catatan kecil imam isnaini

Reviews

ReviewReviewReviewKagum Pada Orang IndonesiaJun 17, '08 10:04 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Other
Author:Emha Ainun Najib
Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yaitu ngelu-elu yang berarti mengatakan sesuatu tetapi mengharapkan efek yang berlawanan. Misalnya ketika seorang ibu mengatakan kepada anaknya: "Kono, dolano terus, rausah mulih", sana main terus jangan pulang sekalian, ibu itu bukan berarti menyuruh beneran agar anaknya tidak pulang, tetapi mengharap sebaliknya, anaknya tidak melulu main.

Membaca "Kagum Pada Orang Indonesia", buku kumpulan tulisan Emha Ainun Najib di Suara Merdeka antara tahun 2003 sampai 2007 dan satu transkrip ceramahnya di berbagai tempat, terasa bahwa Cak Nun sedang ngelu-elu kita sebagai orang Indonesia. Dalam buku ini, ia banyak memuji sikap dan perilaku orang Indonesia, entah sebagai rakyat, pemimpin atau sebagai komunitas berbangsa.

Misalnya, ketika Indonesia dipandang masyarakat dunia sebagai negara miskin karena krisis yang berkepanjangan tetapi perilakunya tidak menunjukkan kekrisisannya, ia menulis: Para pakar dunia di bidang ilmu sosial, ilmu ekonomi, politik dan kebudayaan, sudah terbukti terjebak dalam mempersepsikan apa yang sesungguhnya terjadi pada bangsa kita. Penduduk seluruh dunia membayangkan Indonesia adalah kampung-kampung setengah hutan yang kumuh, banyak orang terduduk di tepi jalan karena busung lapar, mayat-mayat bergeletakan, perampok di sana sini, orang berbunuhan kareba berbagai sebab. Negeri yang penuh duka dan kegelapan.

Padahal di muka bumi tak ada orang yang bersukaria melebihi orang Indonesia. Tak ada orang berjoget siang malam melebihi bangsa Indonesia. Tak ada masyarakat berpesta, tertawa-tawa, ngeses baass buuss baass buuss, jagongan, kenduri, serta segala macam bentuk kehangatan hidup melebihi masyarakat kita....(hal 14)

Tentang jagongan itu, ia benar, sudah sering saya lihat di warung-warung kopi, banyak orang nongkrong disitu, anak-anak muda sampai orang tua berkumpul ngopi bareng. Kalau tidak percaya, coba sekali-sekali berkunjung ke kampung saya, pasti pemandangan seperti itu mudah didapat. Malah sekarang, warung kopi di emperan-emperan toko menjamur dan tidak pernah sepi pengunjung.

Siapa bilang Indonesia itu krisis, "tentang berita krisis negara kita itu hanyalah sebagai ungkapan kerendahan hati", katanya. Kalau kita bilang "Negara kita sedang krisis", itu semacam tawadhu' sosial, suatu sikap yang menghindarkan diri dari sikap sombong. Kalau pemerintah kita terus berhutang trilyunan dolar, itu strategi agar kita disangka miskin. Itu taktik agar dunia meremehkan kita. Karena kita punya prinsip religius bahwa semakin kita direndahkan oleh manusia, semakin tinggi derajat kita di hadapan Allah. Semakin kita diperhinakan oleh manusia di bumi, semakin mulia posisi kita di langit... (hal 15)

Mungkin Cak Nun sudah geregetan, seperti ibu yang geregetan pada anaknya yang sukanya main terus, dengan cara apa lagi mengingatkan orang-orang Indonesia. Ia sudah ngomong berbusa-busa di berbagai tempat, ada pengajian padang bulan, ada kenduri cinta dan lain-lain, tetapi tidak ada hasilnya. Sebelumnya, Mochtar Lubis sudah mengingatkan kita dengan mengidentifikasi lebih dari sepuluh sifat orang Indonesia yang kebanyakan bernada negatif. Taufik Ismail pada 1998 yang lalu juga menyindir kita dengan menulis sebuah puisi yang berjudul "Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia". Dengan ngelu-ngelu, kagum pada orang Indonesia, Cak Nun berharap orang Indonesia menjadi sadar.

Memang, terkadang kita perlu diolok-olok, dihina dan direndahkan, agar kita bangkit. Kalau olok-olok dan hinaan itu terasa menyakitkan, sebenarnya ngelu-elu itu lebih menyakitkan lagi. Boleh kita sakit hati, menggerutu atau sedih, tetapi apababila tidak merubah sikap kita, selamanya akan seperti itu.

