catatan kecil imam isnaini

imam's posts with tag: cerpen

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cerpen
Blog Entry[cerpen] Teman Sang GagakJun 28, '08 2:50 AM
for everyone

Aku duduk, termenung, mempertanyakan benarkah Dia selalu mencipta tanpa kesia-siaan? Benarkah semua terlahir karena suatu tugas tertentu? Punya maksud dan punya cita-cita? Kalau memang benar, lalu apa tugasku? untuk apa aku terlahir? Dan masihkah aku bisa bercita-cita? Sedangkan aku hanyalah seekor burung dengan sayap yang patah sebelah. Hidup sendiri tanpa teman. Burung gagak sepertiku yang bersayap lengkap pun hanya pembawa berita buruk, terbang berkeliling menyiarkan kematian.

Untuk sebuah cinta? Ah itu hanya bualan penyair yang mabuk kepayang. Aku menjadi seperti ini karena aku percaya bualannya. Katanya, cinta itu membawa hidup lebih bermakna. Saking percayanya aku bertaruh nyawa, berbaku hantam dengan si elang yang kurang ajar menggoda dan merayunya. Oh kekasihku dimanakah sekarang kamu berada?.

Menyesal juga rasanya, mengapa kugunakan sayap sebelah ini untuk menangkis serangannya. Lebih baik kuserahkan saja kepalaku pada cakarnya. Atau kuberikan leher ini biar dipatuknya sampai putus. Ah, seandainya kemarin aku mati.

Dulu, bila aku boleh memilih, ingin rasanya menjadi manusia. Meski ada kemungkinan menjadi mahklukNya yang paling hina, tetapi, bagaimanapun mereka masih punya harapan menjadi mahkluk yang paling tinggi dan bahagia di surga nanti. Mahkluk sepertiku ini tidak ada tempat di akhirat. Satu-satunya surga untukku hanyalah kesenangan di dunia ini. Ah, bodohnya mereka yang tidak berharap, yang tertipu dan terseret kesenangan semu.

"Dasar mahkluk yang selalu mengeluh."

Busyet, siapa yang bersuara itu. Sekelilingku hanya sepi. Tidak mungkin ada yang lain, selain diriku.

"Hei, turunlah dari punggungku."

Seketika aku melompat dari batu tempat dudukku. Benarkah batu ini yang berbicara? Perlahan aku mendekat kembali.

"Ya benar, ini aku."

"Bukankah engkau batu, mengapa bisa bicara?"

"Bener-benar mahkluk yang tak berguna, sudah pandai mengeluh, dungu lagi. Itulah akibatnya kalau kau selalu memikirkan kepentinganmu sendiri dan abai pada lingkungan sekitarmu."

"Maksudmu"

"Cobalah perhatikan semua yang ada di sekelilingmu, pohon-pohon, rumput, air, awan, gunung, bukit, semuanya bisa bicara. Terkadang mereka malah berteriak-teriak mengingatkan siapa saja yang ceroboh. Hanya saja banyak yang tidak mendengar. Yang tidak menggunakan hatinya untuk mendengar. Sebenarnya isyarat-isyarat dari mereka sangat jelas, jika orang-orang itu tidak hanya menggunakan mata yang dikepala, tetapi juga mata yang di dalam dadanya. Coba berputarlah, lihatlah mereka!"

Aku kembali memandang sekelilingku, menggunakan semua indra sesuai sarannya. Aku sangat terkejut. Semuanya menatap kearahku. Pohon-pohon melambaikan daunnya memberi salam. Angin bergerak memeluk tubuhku. Bahkan gunung dan bukit pun seolah berbicara dengan lekuk-lekuk kontur dan tonjolan bebatuan yang membentuknya.

Sejak saat itu, semuanya menjadi temanku, sahabatku. Setiap kali aku berjalan, menyusuri setapak masuk ke hutan, selalu saja bertemu mereka. Bebatuan, pohon, air, angin, gunung dan bukit menyambutku. Kadang bercanda dan tertawa, tetapi yang lebih sering mereka mencurahkan suara hatinya. Mereka sedih, mengapa mereka diperlakukan semena-mena tanpa sedikitpun berfikir bahwa mereka pun sebenarnya juga mahkluk ciptaanNya yang butuh perlindungan dan kasih sayang.

Sejak saat itu pula hidupku berubah, dari kesia-siaan menjadi penuh makna. Aku sudah melupakan bahwa aku ini seekor burung gagak yang patah sebelah sayapnya. Kini, hidup bagiku adalah sebuah pertemanan, saling membutuhkan dan kasih sayang. Inilah surgaku.

"Bukan!" kata batu tempatku berbaring.

"Mengapa bukan?"

"Percayalah padaku, ini bukan surgamu. Berjalanlah sana ke punggung bukit. Naiklah sampai keatasnya, di tepi jurangnya. Kamu akan menemukan dimana sebenarnya surgamu."

