catatan kecil imam isnaini

imam's posts with tag: catatan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag catatan
Blog EntrySang "Financial Freedom" yang KesepianJun 15, '08 12:28 AM
for everyone
[catatan sebelumnya] Di kota yang baru, saya bertemu lagi seorang bapak yang juga kesepian. Bapak yang satu ini sangat tau dunia internet dan teknologi informasi yang lain. Ia mahir juga melakukan kofigurasi ulang PC yang ia punyai, memperbaiki hard disk yang badsector dan lain-lain. Mendengar ceritanya, saya teringat teman saya yang sering memperbaiki komputer di kantor. Saya tidak tahu persis apa latar belakang pendidikannya, dan saya tidak peduli tentang itu.

Boleh dibilang ia tidak bekerja, alias menganggur. Tapi jangan salah, meski sebagian besar waktunya dihabiskan nongkrong di rumah, ia punya penghasilan dari uang sewa kamar kost yang ia punyai. Saya kira penghasilan dari sewa kost itu cukup besar, ia punya lebih dari dua puluh kamar kost. Selain itu, setiap bulan ia mendapat kiriman dari hasil bisnis keluarganya, mungkin ia punya saham disitu. Saya ingat jargon yang banyak disebut teman-teman MLM, "Financial Fredom". Ya, ia sudah mencapai tahap itu. Bukan lagi ia bekerja untuk mencari uang, tetapi uanglah yang bekerja untuknya.

Saya bisa mengatakan seperti itu karena dengan penghasilannya tiap bulan, ia dapat mencukupi kebutuhan keluarganya, bahkan bisa lebih. Ia juga mampu membiayai ketiga anaknya bersekolah, bahkan anaknya yang pertama sudah kuliah di Bogor.

Saat pertama kali saya datang ke rumahnya, saya tertarik dengan desannya. Penataan pekarangan dan ruang-ruang di dalam rumah sangat bagus. Ada beberapa sisi temboknya yang sengaja dibiarkan terbuka dengan susunan batu bata merah yang terlihat jelas. Saat saya bertanya mengapa tidak seluruh tembok dibikin seperti itu, ia menjawab, "terlalu ekstrim mas." Kelihatan kalau dia tahu banyak desain rumah.

Lalu apa yang membuatnya kesepian?

Seluruh anggota keluarganya tidak ada yang tertarik apalagi berminat di bidang teknologi informasi dan komputer. Ketiga anaknya perempuan, dan kesemuanya tidak ada yang menurun bakat ayahnya. Yang paling kecil sukanya musik. Sayangnya juga ia tidak pandai bergaul dengan tetangga-tetangga sekitar rumahnya. Jadi setiap hari ia hanya mondar-mandir di sekeliling rumahnya. Sudah banyak hobi yang coba ditekuninya, mulai bertaman, memelihara burung dan ikan. Terakhir ia suka memelihara kucing.

Kalau tidak ada yang dikerjakan sukanya nongkrong di teras rumah atau di serambi belakang di depan kamar kost saya. Nah kalau sudah begitu, istrinya harus menyediakan kopi dan rokok. Jangan sampai istrinya telat bikinin kopi atau kehabisan rokok, ia bakal marah besar. Ada istilah kopi yang membuat saya tertawa geli, ada kopi jam enam, jam sepuluh, jam dua belas sampai jam sembilan malam. Jam setengah sepuluh ganti teh manis, setelah itu ada kopi jam sepuluh dan yang terakhir kopi jam dua belas malam.

Biar nggak mikir yang enggak-enggak harus ada yang menemaninya ngobrol. Ini yang membuat istrinya kelimpungan, juga ketiga anaknya. Sebuah kemalangan besar kalau mendapat giliran menemaninya. Selain omongannya tidak nyambung juga tidak betah berlama-lama duduk tanpa mengerjakan apa-apa. Nah kalau sudah begitu, istrinya mencari korban baru. Siapa lagi kalau bukan anak kost. Teman saya satu kamar yang sering menjadi korban.

Suatu saat teman saya sedang malas, sayalah yang diperkenalkan kepada istrinya dan kemudian ia sendiri. Semula saya asyik-asyik saja ngobrol bersamanya, wajar saja kalau anak kost ingin kenal dengan bapak kostnya. Pada saat diajak ngobrol tentang internet, saya bisa nyambung sedikit, ia kelihatan senang sekali. Apalagi saat saya keceplos ngomong tentang blog, ia seperti orang yang baru bangun tidur. Rupanya ia sedang belajar membuat blog. Bergembiralah teman saya karena istrinya ganti mencari-cari saya, bukan dia.

Dua minggu terakhir ini lebih parah. Ia senang sepak bola dan ia tahu kalau saya juga senang. Ia sering mengajak saya nonton bersama di rumahnya. Hampir tiap malam saya begadang. Ada untungnya sih, saya tidak perlu mencari pos satpam atau warung kopi untuk nonton bola. Camilan dan kopi juga tersedia, istrinya sangat rajin menyediakan hidangan itu.

Tapi merepotkan istrinya juga kalau setiap malam begitu, sungkan juga rasanya. Saya berembuk dengan teman saya untuk membuat rencana menghindar. Kebetulan pas malam jum'at ada teman yang menawari kami nonton di rumahnya. Kami bilang ke istrinya, "Bu, ini malam jum'at kan, saya tidak mau mengganggu ibu dan bapak, kan kalau malam jum'at sunnah. Malam ini kami mau nginap di rumah teman, ini kunci kamar saya titipkan ke ibu. Siapa tahu ibu dan bapak butuh suasana lain, boleh kok pakai kamar kami." Istrinya melotot tapi sambil senyum-senyum. Kami tertawa sambil kabur.

Blog EntryBapak-bapak Yang KesepianJun 13, '08 9:32 AM
for everyone
Orang yang kesepian sering menunjukkan perilaku yang aneh-aneh. Misalnya, orang dewasa yang kesepian bisa bersifat kekanak-kanakan. Sebaliknya anak-anak yang kesepian bertindak layaknya orang dewasa, seperti merokok. Meskipun tidak semua anak yang merokok itu karena kesepian. Atau seperti lirik nakal lagu Iwan Fals berikut :

Tante tante yang kesepian
Bertingkah seperti perawan
Berlomba lomba mencari pasangan
..............

Saya bertemu dengan dua orang bapak. Keduanya mengalami masalah yang sama, yaitu sama-sama menderita kesepian. Bapak yang pertama menangis saat ngobrol dengan saya. Tangisannya mirip seperti anak kecil yang menangis sambil mengadu ke ibunya bahwa mainannya dirusak temannya. Bukan untuk mengejek, tetapi memang benar begitu kenyataannya.

Saya tahu kalau ia sangat kesepian setelah lama ngobrol dengannya. Ia butuh teman untuk mendengar keluhannya. Dan secara tidak sadar ia mengakuinya. Temen ngobrol sangat langka baginya. Orang-orang di kampungnya menganggap ia ketinggian omong karena banyak omongannya yang orang tidak bisa mengerti. Bahkan Pak Lurah pun ogah menampung ide-idenya.

Di rumah, tidak ada yang menganggapnya, termasuk istri dan anak-anaknya. Mereka masih tinggal satu rumah dengan mertuanya (keluarga dari istri). Bukan karena kurang mampu, tapi karena istrinya enggan untuk berumah tangga sendiri. Mertuanya pun enggan untuk berpisah dengan anaknya. Jadilah satu rumah dua keluarga.

Karena ada dua kepala keluarga dalam satu rumah, terjadilah dualisme nilai. Di satu sisi ia ingin menerapkan nilai-nilai yang dianggapnya bagus, sedangkan di sisi yang lain mertuanya menolak nilai itu dan mempunyai nilai sendiri. Misalnya, ia ingin anaknya mengurangi menonton televisi dan lebih banyak menggunakan waktunya untuk belajar. Tetapi ketika ia mencoba menerapkannya dan dengan tegas melarang anaknya menonton televisi di jam-jam belajar, mertuanya malah melindungi cucunya itu. Tentu, bagi anak akan memilih apa yang sesuai dengan kesenangannya. Lama-kelamaan ia merasa menjadi penghuni asing di rumah itu.

Kami mengobrol sampai berjam-jam. Ia sangat bersemangat sekali, seperti menemukan mata air di tengah padang gurun yang kering. Saking semangatnya, sulit bagi saya untuk mencari celah mengakhirinya, bukan apa-apa, saya harus kerja.

Salah satu yang menjadi obrolan kami adalah keinginannya untuk membangun pusat informasi bagi petani di desanya. Ia mempunyai rumah di tempat lain yang tidak ditempati. Di rumah itu ingin dipasangi komputer dengan akses internetnya. Tetapi bagaimana caranya dan berapa biayanya ia masih belum jelas. Selama ini tidak ada yang bisa diajaknya ngobrol. Kebetulan sekali saya baru mendapat penjelasan singkat tentang internet. Dari sedikit yang saya ketahui itu, saya menularkan kepadanya. Tentu yang sedikit sangat berharga bagi orang yang tidak sama sekali.

"Petani-petani itu butuh informasi mas" katanya, "informasi tentang cara bercocok tanam, cara memperoleh bibit yang unggul, bagaimana menghasilkan padi yang berkualitas dan sebagainya. Di internet kan banyak informasi tentang itu, bener nggak mas?"

