catatan kecil imam isnaini

imam's posts with tag: agama

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag agama
Blog EntryPakaianJun 2, '08 9:48 PM
for everyone
Saya paling tidak suka menunggu tanpa melakukan aktifitas apa-apa. Makanya di dalam tas saya, selalu ada majalah atau buku bacaan. Jika kebetulan lupa membawanya, saya membeli koran. Nah suatu siang saya menunggu waktu tiba pukul satu untuk bertemu seseorang di kantornya. Sengaja, saya datang sebelum jam 12 dan menyempatkan shalat dzuhur di masjid dekat kantornya. Masih ada waktu sekitar 30 menit, saya duduk di serambi dan mengeluarkan buku bacaan.

Belum sempat saya membacanya, tiba-tiba seseorang di samping saya menyapa, "mas, boleh lihat judulnya?" Judul buku yang saya pegang dibacanya, "Menerobos Kegelapan".

Tampaknya ia berusaha memahami buku macam apa yang sedang ia lihat. Saya tersenyum ketika ia menebak buku ini semacam buku motivasi seperti buku motivasi kerja dan lain-lain. Karena masih tampak bingung, saya mengatakan bahwa buku ini biografi Karen Amstrong, mantan biarawati dan seorang yang percaya Tuhan tetapi tidak beragama. Ia tersenyum dan manggut-manggut.

Sebentar kemudian, kami ngobrol setengah diskusi. Ia bilang, "orang seperti itu banyak mas, banyak yang mengakui Islam itu baik, Kristen itu baik, tetapi tidak pernah masuk salah satunya. Tidak benar-benar menjalankan ajarannya. Orang seperti itu seperti orang yang belum pakai celana kemudian pergi ke toko, memilih-milih celana yang mau dibelinya. Karena semuanya bagus, ia bingung memilih yang mana, akhirnya tidak jadi beli."

Ia menambahkan, "menurut orang Betawi, agama itu ageman, pakaian". Saya mengerti apa yang ia maksud, dalam bahasa Jawa, ageman juga sama dengan pakaian. Agama itu mempunyai fungsi sebagaimana pakaian yang bisa meninggikan derajat manusia. Orang yang tidak beragama, sama seperti orang tidak berpakaian. "Mengerti kan mas, bagaimana jika orang tidak berpakaian" ia menambahkan.

Saya kagum dengan ulama-ulama terdahulu, mengajarkan agama dengan cara yang mudah dipahami oleh orang kebanyakan. Nilai-nilai agama diselaraskan dengan nilai-nilai yang sudah lama dianut masyarakat.

Malamnya saya merenung, memikirkan kembali obrolan tentang pakaian itu. Benarkah agama itu sama dengan pakaian? Kalau memang benar, saya melihat orang seperti Karen itu sebenarnya bukan tidak memakai pakaian, tetapi ia membuat pakaiannya sendiri karena kecewa dengan pakaian-pakaian yang ada sekarang. Pakaian yang ada sudah berubah fungsinya. Alih-alih meninggikan derajat pemakaianya, malah menjerumuskannya ke dalam sifat-sifat yang berlawanan dengan fungsi pakaian itu. Agama yang sebenarnya untuk menuntun manusia menuju jalan kebaikan, membantu menciptakan kehidupan yang damai dan sejahtera serta memberi pelita saat kegelapan, justru menghasilkan perilaku yang berlawanan dengan semua itu. Tidak salah juga kan, karena kekecewaan itu Karen menganut agamanya sendiri sesuai yang diyakininya.

Pakaian. Saya kembali merenungkannya. Saya merasa saat ini sedang berpakaian, saya meyakini pakaian yang saya kenakan bisa menempatkan diri saya lebih tinggi daripada derajat hewani. Dan pakaian saya masih berfungsi dengan baik, modelnya juga masih sesuai dengan jaman sekarang. Ini keyakinan saya dan tentu saja setiap orang mempunyai keyakinan masing-masing, bisa sama atau berbeda dengan keyakinan saya. Orang juga bisa menilai pakaian yang dikenakannya paling bagus, paling keren paling sesuai dengan tuntutan jaman. Menurut saya itu wajar, sudah menjadi ketentuan dari-Nya, setiap manusia mempunyai keyakinannya masing-masing.

