imam's posts with tag: cerita sekitar kita
Jangan menyuruh orang memanjat kelapa, tapi beritahu Ia kalau minum air kelapa muda itu sangat menyegarkan.
Jangan menyuruh orang untuk mengerjakan sesutu, beri motivasi, Ia akan mengerjakan pekerjaan itu dengan sendirinya dan dengan bahagia.
 Di rumah, saya menemukan komik milik keponakan saya yang kelas lima SD, isinya tentang ilmu pengetahuan, namanya Kuark. Sekilas nama itu mirip dengan "quark" partikel terkecil pembentuk proton dan neutron dalam ilmu fisika partikel. Setelah dilihat, memang komik ini dibimbing oleh Yohanes Surya, pencetak kader fisikawan Indonesia. Kuark sangat menarik. Banyak ilmu yang bisa dipelajari disitu, tidak hanya fisika saja, ada biologinya, elektronika, ilmu perbintangan dan yang menurut saya paling menarik, ada biografi singkat tentang tokoh ilmu pengetahuan. Kebetulan yang sedang saya baca, ada cerita tentang Blaise Pascal, penemu prinsip hidrodinamika itu. Cerita dalam komik ini di dibuat sesuai dengan kehidupan yang dialami anak sehari-hari. Misalnya cerita tentang Pascal diawali ketika Rhon (salah satu tokoh dalam komik) dijemput kakaknya sepulang sekolah. Mereka tidak langsung pulang tetapi mampir dulu ke bengkel. Nah, disaat melihat dongkrak yang mengangkat mobil, cerita tentang Pascal dan hidrodinamika masuk. Sangat nyaman sekali untuk dibaca. Saya teringat sewaktu seusia keponakan saya, komik menjadi barang terlarang yang harus dijauhi. Harus sembunyi-sembunyi kalau ingin membacanya. Sekarang, pelajaran sekolah malah dikomikkan. Ini langkah yang sangat bagus . Mememuhi kesenangan anak untuk membaca komik tetapi dengan tidak meninggalkan pelajaran sekolah. Cara ini, jauh lebih memudahkan anak untuk memahami pelajaran sekolah dibandingkan membaca buku pelajaran. Dan memang benar, keponakan saya bilang kalau Ia menjadi tahu dan memahami lebih banyak hal setelah membaca beberapa seri Kuark. Komik Kuark ada beberapa level sesuai dengan tingkatan kelas di SD. Level satu untuk SD kelas 1 dan 2, level duanya untuk kelas 3 dan 4, sedangkan level tiga untuk kelas 5 dan 6. Ada jug level "pra-sain" untuk anak-anak pra sekolah. Kalau sudah begini, tidak usah menyuruh anak untuk belajar, Ia akan belajar dengan sendirinya dan yang lebih penting Ia menyukainya.
 Setiap kali saya menjumpai masjid selalu ada rasa kesejukan disitu. Secara nalar mungkin bisa diterangkan. Biasanya pelataran masjid itu luas dengan banyak pintu di samping kanan, kiri dan depannya. Angin dengan leluasa bisa masuk sehingga ada pergantian udara di dalam masjid. Jadilah udara yang kita rasakan selalu segar. Ditambah lagi atapnya yang tinggi, panas matahari yang diserap atap tidak sampai memanaskan ruangan. Hal yang sama juga saya rasakan di Muhajirin, masjid dekat kantor saya. Karena kesejukannya itu banyak sekali jamaah yang menyempatkan diri tidur-tiduran setelah sholat dzuhur. Termasuk juga Amin, pedagang roti keliling. Saya selalu menjumpainya saat sholat dzuhur dan ashar. Rupanya selama antara dzuhur dan ashar itu Ia tidur. "Kalau siang pembelinya sepi Mas, mendingan istirahat disini" katanya suatu saat kepada saya. Selain Amin, masih banyak lagi yang memanfaatkan masjid untuk tidur siang atau sekedar duduk-duduk. Masalahnya, bagaimana menjaga kesucian masjid dari najis yang dikeluarkan saat orang sedang tidur? Kalau dilarang, jamaah pasti berkurang, masjid jadi sepi.  Untunglah takmir Muhajirin tidak melarangnya, tetapi menyediakan tempat khusus bagi mereka yang ingin tidur atau istirahat siang. Tempatnya di serambi sebelah utara. Dengan dilokalisir seperti itu, mudah untuk dibersihkan, tempatnya juga sedikit tertutup sehingga terkesan rapi jika dilihat dari jalan depan masjid. Saya juga sering memanfaatkan tempat itu saat pikiran lagi suntuk di kantor. Masjid-masjid di pinggir jalan, terutama jalan besar penghubung antar kota, sangatlah berguna. Selain untuk mampir sholat, juga untuk tempat istirahat sebentar menghilangkan rasa lelah. Sungguh mulia pemilik masjid di pinggir jalan ketika membangun masjid diniatkan untuk melayani para pejalan jauh itu. Yang menyebalkan ketika saya dalam perjalanan ke luar kota menjumpai masjid yang semuanya pintunya terkunci rapat. Juga dengan pintu kamar mandinya. Padahal saya ingin buang hajad dan sholat di masjid itu. Dengan sedikit kesal saya mencari masjid kembali. Ya, mungkin pengurus masjid itu tidak ingin ada pencuri masuk dan menjarah peralatan-peralatan yang ada di dalam masjid.
 Terkadang, mendengar pengamen bus kota beraksi mendendangkan sebuah lagu sangat mengasyikkan. Meski suaranya parau karena sudah seharian berteriak-teriak menyaingi kerasnya deru mesin, tapi jika pembawaannya pas enak juga didengar. Seperti Jum'at lalu, dua orang anak muda, satu membawa gitar, satunya lagi menenteng ketipung buatan dari bekas ban dalam yang ditutupkan ke satu sisi paralon. Setelah berbasa-basi sejenak mereka mendendangkan lagu yang sedang ngetop saat saya duduk di sekolah dasar. Darah muda darahnya para remaja Yang selalu merasa gagah Tak pernah mau mengalah Pikiran melayang, teringat pada dua kelompok anak muda yang selalu membikin keributan karena saling berseteru. Dua-duanya mempunyai keahlian bela diri. Ya, keduanya terhimpun dalam perguruan pencak silat. Merasa yang paling gagah dan terhebat, kudanya saling berantem. Tapi anehnya kok mainnya keroyokan, tidak pernah satu lawan satu. Anehnya lagi, sebenarnya mereka itu saudara, guru nenek moyangnya satu. Nah pada saat ziarah ke makam guru nenek moyang mereka, selalu muncul keributan. Ada aja sebabnya. Mula-mula saling ejek selanjutnya tawuran masal. Masa muda masa yang berapi-api Yang maunya menang sendiri Walau salah tak peduli Masa muda memang penuh energi. Gerakannya lincah. Dan semangatnya berkobar-kobar. Karena melimpah, energi tersebut perlu penyaluran. Idealnya, penyaluran itu ke arah yang positif dan berdampak positif bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Rupanya masa muda ideal sudah menjadi mimpi yang semakin sulit untuk terwujud. Banyak penyaluran yang justru membahayakan dirinya dan orang lain. Lihatlah geng motor yang ada di Bandung, buku putihnya mendoktrin anggotanya untuk berani melawan polisi, bahkan harus berani melawan orang tuanya jika suatu saat orang tuanya menghalangi kegiatannya. Lihat juga geng sekolah di Jakarta, lagaknya seperti preman, main palak dan main rampas. Petuah sang guru sudah tidak mempan lagi mengarahkan limpahan energi dalam track yang "benar". Daya lingkungan luar lebih menarik ketimbang suasana sekolah yang katanya paling indah itu. Saya sepakat, jika ada orang yang bilang masa muda itu masa untuk mencoba-coba, masa belajar apa saja. Salah tidak apa-apa, kan masih belajar. Tidak masalah berkubang di lumpur yang kotor kalau dengan itu justru akan mengetahui mana yang bersih. Tapi perlu waspada juga, jangan sampai kelakuan di masa muda merusak masa depannya. Wahai kawan para remaja Waspadalah dalam melangkah Agar tidak menyesal akhirnya
|  | Karena tertarik dengan graffiti, hari Jum'at kemarin saya berkeliling mencari lukisan jalanan itu di beberapa tempat di Surabaya. Berbekal kamera digital pinjaman, saya ditemani Teguh meluncur ke Jalan Tunjungan.
