sampai ke akar-akarnya.

Yang lebih baik lagi, setelah membaca, merenungkan dan menuliskannya, kemudian mengamalkannya. Dengan mengamalkannya itu, ilmu tidak saja dimengerti, tetapi akan lebih mudah untuk dipahami.

Blog EntryAsumsiApr 14, '08 9:59 AM
for everyone
Dalam "Cerita Penjual Sandal Jepit" saya pernah bercerita tentang suatu daerah yang seluruh penduduknya tidak memakai alas kaki. Dari sudut pandang marketing, ada dua pendekatan yang berbeda. Pertama, kenyataan itu adalah hambatan besar bagi produsen alas kaki, sehingga tidak akan menguntungkan jika dibangun parbrik di daerah itu. Sudut pandang kedua justru sebaliknya, ada sebuah peluang yang sangat besar yang bisa mendatangkan keuntungan melimpah, cocok sekali jika dibangun pabrik alas kaki disitu. Apa yang menyebabkan ada dua sudut pandang yang berbeda padahal kenyataan yang terjadi (faktanya) sama? Dan mana sudut pandang yang benar?

Saya menemukan buku dari pedagang buku bekas di Jalan Dewi Sartika, Bandung. Buku yang saya beli dengan harga 10 ribu rupiah ini dicetak tahun 2006 dan sudah cetakan yang keenambelas, cetakan pertamanya tertulis tahun 1978. Jujun S. Suriasumantri, penyusun buku ini memberi Judul "Ilmu dalam Perspektif, Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu".

Dalam Pengantar Redaksi yang cukup panjang (40 halaman), Jujun menuliskan bahwa ilmu pengetahuan memerlukan asumsi. Alam yang diamati oleh ilmu pengetahuan sangatlah kompleks. Hampir tidak mungkin ilmu melakukan prosesnya tanpa asumsi-asumsi. Asumsi memberi arah dan landasan bagi ilmu pengetahuan untuk menelaah alam dan segala hal yang terjadi di dalamnya.

Ilmu pengetahuan dalam prosesnya menelaah alam semesta bertujuan untuk menemukan kebenaran. Kebenaran ini sangat berguna untuk membantu manusia dalam menjalankan kehidupannya. Dalam proses itu, ilmu pengetahuan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan. Benar atau tidaknya kesimpulan itu tergantung dari diterima atau tidaknya asumsi yang diberikan. Jika asumsi dapat diterima, kita anggap kesimpulan yang dihasilkan adalah benar. Sebaliknya, jika asumsi tidak dapat kita terima maka kesimpulan kita anggap tidak benar.

Dua sudut pandang yang berbeda dari fakta penduduk yang tidak beralas kaki, diakibatkan karena asumsi yang mendasarinya berbeda. Sudut pandang pertama mempunyai asumsi bahwa kenyataan itu tidak bisa dirubah. Apapun usaha yang dilakukan tetap tidak akan merubah perilaku penduduk daerah itu. Sedangkan sudut pandang kedua mempunyai asumsi bahwa kenyataan itu bisa dirubah. Dengan pendekatan yang tepat, penduduk bisa diajari bagaimana menggunakan alas kaki dan dijelaskan apa manfaatnya.

Mana yang benar? Relatif, tergantung asumsi mana yang bisa kita terima. Jika asumsi pertama diterima, tentu sudut pandang yang pertamalah yang kita anggap benar. Sebaliknya, jika asumsi kedua yang bisa kita terima maka sudut pandang yang kedualah yang kita anggap benar. Lalu mana yang benar secara hakiki? Kita bisa menjawabnya jika sudah ada yang membuktikannya. Kebenaran hakiki tidak kita peroleh sampai ada yang membangun pabrik di daerah itu, kalau rugi berarti sudut pandang yang pertama yang benar. Jika sebaliknya maka sudut pandang yang kedua yang benar.

Kalau demikian, perlu biaya dan resiko yang sangat besar? Bisa iya, bisa tidak. Ya kalau kita benar-benar membangun pabrik. Tidak jika digunakan ilmu statistik. Dengan ilmu statistik kita bisa melakukan eksperimen dari sampel yang mewakili seluruh penduduk. Dari eksperimen itu bisa diperoleh kesimpulan, perilaku penduduk itu bisa dirubah atau tidak. Metode statistik memberi kemampuan untuk mengambil kesimpulan secara keseluruhan dari sampel (contoh) yang sebagian atau biasa disebut generalisasi.

Asumsi, menurut pengertian diatas hanya berlaku di wilayah ilmu pengetahuan, tidak berlaku di wilayah agama dan keyakinan. Kita memeluk agama bukan berdasarkan asumsi, tetapi keyakinan kita terhadap kebenarannya. Benarkah ada kehidupan setelah mati? Kita hanya bisa meyakininya, tidak bisa dibuktikan secara empiris. Karena tidak pernah ada manusia yang mati kemudian hidup lagi dan bercerita keadaan di alam sana. Begitu juga dengan keberadaan dan wujud Tuhan, tidak bisa dibuktikan dengan asumsi. Asumsi bergerak sebatas panca indra manusia. Sedangkan Tuhan, diluar jangkauan panca indra.

-----------------------------------
Gambar pinjam dari sini

Blog EntryJalan Langit dan Jalan BumiMar 4, '08 10:51 AM
for everyone
Dahulu, gerhana matahari merupakan gejala alam yang penuh dengan misteri dan banyak mengandung kisah mistis. Thales, seorang pemikir dari Miletus, daerah Pantai Barat Asia Kecil, pernah memprediksi datangnya gerhana matahari. Dan prediksinya itu tidak meleset, tahun 585 SM terjadi gerhana matahari.

Karena kepandaiannya memprediksi itu, Ia menjadi terkenal sebagai ahli nujum dan dimasukkan ke dalam tujuh orang bijak (sage) dalam hikayat Yunani. Sebenarnya prediksi itu adalah hasil ketekunannya belajar astronomi, bukanlah prediksi yang didasarkan pada tahayul. Pada saat itu tahayul menjadi hal yang biasa dan menjadi kepercayaan di masyarakat Militus. Ia menemukan perhitungan gerhana matahari berikutnya akan terjadi setelah 18 tahun, 10 hari dan 7,7 jam.

Selain menguasai ilmu astronomi, Ia sangat mahir di bidang matematika terutama geometri. Kedua ilmu itu dipelajarinya disela-sela aktifitas berdagang. Ia adalah seorang saudagar yang sering mengadakan perjalanan dagang ke berbagai kota. Saat sampai di Mesir dan Babilonia, Thales tertarik untuk mempelajari geometri dan astronomi. Prestasinya di bidang geometri melahirkan sebuah teorema yang disebut sesuai namanya, "Teorema Thales".

Thales juga terkenal sebagai bapak filsafat, Ia orang yang pertama kali yang memikirkan : Apa asal alam ini? Apa yang menjadi sebab penghabisan dari segala yang ada? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dijawabnya melalui tahayul, melainkan menggunakan akal berdasarkan pengalaman yang dilihatnya sehari-hari.

Ia takjub melihat lautan yang menjadi sumber penghidupan bagi banyak makluk hidup di darat maupun di lautan. Bibit-bibit tanaman dan buah-buahan yang hanyut terbawa gelombang diantar ke pesisir pantai daerah lain. Tanaman dan buah-buahan akhirnya bisa tersebar ke berbagai wilayah di bumi. Di Mesir ia juga melihat betapa tergantungnya rakyat Mesir pada Sungai Nil. Daerah-daerah sekitar aliran Sungai Nil adalah daerah yang subur sehingga dapat dihuni manusia.