Iya juga ingin rumahnya itu bisa menjadi tempat belajar. Salah satu ruangannya ingin dijadikan perpustakaan. Banyak anak-anak putus sekolah di situ, mereka bisa belajar gratis dari buku-buku dan akses yang disediakannya. Ia mengatakan, "mereka perlu kesempatan mas. Bukan tidak mungkin, jika ada kesempatan, mereka bisa mencapai cita-citanya."

Saya membenarkan dengan bercerita tentang kisah Laskar Pelangi, novel karya Andrea Hirata itu. Ia sangat tertarik dan ingin membacanya.

"Anak Bapak suka membaca juga?"

"Iya mas."

"Novel ini bisa juga menggugah kesadaran anak untuk semangat belajar Pak. Kalau anak Bapak sempat membacanya bisa jadi ia akan berubah. Tanpa disuruh dan diatur ia akan belajar sendiri." Ia semakin tidak sabar ingin membacanya.

Akhirnya saya punya alasan untuk mengakhiri obrolan kami. Sebelum pergi, ia sempat nitip untuk dibelikan Laskar Pelangi.

Setelah obrolan di pagi itu saya tidak bertemu dengannya lagi. Dua hari kemudian saya harus meninggalkan kotanya. Tapi sebelum hari itu, saya menyempatkan diri ke toko buku, membeli Laskar Pelangi untuk saya berikan kepadanya.

Bersambung ya......


Blog EntryPekerjaan Paling MuliaMay 28, '08 9:33 AM
for everyone
Dulu saya mempunyai anggapan, pekerjaan yang paling mulia adalah menjadi seorang dokter. Saya membayangkan betapa sangat bergunanya menjadi seorang dokter. Bisa menolong sesamanya yang sedang menderita. Membantu manusia yang lain untuk bisa menjalankan kehidupannya dengan baik. Cita-cita menjadi dokter adalah cita-cita tertinggi bagi kemanusiaan. Saya menjadi paham ketika para orang tua banyak yang menganjurkan anaknya untuk menjadi dokter. Tidak pernah saya mendengar orang tua yang ingin anaknya menjadi penulis, kecuali mungkin orang tua yang penulis itu sendiri.

Sekarang, saya mempunyai pandangan yang lain. Ternyata menjadi penulis tidak kalah mulianya dengan menjadi dokter. Penulis juga sangat berguna bagi kemanusiaan. Membaca karya seorang penulis, seseorang bisa terbuka pemikirannya, tergugah kesadarannya dan terbangun pandangan hidupnya sehingga sama seperti orang yang sembuh dari penyakit, bisa menjalankan kehidupannya dengan lebih baik.

Lebih luas lagi, pengaruh pemikiran seorang penulis mampu menggerakkan masyarakat sebuah bangsa untuk bangkit dari ketertindasannya. Juga memberikan arah bagi terbentuknya bangsa. Tengoklah Hatta, pemikirannya yang tertuang dalam "Demokrasi Kita" banyak diakui sebagai peletak dasar-dasar demokrasi yang saat ini menjadi sistem yang dianut Indonesia. Karyanya yang lain, "Dasar Politik Luar Negeri Indonesia" mampu megegaskan prinsip-prinsip kebijakan luar negeri yang sampai sekarang masih dipegang Indonesia yaitu politik bebas aktif.

"catatan seorang demonstran", sebuah catatan harian yang banyak mengilhami aktifis mahasiswa saat melakukan demonstrasi menentang kekuasaan Orde Baru. Catatan ini menjadi bacaan wajib bagi aktifis mahasiswa. "Habis Gelap Terbitlah Terang", kumpulan surat-surat Kartini tentang kebebasan dan cita-cita, memberikan pandangan yang baru bagaimana seorang perempuan menempatkan diri dan bersama-sama kaum laki-laki berkontribusi dalam menjalankan kehidupan.

Tidak kalah hebatnya, "Laskar Pelangi", menumbuhkan semangat bagi para muda sekarang mengejar cita-cita meski rintangan banyak menghadang. Saya terharu ketika seorang ibu memberi kesaksian bahwa novel Laskar Pelangi mampu menggugah anaknya untuk insaf dari pengaruh narkoba dan berjanji akan bersungguh-sungguh menempuh pendidikan di sekolah.

Wah sangat banyak jika harus saya tuliskan disini, termasuk kitab-kitab agama karangan para ulama kita. Pada akhirnya, saya akan rela ketika suatu saat nanti anak saya bilang, "yah saya ingin menjadi penulis."

Blog EntryJalan Langit dan Jalan BumiMar 4, '08 10:51 AM
for everyone
Dahulu, gerhana matahari merupakan gejala alam yang penuh dengan misteri dan banyak mengandung kisah mistis. Thales, seorang pemikir dari Miletus, daerah Pantai Barat Asia Kecil, pernah memprediksi datangnya gerhana matahari. Dan prediksinya itu tidak meleset, tahun 585 SM terjadi gerhana matahari.

Karena kepandaiannya memprediksi itu, Ia menjadi terkenal sebagai ahli nujum dan dimasukkan ke dalam tujuh orang bijak (sage) dalam hikayat Yunani. Sebenarnya prediksi itu adalah hasil ketekunannya belajar astronomi, bukanlah prediksi yang didasarkan pada tahayul. Pada saat itu tahayul menjadi hal yang biasa dan menjadi kepercayaan di masyarakat Militus. Ia menemukan perhitungan gerhana matahari berikutnya akan terjadi setelah 18 tahun, 10 hari dan 7,7 jam.

Selain menguasai ilmu astronomi, Ia sangat mahir di bidang matematika terutama geometri. Kedua ilmu itu dipelajarinya disela-sela aktifitas berdagang. Ia adalah seorang saudagar yang sering mengadakan perjalanan dagang ke berbagai kota. Saat sampai di Mesir dan Babilonia, Thales tertarik untuk mempelajari geometri dan astronomi. Prestasinya di bidang geometri melahirkan sebuah teorema yang disebut sesuai namanya, "Teorema Thales".

Thales juga terkenal sebagai bapak filsafat, Ia orang yang pertama kali yang memikirkan : Apa asal alam ini? Apa yang menjadi sebab penghabisan dari segala yang ada? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dijawabnya melalui tahayul, melainkan menggunakan akal berdasarkan pengalaman yang dilihatnya sehari-hari.

Ia takjub melihat lautan yang menjadi sumber penghidupan bagi banyak makluk hidup di darat maupun di lautan. Bibit-bibit tanaman dan buah-buahan yang hanyut terbawa gelombang diantar ke pesisir pantai daerah lain. Tanaman dan buah-buahan akhirnya bisa tersebar ke berbagai wilayah di bumi. Di Mesir ia juga melihat betapa tergantungnya rakyat Mesir pada Sungai Nil. Daerah-daerah sekitar aliran Sungai Nil adalah daerah yang subur sehingga dapat dihuni manusia.

Tetapi semuanya bisa musnah. Ia membayangkan bagaimana jika Sungai Nil tidak mengalirkan air lagi, bisa jadi daerah yang semula subur menjadi padang pasir yang tandus, tidak bisa dihuni lagi. Air laut yang bergulung-gulung menghantam tepian pantai sewaktu-waktu bisa menjadi ombak yang sangat besar (tsunami) yang dapat memusnahkan semua kehidupan di daratan. Disitulah kehidupan akan berkahir.

Dari pemikirannya itu ia mengambil kesimpulan bahwa air adalah pokok dan prinsip dari segala-galanya.

Diantara kisah hidupnya ada kejadian yang lucu. Suatu saat ia berjalan-jalan memandangi keindahan bintang gemintang di langit malam hari. Pandangannya yang selalu keatas membuatnya tidak melihat lubang di depannya. Terjatuhlah Ia ke lubang itu. Seorang watnita tua yang sedang melintas berkata, "hai Thales, jalanmu yang ada dilangit kamu ketahui, tetapi jalanmu yang ada di bumi tidak."

Seorang genius seperti Thales bisa terperosok ke dalam lubang karena terlalu asyik dengan apa yang dipikirkannya dan lupa memperhatikan jalan yang dilewatinya. Kitapun akan bernasib sama jika terlalu hanyut pada suatu hal dan melupakan yang lain, padahal keduanya sangat penting dalam hidup kita.

Jalan langit bisa dimaknai sebagai kehidupan religius, alam pemikiran atau dunia ide. Sedangkan jalan bumi adalah realitas hidup kita sehari-hari. Idealnya jalan langit dan jalan bumi itu bisa selaras. Orang yang khusuk ibadahnya, mempunyai perilaku yang menyejukkan, tidak malah membuat onar. Orang yang pandai, banyak memberikan sumbang sih bagi lingkungannya, tidak malah merusaknya. Dan, orang yang banyak idenya, juga banyak berbuat.


Catatan : Gambar pinjam dari sini



Blog EntryYang Modern dan TradisionalFeb 19, '08 11:54 PM
for everyone
Telepon genggam saya berdering, ada pesan masuk dari Icha, isinya "mas kemana aja, lama nggak mampir". Memang sudah hampir satu tahun saya tidak berkunjung ke sana, biasanya seminggu sekali saya sempatkan mengunjunginya. Tadi malam saya berkunjung untuk makan malam. Icha itu nama depot kaki lima di sekitar Kopertis Surabaya.

Tidak saya sangka, pemilik depot menyambut saya dengan gembira, layaknya saudara yang lama tidak berjumpa. Senyumnya sapanya yang khas dan keramah-tamahannya sangat menyejukkan. Saya memesan dorang goreng, nasi putih dan teh panas.