Detail Buku :
Judul : Kagum Pada Orang Indonesia
Penerbit : Progres
Cetakan Pertama, Januari 2008
Tebal : 56 halaman
Harga : Saya belinya Rp 10.000,-


ReviewReviewReviewReviewChairil Anwar, Sebuah pertemuanFeb 11, '08 8:58 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Arief Budiman
Siapa yang tidak kenal Chairil Anwar? Seorang penyair besar pada jamannya, dan sampai saat ini pun karya-karyanya selalu menjadi bahan kajian yang menarik. Memahami sekumpulan sajak Chairil, membuat kita bisa melihat pandangannya terhadap berbagai macam hal di sekelilingnya dari waktu ke waktu.

Buku, Chairil Anwar, Sebuah pertemuan, mengajak kita memahami sajak-sajak Chairil secara berurutan dari yang pertama ditulis sampai yang terakhir. Dari pemahaman yang berurutan tersebut bisa diketahui perkembangan pandangan dan gejolak batin yang dialami Chairil.

Di babak pertama perjalanan karir sastranya, Chairil menghadapi kenyataan, Ia ditinggal neneknya meninggal dunia. Kenyataan itu membawa Chiril pada sebuah pertanyaan filosofis tentang kehidupan. Untuk apa hidup ini kalau pada kahirnya akan mati. Apa artinya harapan, cita-cita dan keinginan toh pada akhirnya semua sia-sia.

Bagi Chairil hidup bagaikan sebuah pematang yang menahan dentuman gelombang laut yang dalam. Untuk apa pematang selalu dipertahankan toh pada akhirnya akan hancur tidak kuasa menahan gelombang. Pematang akan sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk.

Kemudian Ia bertemu sosok pahlawan legendaris, Pangeran Diponegoro. Dia melihat Diponegoro begitu bergairah mempertahankan hidup tanpa rasa takut. Dalam sajak Diponegoro ia mengatakan
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati

Dalam hidup Diponegoro, ada sesuatu yang diperjuangkan. Sesuatu itu adalah kemerdekaan, hidup terbebas dari belenggu penjajahan. Bagi Diponegoro, kemerdekaan lebih penting dari hidup itu sendiri. Hidup bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan hanya supaya jangan mati. Hidup harus diisi dengan arti. Hidup akan cukup berbahagia kalau dia punya arti, meski arti itu hanya kita berikan satu kali.

Di sini, Chairil dihadapkan pada dua pilihan hidup. Menjalankan hidup sebagaimanan adanya, hidup berjalan menyusuri waktu. Karena memang, kehidupan itu sulit untuk dipahami dan karena manusia tidak berdaya, lemah menghadapi sang maut. Atau hidup dengan mengikatkan diri dan berpegang pada sebuah prinsip yang harus diperjuangkan meski mati menjadi akhirnya seperti kehidupan Diponegoro.

Setelah memikirkan masak-masak akhirnya Ia memilih untuk menjalankan hidup sebagaimanan adanya. Ia tidak mau mengikatkan diri pada sesuatu. Ia tahu, pilihan ini akan membawa konsekuensi-konsekuensi, hidup dalam kesendirian dan kesepian, hidup tanpa idialisme, kering kerontang tanpa warna. Ia selalu konsiten dan teguh pada pilihannya, meski kenistaan yang ia terima.
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Penderitaan demi penderitaan Ia alami. Hingga suatu saat ia menyerah, mengikatkan diri pada harapan dan cita-cita seorang religi.
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sugguh
mengingat Kau penuh seluruh
caya-Mu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintu-Mu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

Penyerahan itu hanya untuk sementara. Chairil kembali pada pilihannya yang pertama, hidup mengembara, layaknya Ahasveros, tanpa rumah dan tempat kembali.

Sebuah pertemuan, memang menjadi jembatan antara sang maestro dengan pembacanya. Membaca buku ini seolah membawa kita lebih dekat padanya. Seperti menyelam di samudra makna sebuah sajak, meski pada dasarnya kita tidak bisa atau sulit memahami sajak.


ReviewReviewReviewReviewI Not StupidDec 13, '07 10:50 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Education
Antara anak dan orang tua sering sekali terjadi pertentangan. Orang tua menginginkan anaknya kelak menjadi orang yang baik. Maka disusunlah nilai-nilai yang harus dipatuhi anak. Ditentukan siapa yang boleh menjadi teman dan siapa yang tidak. Anak harus pintar di sekolah, dengan sederet nilai akademis yang memuaskan.

Di sisi yang lain, anak mempunyai keinginan dan minat. Mempunyai teman dan sahabat sendiri yang terkadang tidak sesuai dengan kriteria orang tuanya. "Jaman sudah berubah, anak muda harus ikut perubahan," katanya. Sosok orang tua adalah sosok yang kuno, kolot dan kaku. Sulit sekali menerima perubahan jaman.