Tetapi semuanya bisa musnah. Ia membayangkan bagaimana jika Sungai Nil tidak mengalirkan air lagi, bisa jadi daerah yang semula subur menjadi padang pasir yang tandus, tidak bisa dihuni lagi. Air laut yang bergulung-gulung menghantam tepian pantai sewaktu-waktu bisa menjadi ombak yang sangat besar (tsunami) yang dapat memusnahkan semua kehidupan di daratan. Disitulah kehidupan akan berkahir.

Dari pemikirannya itu ia mengambil kesimpulan bahwa air adalah pokok dan prinsip dari segala-galanya.

Diantara kisah hidupnya ada kejadian yang lucu. Suatu saat ia berjalan-jalan memandangi keindahan bintang gemintang di langit malam hari. Pandangannya yang selalu keatas membuatnya tidak melihat lubang di depannya. Terjatuhlah Ia ke lubang itu. Seorang watnita tua yang sedang melintas berkata, "hai Thales, jalanmu yang ada dilangit kamu ketahui, tetapi jalanmu yang ada di bumi tidak."

Seorang genius seperti Thales bisa terperosok ke dalam lubang karena terlalu asyik dengan apa yang dipikirkannya dan lupa memperhatikan jalan yang dilewatinya. Kitapun akan bernasib sama jika terlalu hanyut pada suatu hal dan melupakan yang lain, padahal keduanya sangat penting dalam hidup kita.

Jalan langit bisa dimaknai sebagai kehidupan religius, alam pemikiran atau dunia ide. Sedangkan jalan bumi adalah realitas hidup kita sehari-hari. Idealnya jalan langit dan jalan bumi itu bisa selaras. Orang yang khusuk ibadahnya, mempunyai perilaku yang menyejukkan, tidak malah membuat onar. Orang yang pandai, banyak memberikan sumbang sih bagi lingkungannya, tidak malah merusaknya. Dan, orang yang banyak idenya, juga banyak berbuat.


Catatan : Gambar pinjam dari sini



Blog EntryYang Modern dan TradisionalFeb 19, '08 11:54 PM
for everyone
Telepon genggam saya berdering, ada pesan masuk dari Icha, isinya "mas kemana aja, lama nggak mampir". Memang sudah hampir satu tahun saya tidak berkunjung ke sana, biasanya seminggu sekali saya sempatkan mengunjunginya. Tadi malam saya berkunjung untuk makan malam. Icha itu nama depot kaki lima di sekitar Kopertis Surabaya.

Tidak saya sangka, pemilik depot menyambut saya dengan gembira, layaknya saudara yang lama tidak berjumpa. Senyumnya sapanya yang khas dan keramah-tamahannya sangat menyejukkan. Saya memesan dorang goreng, nasi putih dan teh panas.

Sambil makan, saya ngobrol dengannya. Meski harus melayani pelanggan yang banyak, perhatiannya tidak berkurang pada saya, tentu bergantian dengan pelanggan-pelanggannya yang lain. Saya tanya kabar keluarganya, begitu juga Ia. Sekarang Ia tidak perlu mengontrak rumah lagi, Ia membeli rumah meskipun kecil, "Saya tidak bisa membeli rumah yang jauh mas, soalnya kalau jualan seperti ini ribet, banyak barang kecil-kecil, kalau ketinggalan bisa cepet ngambilnya. Jadinya ya dapatnya rumah yang kecil, lha wong disini rumah sudah mahal."

Sapanya lewat sms (kadang juga telpon), keramahannya di depot dan suasana kekeluragaan saat makan membuat saya seperti makan di rumah saudara saya sendiri. Perlakuan itu tidak hanya pada saya, pelanggan yang lain juga terlihat akrab dengannya. Kadang Ia berkomentar, "wah saya pangling ke sampeyan, habis penampilannya baru sih," kepada saya Ia bilang, "mas sampeyan kelihatan lebih muda". "Hahahaha...." saya terbahak, "sampeyan bisa aja cak."

Saya pikir inilah management pelanggan. Meski hanya dengan bantuan telepon genggam, pemilik Depot Icha, sudah bisa mengelola pelanggannya. Ia tahu mana pelanggan yang sering dan jarang berkunjung. Ia juga tahu, walau mengandalkan ingatannya, latar belakang keluarga, usia dan pekerjaan pelanggannya.

Saya kagum dengannya, darimana ia punya gagasan seperti itu. Apakah Ia pernah mengikuti training Customer Relationship Management (CRM)? Depot pinggir jalan itu dikelola seperti restoran modern.

Selesai makan, saya berpamitan. Dengan keramahan pula Ia menyampaikan ucapan terima kasih dan berharap saya datang berkunjung kembali di lain waktu.

Dari Depot Icha saya pergi ke minimarket. Saya kaget sekali saat membuka pintu. Ada salam selamat datang, tapi saya cari-cari siapa yang mengatakan tidak ada yang menoleh pada saya. Saya pergi ke rak yang berjajar rapi, mecari barang yang saya butuhkan. Terdengar lagi ucapan selamat datang disertai dengan yel-yel promosi, "mau sepeda motor? belanja saja disini!"

Setelah beberapa saat saya amati akhirnya saya tau, yang mengatakan selamat datang itu kasir yang ada di depan dan yang menyahut dengan yel-yel itu para karyawan di dalam toko.

Tapi saya tidak terkesan sama sekali dengan sapaan itu. Cara mengucapkannya asal-asalan, juga tidak jelas ditujukan ke siapa. Karyawan di dalam toko pun seperti robot yang kalau dipencet tombolnya akan berbunyi. Masih mending robot yang suaranya keras, karyawan-karyawan ini loyo, yel-yel itu diucapkan seperti bergumam.

Saya yakin, karyawan minimarket ini pernah mendapat training, setidaknya mendapat arahan dari atasannya. Pernah saya mengetahui minimarket semacam itu, manager toko setiap pagi memberi arahan kepada karyawan yang bertugas hari itu. Tapi, kenapa rasanya hambar ya?

Blog EntryAnak Yang Tidak Diinginkan LahirFeb 18, '08 9:17 PM
for everyone
Apa yang kita rasakan ketika mengetahui bahwa kehadiran kita di dunia ini sebenarnya tidak diinginkan oleh kedua orang tua kita? Kehamilan ibu saat mengandung kita sebenarnya tidak direncanakan. Marah atau sedihkah? Saya sendiri tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya. Mungkin akan marah, kecewa, sedih, merasa tidak berguna atau campuran dari semuanya. Bisa juga malah pasrah dan bertekat akan membuktikan bahwa kehadiran kita mempunyai arti.
 
Pertanyaannya bisa juga dibalik, sebagai orang tua, apakah sebenarnya kita menginginkan kelahiran anak kita? Apakah anak kita itu buah dari cinta dan kasih sayang atau hanya sekedar akibat dari rencana yang gagal? Entah anak kita yang mana, pertama, kedua atau kesebelas mungkin.
 
Kenyataannya, memang banyak kelahiran yang tidak diinginkan. Badan Kesehatan Dunia memperkirakan ada 38 persen dari 200 juta kehamilan pertahun merupakan kehamilan yang tidak diinginkan (Kompas,15 Februari 2008). Kehamilan tersebut bisa jadi karena gagal kontrasepsi atau salah melakukan penghitungan waktu subur bagi yang sudah menikah. Bisa juga karena hamil diluar nikah, hubungan gelap dan lain sebagainya.
 
Pasti lebih banyak yang karena hamil diluar nikah atau akibat hubungan gelap? Jangan salah, 87,1 persen kehamilan yang tidak diinginkan tersebut adalah dari pasangan yang sudah menikah. Artinya kehamilan itu lebih banyak karena gagal perencanaan keluarga. Istilah umumnya karena "kebobolan".
 
