imam's posts with tag: budaya
 Kita pantas marah dan mengutuk negara tetangga kita. Sudah beberapa kali kita dikecewakannya. Mulai dari banyak kasus kekerasan terhadap tenaga kerja kita sampai pada penggunaan kekayaan budaya kita tanpa minta ijin. Kita seolah tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak bisa membuktikan klaim-kalim yang kita ajukan. Tapi tidak ada gunanya marah tanpa ada tindakan nyata untuk berubah. Ada diskusi yang sangat menari di detikForum terkait dengan insiden Rasa Sayange. Untuk melindungi kekayaan budaya kita, salah satu peserta diskusi mengusulkan membuat website tentang budaya Indonesia. Website ini akan menampung semua jenis budaya yang ada di Indonesia. Bagaimana langkahnya ? Seorang peserta diskusi dengan ID Maskiko menyampaikan langkah yang pertama adalah dengan menginventaris kebudayaan, seni atau apapun yang ada di sekitar kita. Dengan mencantumkan sumbernya, lebih akurant lebih baik. Mungkin dalam ruang lingkup satu provinsi. Ia mencontohkan untuk daerah Jawa Tengah, list budaya kasarnya adalah : 1. Kategori alat musik : Calung dari Banyumas 2. Kategori rumah adat : Rumah Joglo 3. Kategori lagu : Suwe Ora Jamu 4. Kategori makanan : mendoan dari Banyumas, kripik dari Banyumas. Sungguh sebuat langkah yang menarik dan pantas untuk kita tiru. Memang kita harus mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan bangsa ini dari usikan bangsa lain. Saya juga ingin menginventaris seni dan budaya dPonorogo, daerah tempat kelahiran saya : 1. Kesenian khas : Reog Ponorogo 2. Baju : Penadon dan Kolor 3. Makanan : Nasi Pecel Ponorogo 4. Alat musik : slompret khas reog Hayo siapa lagi yang mau menginventaris kesenian dan budaya di daerahnya ? 
 "Waktu
jari ini terpotong, saya sangat bersyukur mas" Ungkap Pak Fajar, orang
asli Sumenep, daerah diujung timur pulau Madura, dalam sebuah obrolan
santai di kantornya. Iya, saya sendiri juga heran, mengapa kehilangan
satu ruas jari kok santai saja, malah sangat bersyukur ? Pak Fajar
paham keheranan saya, lalu bercerita sejarah hilangnya ujung jarinya
itu.
Tahun lalu Pak Fajar berkesempatan menunaikan rukun Islam yang kelima,
haji, yang sudah menjadi cita-citanya sejak dulu, bahkan sejak Ia masih
muda, saat belum mempunyai pekerjaan dan masih bujang. Seperti
pandangan orang-orang Madura pada umumnya, haji adalah cita-cita yang
mulia dan harus diperjuangkan. Orang paling miskin di Madura pun
bercita-cita dan berharap bisa pergi haji. Pernah saya dengar ada orang
Madura pergi haji dari uang penjualan rumahnya.
Budaya masyarakat Madura menganggap pergi haji adalah perjuangan.
Seperti orang yang akan berperang, kepergiannya diantar oleh saudara
dan tetangga-tetangganya. Banyak sekali yang mengantar, apalagi kalau
yang pergi seorang tokoh masyarakat, bisa satu alun-alun penuh ikut
mengantarkannya. Setiap malam, selama hampir satu bulan, doa
dipanjatkan untuk kelancaran ibadah dan keselelamatannya. Setelah
kembali sampai di rumah, banyak saudara dan tetangga-tetangga yang
datang untuk menyampaikan turut berbahagia atas kembalinya dengan
selamat sampai di rumah dan yang lebih penting selamat atas tambahan
kata "Haji" di depan namanya sebagai tanda kehormatannya. Dan biasanya
siapapun namanya, orang akan memanggilnya "Ji".
Nah, setelah saudara dan tetangga-tetangga Pak Fajar semuanya sudah
berkunjung, ada seseorang yang tidak dikenal berkunjung ke rumahnya.