I Not Stupid, sebuah film lama, drama komedi produksi Singapura, memberi gambaran pertentangan itu. Tiga orang sahabat, Kok Pin, Boon Hock dan Terry Khoo, mempunyai nasib yang mirip. Ketiganya mendapat tekanan dari keluarganya masing-masing untuk mendapat prestasi akademis yang tinggi. Padahal sangat berat bagi mereka untuk mencapainya. Selain karena kemampuan mereka yang pas-pasan, lingkungan dimana mereka tinggal tidak mendukung untuk mencapai prestasi itu.

Kok Pin, payah sekali kemampuan berhitungnya. Usaha sekeras apapun, nilai matematikanya tidak bisa melewati angka 5. Sampai ibunya putus asa dan menggunakan kekerasan saat mendampinginya belajar matematika. Lengannya dipukul dengan rotan jika ia sulit mengerti apa yang diajarkan ibunya. Ia pun harus menyiapkan lengannya kembali jika pulang dengan membawa hasil test yang jelek.

Sebenarnya ia pandai sekali menggambar dan punya bakat dibidang itu. Tetapi ibunya tidak mau menerima, menggambar tidak bisa diandalkan untuk menghadapi masa depan kata ibunya.

Boon Hock lahir dalam keluarga yang kurang mampu. Setiap hari ia harus membantu melayani para tamu di restoran milik keluarganya. Ditambah lagi kewajiban mengurus adiknya yang masih balita. Sangat sedikit sekali waktunya untuk belajar.

Sebaliknya, Terry Khoo adalah anak seorang pengusaha sukses. Orangtuanya super sibuk. Waktu dan pikiran orang tuanya lebih banyak digunakan untuk mengurusi bisnis. Urusan anak menjadi tanggung jawab ibunya yang sayangnya juga sibuk berbisnis. Anak hanya dibekali aturan-aturan yang harus dipatuhi. Semua kegiatan anak harus sepengetahuan orang tua dan segala urusan anak harus diputuskan orang tua. Karena itu Terry menjadi anak yang lemah, kurang percaya diri dan tidak terbiasa mengambil keputusan sendiri.

Kemudian muncullah Cheryl Chan sebagai wali kelas EM3 yang baru. EM3 adalah level terendah dalam sistem pendidikan di Singapura. EM3 berisi anak-anak yang mempunyai nilai akademis yang rendah, termasuk nilai matematika dan bahasa Inggris.

Dalam pertemuan pertama dengan anak-anak kelas EM3, Chery Chan mengatakan, "dulu saya juga mempunyai nilai matematika yang rendah seperti kalian. Kemudian saya berusaha mengenal matematika lebih dekat dan mendalam. Lama kelamaan menjadi suka dan akhirnya nilai matematika saya menjadi bagus."

Ia melanjutkan, "sebenarnya ketika saya mendapat nilai matematika yang bagus, bukan matematika yang saya taklukkan, tetapi diri saya sendirilah sebenarnya yang saya taklukkan."

Kata-kata Cheryl itu membuat motivasi Boon Hock dan Terry berkobar. Keduanya berusaha mengenal matematika. Mereka belajar bukan hanya karena ingin mendapat nilai bagus, tapi juga ingin mengenal matematika lebih dekat dan mendalam sekaligus inging menaklukkan diri mereka sendiri.

Sementara, Kok Pin tetap saja mendapat nilai yang rendah. Ia merasa bersalah tidak bisa membuat ibunya senang. Lebih sedih lagi, usia ibunya diperkirakan tinggal 3 bulan lagi. Leukimia yang diderita ibunya semakin parah.

Kok Pin memberanikan diri menemui ibunya yang saat itu sedang terbaring lemah di rumah sakit. Dengan hujan air mata ia memohon maaf belum bisa menyenangkan ibunya. Rupanya ibunya sadar dan menerima keadaan anaknya, "melihat kamu berusaha keras, ibu sudah senang".

Keadaan tambah haru ketika Cheryl datang membawa kabar baik. Kok Pin mendapat juara kedua lomba menggambar untuk anak sekolah di Amerika Serikat. Rupanya secara diam-diam Cheryl mengirimkan karya Kok Pin untuk ikut lomba itu.

Diakhir cerita, ketiga sahabat tadi menyadari, meskipun tidak semua perkataan orang tua dapat mereka terima tetapi mereka yakin semua itu karena orang tua ingin mereka menjadi baik.

Film ini sangat tepat menjadi tontonan keluarga. Gaya komedinya sangat menghibur. Keharuan yang ditampilkan bisa membuat yang bersitegang merenung, menyadari kekeliruan dan memahami sikap dan posisi masing-masing.