Yang lebih menyedihkan lagi, ada usaha-usaha untuk menghentikan kehamilan alias aborsi. Alasannya bermacam-macam, ada yang karena faktor ekonomi, sudah banyak anak atau karena anak sulungnya/kakaknya masih terlalu kecil. Angkanya cukup fantastis, dua pertiga kehamilan yang tidak diinginkan dihentikan dengan sengaja, 40 persennya dilakukan dengan tidak aman dan karena itu menyumbang 50 persen dari kematian ibu.
 
Membangun keluarga di jaman sekarang berbeda dengan jaman kakek-nenek kita dahulu. Dulu masih banyak sumber daya yang tersedia, bahan makanan tinggal metik dari kebun belakang rumah, sawahpun masih tersedia luas, cukup untuk menyediakan beras untuk konsumsi keluarga sampai musim panen berikutnya. Tidak perlu bingung punya banyak anak. Banyak saudara di sekitar kita yang membantu merawatnya, bahkan tetanggapun bersedia dimintai tolong dengan sukarela menjaganya.
 
Sekarang sudah berubah. Banyak keluarga muda yang jauh dari induk semangnya. Entah karena tuntutan pekerjaan atau sebab-sebab yang lain. Urusan membangun keluarga tergantung sepenuhnya pada keluarga muda itu sendiri. Mempunyai anak memerlukan pengaturan sumber daya yang ada, termasuk anggaran belanja keluarga. Jadi punya anak harus direncanakan.
 
Yang menjadi masalah jika rencana itu gagal, apakah kehamilan harus dihentikan? Ya kalau menurut yang 38 persen itu, kehamilan boleh dihentikan. Tapi secara moral dan agama tentu itu tidak dibenarkan.
 
Lantas bagaimana? Ninuk Widyantoro, psikolog dari Yayasan Kesehatan Perempuan, berpendapat perlu ada upaya konseling atau pendampingan pada perempuan dengan kehamilan yang tidak diinginkan agar tidak terjadi resiko aborsi atau untuk menjaga kesehatan dan pertumbuhan janin yang dikandungnya. Biasanya pada kasus semacam itu, anak yang dilahirkan tidak bisa tumbuh dan berkembang secara normal.
 
Saya ingat sebelum nikah dulu, saya mendapat nasehat dari seorang teman yang sudah lebih dulu menikah, "jangan kamu bayangkan setelah menikah akan bisa kamu jalani kehidupan ini sendirian, hanya dengan istrimu saja. Bagaimanapun kamu pasti akan membutuhkan orang tuamu dan orang-orang terdekatmu, termasuk juga teman dan sahabat-sahabatmu."
 
Saya kira, nasehat teman saya itu benar sekali. Setelah kita menikah pastilah kita masih membutuhkan orang lain untuk membantu membangun keluarga kita, ya minimal bantuan nasehat atau tukar pengalaman. Kalau tidak orang tua kita sendiri, ya teman dan sahabat dekat kita. Teman atau sahabat bisa menjadi pendamping dalam membangun keluarga, syukur kalau saling membantu dalam urusan materi.

Blog EntryDecorum Publicum (Tata Krama Publik)Feb 15, '08 4:04 AM
for everyone
Saya tertarik sekali menyimak kasus sampul majalah Tempo edisi 4-10 Februari yang lalu. Karena ketertarikan itu, kemudian saya melakukan dudah-dudah di internet untuk mengetahui bagaimana kasus itu terjadi dan apa yang bisa kita ambil sebagai pelajaran. Saya berpegang bahwa setiap peristiwa yang terjadi, yang sempat saya ketahui, mengandung pesan agar saya mempelajarinya dan mengambil hikmah darinya. Saya yakin hikmah itu akan berguna untuk kehidupan saya kelak dikemudian hari.
 
Masalah majalah Tempo itu adalah karena sampulnya mirip dengan The Last Supper, lukisan karya Leonardo da Vinci. Dan memang, menurut Kendra Paramita sang ilustrator, sampul tersebut dibuat karena terinspirasi The Last Supper.

Sejumlah orang, yang mengaku sebagai perwakilan umat Katolik, mendatangi kantor majalah Tempo untuk mempertanyakan sampul majalah itu. Para perwakilan tersebut menilai bahwa sampul itu menyinggung perasaan umat Katolik karena menyamakan posisi Yesus dalam The Last Supper dengan posisi Soeharto dalam ilustrasi sampul Tempo.

Ternyata cukup beragam tanggapan terhadap masalah protes-memprotes ini. Ada yang mendukung perwakilan umat Katolik. Tempo tidak semestinya membuat ilustrasi tersebut karena Thel Last Supper sudah menjadi lukisan yang mempunyai makna religi bagi umat Katolik.
 
Tetapi ada juga umat Kristiani yang merasa tidak terwakili oleh pemrotes. The Last Supper hanyalah sebuah lukisan, sebuah karya seni, bukanlah peristiwa suci itu sendiri. Dan setiap orang berhak mangapresiasi dan menafsirkan karya seni tersebut. Belum tentu juga penggambaran da Vinci itu tepat seperti yang terjadi pada perjamuan terakhir Yesus, da Vinci hanya mereka-mereka saja. Jadi tidak perlu umat Kristiani merasa tersinggung dengan sampul itu.
 
Selain masalah tersinggung atau tidak tersinggung, muncul juga dalam sebuah diskusi, kasus sampul Tempo itu, sedikit banyak masuk dalam dimensi bisnis. Masalah yang kontroversi biasanya menjadi senjata yang sangat ampuh meraih popularitas. Orang justru akan mencari-cari sesuatu yang dianggap bermasalah. Terbukti, setelah kasus itu merebak, Tempo sudah sulit ditemukan di pasaran karena sudah habis.
 
Yang menurut saya paling menarik adalah tanggapan dari seorang imam Katolik yang juga ahli filsafat. Tanggapan ini dikirim oleh salah seorang anggota milis Jaringan Islam Liberal (JIL).

"Soal cover TEMPO bukan soal hukum, tapi soal rendahnya "decorum publicum"
(bhs Latin untuk 'tata-krama publik'). Karena tata-krama publik adalah
cerminan selera kultural, rendahnya tata-krama publik adalah ungkapan selera
kultural yang rendah. Dan karena selera kultural adalah cerminan mutu
intelektualitas, maka rendahnya tata-krama publik cover TEMPO adalah
cerminan rendahnya intelektualitas TEMPO. Lugasnya cover itu adalah soal
kebodohan dan rendahnya intelektualitas TEMPO, bukan soal hukum. Tentu saja
kebodohan tidak bisa diperkarakan secara hukum. Tetapi untuk media yang mau
menjaga intelektualitas, kebodohan tentu lebih memalukan daripada kasus
hukum."

Memang bagaimanapun kita hidup ditengah-tengah masyarakat. Daniel Goleman, pengarang buku Social Intelligence, The New Science of Human Relationship, menyatakan bahwa pada hakekatnya manusia tercipta untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Berhubungan dengan orang lain bukan saja karena manusia memang membutuhkan hubungan tersebut agar tetap bisa bertahan hidup, tetapi memang sifat dasar manusia yang suka untuk berinteraksi dengan orang lain.

Imam Katolik diatas benar, majalah Tempo seharusnya memperhatikan masalah tata krama publik. Harus berfikir beberapa kali untuk memuat sampul tersebut karena penggambaran kembali The Last Supper adalah masalah sensitif bagi sebagian orang. Kebebasan pers memang sangat diperlukan dalam negara demokrasi sebagai kekuatan pengontrol pemerintahan. Pers diperlukan juga sebagai sarana penyebar informasi sekaligus melakukan proses pembalajaran masyarakat.