Di deretan toko yang tidak pernah buka, kami menemukan beberapa lukisan di rolling door dan di dinding bagian atas. Lukisan-lukisan di situ kebanyakan sudah rusak, ada bekas sobekan poster iklan sehingga gambarnya terkesan jelek. Graffiti yang di tembok atas hanya tagging saja, jadi sangat jelek dam terkesan kotor.
Setelah puas memotret langsung meluncur ke Jembatan Mayangkara, dekat Darmo Trade Center (DTC), Wonokromo. Saya ingat di kolong jembatan ada lukisan-lukisannya. Cukup menarik, lukisan yang bergaya mural itu menggambarkan kota Surabaya dengan icon-iconnya. Ada Tugu Pahlawan, Bambu Runcing, Patung Jales Veva Jayamahe dan beberapa lukisan gedung. Sayang mural ini dibuat karena dukungan salah satu produsen rokok, jadi ya ada logo perusahaan yang besar tertempel.
Kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung. Di dekat situ ada tembok memanjang yang banyak graffiti-nya. Meski ada tagging disana-sini, sebenarnya banyak juga lukisan-lukisan yang bagus, tapi catnya sudah usang. Yang menyedihkan ada iklan terselubung. Maksudnya sepertinya graffiti tetapi gambarnya iklan persewaan mobil.
Yang saya senang, saat kami sampai di perempatan Ngagel, BAT (be a te). Di dinding gedung mangkarak ada lukisan yang bergaya mural. Dilihat dari isi tulisannya, mural ini dibuat untuk memperingati HUT RI yang ke-62. Mural ini dikerjakan oleh Fakultas Seni dan Desain UK Petra, DKV Petra dan warga kecamatan Wonokromo. Tentu didukung oleh Camat dan Pemerintah Kota Surabaya. |
 Memandang graffiti tergantung dari cara apa memandangnya. Bila terlanjur selalu mencap negatif, maka graffiti yang bagus dan berestetika tinggi pun akan selamanya buruk. Namun bila selalu berpikir pada sisi positifnya, maka graffiti bisa berpotensi sebagai pemandangan kota. -- Pinky Saptandari-- Perdebatan mengenai graffiti sebagai karya seni yang memperindah atau hanya coretan yang mengotori kota akan lebih menarik jika mengetahui apa sebenarnya yang menjadi memotivasi seorang bomber melakukan aksinya. Obed Bima Wicandra dan Sophia Novita Angkadjaja, dosen jurusan Desain Komunikasi Visual, Universitas Kresten (UK) Petra, melakukan penelitian untuk menemukan secara ilmiah motivasi bomber dalam melakukan aktifitasnya membuat graffiti. Penelitian difokuskan pada graffiti yang ada di Surabaya dan terbatas pada graffity artistik saja. Dari wawancara terhadap bomber dari Surabaya dan sebagian Jakarta terungkap bahwa motivasi utama ngebom adalah untuk memperindah kota selain juga untuk menunjukkan jati diri mereka. Mereka juga menganggap kegiatan ngebom adalah kegitan yang positif dibanding mabuk-mabukan atau mengkonsumsi narkoba. "Daripada mabuk-mabukan maupun beli narkoba mendingan uangnya dipakai buat beli cat aerosol," kata salah seorang bomber yang menjadi informan. Mereka juga mengungkapkan bahwa ngebom jauh dari vandalisme. Dalam graffiti tidak ada aktifitas merusak, menggempur maupun membongkar tembok, ngebom justru memberi kesan indah dengan sentuhan artistik untuk pada tembok. Lokasi ngebom pun tidak sembarangan, tidak asal ngebom. Sasaran utama ngebom adalah tembok yang tidak terawat. Definisi tembok yang tidak terawat menurut mereka adalah tembok yang dibiarkan kumuh dan banyak tempelan poster dan iklannya. Tembok yang warna catnya sudah memudar dan banyak ditumbuhi lumut. Tembok yang dibiarkan rusak. Dan tembok di tempat-tempat strategis yang dibiarkan apa adanya sehingga menjadi sasaran empuk poster iklan dan pamflet. Musuh mereka adalah poster iklan dan pamflet yang ditempel sembarangan dan semrawut. Juga bomber yang hanya meninggalkan coretan ( tagging) yang memperburuk citra graffiti di masyarakat. Menurut Pinky Saptandari, seorang antropolog dan Sekretaris Jendral Dewan Kota Surabaya, kegiatan ngebom sebenarnya tidak perlu dilarang sepanjang tidak dilakukan di tempat-tempat yang tidak semestinya misalnya cagar budaya seperti candi, tempat bersejarah dan monumen perjuangan kemerdekaan. Pinky juga berpendapat, bentuk-bentuk iklan yang terlalu bebas tertempel di dinding-dinding kota itulah yang justru lebih buruk pemandangannya daripada graffiti. Semangat memperindah wajah kota dan melindungi tempat umum dari serangan poster iklan dan pamflet inilah yang berpotensi menjadikan graffiti bukan sebagai sampah visual yang mengotori kota. Akan lebih bagus lagi bila graffiti mampu berinteraksi dengan lingkungan, peka terhadap kondisi sosial dan mampu menunjukkan karakter budaya setempat.
