catatan kecil imam isnaini

imam's posts with tag: budaya

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag budaya
ReviewReviewReviewReviewMari Menyelamatkan Budaya BangsaOct 4, '07 1:03 AM
for everyone
Category:Other
Kita pantas marah dan mengutuk negara tetangga kita. Sudah beberapa kali kita dikecewakannya. Mulai dari banyak kasus kekerasan terhadap tenaga kerja kita sampai pada penggunaan kekayaan budaya kita tanpa minta ijin.

Kita seolah tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak bisa membuktikan klaim-kalim yang kita ajukan. Tapi tidak ada gunanya marah tanpa ada tindakan nyata untuk berubah.

Ada diskusi yang sangat menari di detikForum terkait dengan insiden Rasa Sayange. Untuk melindungi kekayaan budaya kita, salah satu peserta diskusi mengusulkan membuat website tentang budaya Indonesia. Website ini akan menampung semua jenis budaya yang ada di Indonesia.

Bagaimana langkahnya ? Seorang peserta diskusi dengan ID Maskiko menyampaikan langkah yang pertama adalah dengan menginventaris kebudayaan, seni atau apapun yang ada di sekitar kita. Dengan mencantumkan sumbernya, lebih akurant lebih baik. Mungkin dalam ruang lingkup satu provinsi.

Ia mencontohkan untuk daerah Jawa Tengah, list budaya kasarnya adalah :
1. Kategori alat musik : Calung dari Banyumas
2. Kategori rumah adat : Rumah Joglo
3. Kategori lagu : Suwe Ora Jamu
4. Kategori makanan : mendoan dari Banyumas, kripik dari Banyumas.

Sungguh sebuat langkah yang menarik dan pantas untuk kita tiru. Memang kita harus mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan bangsa ini dari usikan bangsa lain.

Saya juga ingin menginventaris seni dan budaya dPonorogo, daerah tempat kelahiran saya :
1. Kesenian khas : Reog Ponorogo
2. Baju : Penadon dan Kolor
3. Makanan : Nasi Pecel Ponorogo
4. Alat musik : slompret khas reog

Hayo siapa lagi yang mau menginventaris kesenian dan budaya di daerahnya ?


Blog EntryKisah Jari Yang TerpotongJan 11, '07 12:24 PM
for everyone
"Waktu jari ini terpotong, saya sangat bersyukur mas" Ungkap Pak Fajar, orang asli Sumenep, daerah diujung timur pulau Madura, dalam sebuah obrolan santai di kantornya. Iya, saya sendiri juga heran, mengapa kehilangan satu ruas jari kok santai saja, malah sangat bersyukur ? Pak Fajar paham keheranan saya, lalu bercerita sejarah hilangnya ujung jarinya itu.

Tahun lalu Pak Fajar berkesempatan menunaikan rukun Islam yang kelima, haji, yang sudah menjadi cita-citanya sejak dulu, bahkan sejak Ia masih muda, saat belum mempunyai pekerjaan dan masih bujang. Seperti pandangan orang-orang Madura pada umumnya, haji adalah cita-cita yang mulia dan harus diperjuangkan. Orang paling miskin di Madura pun bercita-cita dan berharap bisa pergi haji. Pernah saya dengar ada orang Madura pergi haji dari uang penjualan rumahnya.

Budaya masyarakat Madura menganggap pergi haji adalah perjuangan. Seperti orang yang akan berperang, kepergiannya diantar oleh saudara dan tetangga-tetangganya. Banyak sekali yang mengantar, apalagi kalau yang pergi seorang tokoh masyarakat, bisa satu alun-alun penuh ikut mengantarkannya. Setiap malam, selama hampir satu bulan, doa dipanjatkan untuk kelancaran ibadah dan keselelamatannya. Setelah kembali sampai di rumah, banyak saudara dan tetangga-tetangga yang datang untuk menyampaikan turut berbahagia atas kembalinya dengan selamat sampai di rumah dan yang lebih penting selamat atas tambahan kata "Haji" di depan namanya sebagai tanda kehormatannya. Dan biasanya siapapun namanya, orang akan memanggilnya "Ji".