Namun demikian kebebasan itu tidak berarti bebas yang sebebas-bebasnya. Kebebasan itu tetap mempunyai batas yaitu kebebasan orang lain, etika dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Diperlukan suatu kecerdasan untuk berekspresi, menjalankan kebebasan dalam masyarakat.

Semoga kasus sampul majalah Tempo dan kasus-kasus serupa yang pernah terjadi dapat meningkatkan kecerdasan kita dalam berekspresi agar kita mempunyai selera kultural yang tinggi sebagai cerminan tingginya tingkat intelektualitas kita.

Blog EntryKomik KuarkFeb 7, '08 7:32 AM
for everyone
Jangan menyuruh orang memanjat kelapa, tapi beritahu Ia kalau minum air kelapa muda itu sangat menyegarkan.

Jangan menyuruh orang untuk mengerjakan sesutu, beri motivasi, Ia akan mengerjakan pekerjaan itu dengan sendirinya dan dengan bahagia.

Di rumah, saya menemukan komik milik keponakan saya yang kelas lima SD, isinya tentang ilmu pengetahuan, namanya Kuark. Sekilas nama itu mirip dengan "quark" partikel terkecil pembentuk proton dan neutron dalam ilmu fisika partikel. Setelah dilihat, memang komik ini dibimbing oleh Yohanes Surya, pencetak kader fisikawan Indonesia.

Kuark sangat menarik. Banyak ilmu yang bisa dipelajari disitu, tidak hanya fisika saja, ada biologinya, elektronika, ilmu perbintangan dan yang menurut saya paling menarik, ada biografi singkat tentang tokoh ilmu pengetahuan. Kebetulan yang sedang saya baca, ada cerita tentang Blaise Pascal, penemu prinsip hidrodinamika itu.

Cerita dalam komik ini di dibuat sesuai dengan kehidupan yang dialami anak sehari-hari. Misalnya cerita tentang Pascal diawali ketika Rhon (salah satu tokoh dalam komik) dijemput kakaknya sepulang sekolah. Mereka tidak langsung pulang tetapi mampir dulu ke bengkel. Nah, disaat melihat dongkrak yang mengangkat mobil, cerita tentang Pascal dan hidrodinamika masuk. Sangat nyaman sekali untuk dibaca.

Saya teringat sewaktu seusia keponakan saya, komik menjadi barang terlarang yang harus dijauhi. Harus sembunyi-sembunyi kalau ingin membacanya. Sekarang, pelajaran sekolah malah dikomikkan.

Ini langkah yang sangat bagus . Mememuhi kesenangan anak untuk membaca komik tetapi dengan tidak meninggalkan pelajaran sekolah. Cara ini, jauh lebih memudahkan anak untuk memahami pelajaran sekolah dibandingkan membaca buku pelajaran. Dan memang benar, keponakan saya bilang kalau Ia menjadi tahu dan memahami lebih banyak hal setelah membaca beberapa seri Kuark.

Komik Kuark ada beberapa level sesuai dengan tingkatan kelas di SD. Level satu untuk SD kelas 1 dan 2, level duanya untuk kelas 3 dan 4, sedangkan level tiga untuk kelas 5 dan 6. Ada jug level "pra-sain" untuk anak-anak pra sekolah.

Kalau sudah begini, tidak usah menyuruh anak untuk belajar, Ia akan belajar dengan sendirinya dan yang lebih penting Ia menyukainya.

Blog EntryMasjid dan Tidur SiangFeb 6, '08 9:53 AM
for everyone
Setiap kali saya menjumpai masjid selalu ada rasa kesejukan disitu. Secara nalar mungkin bisa diterangkan. Biasanya pelataran masjid itu luas dengan banyak pintu di samping kanan, kiri dan depannya. Angin dengan leluasa bisa masuk sehingga ada pergantian udara di dalam masjid. Jadilah udara yang kita rasakan selalu segar. Ditambah lagi atapnya yang tinggi, panas matahari yang diserap atap tidak sampai memanaskan ruangan.

Hal yang sama juga saya rasakan di Muhajirin, masjid dekat kantor saya. Karena kesejukannya itu banyak sekali jamaah yang menyempatkan diri tidur-tiduran setelah sholat dzuhur. Termasuk juga Amin, pedagang roti keliling. Saya selalu menjumpainya saat sholat dzuhur dan ashar. Rupanya selama antara dzuhur dan ashar itu Ia tidur. "Kalau siang pembelinya sepi Mas, mendingan istirahat disini" katanya suatu saat kepada saya.

Selain Amin, masih banyak lagi yang memanfaatkan masjid untuk tidur siang atau sekedar duduk-duduk. Masalahnya, bagaimana menjaga kesucian masjid dari najis yang dikeluarkan saat orang sedang tidur? Kalau dilarang, jamaah pasti berkurang, masjid jadi sepi.

Untunglah takmir Muhajirin tidak melarangnya, tetapi menyediakan tempat khusus bagi mereka yang ingin tidur atau istirahat siang. Tempatnya di serambi sebelah utara. Dengan dilokalisir seperti itu, mudah untuk dibersihkan, tempatnya juga sedikit tertutup sehingga terkesan rapi jika dilihat dari jalan depan masjid. Saya juga sering memanfaatkan tempat itu saat pikiran lagi suntuk di kantor.

Masjid-masjid di pinggir jalan, terutama jalan besar penghubung antar kota, sangatlah berguna. Selain untuk mampir sholat, juga untuk tempat istirahat sebentar menghilangkan rasa lelah. Sungguh mulia pemilik masjid di pinggir jalan ketika membangun masjid diniatkan untuk melayani para pejalan jauh itu.

Yang menyebalkan ketika saya dalam perjalanan ke luar kota menjumpai masjid yang semuanya pintunya terkunci rapat. Juga dengan pintu kamar mandinya. Padahal saya ingin buang hajad dan sholat di masjid itu. Dengan sedikit kesal saya mencari masjid kembali. Ya, mungkin pengurus masjid itu tidak ingin ada pencuri masuk dan menjarah peralatan-peralatan yang ada di dalam masjid.

Blog EntryRevolusi PertanianJan 23, '08 8:36 PM
for everyone
Pertanian mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan sebuah negara. Pengelolaan pertanian yang tepat akan menjamin ketersediaan makanan bagi seluruh masyarakatnya. Meskipun manusia tidak hidup untuk makan, tetapi manusia sangat membutuhkan makanan untuk menjalankan fungsi hidupnya. Karena itu ketahanan pangan merupakan syarat mutlak bagi kemajuan sebuah negara.
 
Terbentuknya masyarakat modern seperti sekarang ini juga bermula dari pengenalan manusia pada cara bercocok tanam sekitar 10 ribu tahun yang lalu. Sebelumnya, selama 2 juta tahun, manusia hidup berpindah-pindah dari satu tempat perkemahan ke tempat perkemahan yang lain untuk mencari sumber makanan.  Ketergantungan manusia terhadap alam sangat besar. Kemampuan akal manusia masih terbatas, alat-alat yang digunakan juga masih berupa segumpal batu untuk melempar atau batang kayu yang diperuncing untuk menusuk.
 
Pengenalan manusia pada cara bercocok tanam, menjadikan perubahan yang sangat cepat pada pola hidup dan kebudayaan manusia. Terjadilah apa yang disebut revolusi pertanian. Cara hidup manusia tidak lagi berpindah-pindah melainkan menetap, membentuk desa-desa dan mulai membentuk organisasi sosial dengan dasar dan susunan yang sangat berbeda dengan organisasi sosial ketika masih dalam kelompok-kelompok berburu. Kepandaian manusia berkembang. Manusia sudah bisa membuat periuk belanga dari tanah liat, menenun dan membuat rumah yang beratap.
 