ReviewReviewReviewReviewMr ChinaOct 23, '07 9:25 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Business & Investing
Author:Tim Clissold
Dalam pertemuan dengan klien untuk meformulasikan sebuah riset pasar produknya, ada sebuah ketakutan yang diungkapkannya menyangkut prospek bisnis di tahun-tahun mendatang. Produk serupa dari China mulai membanjiri pasar di Indonesia dengan harga yang sangat kompetitif. "Kalau kondisi ini terus berlangsung pabrik kami akan tutup karena dengan usaha apapun kami tidak bisa bersaing harga dengan mereka," ungkapnya.

China memang menjadi fenomena yang menarik sekaligus menakutkan bagi negara-negara di dunia. Bahkan negara sebesar Amerika Serikat (AS) pun kawatir dengan perkembangan China. Dalam kurun waktu 25 tahun, China menjelma dari negara besar yang miskin menjadi pusat kekuatan kapitalisme global. Pertumbuhan ekonomi China tiga kali lebih cepat dibandingkan AS.

Dibalik kesuksesan China, ternyata ada kisah tragis dari seorang bankir Wall Street yang mengalami kerugian besar dalam usahanya membangun kerajaan bisnis di China. Kisah ini diramu menjadi sebuah novel yang menarik, "Mr China".

Buku ini sama sekali bukan buku anti China. Justru buku ini disusun karena Tim Clissold, sang pengarang, sangat menggandrungi China. Ia sudah delapan belas tahun tinggal dan bekerja di China. Peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam buku ini lebih banyak mengungkap kedunguan jenis orang seperti orang Wall Street yang terlalu bersemangat ingin menaklukkan China tanpa mengerti bagaimana China yang sebenarnya.

"Mr China" lebih tepat disebut kisah petualangan. Tiga petualang, seorang bankir Wall Street, seorang konsultan investasi Inggris dan seorang lokal, berangan-angan ingin menaklukkan China. Tetapi jalan terjal menghadang setiap usaha yang dilakukan ketiganya. Hingga angan-angan itu sirna bersama raibnya modal ratusan juta dolar nilai investasinya.

Clissold yang berperan sebagai aku, sangat terpesona dengan apa yang dilihatnya ketika pertama kali ditugaskan berkunjung ke China oleh sebuah konsultan besar di London tempatnya bekerja. Keterpesonaan itu membuatnya ingin ditugaskan kembali di China. Kekuatan sihir China membuat Ia memutuskan untuk keluar karena permintaanya ditolak pimpinan perusahaan.

Atas inisiatifnya sendiri Ia kembali ke Beijing dan belajar tentang China. Dua tahun kemudian, ketika Ia sudah fasih berbahasa mandarin dan sedikit tahu tentang budaya China, Ia melamar ke sebuah perusahaan yang membutuhkan penasehat investasi ke China. Tanpa disangkanya perusahaan itu adalah tempatnya bekerja yang dulu.

Saat itu terjadi eforia investasi ke China, banyak investor yang ingin menanamkan modalnya ke China. Dana-dana untuk China dalam jumlah yang besar terkumpul tanpa tahu bagaimana investasi ke China dilakukan. Sebagai penasehat investor, Clisold bertugas mencari proyek-proyek investasi untuk menyerap dana tersebut.

Dalam usahanya itu Ia bertemu dengan Pat, seorang bankir Wall Street dan Ai Jian, mantan pejabat pemerintah China. Ketiganya merupakan pasangan yang solit. Dalam kurun waktu dua tahun hubungan ketiganya berubah menjadi sebuah perusahaan dengan dua puluh bisnis dan mempunyai lebih dari dua puluh lima ribu pegawai.

Namun demikian, usaha ketiganya menghadapi banyak masalah. Mulai dari mental pekerja yang buruk, budaya tidak disiplin, pengeluaran perusahaan yang tidak terkontrol sampai pada penggelapan uang oleh direktur perusahaan. Belum terbentuknya perangkat hukum investasi dan juga kelakuan aparat pemerintah yang kurang tanggap menyebabkan usaha penyelesaian melalui polisi dan pengadilan menemui jalan buntu. Bukan menyelesaikan masalah, malah menambah masalah.

Menghadapi masalah yang terus-menerus datang membuat kesehatan Clissold terganggu. Ia mengambil jeda untuk mengembalikan kondisi kesehatannya. Dalam perenungannya, akhirnya Ia sadar bahwa pendekatan gaya Wall Street tidak bisa diterapkan di China. China mempunyai kebudayaan sendiri yang sudah berkembang sejak lima ribu tahun yang lalu.

Dengan semangatnya yang baru, Ia bertekat kembali ke China untuk memulai pertempuran dengan pola pikir yang baru. Memang tidak semua masalah diselesaikan dan tidak semua pertempuran dimenangkannya. Tetapi pertempuran itu membawanya pada kesadaran yang baru tentang bagaimana berhubungan dan berbisnis dengan China.