Nah, setelah saudara dan tetangga-tetangga Pak Fajar semuanya sudah berkunjung, ada seseorang yang tidak dikenal berkunjung ke rumahnya. Perawakannya seperti seorang kiai, memakai surban dan baju putih, bawahnya memakai sarung. Pak Fajar tidak berani menanyakan siapa dia, tidak sopan katanya. Pak Fajar juga terpesona dengan tindak-tanduknya yang begitu santun, tutur katanya halus, lebih halus dibanding orang Sumenep kebanyakan, sampai-sampai Ia hanya mengangguk, mengiyakan setiap apa yang diucapkannya. Selain mengucapkan selamat, orang tidak dikenal itu mengingatkan bahwa Pak Fajar harus berhati-hati karena dalam satu tahun kedepan ada salah satu yang disayanginya akan hilang. Pak Fajar sangat kaget. Langsung, pikirannya tertuju pada tiga anaknya. Apakah mereka yang dimaksud orang itu ? Benarkah ia akan kehilangan salah satu dari mereka ?

Setelah kejadian itu, perasaan takut, bingung, kawatir campur aduk menjadi satu. Keceriaan yang semula selalu tampak di wajahnya hilang, berubah menjadi wajah yang kusut dan suntuk. Pak Fajar yang dulunya penyabar dan suka bercanda sekarang berubah menjadi pemarah. Pernah suatu ketika Ia memarahi istrinya habis-habisan karena sepulang kerja, anak sulungnya mengeluh pusing-pusing dan mual, padahal setelah badannya di oles minyak kayu putih sembuh, ternyata anaknya terkena masuk angin.

Konsentrasi kerjanya juga hilang. Yang dipikirkan hanyalah ketakutan kehilangan anaknya. "Saya ingat mas" katanya "Dulu paman saya yang di Semarang kehilangan semua anaknya setelah pulang haji, meninggal mas, ada yang sakit ada yang kecelakaan". Sebenarnya Ia sudah berusaha pasrah, semua adalah milik Allah dan apapun yang akan terjadi adalah hak Dia. Allah berhak atas semua kehendak-Nya. Tapi, kepasrahan itu hanya membuatnya tenang sebentar. Ketika malam tiba, rasa takut menguasai pikirannya kembali. Sering sekali Ia tidak bisa tidur.

Rasa takut dan cemas ditanggungnya sendiri. Pak Fajar sengaja tidak bercerita kepada siapa-siapa, termasuk istri dan anaknya. Takut mereka menjadi bingung dan stres seperti dirinya. Kebanyakan orang Madura masih percaya hal-hal yang mistis, apalagi cerita-cerita tentang haji. Mereka sangat yakin, selain perjalanan fisik, haji juga merupakan perjalan mistis, perjalanan jiwa. Apapun yang dialami di Tanah Suci adalah pertanda bagi perjalanyan hidup dan keluarganya nanti. Makanya setelah kembali pulang, orang yang pergi haji disambut dan diharapkan berkahnya. Kata-katanya menjadi tuah.

Bulan puasa kemarin, hampir satu tahun sejak pulang haji, di suatu sore menjelang beduk maghrib terdengar, Pak Fajar mengupas kelapa muda untuk berbuka keluarganya. Di ayunan yang terakhir, pisau pengupas melenceng, nyasar ke telunjuk kirinya. Satu ruas di ujung jari terpisah dari ruas yang lain. Spontan Pak Fajar mengucap syukur, "Rupanya ini yang dimaksud, bukan anakku, alhamdulillah satu yang saya sayangi sudah hilang".

Saya katakan, pasti rasa sakitnya lebih dari yang pernah saya rasakan. Tapi Pak Fajar menyanggahnya "Saya sendiri juga heran mas, saya tidak menjerit waktu itu, lawong tidak ada rasa sakitnya sama sekali kok" katanya.

Sejak saat itu Pak Fajar kembali seperti semula, Pak Fajar yang ceria, suka bercanda, seorang pegawai yang rajin dan pandai. "Begitulah mas" Pak Fajar mengakhiri ceritanya. Ya saya mengerti mengapa syukur itu spontan terucap ketika jarinya terpotong. Yang saya pikirkan cuma satu, bagaimana Pak Fajar menjalani hidup dalam tekanan pikirannya sendiri selama hampir satu tahun ?