Kemudian, 6.000 tahun setelahnya atau tepatnya 4.000 SM terjadi perubahan yang cepat dalam tatanan kehidupan masyarakat. Manusia mulai mengembangkan tatanan masyarakat kota (revolusi perkotaan). Kota pertama-tama terbentuk di Kreta, di daerah subur sekitar sungai Tigris dan Eufrat (sekarang menjadi negara Siria dan Irak), serta di muara Sungai Nil (sekarang menjadi Mesir). 
 
Setelah itu sekitar tahun 1.500 M, manusia mulai mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang baru. Dan pada paruh abat-18, manusia menemukan mesin yang dapat memproduksi barang-barang keperluan hidupnya dalam jumlah yang besar. Masa ini dikenal dengan revolusi industri. Akhirnya terbentuklah masyarakat modern yang terus berkembang sampai sekarang.
 
Harus kita akui bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini kita lalai dalam mengelola pertanian sehingga pernah terjadi kelangkaan beras sehingga harus mendatangkan beras dari negara lain. Memang sangat menggelikan, negara yang terkenal sebagai negara agraris ini masih juga harus meminta bantuan hasil pertanian dari negara lain.
 
Aneh juga, tanah yang subur ini tidak bisa menghasilkan kedelai berkualitas dengan harga yang murah. Kedelai impor justru lebih murah dibandingkan kedelai lokal. Secara logika ekonomi akhirnya masyarakat lebih memilih kedelai impor. Sedikit demi sedikit kita jadi tergantung. Ketika harga kedelai global mengalami kenaikan, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti harga pasaran.
 
Karena kelalaian itu, masyarakat menjadi resah tidak bisa membeli beras dan kedelai yang harganya melambung. Terjadilah peristiwa nasi aking dan lentho sebagai pengganti nasi dan tempe goreng.
 
Sudah seharusnya diusahakan pengelolaan pertanian dan peningkatkan produktifitas. Tetapi yang lebih penting dari itu adalah perlunya upaya untuk melakukan revolusi berfikir masyarakat. Menjadi petani tidak dipandang sebagai pekerjaan yang remeh atau asal bekerja daripada menganggur. Menjadi petani adalah pilihan profesi yang dapat menjadi sandaran hidup. Revolusi berfikir ini diharapkan bisa menciptakan daya tarik bagi generasi muda untuk masuk di dunia pertanian.
 
Perubahan cara pandang masyarakat ini mendesak untuk dilakukan mengingat sebagian besar petani kita sudah berusia lebih dari 50 tahun. Tanpa ada generasi muda yang mau menggantikannya, bisa dibayangkan bagaimana negara agraris ini 20 atau 30 tahun mendatang. Mungkin sudah terkubur bersama jasad para petani itu.

Blog EntryDunia Para PembohongJan 21, '08 12:42 AM
for everyone
Suatu saat saya ditanya oleh seorang bapak di sebuah stasiun kereta, bagaimana cara menuju suatu tempat. Saya menerangkan sepengetahuan saya. "Untuk menuju ke tempat itu harus pindah-pindah angkutan umum" kata saya. Eh, bapak itu bilang, "kalau begitu naik taksi saja, terlalu ribet kalau naik angkutan umum."

"Tidak apa-apa kalau Bapak mau naik taksi, tapi harus hati-hati, jangan sembarang naik taksi, nanti dibohongi," saya mencoba menyarankan.

Di luar dugaan, dengan tersenyum bapak itu menjawab, "tidak apa-apa, tiap hari kan kita sering berbohong, jadi tidak apa-apa sekali-kali dibohongi, wajar saja kan."

Wah saya kaget sekali. Belum pernah saya mendengar logika semacam itu. Yang sering saya dengar adalah nasehat para orang tua, "kalau tidak suka dibohongi, ya jangan berbohong", sama juga seperti "kalau dipukul itu sakit, ya jangan memukul".

Tapi pukul-memukul itu dianggap wajar dalam dunia tinju, malah diharuskan. Kalau seorang petinju tidak bisa memukul, ia akan kalah dan otomatis peringkatnya akan menurun. Kualitas seorang petinju diukur dari kualitas pukulannya, seberapa kuat pukulannya itu dapat merobohkan lawannya.

Nah, kalau berbohong itu sudah dianggap wajar, merujuk pada dunia pertinjuan, berarti kita hidup di dunia para pembohong. Dunia dimana kualitas orang diukur dari seberapa pintar orang itu melakukan kebohongan. Semakin sulit kebohongannya terungkap maka semakin terhormatlah Ia.

Kemuliaan pun diukur dari baju dan topeng yang dikenakan, bukan dari perilaku hidupnya sehari-hari. Karena itu, setiap hari orang disibukkan menghias dan mempercantik baju dan topengnya itu untuk mendapat kemuliaan. Saking sibuknya, orang lupa akan isinya. Sehingga banyak kita jumpai orang yang berparas tampan dan cantik, tapi lupa ketampanan dan kecantikan perilakuknya.

Bagaimana para pemimpinnya? Pemimpin yang terpilih adalah orang yang paling pandai merangkai kebohongan menjadi janji-janji. Terpilihnya Ia seolah menjadi pelita penerang dalam kegelapan, padahal Ia kegelapan itu sendiri. Janji mengentaskan kemiskinan, padahal kemiskinan itulah modalnya meraih kekuasaan.

Semakin sulit mencari orang yang tetap memegang kejujuran. Orang semacam itu sudah tersingkir dan terpinggirkan. Kalau pun ada hanya menjadi sampah yang mengotori, yang membikin sumpek dan sesak para pembohong. Sistem dibuat agar orang jujur terpaksa berbuat bohong. Karena jika kebohongan terungkap, semuanya akan kena.

Kejujuran menjadi barang langka dan sangat mewah. Justru karena langka dan mewah itu jarang sekali orang yang memegangnya. Paling-paling hanya melihat dan mengaguminya, lalu segera melupakannya.

Blog EntryHarta yang sangat berharga itu bernama KepedulianDec 27, '07 10:29 PM
for everyone
Entah akan seperti apa nasib para korban banjir di kotaku jika diantara mereka tidak ada rasa peduli antar sesama. Mungkin akan banyak korban jiwa berjatuhan. Yang berada di atap rumah hanya bisa berharap-harap cemas air akan surut atau malah meninggi atau rumah yang ada dibawahnya akan roboh diterjang arus yang begitu deras.

Alhamdulillah, masih ada para tetangga yang rela berendam dari subuh sampai menjelang maghrib untuk mengevakuasi para korban yang terjebak di rumahnya. Dengan modal nekat mereka berenang, dengan alat seadanya, menghampiri satu persatu korban tanpa peduli dulunya saling berseteru atau bermusuhan. Tanpa ditanya anak siapa atau saudara siapa. Yang paling penting mereka bisa selamat.

Rumah-rumah yang temboknya menghalangi arus air, rela untuk dijebol. Ganti rugi? Wah sudah tak terpikirkan lagi, yang penting banjir segera surut dan penderitaan segera berlalu. Yang rumahnya tidak terkena banir, melebihkan menanak nasi dan membungkusnya untuk dibagikan kepada mereka yang tidak sempat menanak.

Kepedulian membawa kita pada persaudaraan, rasa welas asih dan saling berbagi. Beban korban bencana akan sedikit terkurangi karena ada sesamanya yang mempunyai rasa peduli.

Tetapi yang lebih penting adalah kepedulian agar banjir tidak terjadi lagi. Kepedulian ini menyentuh jauh kepada masyarakat di puncak gunung sana. Agar tidak menggunduli hutan sehingga air hujan yang jatuh bisa tertahan akar-akar pohon. Air hujan yang langsung masuk ke sungai akan berubah menjadi aliran yang deras dalam volume yang banyak. Banjir bandang pun tak terelakkan.