Sambil makan, saya ngobrol dengannya. Meski harus melayani pelanggan yang banyak, perhatiannya tidak berkurang pada saya, tentu bergantian dengan pelanggan-pelanggannya yang lain. Saya tanya kabar keluarganya, begitu juga Ia. Sekarang Ia tidak perlu mengontrak rumah lagi, Ia membeli rumah meskipun kecil, "Saya tidak bisa membeli rumah yang jauh mas, soalnya kalau jualan seperti ini ribet, banyak barang kecil-kecil, kalau ketinggalan bisa cepet ngambilnya. Jadinya ya dapatnya rumah yang kecil, lha wong disini rumah sudah mahal."

Sapanya lewat sms (kadang juga telpon), keramahannya di depot dan suasana kekeluragaan saat makan membuat saya seperti makan di rumah saudara saya sendiri. Perlakuan itu tidak hanya pada saya, pelanggan yang lain juga terlihat akrab dengannya. Kadang Ia berkomentar, "wah saya pangling ke sampeyan, habis penampilannya baru sih," kepada saya Ia bilang, "mas sampeyan kelihatan lebih muda". "Hahahaha...." saya terbahak, "sampeyan bisa aja cak."

Saya pikir inilah management pelanggan. Meski hanya dengan bantuan telepon genggam, pemilik Depot Icha, sudah bisa mengelola pelanggannya. Ia tahu mana pelanggan yang sering dan jarang berkunjung. Ia juga tahu, walau mengandalkan ingatannya, latar belakang keluarga, usia dan pekerjaan pelanggannya.

Saya kagum dengannya, darimana ia punya gagasan seperti itu. Apakah Ia pernah mengikuti training Customer Relationship Management (CRM)? Depot pinggir jalan itu dikelola seperti restoran modern.

Selesai makan, saya berpamitan. Dengan keramahan pula Ia menyampaikan ucapan terima kasih dan berharap saya datang berkunjung kembali di lain waktu.

Dari Depot Icha saya pergi ke minimarket. Saya kaget sekali saat membuka pintu. Ada salam selamat datang, tapi saya cari-cari siapa yang mengatakan tidak ada yang menoleh pada saya. Saya pergi ke rak yang berjajar rapi, mecari barang yang saya butuhkan. Terdengar lagi ucapan selamat datang disertai dengan yel-yel promosi, "mau sepeda motor? belanja saja disini!"

Setelah beberapa saat saya amati akhirnya saya tau, yang mengatakan selamat datang itu kasir yang ada di depan dan yang menyahut dengan yel-yel itu para karyawan di dalam toko.

Tapi saya tidak terkesan sama sekali dengan sapaan itu. Cara mengucapkannya asal-asalan, juga tidak jelas ditujukan ke siapa. Karyawan di dalam toko pun seperti robot yang kalau dipencet tombolnya akan berbunyi. Masih mending robot yang suaranya keras, karyawan-karyawan ini loyo, yel-yel itu diucapkan seperti bergumam.

Saya yakin, karyawan minimarket ini pernah mendapat training, setidaknya mendapat arahan dari atasannya. Pernah saya mengetahui minimarket semacam itu, manager toko setiap pagi memberi arahan kepada karyawan yang bertugas hari itu. Tapi, kenapa rasanya hambar ya?

Blog EntryDecorum Publicum (Tata Krama Publik)Feb 15, '08 4:04 AM
for everyone
Saya tertarik sekali menyimak kasus sampul majalah Tempo edisi 4-10 Februari yang lalu. Karena ketertarikan itu, kemudian saya melakukan dudah-dudah di internet untuk mengetahui bagaimana kasus itu terjadi dan apa yang bisa kita ambil sebagai pelajaran. Saya berpegang bahwa setiap peristiwa yang terjadi, yang sempat saya ketahui, mengandung pesan agar saya mempelajarinya dan mengambil hikmah darinya. Saya yakin hikmah itu akan berguna untuk kehidupan saya kelak dikemudian hari.
 
Masalah majalah Tempo itu adalah karena sampulnya mirip dengan The Last Supper, lukisan karya Leonardo da Vinci. Dan memang, menurut Kendra Paramita sang ilustrator, sampul tersebut dibuat karena terinspirasi The Last Supper.

Sejumlah orang, yang mengaku sebagai perwakilan umat Katolik, mendatangi kantor majalah Tempo untuk mempertanyakan sampul majalah itu. Para perwakilan tersebut menilai bahwa sampul itu menyinggung perasaan umat Katolik karena menyamakan posisi Yesus dalam The Last Supper dengan posisi Soeharto dalam ilustrasi sampul Tempo.

Ternyata cukup beragam tanggapan terhadap masalah protes-memprotes ini. Ada yang mendukung perwakilan umat Katolik. Tempo tidak semestinya membuat ilustrasi tersebut karena Thel Last Supper sudah menjadi lukisan yang mempunyai makna religi bagi umat Katolik.
 
Tetapi ada juga umat Kristiani yang merasa tidak terwakili oleh pemrotes. The Last Supper hanyalah sebuah lukisan, sebuah karya seni, bukanlah peristiwa suci itu sendiri. Dan setiap orang berhak mangapresiasi dan menafsirkan karya seni tersebut. Belum tentu juga penggambaran da Vinci itu tepat seperti yang terjadi pada perjamuan terakhir Yesus, da Vinci hanya mereka-mereka saja. Jadi tidak perlu umat Kristiani merasa tersinggung dengan sampul itu.
 
Selain masalah tersinggung atau tidak tersinggung, muncul juga dalam sebuah diskusi, kasus sampul Tempo itu, sedikit banyak masuk dalam dimensi bisnis. Masalah yang kontroversi biasanya menjadi senjata yang sangat ampuh meraih popularitas. Orang justru akan mencari-cari sesuatu yang dianggap bermasalah. Terbukti, setelah kasus itu merebak, Tempo sudah sulit ditemukan di pasaran karena sudah habis.
 
Yang menurut saya paling menarik adalah tanggapan dari seorang imam Katolik yang juga ahli filsafat. Tanggapan ini dikirim oleh salah seorang anggota milis Jaringan Islam Liberal (JIL).

"Soal cover TEMPO bukan soal hukum, tapi soal rendahnya "decorum publicum"
(bhs Latin untuk 'tata-krama publik'). Karena tata-krama publik adalah
cerminan selera kultural, rendahnya tata-krama publik adalah ungkapan selera
kultural yang rendah. Dan karena selera kultural adalah cerminan mutu
intelektualitas, maka rendahnya tata-krama publik cover TEMPO adalah
cerminan rendahnya intelektualitas TEMPO. Lugasnya cover itu adalah soal
kebodohan dan rendahnya intelektualitas TEMPO, bukan soal hukum. Tentu saja
kebodohan tidak bisa diperkarakan secara hukum. Tetapi untuk media yang mau
menjaga intelektualitas, kebodohan tentu lebih memalukan daripada kasus
hukum."

Memang bagaimanapun kita hidup ditengah-tengah masyarakat. Daniel Goleman, pengarang buku Social Intelligence, The New Science of Human Relationship, menyatakan bahwa pada hakekatnya manusia tercipta untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Berhubungan dengan orang lain bukan saja karena manusia memang membutuhkan hubungan tersebut agar tetap bisa bertahan hidup, tetapi memang sifat dasar manusia yang suka untuk berinteraksi dengan orang lain.

Imam Katolik diatas benar, majalah Tempo seharusnya memperhatikan masalah tata krama publik. Harus berfikir beberapa kali untuk memuat sampul tersebut karena penggambaran kembali The Last Supper adalah masalah sensitif bagi sebagian orang. Kebebasan pers memang sangat diperlukan dalam negara demokrasi sebagai kekuatan pengontrol pemerintahan. Pers diperlukan juga sebagai sarana penyebar informasi sekaligus melakukan proses pembalajaran masyarakat.

Namun demikian kebebasan itu tidak berarti bebas yang sebebas-bebasnya. Kebebasan itu tetap mempunyai batas yaitu kebebasan orang lain, etika dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Diperlukan suatu kecerdasan untuk berekspresi, menjalankan kebebasan dalam masyarakat.

Semoga kasus sampul majalah Tempo dan kasus-kasus serupa yang pernah terjadi dapat meningkatkan kecerdasan kita dalam berekspresi agar kita mempunyai selera kultural yang tinggi sebagai cerminan tingginya tingkat intelektualitas kita.

Blog EntryRevolusi PertanianJan 23, '08 8:36 PM
for everyone
Pertanian mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan sebuah negara. Pengelolaan pertanian yang tepat akan menjamin ketersediaan makanan bagi seluruh masyarakatnya. Meskipun manusia tidak hidup untuk makan, tetapi manusia sangat membutuhkan makanan untuk menjalankan fungsi hidupnya. Karena itu ketahanan pangan merupakan syarat mutlak bagi kemajuan sebuah negara.
 
Terbentuknya masyarakat modern seperti sekarang ini juga bermula dari pengenalan manusia pada cara bercocok tanam sekitar 10 ribu tahun yang lalu. Sebelumnya, selama 2 juta tahun, manusia hidup berpindah-pindah dari satu tempat perkemahan ke tempat perkemahan yang lain untuk mencari sumber makanan.  Ketergantungan manusia terhadap alam sangat besar. Kemampuan akal manusia masih terbatas, alat-alat yang digunakan juga masih berupa segumpal batu untuk melempar atau batang kayu yang diperuncing untuk menusuk.
 