Kisah petualangan ini sangat menarik karena bisa menggambarkan bagaimana sisi lain dari kisah sukses China menguasai pasar dunia. Penggambaran itu sangat berguna bagi pebisnis untuk mendapatkan pelajaran bagaimana melakukan bisnis dalam iklim yang semrawut dan perilaku birokrat yang menyebalkan.

Di sisi yang lain, membaca "Mr China" menumbuhkan optimisme bahwa Indonesia akan bisa mencapai apa yang telah dicapai China. Tentu dengan syarat ada usaha yang serius dari semua pihak untuk mewujudkannya. Khusus bagi pemerintah, maukah meniru China yang tidak tanggung-tanggung memberantas korupsi tanpa pandang bulu ?


ReviewReviewReviewReviewMari Menyelamatkan Budaya BangsaOct 4, '07 1:03 AM
for everyone
Category:Other
Kita pantas marah dan mengutuk negara tetangga kita. Sudah beberapa kali kita dikecewakannya. Mulai dari banyak kasus kekerasan terhadap tenaga kerja kita sampai pada penggunaan kekayaan budaya kita tanpa minta ijin.

Kita seolah tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak bisa membuktikan klaim-kalim yang kita ajukan. Tapi tidak ada gunanya marah tanpa ada tindakan nyata untuk berubah.

Ada diskusi yang sangat menari di detikForum terkait dengan insiden Rasa Sayange. Untuk melindungi kekayaan budaya kita, salah satu peserta diskusi mengusulkan membuat website tentang budaya Indonesia. Website ini akan menampung semua jenis budaya yang ada di Indonesia.

Bagaimana langkahnya ? Seorang peserta diskusi dengan ID Maskiko menyampaikan langkah yang pertama adalah dengan menginventaris kebudayaan, seni atau apapun yang ada di sekitar kita. Dengan mencantumkan sumbernya, lebih akurant lebih baik. Mungkin dalam ruang lingkup satu provinsi.

Ia mencontohkan untuk daerah Jawa Tengah, list budaya kasarnya adalah :
1. Kategori alat musik : Calung dari Banyumas
2. Kategori rumah adat : Rumah Joglo
3. Kategori lagu : Suwe Ora Jamu
4. Kategori makanan : mendoan dari Banyumas, kripik dari Banyumas.

Sungguh sebuat langkah yang menarik dan pantas untuk kita tiru. Memang kita harus mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan bangsa ini dari usikan bangsa lain.

Saya juga ingin menginventaris seni dan budaya dPonorogo, daerah tempat kelahiran saya :
1. Kesenian khas : Reog Ponorogo
2. Baju : Penadon dan Kolor
3. Makanan : Nasi Pecel Ponorogo
4. Alat musik : slompret khas reog

Hayo siapa lagi yang mau menginventaris kesenian dan budaya di daerahnya ?


ReviewReviewReviewFreakonomicsMay 29, '07 9:04 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner

Saat jalan-jalan ke toko buku, saya menemukan buku Freakonomics karya Steven D. Levitt, seorang ekonom muda dari Amerika, kerja bareng dengan Stephen J. Dubner, kolumnis dari New York Times dan The New Yorker.

Saya tertarik dengan judulnya, Freakonomics, Ekonom "nyeleneh" membongkar sisi tersembunyi segala hal. Seluruh judul babnya adalah sebuah pertanyaan. Menurut Levitt, pertanyaan sangatlah penting, meskipun sederhana. Semua kemungkinan jawaban pertanyaan itu memberi pandangan dari sisi yang berbeda suatu masalah.

Bab 1, diawali dengan pertanyaan, "Apa Persamaan Guru dan Pegulat Sumo ?". Bab ini menceritakan bagaimana seorang guru, demi reputasinya, berbuat curang dengan memberikan jawaban soal ujian persamaan kepada murid-muridnya. Persis seperti kasus Ujian Nasional di Indonesia. Kecurangan juga terjadi di turnamen Sumo, di Jepang. Sumo adalah olah raga yang disakralkan di Jepang, tetapi tetap saja masih ada rekayasa pertandingan.

Yang menarik, pada awal bab diceritakan sebuah studi tentang bagaimana mengatasi keterlambatan penjemputan di penitipan anak. Di salah satu penitipan anak di kota Haifa, Israel, orang tua sering terlambat menjemput anaknya. Akibatnya anak menjadi resah dan pihak penitipan harus menyediakan, paling tidak, satu guru untuk menjaganya.

Seorang ekonom menyarankan agar penitipan menerapkan sistem denda bagi orang tua yang terlambat menjemput anaknya. Saran diterima, tetapi sebelum diterapkan, ekonom tadi mengujicobakan sistem denda tersebut pada 10 penitipan anak selama 20 minggu. Empat minggu awal, denda masih belum dikenakan, hanya mencatat saja keterlambatan yang terjadi sebagai pembanding. Setelah minggu kelima, denda baru diberlakukan.