Kepedulian yang membuat setiap orang yang akan menebang pohon berfikir terlebih dahulu apakah perbuatannya akan menyengsarakan saudaranya yang jauh di sana. Kepedulian yang juga membuat orang yang akan membuang sampah di sungai bertanya, akankah sampah ini menyumbat aliran sungai?

Banjir kemarin juga akibat hujan lebat yang turun mulai jam satu siang sampai jam 3 pagi. Hampir seluruh wilayah Ponorogo mendapat bagian hujan lebat itu. Seumur hidupku, belum pernah mengalami hujan yang seperti itu. Banjir besar ini pun, seingat Bapak, baru pertama kali terjadi. Biasanya hanya semata kaki, paling besar sebatas lutut. Tapi kali ini sampai menenggelamkan rumah.

Sepertinya iklim sudah berubah, musim sulit ditebak. Hujan dan badai semakin sering terjadi. Kata para pakar, perubahan iklim terjadi karena pemanasan global yang terjadi karena ulah manusia. Industrialisasi dan penebangan hutan menjadi penyebab utamanya. Juga karena pembakaran bahan bakar fosil dari kenalpot kendaraan.

Nah, kepedulian tidak hanya dituntut dalam lingkup lokal, tetapi juga dalam lingkup global. Kepedulian menjadi harta yang sangat berharga bagi keselamatan kita semua yang hidup dalam bumi yang sama ini.

Blog EntryPunya Satu Anak Saja Ya...Dec 6, '07 10:46 AM
for everyone
Penduduk dunia terus berlipat ganda, diperkirakan saat ini jumlahnya sudah mencapai 6,5 miliar.
"Yah, kita punya anak satu saja ya," kata istri saya saat telepon setengah berharap saya menyetujuinya.

Cerita-punya cerita, ternyata ia baru saja mendapat kabar yang kurang menyenangkan dari temannya. Temannya melahirkan secara normal, tapi ada masalah dengan jahitan bekas operasi cesar saat melahirkan anaknya yang pertama. Jahitan bagian dalamnya membuka kembali. Ngeri memang. Makanya istri saya agak trauma untuk melahirkan kembali. Dulu, saat melahirkan anak kami, ia juga di cesar.

Tapi kemudia ia bilang, "tidak hanya itu saja yah, kita harus berfikir. Dunia ini sudah banyak penghuninya. Semakin sumpek. Sementara sumber daya alam yang ada semakin terbatas. Kita jangan hanya memikirkan diri sendiri dan anak-anak kita. Jangan hanya karena pertimbangan kita masih mampu membiayai dan mengurus keperluan anak, maka kita akan menambah anak. Pertimbangkan, masih banyak anak-anak yang terlantar yang perlu bantuan. Daripada menambah anak, mengapa kita tidak ambil mereka satu untuk kita urus."

Saya hanya diam dan melongo saja. Keputusan menambah anak memang harus kita sepakati bersama. Ya iya lah, bagaimana bisa menambah anak kalau sendirian. Bukan begitu maksudnya. Mempunyai anak itu keduanya harus sama-sama iklhas. Jangan sampai ada keterpaksaan pada salah satu pihak. Entah itu suami maupun istri.

Setelah menikah, kami pernah berunding mengenai berapa jumlah anak yang kita rencanakan. Saya bilang 11 orang, laki-laki semua, biar bisa bikin kesebelasan. Istri saya langsung melengos. "Ya sana, ayah sendiri saja yang melahirkan," katanya.

Waduh, gara-gara mendapat cerita temannya yang melahirkan itu, ia jadi jauh sekali mikirnya. Sampai harus membayangkan penduduk dunia. Memang ada apa dengan penduduk dunia. Memang sudah berapa besar sih penduduk dunia? Dasar pikiran orang statistik, mikirnya angka melulu.

Mulailah mencari data-data mengenai perkembangan penduduk dunia. Wow, ternyata penduduk dunia sekarang sudah mencapai 6,5 miliar orang. Empat kali lipat dari jumlah penduduk pada 1900. Biro Sensus yang ada di Amerika sana juga mengatakan bahwa setiap detik secara rata-rata ada 4,4 bayi yang lahir. Sementara yang meninggal semakin sedikit karena semakin meningkatnya kualitas hidup. Di berbagai negara, selisih angka kelahiran dan kematian sangat tinggi. Nah, bisa dibayangkan bagaimana cepatnya pertumbuhan penduduk dunia.

Salah seorang ahli kependudukan, Mary Kent mengatakan, "yang perlu mendapatkan perhatian adalah standar hidup, kesehatan, dan prospek ekonomi." Memang, dengan pertumbuhan penduduk yang cepat tersebut, faktor ekonomi harus dipikirkan dengan serius.

Contoh yang paling gampang adalah masalah pangan. Jika pertumbuhan penduduk dunia masih dalam laju yang sama, diperkirakan kebutuhan beras secara global pada 2025 akan mencapai 800 juta ton pertahun. Sementara kemampuan produksinya masih sekitar 600 juta ton. Terjadi besar pasak daripada tiang. Kebutuhan yang lebih besar dibanding kemampuan produksi akan berakibat pada harga bahan pangan yang akan terus melambung. Data yang paling spektakuler tentang melambungnya harga bahan pangan adalah harga gandum, pada awal 2007 yang lalu harganya US$ 180 perton, sekarang menjadi US$ 350 perton. Hampir dua kalinya.

Masalah yang serius lagi adalah kelangkaan air. Lho, katanya permukaan air laut semakin meninggi, berarti kan air semakin bertambah, kok bisa air menjadi langka. Air yang dimaksud disini adalah air bersih yang siap untuk dikonsumsi atau untuk memasak.

Menurut data dari United Nation Development Programme (UNDP) saat ini 700 juta penduduk di 43 negara hidup dibawah ambang batas kebutuhan air minum yaitu 1.700 meter kubik perorang pertahun. Jika kelangkaan air ini tidak segera diatasi, dalam 20 tahun mendatang, 3 miliar penduduk dunia akan hidup di bawah ambang batas tersebut.

Wah jadi bingung nih. Impian mempunyai kesebelasan sendiri spertinya akan sulit terwujud. Cita-cita menjadi pelatih sepak bola seperti Jose Mourinho atau Arsene Wenger jadi buyar. Tapi kalau dipikir, mempunyai satu anak adalah keputusan yang bijak. Di Cina pun sudah diterapkan aturan satu anak untuk satu keluarga. Bagaimana ya?

Belum tuntas mikir program satu anak, ada berita di BBC tentang kejahatan remaja di Cina yang salah satunya disebabkan banyak keluarga yang mempunyai satu anak, "Dengan kebanyakan keluarga hanya memiliki satu anak, maka anak-anak ini mendapatkan tekanan yang lebih besar sekarang dibandingkan di masa lalu," begitu berita yang dikutib BBC dari China Daily."

Memang tidak jelas sih apa hubungannya, dan bagaimana bisa banyak keluarga satu anak menyebabkan anak mendapat tekanan yang lebih besar?

Ingatan saya tertuju pada perkataan Dahlan Iskan beberapa tahun yang lalu. Kira-kira akhir 2005 saya mendamping bos bertemu Dahlan. Saya ingat ia mengatakan, "baru saja saya berpapasan dengan anak buah saya yang sedang mengajak anaknya ke kantor, kemudian saya tanya berapa anaknya, setelah saya tahu ia baru mempunyai anak satu, saya langsung menganjurkan untuk menambah satu lagi."