Bayangkan ketika graffiti tidak ilegal, sebuah kota dimana setiap orang dapat menggambar apa yang mereka suka. Dimana setiap jalan berisi jutaan warna dan frasa-frasa yang bermakna. Mengantri bus menjadi tidak membosankan lagi. Sebuah kota yang terasa memberi nafas bagi semua orang, tidak hanya pada agen real estat dan iklan-iklan perusahaan raksasa. Bayangkan sebuah kota seperti itu, dan berhentilah bersandar di dinding-dinding yang basah --- Banksy ---
 Itulah mimpi seorang Banksy, pelukis graffiti (bomber) terkenal dari Inggris yang baru saja menjadi perbincangan karena indentitasnya mulai terkuak. Beberapa foto yang diduga fotonya diekspos di media masa. Graffiti menjadi kontroversial dikalangan masyarakat termasuk masyarakat di Indonesia. Ada sebagian yang menganggap graffiti merupakan karya seni yang mengandung nilai estetika yang tinggi. Bahkan ada yang menganggap pelukis graffiti adalah seorang seniman yang genius dan pemberani. Sebagian yang lain menyebut graffiti adalah visual sampah yang mengganggu keindahan dan mengotori kota. Karenaya melukis graffiti termasuk perbuatan kriminal. Banyak sudah kelompok-kelompok pelukis graffiti yang digrebek polisi saat menjalankan aksinya. Graffiti sendiri termasuk dalam seni publik ( public art). Dalam dunia seni rupa dalam lingkup yang lebih khusus, seni publik diartikan sebagai seni yang dibuat secara individu maupun kelompok yang menggunakan prinsip tertentu dalam menggulirkan wacana untuk disampaikan kepada publik atau masyarakat luas. Selain graffiti contoh lain yang juga termasuk lingkup seni publik antara lain performance art, seni instalasi, happening art, stencil, mural dan poster. Dibandingkan dengan yang lain, graffiti kurang mendapat tempat atau sedikit mendapat apresiasi karena sifatnya yang vandalisme, merusak milik orang lain atau milik umum. Sebagai gambaran aksi vandalisme kita simak karya Banksy yang dipasang di Galeri 49 British Museum. " Early Man Goes to Market", sebuah batu bergambar manusia purba yang sedang berburu membawa keranjang belanja. Tentu pemasangan itu tanpa sepengetahuan pengelola museum. Pengelola museum baru mengetahui ada tambahan koleksi setelah Banksy mengumumkan di situs pribadinya. Yang menarik, setelah pengelola museum mengetahui ada karya Banksy terpampang di salah satu galerinya, pengelola bukan mehilangkannya malah mempertahankan menjadi salah satu koleksi tetapnya. Mungkin pihak museum menilai karya Banksy termasuk dalam karya yang mempunyai nilai seni yang tinggi. Mungkin juga karya itu mempunyai nilai komersial yang dapat menarik orang berkunjung ke museum. Bandingkan dengan poster-poster iklan produk atau foto-foto calon peserta pilkada yang banyak dipasang di tembok-tembok kota, halte dan tempat-tempat umum lainnya yang semakin semarak apalagi saat kampanye tiba. Inilah yang coba dilakukan oleh Banksy dan bomber-bomber yang lain, termasuk di Indonesia, membebaskan masyarakat dari serangan iklan komersial dan intrik-interik politik yang tidak mendidik dan kurang atau tidak ada sama sekali unsur seninya. Menarik sekali jika kita simak gugatan mereka, para bomber, "Sama-sama mengotori tempat umum, mengapa mereka tidak ditangkap ? Justru kami yang membuat tembok tak terawat menjadi indah, harus digrebek ?" Gambar : Early Man Goes to Market karya Banksy di British Museum
 Beberapa bulan terakhir ini saya sering mendengarkan radio yang full music. Artinya radio yang hanya menyiarkan musik saja. Pada awal-awal siaran (radio ini masih baru) benar-benar full music. Selama 24 jam tidak ada iklan maupun suara penyiar, paling-paling hanya jingle radionya saja. Saya teringat pada masa kuliah dulu. Ada radio amatir milik teman-teman Teknik Fisika yang juga menyiarkan musik sehari penuh. Nama radionya TF FM (bacanya : TF ngeF M). Karena radio kampus, otomatis tidak ada iklannya. Suara penyiarnya juga jarang-jarang terdengar. Sebagai taman beraktifitas, mengerjakan skripsi, membaca dan mencuci pakaian, TF FM sangat pas sekali. Lagu-lagu yang diputar dipilih lagu yang sedang ngetop saat itu. Sekarang saya menemukan radio yang serupa. Kebetulan saya kenal dengan pengelola radio full music ini. Kemarin saya berkunjung kesana. Dan ternyata, radio ini hanya dikelola oleh tiga orang saja. Satu direkturnya sekaligus marketing, satu administrasi sekaligus keuangan dan satunya lagi operator siaran. Sebagai radio profesional, konsep full music itu sangat mengherankan saya. Awalnya saya menduga, karena masih baru jadi belum menemukan konsep yang pas. Sebagai perkenalan awal diputarlah musik, tanpa penyiar dan tanpa ada acara on-air ( talk show, pilihan pendengar dan sebagainya). Saya baru ngerti setelah sang direktur menjelaskan bahwa konsep radionya memang dibuat begitu, "sampai kapanpun, radio ini hanya memutar musik saja tanpa ada penyiarnya, yang penting kan ada iklannya Mas" katanya. Bener juga. Sekarang sudah ada beberapa iklan yang masuk. Meski ada iklannya, radio ini masih menarik juga, masih banyak musiknya dibanding iklannya. Saya tidak tahu, apakah nanti setelah banyak iklan yang masuk, radio ini masih menarik atau berubah jadi menyebalkan. Harapan saya sih semoga bisa optimal pembagiannya agar saya masih bisa menikmati siarannya.
 Saya miris membaca berita di Kompas Senin kemarin. Bayangkan ada lebih dari seribu kecelakaan lalu lintas selama mudik lebaran. Yang lebih mengerikan lagi, 322 orang meninggal akibat kecelakaan itu. Jumlah itu masih lebih kecil dibandingkan tahun yang lalu. Sebanyak 354 orang meninggal saat mudik lebaran tahun 2006. Meski jumlahnya menurun angka 322 itu bukan angka yang kecil untuk ukuran nyawa. Satu nyawapun bisa sangat berarti bagi keluarga yang ditinggalkannya, apalagi kalau yang meninggal tersebut adalah tumpuan hidup seluruh anggota keluarga. Tetapi kurang bijaksana jika karena alasan tersebut kita melarang orang untuk mudik saat lebaran. Mudik tidak hanya menjalankan tradisi bersilaturahmi. Lebih dari itu, bagi sebagian orang, mudik adalah wujud tanggung jawab seorang anak untuk berbakti kepada orang tua. Banyak yang terjadi selama setahun dalam rumah tangga yang hanya dihuni oleh satu atau dua orang yang sudah lanjut usia. Banyak masalah juga yang dialami mengiringi hari-hari yang dijalaninya. Kehadiran anak menjadi harapan untuk menghapus keletihan hidup. Syukur kalau bisa membantu menyelesaikan masalah meski hanya menyumbang pikiran dan dorongan semangat. Ditambah dengan alasan-alasan mudik yang lain dari sekedar untuk pamer kesuksesan sampai karena ingin menjenguk sanak saudara yang sudah berpuluh tahun ditinggalkannya, kita bisa memahami mengapa setiap tahun terjadi arus mudik. Meski dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka selalu berusaha mudik setiap lebaran. Termasuk mengupayakan mudik dengan biaya yang semurah-murahnya. Ini yang menjadi salah satu sebab banyak pemudik yang menggunakan sepeda motor. Dari catatan Ditlantas Polri yang ditulis Kompas, ada 1,97 sepeda motor keluar Jakarta menjelang lebaran. Meningkat 0,17 juta dibanding tahun 2006 yang lalu. Sepeda motor sebenarnya tidak direkomendasikan untuk perjalanan jauh (lebih dari 8 jam perjalanan). Apalagi jika berada dalam satu jalur dengan kendaraan besar, mobil dan truck, akan sangat membahayakan bagi pengendara sepeda motor sendiri. Mudik tidak bisa dihilangkan dari budaya masyarakat yang masih menganut hubungan kekerabatan yang kuat seperti di Indonesia. Jumlah pemudik bisa berkurang dengan pemerataan ekonomi dan meningkatkan daya tarik di seluruh daerah sesuai dengan karakter ekonomi masing-masing daerah. Tetapi untuk Indonesia keadaan itu sepertinya belum bisa tercapai untuk 10 atau 20 tahun mendatang. Mudik akan terus ada setiap tahun. Kita patut bersyukur ada banyak pihak yang peduli mengurangi jumlah kecelakaan saat mudik. Ada yang menyediakan pos-pos informasi, ada yang membuat tempat-tempat peristirahatan sementara di sepanjang jalur mudik, ada juga yang menyewakan bus-bus untuk mudik murah atau gratis. Terlepas dari kepentingan dibalik itu, pemudik terbantu dengan program itu. Banyak pemudik yang memanfaatkan tempat yang tersedia untuk beristirahat sementara. Bus-bus mudik terisi penuh menyebar ke berbagai daerah. Pemerintah melalui jajarannya di kepolisian juga sangat responsif melihat fenomena mudik. Beberapa kepolisian daerah mengadakan pengawalan bagi pemudik yang bersepeda motor secara berkelompok. Daerah rawah kecelakaan juga dijaga dan dipantau. Yang belum bisa dilaksanakan dengan baik adalah bagaimana meningkatkan kepedulian pemudik sendiri. Tidak ugal-ugalan di jalan. Sadar akan peraturan lalu lintas. Sabar dalam berkendara. Dan bagi pengendara sepeda motor tidak membawa barang yang berlebihan. Selama mudik masih terus berlangsung dan membudaya di masyarakat, kepedulian terhadap keselamatan diri dan orang lain sangatlah penting untuk mengurangi jatuhnya korban. Semoga ini bisa disadari oleh semua pihak, pemerintah, swasta dan pemudik sendiri.