Perawakannya seperti seorang kiai, memakai surban dan baju putih,
bawahnya memakai sarung. Pak Fajar tidak berani menanyakan siapa dia,
tidak sopan katanya. Pak Fajar juga terpesona dengan tindak-tanduknya
yang begitu santun, tutur katanya halus, lebih halus dibanding orang
Sumenep kebanyakan, sampai-sampai Ia hanya mengangguk, mengiyakan
setiap apa yang diucapkannya. Selain mengucapkan selamat, orang tidak
dikenal itu mengingatkan bahwa Pak Fajar harus berhati-hati karena
dalam satu tahun kedepan ada salah satu yang disayanginya akan hilang.
Pak Fajar sangat kaget. Langsung, pikirannya tertuju pada tiga anaknya.
Apakah mereka yang dimaksud orang itu ? Benarkah ia akan kehilangan
salah satu dari mereka ?
Setelah kejadian itu, perasaan takut, bingung, kawatir campur aduk
menjadi satu. Keceriaan yang semula selalu tampak di wajahnya hilang,
berubah menjadi wajah yang kusut dan suntuk. Pak Fajar yang dulunya
penyabar dan suka bercanda sekarang berubah menjadi pemarah. Pernah
suatu ketika Ia memarahi istrinya habis-habisan karena sepulang kerja,
anak sulungnya mengeluh pusing-pusing dan mual, padahal setelah
badannya di oles minyak kayu putih sembuh, ternyata anaknya terkena
masuk angin.
Konsentrasi kerjanya juga hilang. Yang dipikirkan hanyalah ketakutan
kehilangan anaknya. "Saya ingat mas" katanya "Dulu paman saya yang di
Semarang kehilangan semua anaknya setelah pulang haji, meninggal mas,
ada yang sakit ada yang kecelakaan". Sebenarnya Ia sudah berusaha
pasrah, semua adalah milik Allah dan apapun yang akan terjadi adalah
hak Dia. Allah berhak atas semua kehendak-Nya. Tapi, kepasrahan itu
hanya membuatnya tenang sebentar. Ketika malam tiba, rasa takut
menguasai pikirannya kembali. Sering sekali Ia tidak bisa tidur.
Rasa takut dan cemas ditanggungnya sendiri. Pak Fajar sengaja tidak
bercerita kepada siapa-siapa, termasuk istri dan anaknya. Takut mereka
menjadi bingung dan stres seperti dirinya. Kebanyakan orang Madura
masih percaya hal-hal yang mistis, apalagi cerita-cerita tentang haji.
Mereka sangat yakin, selain perjalanan fisik, haji juga merupakan
perjalan mistis, perjalanan jiwa. Apapun yang dialami di Tanah Suci
adalah pertanda bagi perjalanyan hidup dan keluarganya nanti. Makanya
setelah kembali pulang, orang yang pergi haji disambut dan diharapkan
berkahnya. Kata-katanya menjadi tuah.
Bulan puasa kemarin, hampir satu tahun sejak pulang haji, di suatu sore
menjelang beduk maghrib terdengar, Pak Fajar mengupas kelapa muda untuk
berbuka keluarganya. Di ayunan yang terakhir, pisau pengupas melenceng,
nyasar ke telunjuk kirinya. Satu ruas di ujung jari terpisah dari ruas
yang lain. Spontan Pak Fajar mengucap syukur, "Rupanya ini yang
dimaksud, bukan anakku, alhamdulillah satu yang saya sayangi sudah
hilang".
Saya katakan, pasti rasa sakitnya lebih dari yang pernah saya rasakan.
Tapi Pak Fajar menyanggahnya "Saya sendiri juga heran mas, saya tidak
menjerit waktu itu, lawong tidak ada rasa sakitnya sama sekali kok"
katanya.
Sejak saat itu Pak Fajar kembali seperti semula, Pak Fajar yang ceria,
suka bercanda, seorang pegawai yang rajin dan pandai. "Begitulah mas"
Pak Fajar mengakhiri ceritanya. Ya saya mengerti mengapa syukur itu
spontan terucap ketika jarinya terpotong. Yang saya pikirkan cuma satu,
bagaimana Pak Fajar menjalani hidup dalam tekanan pikirannya sendiri
selama hampir satu tahun ?