Pengenalan manusia pada cara bercocok tanam, menjadikan perubahan yang sangat cepat pada pola hidup dan kebudayaan manusia. Terjadilah apa yang disebut revolusi pertanian. Cara hidup manusia tidak lagi berpindah-pindah melainkan menetap, membentuk desa-desa dan mulai membentuk organisasi sosial dengan dasar dan susunan yang sangat berbeda dengan organisasi sosial ketika masih dalam kelompok-kelompok berburu. Kepandaian manusia berkembang. Manusia sudah bisa membuat periuk belanga dari tanah liat, menenun dan membuat rumah yang beratap.
 
Kemudian, 6.000 tahun setelahnya atau tepatnya 4.000 SM terjadi perubahan yang cepat dalam tatanan kehidupan masyarakat. Manusia mulai mengembangkan tatanan masyarakat kota (revolusi perkotaan). Kota pertama-tama terbentuk di Kreta, di daerah subur sekitar sungai Tigris dan Eufrat (sekarang menjadi negara Siria dan Irak), serta di muara Sungai Nil (sekarang menjadi Mesir). 
 
Setelah itu sekitar tahun 1.500 M, manusia mulai mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang baru. Dan pada paruh abat-18, manusia menemukan mesin yang dapat memproduksi barang-barang keperluan hidupnya dalam jumlah yang besar. Masa ini dikenal dengan revolusi industri. Akhirnya terbentuklah masyarakat modern yang terus berkembang sampai sekarang.
 
Harus kita akui bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini kita lalai dalam mengelola pertanian sehingga pernah terjadi kelangkaan beras sehingga harus mendatangkan beras dari negara lain. Memang sangat menggelikan, negara yang terkenal sebagai negara agraris ini masih juga harus meminta bantuan hasil pertanian dari negara lain.
 
Aneh juga, tanah yang subur ini tidak bisa menghasilkan kedelai berkualitas dengan harga yang murah. Kedelai impor justru lebih murah dibandingkan kedelai lokal. Secara logika ekonomi akhirnya masyarakat lebih memilih kedelai impor. Sedikit demi sedikit kita jadi tergantung. Ketika harga kedelai global mengalami kenaikan, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti harga pasaran.
 
Karena kelalaian itu, masyarakat menjadi resah tidak bisa membeli beras dan kedelai yang harganya melambung. Terjadilah peristiwa nasi aking dan lentho sebagai pengganti nasi dan tempe goreng.
 
Sudah seharusnya diusahakan pengelolaan pertanian dan peningkatkan produktifitas. Tetapi yang lebih penting dari itu adalah perlunya upaya untuk melakukan revolusi berfikir masyarakat. Menjadi petani tidak dipandang sebagai pekerjaan yang remeh atau asal bekerja daripada menganggur. Menjadi petani adalah pilihan profesi yang dapat menjadi sandaran hidup. Revolusi berfikir ini diharapkan bisa menciptakan daya tarik bagi generasi muda untuk masuk di dunia pertanian.
 
Perubahan cara pandang masyarakat ini mendesak untuk dilakukan mengingat sebagian besar petani kita sudah berusia lebih dari 50 tahun. Tanpa ada generasi muda yang mau menggantikannya, bisa dibayangkan bagaimana negara agraris ini 20 atau 30 tahun mendatang. Mungkin sudah terkubur bersama jasad para petani itu.

Blog EntryHarta yang sangat berharga itu bernama KepedulianDec 27, '07 10:29 PM
for everyone
Entah akan seperti apa nasib para korban banjir di kotaku jika diantara mereka tidak ada rasa peduli antar sesama. Mungkin akan banyak korban jiwa berjatuhan. Yang berada di atap rumah hanya bisa berharap-harap cemas air akan surut atau malah meninggi atau rumah yang ada dibawahnya akan roboh diterjang arus yang begitu deras.

Alhamdulillah, masih ada para tetangga yang rela berendam dari subuh sampai menjelang maghrib untuk mengevakuasi para korban yang terjebak di rumahnya. Dengan modal nekat mereka berenang, dengan alat seadanya, menghampiri satu persatu korban tanpa peduli dulunya saling berseteru atau bermusuhan. Tanpa ditanya anak siapa atau saudara siapa. Yang paling penting mereka bisa selamat.

Rumah-rumah yang temboknya menghalangi arus air, rela untuk dijebol. Ganti rugi? Wah sudah tak terpikirkan lagi, yang penting banjir segera surut dan penderitaan segera berlalu. Yang rumahnya tidak terkena banir, melebihkan menanak nasi dan membungkusnya untuk dibagikan kepada mereka yang tidak sempat menanak.

Kepedulian membawa kita pada persaudaraan, rasa welas asih dan saling berbagi. Beban korban bencana akan sedikit terkurangi karena ada sesamanya yang mempunyai rasa peduli.

Tetapi yang lebih penting adalah kepedulian agar banjir tidak terjadi lagi. Kepedulian ini menyentuh jauh kepada masyarakat di puncak gunung sana. Agar tidak menggunduli hutan sehingga air hujan yang jatuh bisa tertahan akar-akar pohon. Air hujan yang langsung masuk ke sungai akan berubah menjadi aliran yang deras dalam volume yang banyak. Banjir bandang pun tak terelakkan.

Kepedulian yang membuat setiap orang yang akan menebang pohon berfikir terlebih dahulu apakah perbuatannya akan menyengsarakan saudaranya yang jauh di sana. Kepedulian yang juga membuat orang yang akan membuang sampah di sungai bertanya, akankah sampah ini menyumbat aliran sungai?

Banjir kemarin juga akibat hujan lebat yang turun mulai jam satu siang sampai jam 3 pagi. Hampir seluruh wilayah Ponorogo mendapat bagian hujan lebat itu. Seumur hidupku, belum pernah mengalami hujan yang seperti itu. Banjir besar ini pun, seingat Bapak, baru pertama kali terjadi. Biasanya hanya semata kaki, paling besar sebatas lutut. Tapi kali ini sampai menenggelamkan rumah.

Sepertinya iklim sudah berubah, musim sulit ditebak. Hujan dan badai semakin sering terjadi. Kata para pakar, perubahan iklim terjadi karena pemanasan global yang terjadi karena ulah manusia. Industrialisasi dan penebangan hutan menjadi penyebab utamanya. Juga karena pembakaran bahan bakar fosil dari kenalpot kendaraan.

Nah, kepedulian tidak hanya dituntut dalam lingkup lokal, tetapi juga dalam lingkup global. Kepedulian menjadi harta yang sangat berharga bagi keselamatan kita semua yang hidup dalam bumi yang sama ini.

Blog EntryPunya Satu Anak Saja Ya...Dec 6, '07 10:46 AM
for everyone
Penduduk dunia terus berlipat ganda, diperkirakan saat ini jumlahnya sudah mencapai 6,5 miliar.
"Yah, kita punya anak satu saja ya," kata istri saya saat telepon setengah berharap saya menyetujuinya.

Cerita-punya cerita, ternyata ia baru saja mendapat kabar yang kurang menyenangkan dari temannya. Temannya melahirkan secara normal, tapi ada masalah dengan jahitan bekas operasi cesar saat melahirkan anaknya yang pertama. Jahitan bagian dalamnya membuka kembali. Ngeri memang. Makanya istri saya agak trauma untuk melahirkan kembali. Dulu, saat melahirkan anak kami, ia juga di cesar.

Tapi kemudia ia bilang, "tidak hanya itu saja yah, kita harus berfikir. Dunia ini sudah banyak penghuninya. Semakin sumpek. Sementara sumber daya alam yang ada semakin terbatas. Kita jangan hanya memikirkan diri sendiri dan anak-anak kita. Jangan hanya karena pertimbangan kita masih mampu membiayai dan mengurus keperluan anak, maka kita akan menambah anak. Pertimbangkan, masih banyak anak-anak yang terlantar yang perlu bantuan. Daripada menambah anak, mengapa kita tidak ambil mereka satu untuk kita urus."

Saya hanya diam dan melongo saja. Keputusan menambah anak memang harus kita sepakati bersama. Ya iya lah, bagaimana bisa menambah anak kalau sendirian. Bukan begitu maksudnya. Mempunyai anak itu keduanya harus sama-sama iklhas. Jangan sampai ada keterpaksaan pada salah satu pihak. Entah itu suami maupun istri.

Setelah menikah, kami pernah berunding mengenai berapa jumlah anak yang kita rencanakan. Saya bilang 11 orang, laki-laki semua, biar bisa bikin kesebelasan. Istri saya langsung melengos. "Ya sana, ayah sendiri saja yang melahirkan," katanya.

Waduh, gara-gara mendapat cerita temannya yang melahirkan itu, ia jadi jauh sekali mikirnya. Sampai harus membayangkan penduduk dunia. Memang ada apa dengan penduduk dunia. Memang sudah berapa besar sih penduduk dunia? Dasar pikiran orang statistik, mikirnya angka melulu.

Mulailah mencari data-data mengenai perkembangan penduduk dunia. Wow, ternyata penduduk dunia sekarang sudah mencapai 6,5 miliar orang. Empat kali lipat dari jumlah penduduk pada 1900. Biro Sensus yang ada di Amerika sana juga mengatakan bahwa setiap detik secara rata-rata ada 4,4 bayi yang lahir. Sementara yang meninggal semakin sedikit karena semakin meningkatnya kualitas hidup. Di berbagai negara, selisih angka kelahiran dan kematian sangat tinggi. Nah, bisa dibayangkan bagaimana cepatnya pertumbuhan penduduk dunia.