 Sabtu kemarin saya mengajak anak saya berkunjung ke rumah kakek (buyut anak saya). Agar mau diajak, saya memberitahunya kalau di rumah buyut ada gunung dan kita bisa mendakinya. Anak saya langsung bersemangat dan bergegas masuk ke mobil. Sesampai tempat tujuan, tanpa babibu, ia langsung menarik tangan saya pergi ke gunung di belakang rumah. Diajak bersalaman kakek buyutnya aja tidak mau, penginnya cepet-cepet naik gunung. Akhirnya kami berdua, ditambah adik saya dan anaknya langsung menuju belakang rumah. Mulailah petualangan kami. Sudah hampir menjelang tengah hari, udara saat itu sangat panas. Dengan nafas yang ngos-ngosan, saya terus dipaksa naik sampai ke puncak sambil menggendong anak saya. Kasihan kalau disuruh jalan sendiri terus, lagian jalannya juga mulai menaik dan terjal. Semakin lama, tenaga saya mulai terkuras dan tidak bisa menggantinya karena sedang puasa. Sebelum sampai di puncak, saya dan adik saya yang juga menggendong anaknya akhirnya menyerah. Dengan menyampaikan alasan-alasan, saya memohon kepada anak saya untuk berhenti sampai di pohon di depan sana. Usaha saya berhasil, ia menyetujui tawaran saya. Kami berteduh di bawah pohon jambu monyet yang banyak tumbuh di lereng-lerengnya. Kebetulan pohon yang ini agak rindang dan sudah berbuah. Adik saya naik dan memetik dua buah untuk anak saya dan anaknya. Saya dan adik saya saling berpandangan dan tersenyum melihat mereka berdua melahap jambu monyet. Oya, saya ingat, belum pernah anak saya merasakan jambu monyet sebelumnya. Mungkin karena itu ia bersemangat memakannya sampai banyak airnya bercucuran dari mulutnya. Meski rasanya asem dan sepet, tapi mungkin enak juga disantap untuk mengobati rasa haus. Saya menelan ludah saat anak saya bilang "enaaaaak". Kasiat Jambu Monyet dari REPUBLIKA online :
- tangkai buah semu mengandung vitamin C yang cukup tinggi (180 mg/100g). Vitamin C nya bersifat menciutkan (astringent) luka sariawan, karena itu bagian ini diyakina bisa menyembuhkan sariawan.
- Menyembuhkan pegel linu. Caranya, sebanyak 10 gram daun jambu monyet yang muda ditambah dengan rimpang kencur sebanyak 7 gram dan air 110 ml. Bahan-bahan ini kemudian ditumbuk lalu diseduh. Airnya disaring dan diminum satu kali sehari.
- Menyembuhkan sembeli atau susah buang air besar. Yang digunakan adalah kulit kayunya. Sebanyak 10 gram kulit kayu jambu mete dicuci sampai bersih, selanjutnya direbus dalam dua gelas air selama 20 menit. Kemudian airnya didinginkan lalu disaring dan diminum. Agar hasilnya maksimal, ramuan ini diminum dua kali sehari.
- Mengatasi penyakit kencing manis. Sebanyak 15 gram kulit kayu jambu monyet dicuci bersih, dipotong-potong, dan rebus dengan tiga gelas air hingga tersisa satu gelas. Biarkan hingga dingin lalu saring airnya. Air ini diminum sehari dua kali masing-masing setengah gelas.
Sebenarnya saya tidak mengenal Ayahanda Rizal, saya baru melihat beliau minggu kemarin (19 Sept) ketika sudah terbaring di rumah sakit. Ada kesan yang baik saat kami menjenguknya, para penjenguk banyak sekali, satu ruangan yang berisi 6 pasien dipenuhi kerabat, tetangga dan keluarga Rizal. Padahal saat itu yang sakit hanya beliau seorang. Oh ya, Rizal itu teman kantor saya, satu divisi dengan saya. Beberapa hari ia tidak masuk karena menunggui ayahandanya. Sebenarnya ayahandanya harus masuk kamar ICU, tapi keluarga meminta dipindah ke kamar biasa saja agar keluarga dan kerabat bisa leluasa menjenguk dan mendoakan, toh dokter sudah angkat tangan. Kalau di ruang ICU tidak bisa sembarang orang bisa masuk, dan jumlahnya terbatas. Dalam kesedihan, saya melihat kebahagiaan yang sangat di ruang itu. Tidak ada hal yang paling membahagiakan ketika kita sakit selain banyaknya teman dan kerabat yang datang menjenguk dan mendoakan kesembuhan kita. Dan tidak akan banyak yang menjenguk kita kecuali kita termasuk orang yang baik. Kami tidak melihat Beliau merasa tersiksa dalam sakitnya, seperti tidur pulas saja, hanya sesekali bernafas panjang dan menggigau. Keluarga, secara bergantian, membisikkan "Allah...Allah...Allah..." ke telinga Beliau. Sesekali ada yang membisikkan "Sudah, keluarga semua sudah ikhlas..." Waktu itu saya berdoa, "Ya Allah, kalau memang Engkau berikan kesembuhan padanya, segerakanlah. Dan jika memang sudah waktunya Beliau menghadap-Mu, segerakanlah pula" Beberapa hari setelah kami datang, tepatnya hari Jum'at, 21 September, Beliau menghadap Sang Khalik. Waktu Dwi SMS mengabarkannya, saya dalam bus, perjalanan pulang ke Ponorogo. Subhanallah, kepergian beliaupun di hari yang baik dan pada bulan yang terbaik. Siapa yang tidak ingin berakhir dengan baik begitu ? (*maaf teman-teman, tulisannya melompat-lompat dan kurang rapi, lain waktu diperbaiki*)
Tadi pagi saya kagum sekaligus terharu pada warga korban lumpur di Sidoarjo karena bersedia mengembalikan kelebihan pembayaran ganti rugi lahan miliknya. Di saat-saat yang sulit ternyata mereka masih mempunyai hati nurani, tidak menggunakan yang bukan hak mereka.
