catatan kecil imam isnaini

imam's posts with tag: azif

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag azif
Blog EntryJambu MonyetOct 2, '07 2:55 AM
for everyone
Sabtu kemarin saya mengajak anak saya berkunjung ke rumah kakek (buyut anak saya). Agar mau diajak, saya memberitahunya kalau di rumah buyut ada gunung dan kita bisa mendakinya. Anak saya langsung bersemangat dan bergegas masuk ke mobil.

Sesampai tempat tujuan, tanpa babibu, ia langsung menarik tangan saya pergi ke gunung di belakang rumah. Diajak bersalaman kakek buyutnya aja tidak mau, penginnya cepet-cepet naik gunung. Akhirnya kami berdua, ditambah adik saya dan anaknya langsung menuju belakang rumah. Mulailah petualangan kami.

Sudah hampir menjelang tengah hari, udara saat itu sangat panas. Dengan nafas yang ngos-ngosan, saya terus dipaksa naik sampai ke puncak sambil menggendong anak saya. Kasihan kalau disuruh jalan sendiri terus, lagian jalannya juga mulai menaik dan terjal. Semakin lama, tenaga saya mulai terkuras dan tidak bisa menggantinya karena sedang puasa.

Sebelum sampai di puncak, saya dan adik saya yang juga menggendong anaknya akhirnya menyerah. Dengan menyampaikan alasan-alasan, saya memohon kepada anak saya untuk berhenti sampai di pohon di depan sana. Usaha saya berhasil, ia menyetujui tawaran saya.

Kami berteduh di bawah pohon jambu monyet yang banyak tumbuh di lereng-lerengnya. Kebetulan pohon yang ini agak rindang dan sudah berbuah. Adik saya naik dan memetik dua buah untuk anak saya dan anaknya.

Saya dan adik saya saling berpandangan dan tersenyum melihat mereka berdua melahap jambu monyet. Oya, saya ingat, belum pernah anak saya merasakan jambu monyet sebelumnya. Mungkin karena itu ia bersemangat memakannya sampai banyak airnya bercucuran dari mulutnya.

Meski rasanya asem dan sepet, tapi mungkin enak juga disantap untuk mengobati rasa haus. Saya menelan ludah saat anak saya bilang "enaaaaak".


Kasiat Jambu Monyet dari REPUBLIKA online :
  1. tangkai buah semu mengandung vitamin C yang cukup tinggi (180 mg/100g). Vitamin C nya bersifat menciutkan (astringent) luka sariawan, karena itu bagian ini diyakina bisa menyembuhkan sariawan.
  2. Menyembuhkan pegel linu. Caranya, sebanyak 10 gram daun jambu monyet yang muda ditambah dengan rimpang kencur sebanyak 7 gram dan air 110 ml. Bahan-bahan ini kemudian ditumbuk lalu diseduh. Airnya disaring dan diminum satu kali sehari.
  3. Menyembuhkan sembeli atau susah buang air besar. Yang digunakan adalah kulit kayunya. Sebanyak 10 gram kulit kayu jambu mete dicuci sampai bersih, selanjutnya direbus dalam dua gelas air selama 20 menit. Kemudian airnya didinginkan lalu disaring dan diminum. Agar hasilnya maksimal, ramuan ini diminum dua kali sehari.
  4. Mengatasi penyakit kencing manis. Sebanyak 15 gram kulit kayu jambu monyet dicuci bersih, dipotong-potong, dan rebus dengan tiga gelas air hingga tersisa satu gelas. Biarkan hingga dingin lalu saring airnya. Air ini diminum sehari dua kali masing-masing setengah gelas.

Blog EntryKangen Itu Anugrah-Nya Yang IndahSep 27, '07 9:35 PM
for everyone
Saya bersyukur Allah menciptakan rasa kangen. Rasa yang membuat hubungan antar sesama insan menjadi indah. Rasa yang memberi warna hidup  saling membutuhkan, menghargai, menyayangi dan mencintai. Menghilangkan kebecian dan kedengkian. Memenjarakan kejahatan.
 
Suatu saat Azif, anak saya, bertanya pada pengasuhnya, "Mbak, ini Jum'at malam ya ?" padahal hari itu masih hari Selasa. "Memang kenapa Dik" tanya pengasuhnya. "Kalau Jum'at malam kan Ayah pulang."
 
Mendengar cerita itu saya senang sekaligus sedih. Senangnya karena Azif masih mengharapkan saya datang padanya. Saya masih dibutuhkannya. Sedihnya karena tidak setiap hari saya bisa berjumpa dengannya. Tidak bisa selalu hadir saat ia membutuhkan saya.
 
Saya dan anak saya saling membutuhkan, menyayangi dan mencintai. Ia sangat berharga bagi saya. Begitu pula sebaliknya, saya sangat berharga baginya. Karena itu, jika kami saling berjauhan, ada rasa kangen diantara kami.
 