Blog EntryPasar MalamApr 12, '06 11:25 PM
for everyone

Waktu kecil saya selalu merengek-rengek minta kepada bapak untuk pergi ke pasar malam di alun-alun kota. Pasar malam di kotaku selalu diadakan menjelang lebaran sampai seminggu seetelah lebaran. Mungkin karena rengekanku itu bapak menjanjikan setiap hari ketiga lebaran, kami sekeluarga akan pergi ke pasar malam. Dan begitulah, pergi ke pasar malam menjadi tradisi di keluargaku di hari ketiga lebaran.

Beberapa wahana kami kunjungi, komidi putar, ombak banyu, tong setan, jinontro, topeng monyet sampai ke rumah hantu. Sebagian besar wahana tersebut digerakkan oleh manusia. Yang membuat saya dan adik saya paling senang adalah membawa oleh-oleh mainan, saya dijatah satu mainan dan adik juga satu. Hanya saat itulah saya dan adik dibelikan mainan, di hari-hari yang lain jarang sekali kami dibelikan mainan. Mainan tersebut menjadi tontonan teman-teman di kampungku, mereka juga ikut senang dan menikmati mainan oleh-olehku dari pasar malam. Saya ingat, terakhir bapak membelikan saya kereta api mainan yang digerakkan baterei dan berjalan diatas rel, kami semua senang memainkannya secara bergantian.

Selain lebaran, pasar malam juga sering diadakan setelah selesai musim panen. Pasar malam yang ini tidak di alun-alun kota, tetapi di alun-alun kecamatan. Jumlah wahananya tidak terlalu banyak, mungkin hanya seperempatnya dibandingkan pasar malam di kota. Keberadaan pasar malam ini menjadi hiburan bagi rakyat yang sebagian besar petani sebagai pesta merayakan musim panen yang telah lewat.

Pasar malam memberikan fenomena kemasyarakatan yang tersendiri. Orang-orang yang memainkan wahana-wahana, hidup secara berkelompok, berpindah-pindah dari satu kecamatan ke kecamatan yang lain. Bahkan perpindahan mereka sampai lingkup nasional, dari propinsi ke propinsi. Pasar malam di kotaku merupakan kumpulan beberapa kelompok pasar malam keliling.

Saya sering melihat dalam kelompok pasar malam itu, ada anak-anak yang masih balita serta nenek dan kakek yang sudah lanjut. Rupanya kelompok pasar malam itu terdiri dari beberapa keluarga dengan ayah ibu dan anak serta keluarga besarnya, nenek dan kakeknya. Mereka adalah pewaris wahana-wahana pasar malam dari keturunannya yang terdahulu. Entah sudah generasi keberapa mereka itu.

Seperti bedol desa, keluarga besar tersebut berpindah-pindah tempat. Tentunya anak-anak mereka tidak sekolah seperti saya, sekolah mereka ya pasar malam itu, anak-anak itulah nanti yang menjadi generasi penerus yang harus menjalankan wahana-wahana tersebut. Tidak ada pilihan yang lain.

Bagaimana Pasar Malam Sekarang ???

Saya sempat sedih melihat pasar malam di kampung saya beberapa waktu yang lalu. Suasananya sangat berbeda dibanding pasar malam waktu saya kecil dulu. Sepi, tidak meriah dan banyak wahana yang kusam dan kumuh. Pengunjungnya hanya beberapa saja, banyak wahana yang kosong tanpa pengunjung.

Maklumlah saat ini banyak wahana bermain yang bagus dan lebih menarik. Ada playground, time zone, water park dan taman-taman bermain lainnya. Masyarakat tidak perlu menunggu lebaran atau selesai panen untuk menikmatinya, setiap hari wahana-wahana baru tersebut dibuka. Harga tiketnya juga tidak terlalu mahal, terjangkau bagi masyarakat kelas menengah, mungkin juga masyarakat kelas bawah. Apalagi sekarang ada play stasion dan online game di internet yang juga murah, 3.000 rupiah perjamnya, membuat wahana-wahana pasar malam terkesan udik dan tidak bermutu.