Saya mencoba mencari-cari berita tentang pengembalian ini. Ternyata, sebelumnya sudah ada beberapa warga yang melakukan hal serupa. Salah satunya adalah Waras, warga Desa Siring. Uang yang dikembalikan terbilang besar Rp 429,4 juta.
Setelah Waras kemudian menyusul Lestari dan Yayuk, keduanya warga Perum TAS. Lestari mengembalikan Rp 32 juta, sedangkan Yayuk sebesar Rp 25,2 juta.
Sikap yang ditunjukkan korban lumpur Sidoarjo seolah membuktikan gurauan yang sering saya dengar, sebenarnya korupsi itu dilakukan bukan oleh orang-orang yang kekurangan, tetapi oleh orang-orang yang bergelimang harta.Gambar pinjam dari Antara
Saya kaget ketika Kris memberi saya sebuah adenium. Ia bilang, "Mas ini souvenirnya." Setelah diam sejenak akhirnya saya paham kalau adenium ini adalah souvenir pernikahannya.
Saya datang waktu acara akad nikahnya, tetapi tidak bisa meramaikan acara resepsinya. Jadi souvenir ini baru saya terima beberapa hari setelah resepsi itu.
"Souvenir Hidup" begitulah akhirnya saya menyebutnya. Sebelumnya saya tidak pernah sekalipun mendapat souvenir berupa benda hidup pada acara pernikahan. Biasanya berupa hiasan, bunga plastik, keramik dan lain-lain yang benda mati.
Sebenarnya saya pernah diajak berkunjung ke kebun adenium, tempatnya memesan. Tapi saat itu saya belum ngerti mengapa Ia pesan begitu banyak. Saat saya tanyakan padanya, adenium-adenium ini pesanan orang. Saya percaya saja. Ternyata, sampai juga salah satunya ke tanganku.
Mengapa Ia memilih souvenir hidup ? Saya chat dengannya :imam (1:16 PM): krisimam (1:16 PM): mau tanyakris budi (1:16 PM): opo masimam (1:16 PM): hehehe...imam (1:17 PM): mengapa pakek souvenir adenium ???imam (1:18 PM): kris !!!!kris budi (1:16 PM): imam (1:19 PM): ditakoni malah ngguyukris budi (1:19 PM): yo ngguyu, lapo sampeyan kok takok ngunu....kris budi (1:19 PM): yo iku berawal dari idea ne mbakku mas....kris budi (1:19 PM): gak ada maksud apa2....kris budi (1:20 PM): malah awalnya itu pengen bunga adelweskris budi (1:20 PM): tp kan susah carinya.kris budi (1:20 PM): benernya gak cuman adenium kok, ada yang kaktus juga......kris budi (1:20 PM): he he he he....imam (1:21 PM): yang menarikimam (1:21 PM): souvenirnya benda hidupimam (1:21 PM): biasanya kan benda matikris budi (1:21 PM): iyo...kris budi (1:21 PM): kan aq kan wong aneh...kris budi (1:21 PM): mangkane digawe aneh ae mesisan....imam (1:22 PM): opo pingin pernikahanmuimam (1:22 PM): dadi hidup ???imam (1:22 PM): ora mati ??kris budi (1:22 PM): ono ono ae sampeyan iku.....kris budi (1:22 PM): kalo itu pilihannya aku mesti milih yang hidup mas....kris budi (1:23 PM): ya tserah orang yang menerima mempersepsikan seperti apa...kris budi (1:23 PM): tp yang jelas aku ama azmil pengen beda dari biasanya....imam (1:23 PM): okimam (1:24 PM): tak tulis neng MP yo ???imam (1:24 PM): boleh kan ??kris budi (1:24 PM): iyo gpp kok....kris budi (1:24 PM): sampeyan tanya azmil dulu aja...kris budi (1:24 PM): boleh nggak. kalo aq gk masalahkris budi (1:24 PM): do OL kok tp di invisble...kris budi (1:24 PM): dia OL kok tp di invisble...imam (1:25 PM): ok suwunkris budi (1:25 PM): sekalian promosi mas, sopo ngerti ono seng gelem...kris budi (1:26 PM): trs kene seng dikon golekne sovenirkris budi (1:26 PM): he he he hekris budi (1:26 PM): imam (1:26 PM): bisa ajaSouvenir hidup saya letakkan di meja kerja saya agar suasana tambah segar. Terima kasih Kris, semoga perinakahanmu selalu hidup dan minghidupi. Amii...n
Sudah menjadi tradisi untuk merayakan Hari Kemerdekaan RI, Pemerintah Kabupaten Ponorogo menyelenggarakan Pawai Pembangunan. Pawai diikuti oleh institusi-institusi pemerintahan, sekolah-sekolah, kelompok-kelompok masyarakat seperti club sepeda motor dan berbagai perusahaan yang ada di Ponorogo.
Sebenarnya saya tidak begitu tertarik melihatnya. Pawai itu lebih mirip parade promosi dibandingkan parade budaya. Tapi sayang juga melewatkannya. Sambil mengajak anak, saya berangkat. Sekalian juga ingin tahu perkembangan Ponorogo saat ini.
Diantara peserta pawai, ada arak-arakan sepeda motor mempertontonkan atraksi yang mirip sirkus. Ada yang memacu dengan mengangkat roda depan, ada juga yang mengerem mendadak sehingga roda belakang terangkat.
Saat arak-arakan itu melintas di depan saya, polisi yang menjaga menghentikannya dan menyuruh mereka keluar dari lintasan pawai. Saya tidak begitu paham mengapa arak-arakan itu tidak diperbolehkan melanjutkan pawai. Saya hanya menduga, polisi itu tetap menerapkan aturan berkendara meski dalam pawai.
Arak-arakan itu memang tidak memakai helm dan berboncengan tidak sebagaimana mestinya. Atribut-atribut yang dipakai juga tidak jelas mewakili institusi mana atau kelompok apa. Pakaian dan gayanya persis seperti berandalan atau gangster.
Syukurlah, saya juga setuju kalau arak-arakan itu distop. Selain membahayakan dirinya sendiri, juga bisa membahayakan penonton yang berjubel di pinggir jalan.
Selesai pawai, saya melihat beberapa sepeda motor yang digunakan arak-arakan tadi ditahan di pos polisi. Wah saya sangat salut dengan sikap tegas polisi. Menindak siapa saja yang melanggar peraturan, meski dalam pawai. Terus konsisten seperti itu ya pak !!!