Masih ngobrol tentang pakaian. Esok harinya saya menceritakan diskusi di serambi masjid itu kepada teman saya. Ia langsung bertanya, "kalau agama itu pakaian, berarti kita bisa berganti-ganti agama seperti berganti pakaian. Kalau sudah tidak nyaman dengan pakaian yang kita kenakan sekarang bisa cari-cari pakaian yang baru. Ato tergantung musimnya, musim dingin pakai yang tebal, musim panas pakai yang tipis. Pakaian juga bisa dilepas di tempat yang tersembunyi, atau saat orang lain tidak melihatnya. Benarkah demikian?"

Saya tidak bisa menjawab, cuma bengong saja.

Blog EntryAntara Ilmuan, Ahli Etika dan AgamaJul 6, '07 9:01 AM
for everyone
Sekitar tahun 1997, terjadi perdebatan karena keberhasilan ilmuan melakukan kloning terhadap biri-biri yang kemudian diberi nama Dolly. Perdebatan semakin menghebat setelah ada berita bahwa kloning juga bisa dilakukan pada manusia. Kloning manusia dianggap sudah menyalahi kodrat manusia karena melakukan intervensi penciptaan manusia yang diyakini sepenuhnya, terutama bagi muslim, adalah hak Tuhan.

Ada kasus yang menarik tentang hubungan antara ilmu pengetahuan, etika dan agama yang terjadi di Kanada saat ini. Melanie Boivin (35 th), seorang Ibu warga negara Kanada, ingin membekukan telurnya untuk dipergunakan putrinya, Flavie, yang kemungkinan besar tidak bisa mempunyai anak karena menderita TURNER'S SYNDROME. Melanie ingin anaknya nanti bahagia karena bisa melahirkan anak.

Akhirnya Ia bertemu Profesor Seang Lin Tan, seorang peneliti dari McGill University Health Center.
(MUHC). Pembekuan dan penyuntikan telur memungkinkan untuk dilakukan. Profesor Tan dan tim risetnya berhasil mengembangkan sebuah metode pembekuan yang tidak merusak telur sehingga dapat dipergunakan oleh perempuan yang menginginkannya.

Program Melanie dan Profesor Tan juga menimbulkan perdebatan. Jika program ini dilakukan, Flavie akan mengandung anak dan sekaligus adiknya. Ada persoalan etik disitu. Profesor tan meminta nasehat dari komite etik independen. Dan komite menyetujui program dilanjutkan dengan alasan si Ibu memberikan telurnya karena kasih sayang kepada anaknya.

Tetapi tetap, keputusan ada di tangan Flavie dan pasangannya nanti apakah akan menggunakan telur itu atau tidak. Juga pertimbangan etik saat program ini dilakukan nanti, etika bisa berubah karena pergeseran waktu.

"Pertimbangan etis berubah dengan pergeseran waktu. Siapa tahu seperti apa nilai etika 20 tahun dari sekarang," kata Profesor Tan.

Perkembangan ilmu pengetahuan memang tidak bisa berdiri sendiri tanpa campur tangan etika dan agama. Ilmu pengetahuan hidup di tengah masyarakat yang mempunyai nilai-nilai etika dan agama. Inilah pentingnya, seorang ilmuan harus dekat dengan ahli etika dan hukum agama agar penerapan ilmu yang dimiliki dapat diterima dan bermanfaat.

Hubungan yang harmonis antara ilmuwan, ahli etika dan agama akan menjamin hidup manusia lebih baik di masa yang akan datang.



Gambar dan sumber berita :

Gadis Mungkin Mengandung Adiknya
Seorang Ibu Kanada membekukan telurnya untuk dipergunakan putrinya yang mungkin menjadi mandul.

Kontroversi Kloning Manusia Dalam Perspektif Syariat
Persoalan yang pertama adalah terkait dengan kontroversi adanya "intervensi penciptaan" yang dilakukan manusia terhadap "tugas penciptaan" yang semestinya dilakukan oleh Allah SWT.



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help