Tetapi sungguh tidak saya sangka, pada hari sabtu dan malam minggu, pasar malam ramai dikunjungi orang. Kata tetangga-tetanggaku pengunjungnya sebagian besar adalah masyarakat dari pelosok-pelosok kota yang turun gunung. Alhamdulillah kataku dalam hati. Benar kata orang bijak, “rejeki itu Allahlah yang mengatur dan menentukannya, kita hanya diwajibkan berusaha”.

Jika dikemas lebih menarik, pasar malam dapat meriah seperti dulu lagi. Pasar malam dapat diselenggarakan sebagai perayaan ulang tahun sebuah kota dan dikemas sebagai pagelaran budaya bersamaan dengan pagelaran ludruk, ketoprak, wayang orang, wayang kulit dan pasar jajanan rakyat, seperti MALANG KEMBALI. Jika didukung dengan promosi dan pemasaran yang menarik bisa saja tidak hanya masyarakat setempat yang berkunjung, tetapi turis manca negara yang akan berkunjung.



EventMalang KembaliApr 12, '06 11:05 PM
for everyone
Start:     Apr 28, '06
End:     Apr 30, '06
KONSEP DASAR

1.Mengingatkan kembali siapa sebenarnya kota Malangsejak proses kelahiran sampai semua peristiwa penting yang merubah ejarah kota malang.

2.Memberikan kesempatan kembali pedagang lokal, seniman lokal dan rakyat menjadi pelaku ulang tahun [bukan penonton ultah] Tidak ada artis !

3.Bentuk penghargaan terhadap semua yang berjasa merebut, mempertahankan dan mengembangkan kota Malang.

4.Menumbuhkan rasa bangga menjadi warga malang.

MATERI DASAR :

1.PAMERAN FOTO DAN ARSIP DOKUMENTARY
2.PANGGUNG HIBURAN TRADISIONAL
3.TERMINAL MOBIL,MOTOR DAN SEPEDA ANTIK
4.KELILING JALAN IJEN NAIK DOKAR
5.PENGOBATAN GRATIS
6.PASAR JAJANAN RAKYAT
7.MAINAN DAN PERMAINAN ANAK TEMPO DOELOE
9.LAYAR TANCAP
10.FOTO KUNO RAKSASA

JENIS PANGGUNG :

1.LUDRUK[PERSATUAN LUDRUK MALANG]
2.KETOPRAK
3.WAYANG ORANG
4.WAYANG KULIT
5.KERONCONG PERJUANGAN
6.TEMBANG KENANGAN
7.LINES DANCE KOLONIAL
8.PERMAINAN ANAK TRADISI
9.LOMBA KEBAYA,PUISI DAN NYANYI LAGU ANAK TEMPO DOELOE


BENTUK :

MENGUBAH KAWASAN IJEN MENJADI LORONG WAKTU MEWAKILI PERISTIWA DAN RAGAM PERILAKU BUDAYA DI MALANG PADA MASA LALU DALAM 3 HARI DENGAN BENTUK;

1.KAWASAN IJEN BEBAS LALU LINTAS DAN PRODUK MASA KINI
2.MEMBAGI MENJADI 3 BLOK KAWASAN BLOK PERJUANGAN, BLOK TRADISI,BLOK KOLONIAL

PERSYARATAN PESERTA

1.PAKAIAN :
TOPI;KOPIAH UDENG MALANGAN, BLANGKON DLL.
BAJU;HEM PUTIH/KREM,BATIK,KEBAYA,SARUNG,EROPA,DLL

2,PERALATAN :
TIDAK BERBAHAN DASAR BESI,PLASTIK DAN TIDAK MENGGUNAKAN LISTRIK

3.KENDARAAN :
MOBIL/MOTOR KELUARAN DIBAWAH TAHUN 1960,DOKAR,SEPEDA PANCAL

4.MAKANAN/MINUMAN :
KECEPUT,GULALI,JAMU GENDHONG,GEMPO,EMPUT,ARBANAT,GULA KAPUK DENGAN SUASANA PASAR SENGGOL TEMPO DOELOE

5.MAINAN :
DAKON,GOBAKSODOR,BEKTOR,PATL LELE,UMBULAN, EGRANG. LONCAT TINGGI

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help