Ternyata, setelah sistem denda diberlakukan, keterlambatan justru bertambah. Bahkan hampir dua kali lipat dari sebelum diberlakukan denda. Denda tidak menjadikan orang tua mengurangi keterlambatan, justru denda menjadi kompensasi rasa bersalah pada penitipan anak.

Di bab 4, Levitt memaparkan analisanya mengenai penyebab penurunan yang tajam angka kriminalitas di Amerika sekitar tahun 1990. Penurunan itu mengherankan berbagai kalangan karena terjadinya secara tiba-tiba.

Banyak pakar memberikan analisanya. Sebagian besar menyimpulkan penurunan angka kriminalitas itu disebabkan karena semakin menguatnya ekonomi Amerika, juga karena semakin banyaknya polisi dan strategi kepolisian yang sangat inovatif.

Tetapi Levitt memberikan pandangan yang berbeda. Menurunnya angka kriminalitas itu bukan karena faktor ekonomi maupun organisasi kepolisian yang semakin handal. Levitt memaparkan gambaran demografi penduduk Amerika. Pelaku kejahatan kebanyakan adalah anak muda, usia 15 sampai 25 tahun. Jumlah anak muda yang berpotensi melakukan kejahatan pada tahun 1990 sangat kecil, jauh lebih kecil dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Dirunut jauh kebelakang, penurunan jumlah anak muda itu akibat dari kebijakan pelegalan aborsi di sekitar tahun 1970. Ternyata, perempuan yang memanfaatkan pelegalan aborsi itu kebanyakan perempuan dari keluarga miskin, para remaja, perempuan hamil diluar nikah atau ketiga-tiganya. Jumlah remaja yang berpotensi kriminal kecil karena tidak sempat dilahirkan.

Memang analisa Levitt ini mengundang kontroversi, terutama dari kalangan moralis. Kemudian Levitt menjawab, "jika moralis mewakili apa yang seharusnya terjadi, maka ekonom mewakili apa yang sesungguhnya terjadi".

Bagi yang suka berfikir keluar dari konteks umum (out of the box), buku ini sangat menarik, meskipun tidak sepenuhnya menyetujui analisa-analisa yang dikemukakan Levitt.

Buku ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, 2006. Tebal 258 halaman dengan harga Rp. 50.000,-. Teman-teman juga bisa mengakses webnya atau blognya


ReviewReviewReviewReviewTuck EverlastingJan 23, '07 3:30 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Salah satu rahasia kehidupan adalah kematian itu sendiri. Tidak ada yang tahu kapan akan mati atau seberapa lama akan hidup. Yang pasti, semua yang bernyawa akan mati. Semua akan mengalami perjalanan hidup, mulai dari dilahirkan, dewasa, tua dan kemudian mati. Inilah perjalanan yang telah digariskan, hidup sesuai dengan kodrat. Hidup menyusuri perjalanan waktu.

Tetapi, bagaimana seandainya kita bisa memilih untuk hidup sesuai dengan kodrat atau hidup yang abadi, kita akan memilih yang mana ?

----------------------------

Di suatu sore saya dan istri melihat film "Tuck Everlasting" dari CD yang kami sewa di rental dekat kontrakan kami. Film tersebut diangkat dari sebuah novel karya Natalie Babbitt dengan judul yang sama, menceritakan kisah seorang gadis, Winifred "Winnie" Foster (Alexis Bledel), yang melarikan diri ke hutan karena kehidupan yang menyesakkan dan penuh aturan di rumahnya.

Karena terlalu jauh masuk ke hutan Winnie tersesat. Tidak disengaja ia bertemu dengan Jesse (Jonathan Jackson), anak bungsu dari keluarga Tuck yang tinggal jauh di pedalaman hutan. Pertemuan itu diketahui oleh kakak Jesse, Miles (Scott Bairstow). Kemudian Miles membawa Winnie ke rumahnya. Miles sangat marah karena Jesse berhubungan dengan orang asing karena dianggap membahayakan keluarga Tuck.

Winnie diperlakukan dengan sangat baik oleh keluarga Tuck. Bahkan Mae (Sissy Spacek), ibu Jesse dan Miles, merasa sangat senang karena ada perempuan lain di rumahnya. Angus (William Hurt) kepala keluarga Tuck juga menunjukkan sikap yang baik.

Setelah beberapa hari berada di keluarga Tuck, terjalin hubungan asmara antara Jesse dan Winnie. Hingga di suatu malam Jesse mengatakan sebuah rahasia keluarga yang disimpan ratusan tahun. Sebenarnya Jesse saat itu berusia 104 tahun. Seluruh keluarga Tuck ditambah satu kudanya hidup abadi, tidak bisa mati. Ini disebabkan karena mereka meminum air dari mata air tepat di bawah pohon dimana dulu Jesse dan Winnie pertama kali bertemu.