 Hari ini ada yang istimewa di kantor. Cak Mujib, salah satu teman saya merayakan ulang tahun. Ketika ditanya "yang keberapa Cak ?", ia menjawab "ke-30". Sontak semua teman tertawa, ada yang nyeletuk, "ini ulang tahun anaknya kali". Teman-teman tertawa lagi. Setiap kali merayakan ulang tahun, Cak Mujib membawa jajan pasar, ada pisang rebus, kacang rebus, ketela rebus, arem-arem dan kue lumpur, tapi bukan lumpur lapindo lho... Jadi tidak ada acara pemotongan tumpeng, tetapi penjumputan kacang rebus. Teringat masa kecil dulu. Setiap pulang dari jualan di pasar, nenek selalu membawa oleh-oleh jajan pasar. Menjelang magrib, saya dan adik selalu menunggu di depan rumah sambil sesekali melihat ke ujung jalan. Begitu nenek terlihat, kami berlomba lari, berebut siapa duluan yang menerima oleh-oleh. "Oleh-olehnya apa nek ?", nenek selalu menjawab, "nanti saja sampai di rumah". Tidak hanya kami yang mendapat jajan pasar, teman-teman kami yang kebetulan main di rumah juga kebagian. Jajan pasar yang dibawa nenek dibagi sama rata. Oleh-oleh nenek itu sekarang tidak bisa kami nikmati lagi. Tujuh tahun yang lalu, nenek telah dipanggil menghadap, tenang disisi-Nya. Cak Mujib juga yang pertama kali memberi kabar nenek meninggal. Beruntung saya punya teman seperti Cak Mujib, saya kembali bisa menikmati jajan pasar yang menjadi menu utama setiap hari ulang tahunnya. Doa untukmu Cak, semoga rahmat dan rejeki-Nya selalu tercurah padamu dan seluruh keluarga. Juga buat nenek, semoga kasih sayang-Nya berlimbah untuk nenek, seperti kasih sayang nenek yang berlimpah untuk kami.  Foto atas, Cak Mujib. Foto bawah, jajan pasar.
 Senin kemarin hari pertama masuk sekolah. Saya tidak ingat bagaimana perasaan saya ketika pertama kali duduk di bangku Sekolah Dasar, senang atau biasa-biasa saja ? Yang masih ingat, saya senang waktu masuk SMP. Saya mendapatkan suasana yang berbeda dan punya banyak teman baru. Maklum saya anak desa yang sekolah di kota. Waktu masuk SMA, rasanya biasa-biasa saja. Tidak ada hal yang baru kecuali gedung dan guru-gurunya. Hampir seluruh teman SMA saya adalah teman-teman SMP juga. Masuk SMA seperti bedol sekolah saja. Orang tua tentu senang melihat anaknya bisa menapaki tangga demi tangga pendidikan formal. Mereka juga tidak diributkan dengan biaya sekolah, sumbangan, uang gedung, seragam atau apalah namanya. Semuanya tidak memberatkan meskipun bagi orang tua saya yang guru Sekolah Dasar. Tidak banyak permainan juga, penerimaan siswa baru hanya berpatokan pada nilai danem (daftar nilai ebtanas murni). Ada sih isu, ada teman yang masuk gara-gara nyumbang mesin ketik atau batu bata untuk membangun kelas, tapi tidak sampai menggemparkan. Sekarang saya bisa merasakan kondisi yang berbeda. Angga (saya pernah cerita disini) tidak jadi masuk SMK Grafika yang menjadi keinginannya, juga keinginan orang tuanya. Orang tua Angga tidak sanggup membayar melebihi peminat yang lain. Sebenarnya sudah disediakan Rp. 1,5 juta untuk daftar ulang, sesuai informasi yang diterima dari pihak sekolah sebelumnya. Tetapi ketika daftar ulang, Angga ditolak karena bangku sudah ada yang mengisi. Ibunya kemarin cerita ke istri saya, sambil menahan tangis. Sedih sekali tidak bisa memenuhi harapan anaknya gara-gara tidak bisa menyediakan biaya daftar ulang diluar perkiraannya. Sebenarnya Angga anak yang cerdas, nilai unas-nya 27 lebih, ia yakin anaknya bisa diterima. Tapi apa daya, Angga gagal masuk SMK Grafika. Kekecewaannya semakin menjadi setelah mendengar cerita Lia. Teman Lia bisa masuk SMA Grafika padahal nilai unas-nya jauh dibawah Angga. Lia sendiri juga kecewa. Ia tidak bisa masuk jurusan kesehatan yang diinginkannya gara-gara telat membayar uang daftar ulang. Padahal Ia dan Ibunya datang tepat sesuai dengan tanggal yang ditentukan sekolah, tetapi bangku sudah penuh terisi. Rupanya sebelum tanggal tersebut, banyak orang tua yang datang ke sekolah untuk melakukan daftar ulang sekaligus membayar biayanya. Saya dan istri hanya bisa sedih mendengar cerita-cerita mereka. Bagaimana pendidikan kita kalau semuanya ditentukan oleh kuasa uang ? Ya harus dong, sekolah butuh biaya Bung ! Iya, tapi apakah tidak bisa sekolah menyediakan sebagian bangkunya untuk mereka-mereka yang cerdas tetapi secara ekonomi kurang mampu. Kalau begini hanya orang kaya saja yang bisa sekolah. Lalu biaya operasional sekolah siapa yang naggung kalau banyak yang tidak mampu ? Ya biaya operasional harus dibuat se-efisien mungkin. Biaya-biaya yang tidak ada kaitan langsung dengan proses belajar mengajar dibuat sekecil-kecilnya. Tidak perlu sekolah berlomba membangun gedung-gedung yang megah dan fasilitas yang melebihi standar hanya untuk mengejar sebutan sekolah favorit. Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana negara ini menjalankan amanah Undang-Undang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa kalau semua masyarakat tidak mempunyai kesempatan yang sama duduk di bangku sekolah. Gambar dari : http://clearinghouse.dikmenum.go.id
 Baru malam itu saya nonton catur sambil tertawa-tawa, seperti nontok ludruk Kartoloan atau banyolannya dagelan ketoprak. Catur yang biasanya bikin dahi berkerut, karena ikut mikir, waktu itu malah bikin urat syaraf jadi kendor. Ceritanya, suatu malam sehabis muter-muter, saya mampir ke warungnya Cak Solikin. Banyak sopir angkot yang berkumpul di warung itu, untuk ngopi atau sekedar ngobrol dengan sesama sopir. Warung Cak Solikin tepat di samping terminal angkot. Sambil ngobrol, beberapa sopir bermain catur. Yang lainnya menjadi penonton dan suporter, persis seperti pertandingan sepak bola. Benar, bukan permainan caturnya yang bikin tertawa, tapi komentar dan celetukan suporternya. Ada ledekan jika pemain lambat jalan karena mikirnya terlalu lama, "Wah seperti nunggu nenek-nenek makan kuwaci". Tapi giliran pemain mikirnya cepat, langsung merespon gerakan lawannya, yang lain nyeletuk "Wah kuwacinya tidak dikunyah, langsung ditelan". Karena hiburan gratis itu, saya sering mampir. Sangat menyenangkan, malah lebih menyenangkan dibanding nonton empat mata. Suasana seperti itu tidak saya jumpai beberapa tahun yang lalu, sebelum ada tindakan tegas bagi para penjudi. Kalau kumpul-kumpul, sopir angkot ditambah tukan becak pasti bermain judi. Sangat memprihatinkan, uang hasil memeras keringat dari pagi sampai sore bisa ludes karena mainan haram itu. Sejak banyak penggerebekan tukang judi, saya tidak pernah menjumpai arena judi. Mungkin saja tidak berkurang, hanya pindah ke tempat yang tersembunyi. Tapi, paling tidak di tempat umum sudah tidak ada arena permainan itu. Di malam yang berbeda, saya pernah ngopi di warung itu. Sama, sambil melihat pertandingan catur. Tapi baik yang nonton maupun yang main pada mabuk semua. Botol-botol minuman keras ada dimana-mana, "Anu Mas, lagi ada pesta, Pak Joko tadi menang billiard, juara satu" kata Cak Solikin. Wah, kebiasaan yang satu ini belum hilang juga. Karena pada linglung, ada jurus maboknya segala. Meski akhirnya langkahnya tepat, tapi sangat sulit menempatkan buah caturnya, pakek muter-muter dulu diatas. Gimana ya kalau Grand Master Utut main lawan jurus mabok itu ? Hehehe, mungkin Utut bisa kalah karena kehilangan konsentrasi.