Salah seorang ahli kependudukan, Mary Kent mengatakan, "yang perlu mendapatkan perhatian adalah standar hidup, kesehatan, dan prospek ekonomi." Memang, dengan pertumbuhan penduduk yang cepat tersebut, faktor ekonomi harus dipikirkan dengan serius.

Contoh yang paling gampang adalah masalah pangan. Jika pertumbuhan penduduk dunia masih dalam laju yang sama, diperkirakan kebutuhan beras secara global pada 2025 akan mencapai 800 juta ton pertahun. Sementara kemampuan produksinya masih sekitar 600 juta ton. Terjadi besar pasak daripada tiang. Kebutuhan yang lebih besar dibanding kemampuan produksi akan berakibat pada harga bahan pangan yang akan terus melambung. Data yang paling spektakuler tentang melambungnya harga bahan pangan adalah harga gandum, pada awal 2007 yang lalu harganya US$ 180 perton, sekarang menjadi US$ 350 perton. Hampir dua kalinya.

Masalah yang serius lagi adalah kelangkaan air. Lho, katanya permukaan air laut semakin meninggi, berarti kan air semakin bertambah, kok bisa air menjadi langka. Air yang dimaksud disini adalah air bersih yang siap untuk dikonsumsi atau untuk memasak.

Menurut data dari United Nation Development Programme (UNDP) saat ini 700 juta penduduk di 43 negara hidup dibawah ambang batas kebutuhan air minum yaitu 1.700 meter kubik perorang pertahun. Jika kelangkaan air ini tidak segera diatasi, dalam 20 tahun mendatang, 3 miliar penduduk dunia akan hidup di bawah ambang batas tersebut.

Wah jadi bingung nih. Impian mempunyai kesebelasan sendiri spertinya akan sulit terwujud. Cita-cita menjadi pelatih sepak bola seperti Jose Mourinho atau Arsene Wenger jadi buyar. Tapi kalau dipikir, mempunyai satu anak adalah keputusan yang bijak. Di Cina pun sudah diterapkan aturan satu anak untuk satu keluarga. Bagaimana ya?

Belum tuntas mikir program satu anak, ada berita di BBC tentang kejahatan remaja di Cina yang salah satunya disebabkan banyak keluarga yang mempunyai satu anak, "Dengan kebanyakan keluarga hanya memiliki satu anak, maka anak-anak ini mendapatkan tekanan yang lebih besar sekarang dibandingkan di masa lalu," begitu berita yang dikutib BBC dari China Daily."

Memang tidak jelas sih apa hubungannya, dan bagaimana bisa banyak keluarga satu anak menyebabkan anak mendapat tekanan yang lebih besar?

Ingatan saya tertuju pada perkataan Dahlan Iskan beberapa tahun yang lalu. Kira-kira akhir 2005 saya mendamping bos bertemu Dahlan. Saya ingat ia mengatakan, "baru saja saya berpapasan dengan anak buah saya yang sedang mengajak anaknya ke kantor, kemudian saya tanya berapa anaknya, setelah saya tahu ia baru mempunyai anak satu, saya langsung menganjurkan untuk menambah satu lagi."

Ia menjelaskan, dalam satu keluarga itu minimal harus mempunyai dua anak. Karena beban anak setelah dewasa nanti tidak terlalu berat menanggung keluarganya sendiri dan keluarga orang tuanya. Setelah tua nanti, orang tua juga perlu diurus. Kalau ada dua saudara kan bisa berbagi tanggung jawab. "Bayangkan lagi kalau anak tunggal nikah sama anak tunggal, ada empat orang yang menjadi tanggunjawabnya," imbuhnya lagi.

Wah tambah bingung nih. Bagaimana menurut teman-teman?


--------------------------------------
Gambar : Azif waktu main ninja-ninjaan, tapi gerah, penutup mulutnya dibuka, jadi seperti kerudung.

Sumber data  dan berita :
  1. Penduduk Dunia Capai 6,5 Miliar (Kompas, Senin, 27 Februari 2006)
  2. Ketahanan Pangan dan Kemajuan Bangsa (Media Indonesia, 30 Oktober 2007)
  3. Hari Air Sedunia (UNDP-Indonesia)
  4. Kejahatan remaja di Cina (BBC-Indonesia, 05 Desember 2007)

Blog EntryPemimpin SejatiDec 3, '07 9:51 PM
for everyone
Gambar ini saya ambil dari jurnal Perang Baliho di Kendari dari blognya Mas Arham. Ya ini gambar baliho kampanye seorang Calon Gubernur di Sultra.

Menarik sekali tulisan dalam baliho itu, "PEMIMPIN SEJATI ADALAH PELAYAN RAKYAT". Gambarnyapun menarik, seolah-olah mengatakan kalau ingin menjadi gubernur harusnya mau menjadi pelayan rakyat. Arti pelayan pun dianalogikan sebagai tukang sapu dengan pakaian yang sederhana.

Kalau kesadaran ini memang benar dipunyai oleh calon gubernur itu saya salut padanya dan saya akan memilih dia seandainya saya punya hak pilih disana.

Pemerintahan diadakan karena ada kebutuhan dan keperluan rakyat yang harus diurus dan dicukupi. Kalau rakyat bisa mengurus kebutuhan dan keperluannya sendiri tidak ada gunanya pemerintahan didirikan. Rakyat mengumpulkan uang dengan membayar pajak untuk menggaji pejabat dalam pemerintahan. Sama artinya dengan seorang majikan yang menggaji para pembantunya. Nah kalau pemimpin pemerintahan sadar akan hal itu dia memang seorang pemimpin sejati.

Tapi benarkah baliho itu berangkat dari kesadaran seorang calon pemimpin? Nanti dulu. Masa kampanye adalah masa tebar pesona. Janji-janji indah ditebar dimana-mana. Seolah-olah semua masalah akan selesai tuntas kalau rakyat memilihnya.

Indonesia tercinta ini akan bebas dari masalah jika para pemimpin itu memenuhi janjinya saat kampanye. Jakarta bebas banjir dan macet. Pendidikan gratis. Kesehatan bagi semua rakyat terjamin. Kesempatan kerja akan terbuka luas. Pengangguran dan kemiskinan akan tuntas tas tanpa sisa.

Tapi kita bisa lihat dan rasakan bersama, bagaimana janji-janji kampanye itu terlupakan begitu saja. Rakyat juga sudah pesimis, siapa saja yang akan terpilih tetap saja mereka hidup dalam kesusahan.

Kalau memang benar pemimpin sejati itu adalah pelayan, lebih pengalaman mana calon gubernur itu dengan para TKI yang sudah bertahun-tahun menjadi pelayan bagi majikannya?

Blog EntryKondom Yes, Prostitusi dan Seks Bebas NoNov 29, '07 9:56 PM
for everyone
Besok, 1 Desember diperingati hari AIDS sedunia. Masyarakat dunia perlu memperingatinya karena saat ini AIDS menjadi salah satu momok bagi masyarakat. AIDS, meski sudah dicap sebagai penyakit kotor, penyebarannya sudah sangat serius.
 
Masyarakat yang tidak berdosa bahkan janin yang masih dalam kandungan pun ikut menderita seumur hidup terinveksi AIDS yang saat ini belum ditemukan obatnya.

Jika melihat kasus penderita AIDS di Indonesia sungguh sangat memprihatinkan. Menteri Kesehatan melaporkan 8% kasus AIDS di Indonesia menimpa penderita usia produktif yaitu usia antara 15 sampai 49 tahun. Jumlah kasus AIDS sendiri sudah mencapai 9.689 kasus. (Kompas Cyber Media, 14 November 2007).
 
Sebagai bagian dari peringatan itu, di Indonesia diadakan Pekan Kondom Nasional, tanggal 1 sampai 8 Desember mendatang. Ada kampanye penggunaan kondom disertai dengan pembagian kondom gratis, stiker dan penyampaian materi edukasi di tempat-tempat umum.
 
Kampanye ini dimaksudkan untuk mencegah penularan AIDS di masyarakat. AIDS memang tidak hanya menular melalui hubungan seksual, terbesar disebabkan penggunaan jarum suntik yang tidak steril dari aktifitas penggunaan narkoba. Tetapi kasus penularan AIDS melalui hubungan seksual menunjukkan peningkatan.
 
Timbul perdebatan dalam pelaksanaan kampanye penggunaan kondom ini. Ada aspek moral yang melingkupinya. Bagi masyarakat yang tidak mendukung, kampanye penggunaan kondom dinilai dapat mendorong bertumbuhnya prostitusi dan seks bebas. Pria hidung belang yang suka jajan dan pekerja seks komersial akan merasa lebih aman. Juga bagi mereka yang menjadi budak nafsu akan lebih leluasa menyalurkan hasratnya.
 
Yang mendukung, melihat kenyataan yang ada bahwa penyebaran AIDS di Indonesia sudah pada tingkat yang serius. Untuk itu penyebarannya harus segera dicegah agar tidak semakin banyak korban.
 
Kedua kubu saling bertentangan dengan argumennnya masing-masing.
 
Sebenarnya, keduanya tidak harus bersitegang. Saya melihat ada satu kunci yang bisa menjadi tujuan bersama, yaitu "melindungi masyarakat". Yang pro dan kontra sama-sama menginginkan masyarakat Indonesia menjadi baik, bermoral dan terhindar dari penyakit yang mematikan itu.
 
Kalau berangkat dari tujuan itu, saya kira mereka bisa duduk bersama, menyatukan langkah dan berpikir bersama bagaimana mencapai tujuan itu berdasar pada keahlian dan ketrampilan msing-masing.