Komunitas MP ini juga memberi saya rasa kangen. Setiap hari, sebisa mungkin, saya selalu ingin "berjumpa" dan saling berkomunikasi dengan teman-teman semua. Sehari saja tidak membuka jurnal teman-teman rasanya tidak enak. Apakah saya kecanduan ? Hehehe nggak apalah kalau memang demikian. Semoga saja tidak menyebabkan hal yang tidak baik.
 
Ditarik ke hubungan vertikal kepada Sang Pencipta. Adakah pada kita rasa kangen ? Rasa yang menyebabkan selalu ingin berjumpa dengan-Nya. Rasa yang memunculkan gairah untuk mengabdi kepada-Nya. Selalu berusaha berjalan dan beringkah laku sesuai dengan kehendak-Nya. Mengharap ridlo-Nya tanpa mempedulikan Surga dan Neraka. Atau puja puji.
 
Ada atau tidak, yang pasti Ia sangat sayang pada kita. Sudah begitu banyak anugrah yang diberikan-Nya. Tak terhitung nikmat-Nya yang tercurah setiap waktu kepada kita. Tak terkira jumlah rejeki-Nya yang sampai pada kita. Tak habis-habisnya Ia memberi ilmu pengetahuan kepada kita. Sampai jika semua pohon menjadi pena dan air laut jadi tintanya, takkan cukup untuk menuliskannya. Karena ingin kita tidak bodoh dan terpuruk.
 
Kembali, saya beryukur. Allah memberi rasa kangen pada saya dan Azif. Rasa yang membuat ia, setiap Jum'at malam, berlari dan memeluk saya dengan erat sambil berteriak, "Ayah pulaaaaaaaang."

Gambar pinjam dari A Painting A Day of Eco Art

Blog EntryPak SarniAug 22, '07 11:34 PM
for everyone
Minggu kemarin anak saya merengek minta dipanggilkan becak goyang (ibu saya menyebutnya odong-odong), itu lho becak yang ada sepeda motor mainan yang bisa naik turun. Cara penghitungan biayanya unik, satu lagu (lagu anak-anak) dihargai seribu rupiah.

Saya kaget, ternyata pengemudinya adalah Pak Sarni. Dulu, semasa SD, Ia berjualan mainan di depan sekolah. Mainan-mainan dagangannya dibuat sendiri dengan barang bekas seperti kardus dan kaleng bekas. Tidak banyak pembelinya karena tersaingi mainan-mainan toko dari plastik.

Sejak lulus SD sampai saya kuliah, tidak pernah lagi bertemu dengannya. Kabarnya Ia tidak lagi menjual mainan, tapi makanan kecil yang juga hasil buatannya sendiri. Ibu bilang, Pak Sarni selalu berganti-ganti dagangan, waktu anak-anak sedang gandrung dengan cilok (bakso kecil-kecil), Ia pun membuat dan menjualnya.

Setahun yang lalu, saya bertemu dengannya. Ia menjadi tukang becak. Saat itu, becak masih menjadi kendaraan baru di kampungku. Jumlah becak yang beroperasi bisa dihitung dengan jari tangan, termasuk becak Pak Sarni. Kata Ibu, Pak Sarni memang kreatif, begitu ada peluang langsung disambutnya.

Terakhir bertemu dengannya ya Minggu kemarin. Usahanya sekarang mengoperasikan becak goyang. Setiap sore Ia keliling kampung, mendatangi tempat anak-anak berkumpul. Pelangannya banyak juga, termasuk anak saya ketika kami pulang kampung.

Usaha kreatif memanfaatkan peluang tidak seiring dengan perubahan nasib Pak Sarni. Masih saja Ia hidup di bawah garis hidup yang layak. Himpitan ekonomi masih bertahan membelenggunya. Tapi kesulitan itu tidak membuatnya bermuka masam, selalu ceria, bercanda dengan anak-anak pelanggannya.

"Mari Mas, Saya mau ke alun-alun, sudah ada yang menunggu di sana", Pak Sarni berpamitan setelah 3 lagu diputarnya.

Sampai bertemu kembali Pak Sarni. Entah usaha apa lagi yang akan Pak Sarni jalani ketika bertemu nanti, yang penting semoga nasib Bapak cemerlang, seperti cemerlangnya pikiran bapak.




Photo AlbumNaik Kereta Api...Tut...Tut...Tut (5 photos)Aug 13, '07 1:25 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Minggu siang kami pergi ke stasiun, mengantar istri membeli tiket. Azif, anak saya, bersemangat sekali. Sepanjang perjalanan, ia selalu bertanya, kapan nyampek, kok lama banget.

Sampai di stasiun, kami langsung menuju loket. Cukup banyak calon penumpang yang mengantri. Azif tidak mau diajak menunggu, "Yah mana keretanya ?". Dari jendela ruang tunggu loket sebenarnya sudah terlihat kereta yang parkir, tapi sepertinya ia kurang puas jika hanya melihat saja. "Yah, ayo kesana, Azif mau naik". Saya dan Azif berputar mencari jalan masuk, sementara istri mengantri. Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga.