 | Sunggung nyamannya jika tentara kita mempunyai hati nurani.
|
Bukan, ini bukan sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ini hanya sebuah persepsi saya tentang tentara, mulai kecil sampai sekarang. Persepsi tentang sesuatu mengalami perkembangan seiring dengan berkembangan usia dan pola pikirnya. Begitu juga dengan persepsi saya tentang tentara. Tentu saja perkembangan itu dipengaruhi juga oleh faktor internal, kejadian-kejadian yang sempat saya alami, baca maupun saya lihat. Menjadi tentara menjadi salah satu cita-cita saya semasa kecil. Saya ingin menjadi pejuang, berkorban dan mengabdi pada negara ini. Menjadi tentaralah alternatif yang paling bagus. Pada waktu itu, di desa saya sedang banyak tentara, satu truk tentara menginap di balai desa. Ya, desa saya termasuk daerah yang terkena program ABRI Masuk Desa yang lebih dikenal dengan AMD. Saya sering bermain dengan mereka, bergurau layaknya teman. Merekapun sangat senang jika saya dan teman-teman sebaya saya berkunjung ke balai desa, mengajak mereka main catur atau sepak bola. Sesekali main kartu, yang kalah dihukum mengenakan helm tempur tentara dari baja yang beratnya lumayan buat kepala kecil seperti saya. Warga desa juga sangat senang dengan program itu. Desa jadi ramai dan tentu saja aman, waktu itu masih banyak pencuri yang berkeliaran di desa saya. Banyak infrastruktuf seperti jalan dan jembatan dibangun. Desa saya masih termasuk desa miskin jadi kami sangat senang pembangunan itu. Ketika SMP, saya tambah semangat ingin masuk akademi militer. Saya sangat tertarik dengan film (atau sinetron ya...) bagaimana para taruna Angkatan Laut menjalankan pendidikan militer di Bumi Moro. Kesan saya, taruna-taruna itu sangat gagah dan berwibawa. Ternyata teman-teman saya juga banyak yang ingin menjadi tentara. Waktu ada pendaftaran SMA Taruna Nusantara banyak yang mendaftar. Tapi saya tidak ikut mendaftar, saya tidak percaya diri dengan postur tubuh saya yang kecil dan kurus kering. Keinginan saya untuk menjadi tentara saya salurkan ke kegiatan kepramukaan. Lumayan bisa merasakan bagaimana susahnya belajar baris-berbaris dan halang rintang ala tentara. Ketertarikan saya menjadi tentara berkurang saat saya masuk SMA, mungkin sudah capek disuruh tegap terus ketika menjadi Pramuka. Kakak sepupu saya juga memberikan pandangan yang lain. Kebetulan kakak sepupu saya itu berhasil masuk ITS. Mahasiswa ITS masih sangat jarang di desa bahkan di kecamatan saya. Sayapun beralih cita-cita, ingin masuk perguruan tinggi. Alhamdulillah saya keterima UMPTN dan masuklah saya ke ITS. Selama menjadi mahasiswa saya aktif di salah satu kegiatan kampus. Sayapun banyak berkenalan dengan aktifis-aktifis kampus dan sering diskusi dengan mereka. Disitulah persepsi saya tentang tentara berubah 180 derajat. Peristiwa reformasi saya alami. Banyak kejadian terjadi, menambah buruk citra tentara bagi saya. Manusia yang punya akal kok didoktrin untuk tidak digunakan. Apa yang dilakukannya hanya menurut perintah atasan. Tak perduli di depan siapa, kalau ada perintah tembah ya harus ditembak. Begitulah pandangan saya tentang tentara. Kejadian di Alas Tlogo kemarin menambah gelap pandangan saya terhadap tentara. Selain dilarang berfikir dan membantah juga tidak punya hati nurani. Sungguh sangat kejam. Saya penasaran, sebenarnya bagaimana sih tentara itu ? Ketemulah saya dengan sejarah tentara. Ternyata tentara dulu terbentuk dari rakyat yang berjuang demi kepentingan dan keselamatan rakyat. Pemberontakan PETA di Blitar juga karena melihat rakyatnya menderita akibat Romusa. Tetapi mengapa sekarang rakyat yang harus menderita justru karena tentara. PETA sekarang bukan Pembela Tanah Air tapi Pembela Tanah Abah. Saya hanya bisa berharap, semoga tentara itu tidak seburuk seperti apa yang saya persepsikan dan semoga saya menemukan alasan untuk merubah persepsi buruk itu.
 | Nguping | May 28, '07 9:37 PM for everyone |
 Waktu sudah lebih jam 9 malam, perut saya terasa tidak enak. Ternyata saya belum makan. Saya pun pergi ke warung terdekat. Di warung secara tidak sengaja saya mendengar obrolan dua orang pengunjung. Rupanya mereka membicarakan kondisi sekarang yang serba susah. Jelas terdengar di telinga saya ucapan salah satu dari mereka, "lebih enak jaman Pak Harto dulu ya, usaha gampang dan pengangguran tidak banyak seperti sekarang", sambil melirik ke arah saya. Saya berusaha tetap diam dan memfokuskan pendengaran saya sambil menyantap mie goreng. Sebenarnya saya ingin sekali nimbrung obrolan mereka, tapi niatan itu saya urungkan, sepertinya lebih asyik tanpa ada campur tangan saya yang beda generasi dengan mereka, obrolannya lebih original. Orang tadi melanjutkan, "sebenarnya masalah Pak Harto itu cuma korupsi saja". Wah, ini lebih baik dibanding hanya bilang jaman Pak Harto lebih baik dibanding sekarang. Mereka sudah sadar bahwa jaman Pak Harto banyak korupsinya. Pemberantasan korupsi, yang sekarang gencar dilaksanakan, terbaca oleh masyarakat dan melekat di ingatan mereka bahwa korupsi adalah praktek yang jelek. Berarti secara tidak langsung, pemerintah sekarang berhasil menanamkan persepsi tentang korupsi kepada masyarakat sampai lapisan bawah, sebuah pencapaian yang bagus. Tetapi persepsi itu akan goyah jika pemerintah tidak konsisten. Hanya memilih kasus yang kecil-kecil saja, yang kelas kakap tidak serius ditangani. Dan penetapan hukum yang tidak jelas pada mereka yang sudah terbukti melakukan tindak korupsi. Bulan Mei kemarin orang ramai memperingati lahirnya reformasi. Ramai juga orang berbicara, sampai saat ini tujuan reformasi belum tercapai dan cenderung melenceng dari tujuan semula. Seabrek daftar tujuan reformasi menurut persepsi masing-masing dan belum satupun bisa terwujud, termasuk pembangunan ekonomi yang belum dirasakan masyarakat. Menurut saya, reformasi akan sampai pada tujuan jika sudah tidak ada lagi orang yang bilang jaman Pak Harto (Orde Baru) lebih baik debanding sekarang. Lho, kok telingaku sudah tidak mendengar apa-apa lagi. Saya lihat kanan kiri, ternyata tinggal saya sendiri dan bapak penjaga warung yang ternyanya dari tadi memperhatikan saya, "Ada apa mas kok ngelamun, diputusin pacar ya"..............