Semua harus berangkat pada kenyataan yang ada, tidak berdasarkan ego kelompok atau berpijak hanya pada kepentingan satu pihak saja. Yang lebih diutamakan adalah kepentingan masyarakat dan melindungi generasi muda.

Bisakah hal ini dilakukan, atau hanya impian yang mustahil diwujudkan?

Blog EntryMimpiNov 27, '07 9:00 PM
for everyone
Nabi Yusuf semasa kanak-kanak bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan. Bintang, matahari dan bulan itu bersujud padanya. Kemudian ia menceritakan mimpinya kepada ayahnya. Mendengar cerita anaknya, sang ayah melarang Yusuf bercerita kepada saudara-saudaranya karena mereka akan memperdayakan dengan segala tipu daya.
 
Selanjutnya, ayah Yusuf mengatakan "Demikianlah Tuhanmu telah memilihmu dan mangajarkan takwil mimpi kepadamu."
 
Kemampuan mengartikan sebuah mimpi membawa Yusuf pada seorang raja di Mesir dan karena itu ia mendapat tempat terhormat di negeri itu.
 
Suatu saat sang raja bermimpi, tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan tujuh ekor sapi betina yang kurus, dan tujuh tangkai yang hijau, dan tujuh tangkai lain yang kering. Sang raja ingin mengetahui apa sebenarnya maksud dari mimpi itu. Tidak ada seorang pun yang mengetahui arti mimpi raja itu.
 
Kemudian salah seorang pegawai kerajaan ingat akan Yusuf yang punya kemampuan mengartikan mimpi. Diutuslah ia menemui Yusuf untuk memintanya mengartikan mimpi raja.
 
Yusuf berkata, "Kamu bercocok tanamlah tujuh tahun seperti biasa, maka apa yang kamu tunai hendaklah kamu biarkan pada tangkainya, kecuali sedikit daripadanya untuk kamu makan. Kemudia setelah itu, akan datang tujuh tahun yang amat sulit menghabiskan apa yang kamu sediakan kecuali sedikit yang kamu simpan. Kemudian sesudah itu akan datang tahun yang padanya manusia akan diberi hujan dan masa itu mereka memeras buah-buahan."
 
Begitulah kisah Nabi Yusuf tentang mimpi masa kanak-kanaknya dan kemampuannya mengartikan mimpi sang raja yang diceritakan dalam Surat Yusuf.
 
Dalam masyarakat Jawa, mimpi-mimpi khusus mempunyai arti. Mimpi itu memberikan informasi apa yang akan terjadi di kemudian hari. Ada kitab yang dimiliki masyarakat Jawa yang berisi mimpi-mimpi khusus dan apa arti dari mimpi itu.
 
Seorang bujangan misalnya, ketika bermimpi digigit ular berarti dalam waktu dekat ia akan menemukan jodohnya dan akan segera menikah. Jika  ada orang yang bermimpi sedang dikagumi karena pekerjaan atau pakainnya berarti akan disayangi banyak teman terutama pasangannya. Masih banyak lagi mimpi-mimpi yang dicatat dalam kitab orang Jawa tersebut.
 
Saya sempat memikirkan bagaimana kitab itu disusun. Apakah dari hasil semedi seorang tokoh yang akhirnya mendapat wangsit seperti suara-suara gaib yang mengatakan satu persatu arti mimpi itu dan menuliskannya seperti ketika Nabi Muhammad mendapat wahyu melalui malaikat Jibril? Bisa jadi demikian.

Tetapi saya mengira kitab itu disusun berdasarkan cerita-cerita mimpi yang dikumpulkan dari banyak orang dalam waktu yang panjang. Kemudian mimpi itu dihubungkan dengan kejadian yang dialami oleh orang itu setelahnya. Nah dari banyak pengalaman itu orang Jawa bisa menduga kejadian setelah mimpi dialami seseorang. Seperti kalau kita melihat awan yang tebal kehitaman. kita pun bisa menduga, sebentar lagi akan turun hujan.
 
Minggu lalu, Kakek, bapak dari bapak saya meninggal. Setelahnya Bapak baru bercerita bahwa ia bermimpi giginya tanggal. Kitab mimpi orang jawa mengatakan kalau bermimpi gigi tanggal berarti ada salah satu keluarga dekat yang akan meninggal.
 
Dua hari kemudian, Pakde, kakak ipar ibu saya meninggal. Setelahnya itu juga, Bapak baru mengatakan kalau dalam mimpinya kemarin, gigi yang tanggal dua buah.
 
Mungkin memang benar, ada mimpi yang tidak hanya bunga tidur saja, melainkan mengandung informasi bagi orang yang mengetahuinya.
 
Ah, saya tidak suka mengetahui informasi itu. Biarlah apa yang terjadi di masa datang saya ketahui saat kejadian itu terjadi, bukan sebelumnya. Biarlah mimpi saya menjadi bunga tidur saja. Syukur kalau bunga itu indah, menyebar bau yang harum semerbak dan tumbuh diantara bunga-bunga indah lain di taman bunga. Kalaupun bunganya tidak indah, semoga cepat layu, mengering dan hilang diterpa angin.


--------------------
Gambar pinjam dari sini

Blog EntryDinas Pendidikan : Pendidikan Itu LautanNov 21, '07 4:11 AM
for everyone
Minggu ini saya berkesempatan mengikuti diskusi mengenai Corporate Social Responsibility (CSR) di jajaran Pemerintah Kota Surabaya. Diskusi diikuti oleh perwakilan dari Dinas Pengkajian, BAPEKO, Disperindag, Dinas Koperasi, Dinas Pertamanan dan Dinas Pendidikan.

Diskusi ini diadakan untuk menindak lanjuti dikeluarkannya Undang-Undang Perseroan Terbatas yang salah satu pasalnya mengatur tentang pelaksanaan Tanggung Jawa Sosial dan Lingkungan yang wajib dilaksanakan oleh perseroan yang menjalankan usaha di bidang yang berkaitan dengan sumber daya alam.

Meski banyak mendapatkan protes dari kalangan pengusaha dan bahkan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) sendiri masih akan mengajukan gugatan uji materi terhadap undang-undang tersebut, tapi tidak ada salahnya bagi pemerintah kota mempersiapkan seandainya banyak pengusaha yang akan melaksanakan CSR itu.

Yang menarik saat giliran perwakilan dari Dinas Pendidikan diberi kesempatan berbicara, beliau mengungkapkan bahwa pendidikan itu seperti lautan, diberi bantuan berapapun pasti bisa dialokasikan. Maksudnya, permasalahan di dunia pendidikan banyak sekali, mulai dari banyak bangunan sekolah yang roboh sampai peningkatan mutu pendidikan yang masih di level bawah dibandingkan negara-negara maju.

Sementara alokasi dana dari APBD maupun APBN untuk pendidikan masih jauh dari cukup. Amanah UUD yang mengatur 20% anggaran pemerintah untuk pendidikan masih jauh dari kenyataan. Karena itu, berapapun dana bantuan yang akan dialokasikan ke pendidikan pasti dapat disalurkan. Jangan kuatir, pos-posnya masih banyak.

Sontak kami yang hadir semua tersenyum tapi juga getir. Bagaimana pendidikan yang banyak didengungkan menjadi solusi yang jitu mengatasi keterpurukan dan keterbelakangan bangsa ini belum menjadi prioritas dalam penyusunan anggaran negara. Dan berharap banyak kepada pihak swasta untuk bermurah hati rela menyisihkan sebagian keuntungannya untuk membantu pembenahan pendidikan.

Di tahun depan sepertinya pendidikan masih menjadi lautan. Dalam RAPBN 2008 alokasi untuk pendidikan sebesar 61,4 triliun atau 10,8%, masih jauh dari amanat UUD45. Alokasi tersebut lebih kecil dibandingkan anggaran untuk membayar bunga utang yang sebesar 91,54 triliun atau 16,2%.

Dunia pendidikan pun tidak hanya tersenyum tapi akan tertawa terbahak-bahak sambil tangan kanannya memegang dadanya yang terasa sesak. Sementara tangan kirinya menengadah meminta belas kasihan dari program CSR.

--------------------------------------
Illustrasi dari UTA Magazine Online

Blog EntryKata dan MaknaOct 28, '07 10:25 PM
for everyone
Kata, tidak hanya sederet huruf. Setiap kata mempunyai makna. Berbicara dan menulis sebenarnya tidak hanya melontarkan kata atau tulisan, tetapi maknalah yang kita sampaikan.

Dalam berkomunikasi, lisan maupun tulisan, sangat tidak efektif jika tidak ada kesepakatan mengenai makna suatu kata. Pernah saya diajak pusing-pusing oleh saudara saya yang baru datang dari Malaysia. Awalnya saya bingung, apa maksudnya mengajak pusing-pusing. Mau pusing saja kok ngajak-ngajak. Eh ternyata, pusing-pusing itu maksudnya jalan-jalan.

Antara anak-anak dan orang dewasa terkadang juga mempunyai pemahaman yang berbeda tentang makna sebuah kata. Masa kanak-kanak gampang sekali menyerap banyak kata, tetapi untuk menyerap makna butuh waktu dan pengalaman.

Suatu pagi anak saya bilang "yah, sepertinya aku tidak punya masalah"

Saya terperanjat, seketika itu saya hentikan membaca buku dan perhatian penuh tertuju padanya. Saya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ia maksud dengan "masalah" ? Apakah "masalah" yang saya pahami sama dengan "masalah" yang ia maksud.