Ada dua rangkaian gerbong yang sedang dibersihkan oleh petugas. Satu berwarna putih, sepertinya kereta executive. Satunya lagi berwarna kuning, kayaknya ini kereta bisnis. Saya dan Azif masuk kereta yang kuning dan duduk sebentar di kursi penumpang. Benar, dari jenis kursi penumpang, kereta ini kereta bisnis.

"Yah, Azif mau naik yang itu" sambil menunjuk kereta putih yang terlihat dari jendela. Kami menuju kereta putih, tapi kok pintunya tertutup semua.

"Dek...pintunya ditutup, lihat dari luar saja ya"

"Nggak, nggak mau, Azif mau masuk"

Kamipun berjalan sepanjang gerbong kereta dan berputar lewat sisi yang sebelahnya. Beruntung ada satu pintu yang terbuka. Kami masuk. Di Dalam ada petugas yang sedang mengepel gerbong. Saya meminta ijin untuk melihat-lihat. Alhamdulillah petugas mengijinkan. Azif duduk di kursi penumpang. Dugaan saya benar lagi, kereta ini kereta executive.

Sesaat kemudian "Yah, mana setirnya ?"

Waduh, kok pertanyaan itu yang keluar. Saya menjawab "Yang ini hanya gerbong saja, tidak ada setirnya, yang ada setirnya itu kepalanya"

"Mana kepalanya Yah, Azif mau lihat setirnya"

Wah, gawat, dimana ya cari lokomotif. Ada sih di dekat ruang tunggu, tapi kereta itu mau berangkat, tidak mungkin masuk dan melihat-lihat ke sana. Saya ajak Azif berputar-putar di area stasiun sambil ngobrol, siapa tahu ia lupa tentang setir kereta api.

"Dek...cari Bunda dulu yuk"

Azif mengangguk. Setelah bertemu istri, Azif masih tetap ngotot tidak mau diajak pulang, ia masih ingin lihat setir kereta. Saya dan istri mengalah, kami bertiga kembali berputar-putar di stasiun.

Eh, di bengkel kereta ada lokomotif yang parkir. Kami pergi ke sana. Kebetulan pintu lokomotifnya terbuka jadi kami bisa masuk.

"Mana setirnya Yah ?"

Iya, kok nggak ada benda yang mirip setir mobil ya. Saya sendiri, seumur hidup baru pertama kali ini masuk ruang kemudi kereta. Saya tidak tahu kemudi kereta itu bentuknya seperti apa. Yang terlihat hanya tuas-tuas berwarna merah dan hitam. Mungkin tuas-tuas itu kemudinya.

"Ayah juga tidak tahu Dek... Mungkin ini setirnya..."

Azif memegang tuas-tuas itu sambil mengamati seluruh ruang kemudi kereta. Setelah agak lama, kami mengajaknya pulang. Rupanya ia sudah puas dengan apa yang dilihatnya sehingga mau diajak pulang.

Sampai di rumah, Azif memanggil-manggil pembantu saya dan bercerita tentang kereta dan setirnya. Saya dan istri tersenyum melihat tingkah lagu Azif. Semoga berkunjung ke stasiun siang ini menjadi pengalaman menarik buatnya.

Blog EntryBermain LogikaJun 27, '07 9:13 PM
for everyone
Akhir-akhir ini anak saya sering menggunakan kata "kenapa". Seperti pada suatu sore, menjelang maghrib, saya menyuruhnya pulang.

"Zif, ayo pulang"

"Kenapa pulang ?"

"Karena sudah gelap"

"Kenapa sudah gelap ?"

"Karena mataharinya tenggelam"

"Kenapa tenggelam ?"

"Karena capek ingin istirahat"

"Kenapa capek ingin istirahat ?"

"Karena main seharian terus capek"

Kalau sudah agak lama dan ia kehabisan pertanyaan, biasanya ia bilang "oooo....."

Kadang-kadang saya jengkel juga, pertanyaan-pertanyaan itu diulang terus. Kalau sudah begitu saya langsung memutar pertanyaannya.

"Kenapa gelap ?"

"Karena sudah malam"

"Kenapa sudah malam ?"

"Karena gelap"

Hehehe...ia lagsung bilang "oooo...." tapi sambil tersenyum, seolah dia tahu kalau saya jengkel.

Selain "kenapa", ia suka bermain-main dengan logika. Kemarin istri saya menasehatinya agar tidak main jauh-jauh.

"Zif, jangan main jauh-jauh ya, kalau main jauh-jauh nanti hilang, kalau hilang nanti Bunda nangis"

Ia langsung bilang, "Iya kalau sudah besar boleh main jauh-jauh, kalau hilang Bunda tidak nangis"

Hehe...tetangga yang dengar jadi tertawa.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help