Ia menjelaskan, dalam satu keluarga itu minimal harus mempunyai dua anak. Karena beban anak setelah dewasa nanti tidak terlalu berat menanggung keluarganya sendiri dan keluarga orang tuanya. Setelah tua nanti, orang tua juga perlu diurus. Kalau ada dua saudara kan bisa berbagi tanggung jawab. "Bayangkan lagi kalau anak tunggal nikah sama anak tunggal, ada empat orang yang menjadi tanggunjawabnya," imbuhnya lagi.

Wah tambah bingung nih. Bagaimana menurut teman-teman?


--------------------------------------
Gambar : Azif waktu main ninja-ninjaan, tapi gerah, penutup mulutnya dibuka, jadi seperti kerudung.

Sumber data  dan berita :
  1. Penduduk Dunia Capai 6,5 Miliar (Kompas, Senin, 27 Februari 2006)
  2. Ketahanan Pangan dan Kemajuan Bangsa (Media Indonesia, 30 Oktober 2007)
  3. Hari Air Sedunia (UNDP-Indonesia)
  4. Kejahatan remaja di Cina (BBC-Indonesia, 05 Desember 2007)

Blog EntryHutan dan Kisah Anak dengan Coklat di TanganDec 5, '07 9:11 PM
for everyone
Suhu udara semakin panas. Sejak akhir abat-19 suhu permukaan bumi meningkat 1 derajat Fahrenheit. Suhu terpanas terjadi pada 15 tahun terakhir ini. Terjadilah pemanasan global sehingga es dan gletsyer di kutub mencair. Akibatnya permukaan air laut meningkat 4 sampai 10 inci sepanjang abad terahir.
 
Musim semakin tidak menentu. Hujan dan kemarau sudah tidak dapat diperkirakan lagi kapan datangnya. Curah hujan pun mengalami penurunan yang berakibat pada berkurangnya sumber air bersih bagi kehidupan manusia di Bumi. Kekeringan dimana-mana. Hidup dan kehidupan manusia di Bumi terancam.
 
Yang menjadi penyebab Bumi mengalami demam tinggi adalah karena kandungan karbon dioksida (CO2) dalam admosfir melebihi batas alaminya. CO2 terlalu banyak yang terlepas ke udara karena aktifitas pembakaran bahan bakar fosil tanpa ada yang menahannya.
 
Hutan, sebagai media penahan CO2 semakin menipis keberadaannya. Aktifitas ekonomi manusia memaksa melakukan penggundulan hutan untuk bahan baku industri atau pembukaan lahan pertanian dan perkebunan. Kini tinggal 8 persen saja hutan utuh yang tersisa di seluruh dunia.
 
Dunia berteriak-teriak agar sisa hutan itu dipertahankan, dijaga untuk kelestarian hidup seluruh manusia di Bumi. Pembukaan hutan dengan alasan apapun dikecam sebagai tindakan yang tidak perduli lingkungan. Tapi anehnya, yang menikmati hasil hutan itu juga negara-negara yang berteriak-teriak itu. Seperti hasil hutan Indonesia, 11 persennya dikirim ke Amerika dan 9 persennya ke Eropa.
 
Negara-negara yang masih punya sisa hutan diperlakukan layaknya seorang adik dalam kisah "Anak dengan Coklat di Tangah" yang ditulis Lie Charlie tahun 2004 yang lalu.
 
Ceritanya, ada dua orang kakak beradik. Mula-mula mereka mempunyai masing-masing sepotong coklat di tangan. Sang kakak tanpa berpikir panjang langsung melahap habis coklatnya. Si adik melongo melihat kelakuan kakaknya. Ia masih kecil dan belum punya nafsu macam-macam.
 
Setelah beberapa waktu, si adik bertambah besar. Keinginan untuk menikmati coklat mulai muncul. Coklat yang ada di tangannya kemudian didekatkan ke mulut untuk dicicipi. Sekonyong-konyong sang kakak marah besar dan menghardik adiknya, "Bodoh, jangan kau makan coklat itu.
 
Si adik tidak memahami kemarahan kakaknya, "memangnya kenapa kak?" tanyanya.
 
"Sebab kalau kau makan juga cokelat itu, kita tidak punya cokelat lagi!" jawab kakaknya enteng dan seenaknya dengan lagak berfilsafat.
 
Siapa sang kakak, saya kira kita sudah tau semua. Ya yang menghabiskan dan menikmati hutannya terlebih dahulu untuk keperluan mereka menjadi negara besar dan maju. Yang dengan pongahnya juga berlagak sebagai pahlawan dunia dengan melarang penebangan hutan yang tersisa. Kebetulan juga, sisa hutan itu berada di negara-negara yang sedang berkembang yang ingin menikmati hasil hutan untuk menjadi negara maju seperti yang dicapai sang kakak.
 
Bisa saja, si adik bilang kalau ini adalah haknya, bagiannya. Terserah, mau saya makan atau saya simpan bukan urusanmu. Tapi sepertinya si adik bukanlah orang yang serakah dan tidak peduli. Diajaklah semua berunding bagaimana menghadapi krisis bersama ini.
 
Lahirlah Protokol Kyoto. Kesepakatan itu menghasilkan komitmen untuk melaksanakan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Pembukaan hutan jangan asal tebang, harus dipikir kelestariaannya. Juga untuk sang kakak, jangan terlalu boros menggunakan energi yang berpotensi banyak membuang CO2 ke atmosfir Bumi.
 
Tapi dasar kakak yang keras kepala. Perundingan itu dia langkahi sendiri, tidak mau berkomitmen bersama. Alih-alih mengurangi pembuangan CO2, dia malah menjadi penyumbang terbesar CO2 ke atmosfir Bumi. Dan lagi-lagi berfilsafat "mengurangi pembuangan CO2 sangatlah penting karena menyangkut kehidupan manusia di seluruh dunia, tapi jangan sampai usaha itu menghalangi negara untuk memakmurkan rakyatnya."
 
"Okelah, kemakmuran rakyat adalah tujuan setiap negara seperti saya," kata sang adik. "Untuk itu kalian harus perduli juga,  saya juga ingin memakmurkan rakyat saya, untuk itu beri kami insentif untuk setiap usaha kami melestarikan hutan kami yang hasilnya juga kalian nikmati. Insentif itu akan saya gunkanan untuk memakmurkan rakya saya"
 
Perundingan dimulai lagi, si adik menawarkan usulah-usulan yang menurutnya berdasar pada keadilan bersama. "Sudah saatnya keadilah ekologi ditegakkan bersama-sama, untuk kemakmuran bersama dan untuk kelestarian hidup dan kehidupan di Bumi yang kita huni bersama ini," terang si adik.
 
Apakah sang kakak akan menerima usulan si adik dengan konsep keadilan ekologi dan bersedia mengikat perjanjian? Atau tetap pada kepongahan dan kesombongannya, seperti saat menolak Protokol Kyoto dengan perkataan yang menghina, "biaya relokasi penduduk kepulauan yang tenggelam lebih kecil dibanding pengurangan emisi." Perundingan masih berlangsung, kita tunggu saja apa hasilnya.

Saya tertarik dengan isu pemanasan global dan perubahan iklim yang saat ini sedang hangat dibicarakan media-media. Tidak saja karena ada sidang PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC) di bali tanggal 3 sampai 14 Desember ini. Juga karena sangat terasa sekali perubahan iklim yang terjadi beberapa tahun terakhir ini seperti tidak menentunya musim hujan dan kemarau, suhu udara terasa panas dan terjadinya banjir dan kebakaran hutan yang parah.

Kemudian, saya berjalan-jalan di dunia maya untuk mengunduh informasi tentang perubahan iklim ini. Mendaratlah saya ke situs WWF-Indonesia. Saya menemukan tanya jawab soal pemanasan global dan perubahan iklim. Sangat informatif dan banyak menambah pengetahuan.