"Ayah punya masalah ?" tanyanya kemudian.

Saya menjawab "Tidak"

"Ayo beli yah"

Hihihihi...saya tidak bisa menahan geli. Ternyata ia mempunyai makna sendiri tentang "masalah". Mungkin semacam mainan yang bisa dibeli di toko.

Sabtu kemarin saya mengajak ia ke Telaga Sarangan. Kebetulan saya diminta bapak mengantar beliau ke Magetan. Ada resepsi pernikahan anak seorang temannya. Karena sudah sampai Magetan, saya mengusulkan sekalian pergi ke Sarangan. Usul saya diterima.

Tujuan ke Sarangan sebenarnya bukan hanya untuk berekreasi saja tetapi sekaligus memberitahu anak saya kalau Sarangan itu nama sebuah telaga yang ada di Magetan. Soalnya, sudah berkali-kali ia menyebut Sarangan tetapi sambil menunjuk lapangan bola. Terakhir ia bilang Sarangan itu rumahnya bego (alat berat untuk mengeruk tanah). Semoga dengan pergi dan melihat langsung Telaga Sarangan, ia menjadi paham Sarangan itu apa. Kami juga menjelaskan "telaga" itu apa.

Tentang "masalah", semoga ada waktu dan kesempatan untuk menjelaskan kepada anak saya. Semoga juga ada konteks yang pas agar ia mudah memahaminya. Kalau ia sudah ngerti apa "masalah" itu sebenarnya, masihkah ia mengajak saya untuk membelinya ?

Blog EntryHari Besar Nasional, Masih Ingat ?Sep 30, '07 11:05 PM
for everyone
Saya kemarin sempat heran melihat tetangga-tetangga memasang bendera setengah tiang. Ada apa ya ? Ternyata kemarin tanggal 30 September, hari berkabung nasional atas meninggalnya Pahlawan Revolusi. Semestinya hari ini bendera berkibar penuh, diujung tiang tertinggi. Menurut sejarah, hari ini Hari Kesaktian Pancasila.

Terus terang, sejak lulus SMA, saya sudah banyak yang lupa hari-hari besar nasional, yang saya tahu hanya hari liburnya saja, waktunya pulang bertemu keluarga. Terakhir kali saya ikut upacara bendera pas penataran P4, diawal masuk kuliah. Setelah itu tidak pernah sama sekali.

Saya merasa, ingatan saya tentang hari-hari besar nasional itu semakin hari semakin luntur, bahkan nyaris hilang. Yang paling saya ingat tentu tanggal 17 Agustus, lainnya sudah di awang-awang.

Teman-teman masih ingat hari besar nasional itu apa saja ?

Blog EntryOh, Semoga Tidak Disia-siakanSep 26, '07 11:24 PM
for everyone
Nilai sebuah benda tidak saja dilihat dari berapa harganya, besar bentuknya dan indah warnanya. Benda bisa bernilai karena sejarah yang melatarbelakanginya. Terkadang nilai sejarah itu melebihi nilai-nilai benda yang lainnya.
 
Saya mempunyai sebuah buku yang mempunyai nilai sejarah yang tinggi bagi saya. Bentuknya memang kecil dan jelek. Tambah jelek saat banyak orang yang meminjamnya. Buku itu diberikan mantan pacar saya saat ulang tahun saya. Tapi lupa ulang tahun yang keberapa.
 
Yang membuat buku itu mempunyai nilai sejarah yang tinggi sebenarnya bukan hanya itu. Buku itulah yang membangkitkan semangat saya untuk membaca. Yang membawa saya mengakrabi jendela dunia dan sumber ilmu pengetahuan. Itulah episode hidup saya yang selalu saya syukuri.
 
Semasa sekolah, saya tidak mengenal buku-buku bacaan. Saya hanya mengenal buku pelajaran sekolah. Setiap saya meminta untuk dibelikan novel, Bapak menolaknya. Kalau buku pelajaran, berapapun harganya pasti diusahakan. Jadilah isi rak buku di rumah saya buku pelajaran sekolah semua. Di lingkungan saya tinggal juga tidak pernah terlihat orang yang sedang membaca buku. Majalah, ya beberapa kali Bapak membawakan Kuncung untuk saya dan adik. 
 
Pernah suatu saat saya tertarik meminjam buku-buku di perpustakaan. Sepulang sekolah saya datang ke Perpustakaan Daerah dan mendaftar sebagai anggotanya. Tapi sampai di rumah, bapak memarahi saya. Saya dilarang membaca buku-buku selain pelajaran sekolah. Bapak takut saya jadi lupa belajar dan prestasi di sekolah akan menurun.
 
Karena itu, minat membaca saya terpendam dalam-dalam. Selanjutnya, yang ada di pikiran saya hanya buku-buku pelajaran sekolah dan bagaimana usaha saya meningkatkan prestasi di sekolah. Keinginan membaca buku sudah terlupakan.
 
Sampai suatu saat, ketika saya kuliah, ada kiriman melalui pos. Di alamat pengirim bertuliskan namanya. Isinya buku kecil berwarna hijau. Saya membacanya dengan penuh semangat. Ternyata saya sangat suka membaca dan memahami isinya. Ternyata membaca itu memberikan pemahaman yang baru bagi saya. Ternyata, membaca buku tanpa bergambar itu juga sangat mengasikkan. Dan ternyata-ternyata yang lain saya temukan.
 
Saat ini buku itu entah ada dimana dan di tangan siapa. Teman yang terakhir meminjam menghilangkannya. Oh, dimanapun tempatnya, semoga buku itu tidak disiasiakan. Saya sudah merelakannya asal bisa bermanfaat bagi orang lain.

Blog EntryJauh-Dekat itu RelatifSep 5, '07 1:50 AM
for everyone
Dulu, waktu sering melakukan penjelajahan bersama teman-teman pencinta alam di SMA, ada gurauan, jangan terlalu percaya dengan kata penduduk setempat tentang jarak suatu tempat. Sebab seringkali apa yang dibilang penduduk "dekat" ternyata masih satu dua jam lagi jalan sampai disana.

Ukuran jauh-dekat kami berbeda dengan ukurannya penduduk. Apa yang dikatakan dekat, ternyata masih jauh sekali bagi kami. Jauh dan dekat itu relatif, tergantung persepsi masing-masing orang. Sama juga seperti jarak Surabaya-Ponorogo, dulu terasa jauh sekali sehingga kalau kami sekeluarga akan pergi ke Surabaya, banyak sekali yang perlu disiapkan termasuk perbekalan di jalan.

Tapi sekarang, jarak itu terasa dekat. Apalagi saat ini saya sering balak-balik Surabaya-Ponorogo. Karena keseringan itu, saya tidak perlu ribet-ribet lagi mempersiapkannya. Untuk pergi Surabaya-Ponorogo atau sebaliknya, cukup membawa uang ongkos bus dan angkutan. Jarak terasa semakin dekat kalau saya bisa tidur pulas di bus. Setelah bayar karcis langsung molor, tau-tau sudah hampir sampai, rasanya cuma sekejap saja. Pernah juga, saking pulasnya tidur, tidak terasa sudah nyampai, terbawalah saya sampai ke parkiran bus dan dibangunkan kernet bus yang melakukan cheking.

Tentang persepsi jauh-dekat ini saya pernah mendapat pengalaman yang kurang menyenangkan. Sewaktu mahasiswa, saya bersama teman-teman berkunjung ke rumah salah dari kami. Rumahnya di Ujung Pangkah, Gresik.

Teman yang punya rumah sudah berangkat duluan kemarinnya. Kami yang berangkat belakangan belum tahu dimana Ujung Pangkah itu. Kami berangkat hanya berbekal peta yang digambar teman yang punya rumah. Karena masih wilayah Gresik, kami mengira jaraknya tidak terlalu jauh. Kami sepakat berangkat pagi jam 05.30 dan berharap sampai di tempat tujuan tidak lebih dari jam tujuh sehingga bisa sarapan disana.

Sampai di perbatasan Surabaya-Gresik jam enam lewat sedikit. Kami semua bergurau menebak kira-kira menu apa yang disiapkan untuk sarapan nanti. Langsung saja saya menjawab "rawon", sambil membayangkan pagi-pagi yang dingin makan rawon sedikit panas, wah nikmat sekali.

Ternyata, Ujung Pangkah itu wilayah di ujung utara Gresik yang masih satu sampai dua jam lagi sampai disana. Ditambah muter-muter dan tanya-tanya, kami baru sampai di rumah teman saya sudah lewat jam sepuluh. Kami semua cengar-cengir, rasa lapar kami sudah hilang, tapi berganti "senep", sakit.


Tulisan ini saya tulis di terminal Selo Aji Ponorogo, dinihari, saat menjadi orang aneh.

Blog EntryJadi Orang AnehSep 2, '07 10:48 PM
for everyone
Menjadi pusat perhatian karena menjadi artis mungkin menyenangkan sekaligus membanggakan. Tetapi dilihat banyak orang karena dirasa aneh, sangat tidak enak, kikuk dan serba salah.

Ceritanya, ketika saya pulang ke Ponorogo, tiba di terminal sekitar jam satu malam. Sementara bus yang akan saya tumpangi lagi, baru berangkat jam setengah dua. Jadi nunggu agak lama.