 Sebuah pengakuan dari seseorang dapat menggegerkan dunia politik di suatu negara. Lihat saja pengakuan Debora Jean Palfrey (DC Madam), seorang mucikari top di Washington DC. Ia mengaku pelanggannya juga berasal dari petinggi di jajaran pemerintahan Amerika. Tidak cuma pengakuan, Ia mengancam akan membeberkan semua daftar kliennya, termasuk rekaman telepon, kepada public jika ia tetap dipenjarakan. Ancaman itu berawal dari tuduhan terhadap dirinya karena melaksanakan praktek pencucian uang. Sang Madam menolak tuduhan itu, ia beralasan semua bisnis yang dilakukannya legal. Ancamannya tidak main-main. Kabarnya, daftar klien itu sudah bocor ke tangan media. Satu korban telah jatuh, seorang petinggi lembaga donor Amerika (USAID) termasuk salah satu dalam daftar tersebut. Karena tidak bisa mengelak, akhirnya petinggi tersebut mengundurkan diri. Satu lagi. Amin Rais, salah satu tokoh penting kita, memberikan pengakuan bahwa Ia pernah menerima dana untuk kampanye pencalonannya sebagai presiden dalam pemilu lalu yang jumlahnya menyalahi ketentuan yang diijinkan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ia juga bersaksi semua pasangan calon presiden juga begitu. Dalam sebuah dialog di stasiun televisi swasta, Ia mengakui menerima dana Rp 200 juta dari dana non budjeter Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) untuk dana kampanyenya. Tetapi Ia juga mengetahui semua calon juga menerima dana yang tidak sesuai ketentuan KPU seperti dirinya, bahkan Ia bisa membuktikan ada aliran dana dari Woshington untuk salah satu calon. Yang mengejutkan, dalam dialog itu Amin juga menyebutkan sebuah fakta. Ia sempat menanyai Jusuf Kalla, darimana dana ratusan miliar untuk biaya kampanyenya. Ternyata, menurut Amin, Jusuf Kalla dan tim suksesnya mendapat suntikan dana dari pengusaha. Mengejutkan karena, menurut peraturan KPU, setiap pasangan calon hanya boleh menerima dana dari seseorang dengan batas maksimal Rp 100 juta. Nah, berarti pasangan SBY-JK sudah menyalahi aturan KPU itu. Terus bagaimana ?? Karena menyalahi aturan dana kampanye, pasangan calon presiden dan wakil presiden bisa dibatalkan pencalonannya. Kalau pencalonannya saja sudah batal, berarti statusnya sebagai presiden terpilih saat ini bisa dicabut. Ini menurut seorang anggota KPU yang waktu dialog itu juga menjadi nara sumber. Kalau berlaku demikian, tentu akan menimbulkan konsekuensi politik yang cukup besar. Amin Rais lain lagi, Ia mengatakan, "Ini sebuah momentum yang tepat, mari dengan jujur kita akui bersama, meskipun tidak perlu ada pencopotan presiden dan wakil presiden" Apa yang akan terjadi kemudian, apakah harapan Amin Rais terwujut ? Atau timbul desakan untuk tetap ditegakkannya hukum meski membawa perubahan radikal dan beresiko politik yang sangat besar ? Atau momentum ini berlalu begitu saja dan hilang dari ingatan kita seperti tidak terjadi apa-apa ? Mari kita lihat dan saksikan bersama.
 Mencermati dunia blog sangat mengasikkan. Tidak saja bisa saling tukar informasi tetapi yang lebih penting kita bisa berdiskusi dan saling berinteraksi. Salah satu blog yang sangat menarik untuk diperhatikan dan menjadi perbincangan bloger akhir-akhir ini adalah IPDNmania. Ditengah pandangan masyarakat yang menilai IPDN adalah suatu kecelakaan dalam dunia pendidikan, IPDNmania berdiri menentang arus itu. "Kami adalah putra putri terbaik bangsa" menjadi header pada blog itu. Dalam kasus kematian beberapa praja akibat sistem pendidikan bergaya militer, beberapa artikel dalam blog ini menganggap itu adalah sebuah kewajaran. Untuk menciptakan pemimpin yang berkualitas diperlukan mental dan fisik yang kuat. Kedisiplinan merupakan syarat mutlak untuk mencapai tujuan itu. Sehingga wajar jika ada sangsi yang tegas dan keras jika ada praja yang melanggarnya. Kematian adalah resiko bagi calon pemimpin bangsa. Bisa dibayangkan bagaimana kerasnya tanggapan pada blog tersebut. Hujatan, makian dan kata-kata kotor selalu menghiasi reply artikel-artikelnya. Teman saya juga berekasi sama ketika tahu dan membaca blog tersebut. Saya yakin jika dilakukan jejak pendapat mengenai IPDNmania, hasilnya tidak jauh beda dengan reply dan reaksi teman saya itu. Tidak ada sedikitpun informasi siapa penggagas dan pengelola IPDNmania. Ada yang menduga pengelolanya adalah praja atau mantan praja IPDN sendiri, setidaknya orang tersebut mempunyai hubungan yang dekat dengan IPDN. Tujuannya ingin mengimbangi atau sebagai tandingan informasi yang berkembang di masyarakat yang cenderung memojokkan institusi atau lembaganya. Salah satu artikenya yang berjudul " waspadai kontras kaya vs miskin dalam agenda anti ipdn", penulis ingin mengarahkan opini pembacanya untuk tidak ikut-ikutan anti IPDN karena ada agenda terselubung di baliknya. Penulis menduga ada pihak-pihak yang sengaja menciptakan pandangan yang jelek tentang IPDN dengan tujuan masyarakat bereaksi keras dan membubarkan IPDN. Lowongan pekerjaan Depdagri akan terbuka luas jika IPDN dibubarkan. Simak salah satu paragraf dalam artikel tersebut : kayaknya makin jelas kebaca deh semua agenda ini⦠supaya ipdn dibubarin lantas lowongan depdagri buat semua orang trus anak2 orang kaya dari univ keren pada masuk soalnya duit kan bukan soal buat mereka. dengan menguasai instansi pemerintah mereka akan lancar dalam sepak terjang bisnisnya Tapi menurut Ndoro Kakung, pembuat blog dimungkinkan juga bukan orang dalam IPDN, tetapi blogger yang sekedar ingin mengail popularitas di air yang memang sudah keruh. Mungkin juga kerjaannya teliksandi yang memang suka memancing-mancing, atau memang bukan siapa-siapa, semuanya tidak tahu. Bersikap BijakSaya sependapat dengan Ndoro Kakung, lebih baik jika kita tidak terlalu serius menanggapi blog yang semacam ini, apalagi ikut-ikutan perang, marah-marah, menghujat dan sebagainya. Santai saja, baca dan simak secara seksama. Syukur kalau kita bisa menanggapi dengan pemikiran yang lebih cerdas dan mencerahkan, akan sayang bermanfaat bagi orang lain daripada sekedar menghujat dan marah-marah. Selama belum ada pembatasan akses internet seperti di China, berbagai macam informasi dan tanggapan atau reaksi yang sangat beragam pasti akan kita temui. Mulai dari yang paling ekstrim sampai yang moderat, ada juga yang netral, tidak bersikap dan tidak menilai. Semuanya kembali kepada kita bagaimana memanfaatkan informasi tersebut dan memaknainya sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut. Memang akhirnya tidak ada kesimpulan yang benar-benar benar, semuanya serba relatif tergantung siapa yang menaknai dan meyimpulkannya.
| |