Waktu kecil saya selalu merengek-rengek minta kepada bapak
untuk pergi ke pasar malam di alun-alun kota. Pasar malam di kotaku selalu
diadakan menjelang lebaran sampai seminggu seetelah lebaran. Mungkin karena
rengekanku itu bapak menjanjikan setiap hari ketiga lebaran, kami sekeluarga
akan pergi ke pasar malam. Dan begitulah, pergi ke pasar malam menjadi tradisi
di keluargaku di hari ketiga lebaran. Beberapa wahana kami kunjungi, komidi putar, ombak banyu,
tong setan, jinontro, topeng monyet sampai ke rumah hantu. Sebagian besar
wahana tersebut digerakkan oleh manusia. Yang membuat saya dan adik saya paling
senang adalah membawa oleh-oleh mainan, saya dijatah satu mainan dan adik juga
satu. Hanya saat itulah saya dan adik dibelikan mainan, di hari-hari yang lain
jarang sekali kami dibelikan mainan. Mainan tersebut menjadi tontonan
teman-teman di kampungku, mereka juga ikut senang dan menikmati mainan
oleh-olehku dari pasar malam. Saya ingat, terakhir bapak membelikan saya kereta
api mainan yang digerakkan baterei dan
berjalan diatas rel, kami semua senang memainkannya secara bergantian.
Selain lebaran, pasar malam juga sering diadakan setelah
selesai musim panen. Pasar malam yang ini tidak di alun-alun kota, tetapi di
alun-alun kecamatan. Jumlah wahananya tidak terlalu banyak, mungkin hanya
seperempatnya dibandingkan pasar malam di kota. Keberadaan pasar malam ini
menjadi hiburan bagi rakyat yang sebagian besar petani sebagai pesta merayakan
musim panen yang telah lewat.
Pasar malam memberikan fenomena kemasyarakatan yang
tersendiri. Orang-orang yang memainkan wahana-wahana, hidup secara berkelompok,
berpindah-pindah dari satu kecamatan ke kecamatan yang lain. Bahkan perpindahan
mereka sampai lingkup nasional, dari propinsi ke propinsi. Pasar malam di
kotaku merupakan kumpulan beberapa kelompok pasar malam keliling.
Saya sering melihat dalam kelompok pasar malam itu, ada
anak-anak yang masih balita serta nenek dan kakek yang sudah lanjut. Rupanya
kelompok pasar malam itu terdiri dari beberapa keluarga dengan ayah ibu dan
anak serta keluarga besarnya, nenek dan kakeknya. Mereka adalah pewaris
wahana-wahana pasar malam dari keturunannya yang terdahulu. Entah sudah
generasi keberapa mereka itu.
Seperti bedol desa, keluarga besar tersebut berpindah-pindah
tempat. Tentunya anak-anak mereka tidak sekolah seperti saya, sekolah mereka ya
pasar malam itu, anak-anak itulah nanti yang menjadi generasi penerus yang
harus menjalankan wahana-wahana tersebut. Tidak ada pilihan yang lain.
Bagaimana Pasar Malam Sekarang ???
Saya sempat sedih melihat pasar malam di kampung saya
beberapa waktu yang lalu. Suasananya sangat berbeda dibanding pasar malam waktu
saya kecil dulu. Sepi, tidak meriah dan banyak wahana yang kusam dan kumuh.
Pengunjungnya hanya beberapa saja, banyak wahana yang kosong tanpa pengunjung.
Maklumlah saat ini banyak wahana bermain yang bagus dan
lebih menarik. Ada playground, time zone, water park dan
taman-taman bermain lainnya. Masyarakat tidak perlu menunggu lebaran atau
selesai panen untuk menikmatinya, setiap hari wahana-wahana baru tersebut
dibuka. Harga tiketnya juga tidak terlalu mahal, terjangkau bagi masyarakat
kelas menengah, mungkin juga masyarakat kelas bawah. Apalagi sekarang ada play
stasion dan online game di internet yang juga murah, 3.000 rupiah
perjamnya, membuat wahana-wahana pasar malam terkesan udik dan tidak bermutu.