Rasanya tidak enak kalau hanya bengong saja, saya keliling mencari kios yang jual koran atau majalah, atau apa sajalah yang penting bisa untuk baca-baca. Tapi semua kios yang buka dini hari itu tidak ada yang menjual bahan bacaan. Akhirnya saya mengeluarkan buku tulis dan pena, dan mulailah saya menulis.

Di tengah-tengah saya menulis ada orang yang memanggil saya dengan keras, "Mas, sedang bikin laporan apa ?"

Ha..., saya sedikit kaget. Apalagi mendengar kata laporan. Mungkin saya ini dikira intel yang sedang observasi mencari target. "Eh...emmm, endak kok Pak, cuma nulis-nulis aja."

"Ooo...bikin catatan pribadi ya Mas."

Langsung saja saya iyakan. Meski agak sedikit kikuk karena banyak yang melihat, tapi rasanya lega tidak dikira macam-macam. Saya tetap melanjutkan menulis, biarlah dikira orang aneh asal tidak dikira orang jahat.

Blog EntryJika Mereka Mempunyai Kesempatan Yang SamaAug 22, '07 9:27 AM
for everyone

Waktu SMA saya mempunyai teman yang menurut saya sangat jenius, langganan ranking pertama di kelas. Mata pelajaran matematika, fisika dan kimia dikuasainya dengan baik, jauh diatas rata-rata kemampuan kami. Yang lebih mengagumkan, Ia berasal dari daerah terpencil di sisi selatan kota saya, yang ketika malam harus belajar di pos kamling untuk mendapat penerangan listrik.

Kenyataan itu membuktikan bahwa belum tentu anak kota lebih pintar dibanding anak desa. Jika anak desa diberi kesempatan yang sama untuk belajar dan dimudahkan mengakses informasi, mereka akan mempunyai kemampuan yang sama, bahkan bisa melebihi anak kota. Teman-teman kuliah saya, yang mempunyai kemampuan diatas rata-rata sebagian besar juga berasal dari daerah.

Masih ingat kisah Andrey Sakharoov Awoitauw, pemenang mendali emas Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun 2005 bidang matematika asal Papua ? Saat pertama kali Prof. Yohanes Surya bertemu dengannya, Ia bukanlah anak yang pintar, bahkan Ia kedodoran saat diminta menghitung 1/2 ditambah 1/3, jawabannya 1/5. Tentu jawaban itu bukan level jawaban siswa SLTP di sekolah-sekolah favorit di Jawa.

Tetapi kesempatan untuk belajar bersama Prof. Yohanes Surya merubahnya menjadi anak yang brillian. Ia mengalahkan juara dunia olimpiade matematika dan berhasil mendapatkan medali emas.

Saat ini di seluruh dunia terdapat kurang lebih dua miliar anak dari negara-negara sedang berkembang dan negara miskin tidak mendapatkan pendidikan yang layak, bahkan banyak yang tidak mendapatkan pendidikan sama sekali. Anak-anak itu terjebak dalam pergulatan negara yang berusaha mentas dari keterpurukan ekonomi.

Di negara-negara tersebut, pendidikan bukanlah prioritas yang utama. Dana yang dialokasikan untuk pendidikan sangat kecil, kurang dari $ 20 peranak pertahun. Bandingkan dengan dana yang dialokasikan pemerintah Amerika Serikat untuk pendidikan, $ 7.500 peranak pertahun.

Professor Nicholas Negroponte memandang keadaan ini tidak adil. Lingkaran setan ini harus diputus, setiap anak harus mempunyai kesempatan mendapatkan pendidikan yang sama, sehingga mereka mampu memaksimalkan potensi yang ada.

Tahun 2002, Negroponte memperkenalkan gagasan One Laptop per Child (OLPC), sebuah program komputer jinjing murah bagi anak-anak di negara-negara miskin dan sedang berkembang. Tujuannya, agar mereka mendapat akses yang cukup untuk pendidikan.

Pada awalnya program ini mendapat banyak cemoohan. Boss Intel mengatakan bahwa komputer jinjing seharga $ 100 adalah mainan. Ada juga yang meragukan dari sisi teknis karena spesifikasi hard disk yang kurang. Sebagian yang lain memandang, negara-negara itu lebih membutuhkan sanitasi dan air bersih dibandingkan komputer jinjing.

Namun berbagai cemoohan itu dijawab Negroponte, "Ini adalah proyek pendidikan dan bukan proyek komputer".

Karena keteguhannya dan seiring dengan perubahan waktu, mereka yang dulu mencemooh akhirnya ikut bergabung. Di bulan July  yang lalu, Intel siap bergabung bersama Negroponte.

Bisa dibayangkan bagaimana wajah dunia ketika OLPC bisa mewujudkan mimpinya, menjadikan seluruh anak di dunia mendapat pendidikan dan akses informasi yang layak.


Sumber inspirasi :
1. Laptop murah mulai diproduksi
2. Mencetak Juara
Gambar dipinjam dari BBCIndonesia



Blog EntryPasar Turi Kebakaran !!!Jul 27, '07 10:44 AM
for everyone
Berita itu cukup menghebohkan. Orang yang sudah mengenal Surabaya sejak lama pasti keget mendengar berita itu. Pasar Turi sudah menjadi ciri khas Surabaya dan menjadi tumpuan perdagangan Surabaya bahkan di kawasan Timur Indonesia.

Sampai tulisan ini diketik, api belum bisa dikendalikan. Ya, bisa dibayangkan bagaimana sulitnya memadamkan api di tempat yang begitu padat terisi barang-barang mudah terbakar. Tetapi heran juga, bagaimana bisa separah itu, padahal Pasar Turi dekat dengan PMK, tidak lebih dari 100 m jaraknya.

Saat pertama kali mendengar terjadi kebakara di Pasar Turi, saya sudah menduga pasti ada cerita, kebakaran itu disengaja oleh pihak tertentu. Dan ternyata memang benar, berita-berita di media banyak yang menulis kemungkinan itu.

Tetapi benarkah disengaja ? Tidak tahu, mungkin juga tidak akan pernah tahu. Dugaan itu hanya disimpulkan dari adanya rencana pembangunan kembali Pasar Turi yang ditolak sebagian besar pedagang.

Cerita yang sama pernah saya dengar waktu Pasar Legi Ponorogo terbakar. Sebelum kejadian itu, Peremintah ingin membenahi dan membangun pasar itu agar kelihatan lebih cantik dan indah, tetapi para pedagang menolak.

Entah ada hubungannya atau tidak, Kamis 29 November 2001, 800 stan Pasar Legi hangus terbakar. Kini Pasar Legi sudah dibangun kembali dan kelihatan lebih megah, cocok dengan nama barunya, "Pasar Legi Songgo Langit". Songgo dari bahasa jawa yang artinya sangga/penyangga.

Juga cerita tentang Pasar Wonokromo yang sekarang lebih dikenal dengan nama DTC atau Darmo Trade Center. Sebelum semegah sekarang, Pasar Wonokromo pernah terbakar.

Mungkin masih banyak lagi cerita kebakaran pasar yang dihubung-hubungkan dengan rencana pembangunan kembali atau lebih mentereng disebut revitalisasi.

Tetapi kita tinggalkan saja teori hubungan kebakaran dengan rencana revitalisasi pasar, terlalu banyak membuang energi dan belum tentu bisa membuktikannya. Sekarang mari kita lihat kondisi Pasar Turi sebelum terjadi kebakaran.

Beberapa kali saya pernah berkunjung ke Pasar Turi. Tidak jauh beda dengan pasar-pasar grosir yang lain. Lorong-lorong penuh sesak dengan barang dagangan sehingga untuk berbapasan saja harus memiringkan badan. Yang terlihat luas hanya koridor di tengah pasar.

Para pedagang banyak meletakkan barang dagangannya di lorong-lorong pasar, sepertinya stan yang disediakan tidak cukup untuk menampung barang-barang itu. Maklumlah Pasar Turi menjadi pusat grosir terbesar di Surabaya, bahkan di seluruh Kawasan Timur Indonesia.

Beberapa fasilitas sudah tidak berfungsi dengan baik. Saluran air tidak bisa menyalurkan air hujan ke pembuangan. Jika hujan deras tiba-tiba turun, bisa dipastikan, Pasar Turi akan banjir, seperti yang pernah saya alami waktu berkunjung di musim hujan. Udara di dalam pengap, sulit untuk bisa bernafas lega.

Barang-barang yang dijual sebagian besar adalah barang dari kain dan plastik, juga ada sedikit yang dari keramik dan logam. Barang-barang itu mudah sekali terbakar, apalagi dalam jumlah yang besar dan saling berdekatan.

Inilah yang terjadi, begitu ada penyulut, api langsung menyebar kemana-mana dan sulit untuk dipadamkan. Pasar Turi kebakar.

Masih banyak pasar dengan kondisi yang hampir sama dengan Pasar Turi. Pertanyaannya, mau berapa lagi pasar yang terbakar untuk kita bisa berbenah ? Juga untuk pemukiman, tidak cukupkah Pasar Turi menjadi pelajaran agar tidak ada lagi pemukiman yang ludes dilalap api ?


Yang saya baca :
1. 34 Jam Berlalu, Api di Pasar Turi Belum Bisa Dijinakkan
2. DPRD Imbau Pedagang Pasar Turi Tidak Ambil Kesimpulan
3. Pasar Turi Dilalap Api
4. Pedagang Tolak Revitalisasi
5. Pedagang Temukan Botol Berisi Bensin di Stan Yang Belum Terbakar
6. Jalan Raya Jadi "Pasar Darurat"
Gambar pinjam dari detiksurabaya.com


Pages:123
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help