Karena itulah seluruh keluarga Tuck mengasingkan diri. Mereka takut kalau semua orang tahu rahasia itu sehingga akan terjadi kekacauan karena semua orang akan menginginkannya. Tidak ada seorangpun yang tahu kecuali keluarga Tuck dan menantunya, istri Miles yang saat ini dirawat di rumah sakit jiwa di kota.

Seluruh keluarga Tuck mengetahui hubungan Jesse dan Winnie. Akhirnya Angus mengajak Winnie ke tengah danau. Diatas perahu, Angus menceritakan kisah keluarga dan mata air abadi itu. Angus menceritakan semuanya karena kawatir kejadian Ann berulang. Ann tidak pecaya akan rahasia itu, bahkan menuduh keluarga Tuck menjalankan ajaran setan. Ann meninggalkan keluarga Tuck dan sekarang menjadi gila. Angus tidak ingin Winnie menjadi seperti Ann. Tetapi Angus tidak bisa memaksa untuk meminum atau tidak air itu, semua terserah pada Winnie.

"Semua orang menginginkan hidup abadi, sebenarnya yang lebih penting bukan seberapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita hidup" kata Angus kepada Winnie. "Jangan takut mati, takutlah akan kehampaan hidup" lanjut Angus.

Tanpa diketahui Angus dan Winnie, seorang misterius berbaju kuning (Ben Kingsley) melihat mereka berdua. Orang misterius ini sudah sejak lama berkelana mencari keluarga Tuck untuk memiliki rahasia keabadian itu. Ia mendengar dari Ann yang berteriak-teriak menyebutkannya.

Dengan cerdik, orang misterius itu melaporkan apa yang dilihatnya kepada keluarga Winnie yang sudah kawatir kehilangan putri satu-satunya. Ia bercerita bohong. Winnie berada di tangan penculik yang berbahaya dan jahat, sewaktu-waktu bisa melakukan apa saja terhadap Winnie. Keluarga Winnie meminta bantuannya. Ia menyanggupi tetapi dengan syarat hak kepemilikan hutan yang dimiliki keluarga Winnie di serahkan padanya. Dengan terpaksa permintaan tersebut disetujui.

Dibantu polisi dan anjing pelacak, keluarga Winnie menyusur hutan ke tempat yang ditunjukkan orang misterius berbaju kuning tersebut.

Keluarga Tuck sudah menduga keberadaannya diketahui oleh seseorang. Karena itu, mereka berencana pindah ke tempat yang lain dan mengantarkan Winnie pulang. Sesaat sebelum berangkat datanglah orang yang misterius itu. Orang tersebut meminta rahasia abadi itu dengan menyandera Winnie. Ia ingin menguasainya untuk dirinya dan untuk orang yang meninginkannya, tentu dengan sejumlah imbalan yang besar.

Di tengah ketegangan itu, Mae mengendap-endap dan berhasil memukul kepala orang misterius itu dengan balok kayu. Orang itu roboh dan tewas.

Tak seberapa lama rombongan keluarga Winnie dan polisi tiba di tempat itu. Angus dan Mae ditangkan, sementara Miles dan Jesse berhasil meloloskan diri. Angus dan Mae dimasukkan ke penjara. Mae mendapat hukuman mati karena melakukan pembunuhan.

Sebelum hukuman mati dilaksanakan, pada suatu malam, Miles, Jesse dan Winnie berhasil mengeluarkan Angus dan Mae dari penjara. Mereka tidak ingin hukuman mati dilaksanakan karena Mae tidak bisa mati, semua orang akan mengetahui rahasia abadi itu dan kekacauanpun akan terjadi.

Setelah berhasil mengeluarkan Mae dan Angus, keluarga Tuck berpisah dengan Winnie. Sebelum berpisah, Jesse meminta Winnie untuk meminum air abadi itu ketika suasana sudah aman. Suatu saat nanti Jesse akan menjemputnya.

Setelah berpuluh-puluh tahun berlalu, Jesse kembali untuk menjemput Winnie, tetapi yang dicarinya tidak ditemukan. Semua sudah berubah, kecuali Jesse dan keluarganya karena bagi mereka waktu itu tetap tidak bergerak. Kemudian Jesse pergi ke hutan tempat mata air abadi berada. Kembali Jesse tidak menemukan apa yang dicarinya. Mata air sudah hilang. Di atas bekas mata air itu ada sebuah makam, di nisannya tertulis Winifred Foster, tanggal dan tahun meninggalnya. Ternyata Winnie memilih untuk hidup sesuai kodrat, hidup menyusuri jalan waktu.