Tetapi sungguh tidak saya sangka, pada hari sabtu dan malam
minggu, pasar malam ramai dikunjungi orang. Kata tetangga-tetanggaku
pengunjungnya sebagian besar adalah masyarakat dari pelosok-pelosok kota yang
turun gunung. Alhamdulillah kataku dalam hati. Benar kata orang bijak, “rejeki
itu Allahlah yang mengatur dan menentukannya, kita hanya diwajibkan berusaha”.
Jika dikemas lebih menarik, pasar malam dapat meriah seperti
dulu lagi. Pasar malam dapat diselenggarakan sebagai perayaan ulang tahun
sebuah kota dan dikemas sebagai pagelaran budaya bersamaan dengan pagelaran
ludruk, ketoprak, wayang orang, wayang kulit dan pasar jajanan rakyat, seperti
MALANG KEMBALI. Jika didukung dengan promosi dan pemasaran yang menarik bisa
saja tidak hanya masyarakat setempat yang berkunjung, tetapi turis manca negara
yang akan berkunjung.

| Start: | Apr 28, '06 | | End: | Apr 30, '06 | KONSEP DASAR1.Mengingatkan kembali siapa sebenarnya kota Malangsejak proses kelahiran sampai semua peristiwa penting yang merubah ejarah kota malang. 2.Memberikan kesempatan kembali pedagang lokal, seniman lokal dan rakyat menjadi pelaku ulang tahun [bukan penonton ultah] Tidak ada artis ! 3.Bentuk penghargaan terhadap semua yang berjasa merebut, mempertahankan dan mengembangkan kota Malang. 4.Menumbuhkan rasa bangga menjadi warga malang. MATERI DASAR :1.PAMERAN FOTO DAN ARSIP DOKUMENTARY 2.PANGGUNG HIBURAN TRADISIONAL 3.TERMINAL MOBIL,MOTOR DAN SEPEDA ANTIK 4.KELILING JALAN IJEN NAIK DOKAR 5.PENGOBATAN GRATIS 6.PASAR JAJANAN RAKYAT 7.MAINAN DAN PERMAINAN ANAK TEMPO DOELOE 9.LAYAR TANCAP 10.FOTO KUNO RAKSASA JENIS PANGGUNG :1.LUDRUK[PERSATUAN LUDRUK MALANG] 2.KETOPRAK 3.WAYANG ORANG 4.WAYANG KULIT 5.KERONCONG PERJUANGAN 6.TEMBANG KENANGAN 7.LINES DANCE KOLONIAL 8.PERMAINAN ANAK TRADISI 9.LOMBA KEBAYA,PUISI DAN NYANYI LAGU ANAK TEMPO DOELOE BENTUK :MENGUBAH KAWASAN IJEN MENJADI LORONG WAKTU MEWAKILI PERISTIWA DAN RAGAM PERILAKU BUDAYA DI MALANG PADA MASA LALU DALAM 3 HARI DENGAN BENTUK; 1.KAWASAN IJEN BEBAS LALU LINTAS DAN PRODUK MASA KINI 2.MEMBAGI MENJADI 3 BLOK KAWASAN BLOK PERJUANGAN, BLOK TRADISI,BLOK KOLONIAL PERSYARATAN PESERTA1.PAKAIAN : TOPI;KOPIAH UDENG MALANGAN, BLANGKON DLL. BAJU;HEM PUTIH/KREM,BATIK,KEBAYA,SARUNG,EROPA,DLL 2,PERALATAN : TIDAK BERBAHAN DASAR BESI,PLASTIK DAN TIDAK MENGGUNAKAN LISTRIK 3.KENDARAAN : MOBIL/MOTOR KELUARAN DIBAWAH TAHUN 1960,DOKAR,SEPEDA PANCAL 4.MAKANAN/MINUMAN : KECEPUT,GULALI,JAMU GENDHONG,GEMPO,EMPUT,ARBANAT,GULA KAPUK DENGAN SUASANA PASAR SENGGOL TEMPO DOELOE 5.MAINAN : DAKON,GOBAKSODOR,BEKTOR,PATL LELE,UMBULAN, EGRANG. LONCAT TINGGI
| |