Berikut isi tanya jawab itu, mudah-mudahan berguna bagi teman-teman semua.

Apakah yang dimaksud dengan Efek Rumah Kaca (ERK) dan penyebabnya?

Efek Rumah Kaca dapat divisualisasikan sebagai sebuahproses. Pada kenyataannya, di lapisan atmosfer terdapatselimut gas. Rumah kaca adalah analogi atas bumi yang dikelilingi gelas kaca. Nah, panas matahari masuk ke bumi dengan menembus gelas kaca tersebut berupa radiasi gelombang pendek. Sebagian diserap oleh bumi dan sisanya dipantulkan kembali ke angkasa sebagai radiasi gelombang panjang.

Namun, panas yang seharusnya dapat dipantulkan kembali ke angkasa menyentuh permukaan gelas kaca dan terperangkap di dalam bumi. Layaknya proses dalam rumah kaca di pertanian dan perkebunan, gelas kaca memang berfungsi menahan panas untuk menghangatkan rumah kaca. Masalah timbul ketika aktivitas manusia menyebabkan peningkatan konsentrasi selimut gas di atmosfer (Gas Rumah Kaca) sehingga melebihi konsentrasi yang seharusnya. Maka, panas matahari yang tidak dapat dipantulkan ke angkasa akan meningkat pula. Semua proses itu lah yang disebut Efek Rumah Kaca. Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan dampak dari Efek Rumah Kaca.

Apakah Efek Rumah Kaca merupakan proses alami?

Ya! Efek Rumah Kaca terjadi alami karena memungkinkan kelangsungan hidup semua makhluk di bumi. Tanpa adanya Gas Rumah Kaca, seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), atau dinitro oksida (N2O), suhu permukaan bumi akan 33 derajat Celcius lebih dingin. Sejak awal jaman industrialisasi, awal akhir abad ke-17, konsentrasi Gas Rumah Kaca meningkat drastis. Diperkirakan tahun 1880 temperatur rata-rata bumi meningkat 0.5 – 0.6 derajat Celcius akibat emisi Gas Rumah Kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia.

Apa buktinya bahwa Efek Rumah Kaca itu benar-benar terjadi ?

Melalui beberapa bukti berikut:
  • Pertama, berdasarkan ilmu fisika, beberapa gas mempunyai kemampuan untuk menahan panas.Tak ada yang patut diragukan dari pernyataan ini.
  • Kedua, pengukuran yang dilakukan sejak tahun 1950-an menunjukkan tingkat konsentrasi Gas Rumah Kaca meningkat secara tetap, dan peningkatan ini berhubungan dengan emisi Gas Rumah Kaca yang dihasilkan industri dan berbagai aktivitas manusia lainnya.
  • Ketiga, penelitian menunjukkan udara yang terperangkap di dalam gunung es telah berusia 250 ribu tahun. Artinya:
    • Konsentrasi Gas Rumah Kaca di udara berbeda-beda di masa lalu dan masa kini. Perbedaan ini menunjukkan adanya perubahan temperatur
    • Konsentrasi Gas Rumah Kaca terbukti meningkat sejak masa praindustri.
Apa sajakah yang termasuk dalam kelompok Gas Rumah Kaca?

Yang termasuk dalam kelompok Gas Rumah Kaca adalah karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PFC), sampai sulfur heksafluorida (SF6). Jenis GRK yang memberikan sumbangan paling besar bagi emisi gas rumah kaca adalah karbondioksida, metana, dan dinitro oksida. Sebagian besar dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) di sektor energi dan transport, penggundulan hutan, dan pertanian. Sementara, untuk gas rumah kaca lainnya (HFC, PFC, SF6) hanya menyumbang kurang dari 1%.

Darimanakah emisi karbondioksida dihasilkan ?

Sumber-sumber emisi karbondioksida secara global dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bum dan batu bara):
  • 36% dari industri energi (pembangkit listrik/kilang minyak, dll)
  • 27% dari sektor transportasi
  • 21% dari sektor industri
  • 15% dari sektor rumah tangga & jasa
  • 1% dari sektor lain-lain.
Apakah penghasil utama emisi karbondioksida?

Sumber utama penghasil emisi karbondioksida secara global ada 2 macam.
Pertama, pembangkit listrik bertenaga batubara.
Pembangkit listrik ini membuang energi 2 kali lipat dari energi yang dihasilkan. Semisal, energi yang digunakan 100 unit, sementara energi yang dihasilkan 35 unit. Maka, energi yang terbuang adalah 65 unit! Setiap 1000 megawatt yang dihasilkan dari pembangkit listrik bertenaga batubara akan mengemisikan 5,6 juta ton karbondioksida per tahun!
Kedua, pembakaran kendaraan bermotor.
Kendaraan yang mengonsumsi bahan bakar sebanyak 7,8 liter per 100 km dan menempuh jarak 16 ribu km, maka setiap tahunnya akan mengemisikan 3 ton karbondioksida ke udara! Bayangkan jika jumlah kendaraan bermotor di Jakarta lebih dari 4 juta kendaraan! Berapa ton karbondioksida yang masuk ke atmosfer per tahun?

Lengkapnya unduh filenya di sini, kalau gagal lewat WWF Publication dulu cari di Factsheet-nya. Masih tidak bisa? Heheheh....Saya minta alamat email teman-teman, nanti saya kirim lewat japri.


Blog EntryPemimpin SejatiDec 3, '07 9:51 PM
for everyone
Gambar ini saya ambil dari jurnal Perang Baliho di Kendari dari blognya Mas Arham. Ya ini gambar baliho kampanye seorang Calon Gubernur di Sultra.

Menarik sekali tulisan dalam baliho itu, "PEMIMPIN SEJATI ADALAH PELAYAN RAKYAT". Gambarnyapun menarik, seolah-olah mengatakan kalau ingin menjadi gubernur harusnya mau menjadi pelayan rakyat. Arti pelayan pun dianalogikan sebagai tukang sapu dengan pakaian yang sederhana.

Kalau kesadaran ini memang benar dipunyai oleh calon gubernur itu saya salut padanya dan saya akan memilih dia seandainya saya punya hak pilih disana.

Pemerintahan diadakan karena ada kebutuhan dan keperluan rakyat yang harus diurus dan dicukupi. Kalau rakyat bisa mengurus kebutuhan dan keperluannya sendiri tidak ada gunanya pemerintahan didirikan. Rakyat mengumpulkan uang dengan membayar pajak untuk menggaji pejabat dalam pemerintahan. Sama artinya dengan seorang majikan yang menggaji para pembantunya. Nah kalau pemimpin pemerintahan sadar akan hal itu dia memang seorang pemimpin sejati.

Tapi benarkah baliho itu berangkat dari kesadaran seorang calon pemimpin? Nanti dulu. Masa kampanye adalah masa tebar pesona. Janji-janji indah ditebar dimana-mana. Seolah-olah semua masalah akan selesai tuntas kalau rakyat memilihnya.

Indonesia tercinta ini akan bebas dari masalah jika para pemimpin itu memenuhi janjinya saat kampanye. Jakarta bebas banjir dan macet. Pendidikan gratis. Kesehatan bagi semua rakyat terjamin. Kesempatan kerja akan terbuka luas. Pengangguran dan kemiskinan akan tuntas tas tanpa sisa.

Tapi kita bisa lihat dan rasakan bersama, bagaimana janji-janji kampanye itu terlupakan begitu saja. Rakyat juga sudah pesimis, siapa saja yang akan terpilih tetap saja mereka hidup dalam kesusahan.

Kalau memang benar pemimpin sejati itu adalah pelayan, lebih pengalaman mana calon gubernur itu dengan para TKI yang sudah bertahun-tahun menjadi pelayan bagi majikannya?

Pages:123456789
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help