----------------------------

Bagi saya dan istri, film ini sangat bagus sekali. Sebenarnya kami tidak terlalu suka dengan setting filmnya, setting abad ke-19. Begitu juga bagi penggemar film action, jangan berharap ada adegan-adagan action yang menarik karena memang tidak ada. Kami tertarik dengan filosofi hidup dan kehidupan yang menjadi inti cerita film ini. "Yang terpenting bukan seberapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita menjalaninya. Jangan takut akan kematian, takutlah akan kehampaan hidup".


Category:Other
Saya sedikit kaget membaca berita kunjungan Menteri Percepatan Daerah Tertinggal ke Suku Anak Dalam di Jambi tanggal 15 Januari kemarin.

Rencananya, Bapak Menteri akan memberikan bantuan rumah bagi masyarakat Suku Anak Dalam, tetapi mereka menolaknya, "Kami tidak butuh rumah. Kami hanya minta rimba kami dijaga" kata mereka.

Setelah cari-cari di internet, saya tau bahwa kehidupan mereka memang menyatu dengan hutan, mereka mempunyai peradaban sendiri yang berbeda dengan kita. Hidup berpindah-pindah, rumahnya hanya dari ranting dan dedaunan sekedar tempat berteduh dan ditinggalkan ketika mereka berpindah ke tempat yang lain. Mereka terbiasa tidur beralaskan tanah.

Ya...kalau memang kita menganggap kehidupan mereka tidak layak disebut kehidupan yang baik dan perlu untuk diperbaiki, cara pendekatannya yang harus dipikirkan. Jangan sampai niat baik kita dinilai negatif dan terjadi penolakan.

Yang menarik adalah ungkapan mereka, patut untuk kita renungkan bersama, "Kami hanya minta rimba kami dijaga". Hutan sangat berharga bagi mereka, nyawa bisa menjadi taruhan untuk menjaganya. Bagaimana dengan kita ?


ReviewReviewReviewReviewJohn QFeb 13, '06 12:00 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Kids & Family


Apakah orang miskin tidak layak mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang bagus ? Apakah setiap rumah sakit selalu menanyakan apakah anda punya uang atau tidak, jika tidak, silahkan mencari rumah sakit yang lain ? Itulah pertanyaan yang sempat terfikir dalam benak saya ketika melihat film John Q.

Film ini bercerita tentang perjuangan John Archibald (Denzel Washington) dan istrinya Denise (Kimberly Elise) untuk memasukkan anaknya Michael (Daniel Smith) yang dipanggilnya Mike, kedalam daftar penerima donor jantung. Mike jatuh pingsan ketika bermain baseball. Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter mengatakan, Mike kena gagal jantung dan menyarankan untuk melakukan transplantasi jantung agar Mike tetap hidup.

Keluarga John termasuk keluarga yang kurang mampu sehingga biaya transplantasi sebesar $250,000 tidak mampu dibayarnya. Asuransi yang diikutinya juga tidak mencakup biaya transplantasi tersebut sehingga pihak rumah sakit menolak memasukkan Mike kedalam penerima donor.

Mengetahui hal itu, John berusaha mengumpulkan uang dengan menjual barang yang dimilikinya, termasuk satu-satunya mobil yang dipunyainya. Tetapi uang yang dikumpulkannya masih belum cukup. Setelah mendapat kabar dari istrinya bahwa rumah sakit tidak bisa menolongnya lagi, John nekat memaksa rumah sakit dengan menyanderanya. Berita penyanderaan tersebar. Sebuah stasiun televisi meliput secara khusus penyanderaan itu. Dalam salah satu liputannya, stasiun televisi tersebut mewawancarai salah satu teman John yang mendukung aksinya. Akibat wawancara itu, masyarakat banyak yang bersimpati kepada John. Banyak orang yang berkumpul di depan rumah sakit sambil meneriakkan dukungannya kepada John. Akhirnya rumah sakit terpaksa memenuhi permintaan John.

Muncul masalah baru, jantung yang cocok dengan tubuh Mike tidak tersedia di rumah sakit tersebut. John menawarkan diri menjadi pendonor bagi anaknya. Ia mengatakan "Saya tidak ingin menguburkan anak saya, karena anak sayalah yang seharusnya mengubur saya". Sebelum niat John terlaksana ada kabar bahwa jantung untuk Mike telah tersedia.

Dari sisi acting dan dialog, film ini termasuk buruk, hanya mengandalkan kehebatan seorang Denzel Washington saja. Tidak nampak karakter-karakter lain yang muncul. Tetapi film ini sangat menyentuh sisi emosional pemirsanya. Film ini cocok bagi penggemar film drama keluarga, tetapi tidak menarik bagi penggemar film action.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help