Aku menuruti sarannya. Aku melihat kearah bukit, ia memanggil-manggilku. Perlahan, dengan kebingunguan yang sangat aku melangkah setapak demi setapak naik sampai jurang yang ditunjuk batu itu.

"Terjunlah" kata bukit yang berjurang.

"Terjun, bagaimana aku bisa terjun. Aku sudah tidak bisa terbang lagi."

"Percayalah."

"Tapi."

"Yakinlah."

Ya, benar, yakin. Aku menjadi tahu bahwa yakin itu berbeda dengan percaya. Percaya itu dengan kepala, sedangkan yakin dengan hati. Mukjizat seorang nabi yang tidak masuk dikepala bisa tidak dipercayai, tetapi kalau melihatnya dengan hati bisa menjadi keyakinan, apa sih yang tidak bisa bagi Sang Pembuat Kejadian. Dengan keyakinan itulah aku melakukannya.

Aku melayang dari ketinggian sambil memejamkan mata. Buat apa melihat ke bawah sana, tempat yang akan membuatku remuk. Tidak hanya itu, aku menutup telinga dan memutus syaraf perasa, sehingga seolah aku mati duluan sebelum terbentur tanah. Aku tersadar kembali ketika sesuatu menahan tubuhkan sehingga tidak remuk membentur tanah. Aku tersangkut jaring perangkap burung. Apakah ini pertanda baik?

Di bawah, orang ramai bersorak-sorak. Jaring diturunkan. Salah satu dari mereka menangkapku. Kemudian menciumku, mengelus-elus lalu mengangkatku keatas. Orang-orang bersorak semakin keras. Aku dibawa beramai-ramai, beriringan sambil menyanyikan lagu kemenangan, lagu kebanggaan prajurit yang kembali dari medan perang membawa kemenangan. Ternyata memang benar, mereka para prajurit kerajaan. Orang-orang menyambut iring-iringan dengan sorakan yang tak kalah ramai.

Sampailah kami di depan istana yang megah. Penjaga dengan segera membuka pintunya. Semua berhenti, hanya dua orang saja yang membawaku masuk dan bertemu seorang perempuan yang sangat cantik, bergaun putih yang melambai. Sepertinya ia seorang permaisuri. Lagu kemenangan masih ramai terdengar diluar. Permaisuri itu menerimaku dengan senyumnya yang manis. Lesung di kedua pipinya menambah keanggunan wajahnya. Dengan sedikit berlari ia membawaku masuk ke dalam sebuah kamar.

"Paduka, ini yang dicari sudah kita dapatkan, semoga paduka berbahagia."

Permaisuri kemudian mengelus-elusku, merapikan bulu-buluku, mendekapku di dadanya yang hangat. Terbayang apa yang akan terjadi. Aku menjadi burung peliharaan seorang raja. Menjadi maskot kerajaan yang dipuja dan dihormati. Dilayani bak seorang pangeran calon penerus tahta. Mungkin inilah yang disebut-sebut teman-teman di hutan sebagai surgaku yang sebenarnya. Aku berucap syukur, "Tuhan, terima kasih. Kau tempatkan aku di tempat yang semulia ini."

Pesta diadakan. Tujuh hari tujuh malam. Di malam yang terakhir aku didandani. Kain sutera putih dibelitkan melingkar di leher menjuntai sampai ke ekorku. Kembali, aku dibawa ke kamar. Kali ini kelambu penutup tempat tidur dibuka. Tampaklah seseorang berbaring lemah diatas ranjang. Wajahnya pucat, matanya terpejam, tubuhnya lemas seperti kain basah terbujur. Tapi masih terlihat bekas-bekas kekekarannya. Meski pucat, ia tampak sangat tampan dan berwibawa. Ialah sang raja.

Saat tengah malam, keramaian pesta berhenti. Orang-orang yang berkumpul dialun-alun duduk bersimpuh mengelilingi panggung di tengah-tengahnya. Suasana hening dan hikmat. Permaisuri menyerahkanku pada seorang tua berkumis dan berjambang putih panjang, serasi dengan jubah dan ikat kepalanya. Dibawanya aku naik keatas panggung, lalu aku dibaringkan diatas sebuah papan kayu. Tidak lama kemudian, tangan kanannya diangkat keatas. Salah satu punggawa kerajaan berlari mendekat. Astaga, ia menyerahkan pisau. Seketika tubuhku gemetar, jantungku berdetak keras. Bayangan kesenangan berubah menjadi ketakutan. Orang tua itu berkomat-kamit, kemudian mengayunkan pisau ke arahku. Tamatlah riwayatku.

Di suatu pagi yang cerah, aku duduk diatas singgasana, dihadapan para punggawa. Aku memang sudah mati, tetapi jiwaku masih hidup, menyatu dengan jiwa sang raja. Ternyata saat itu raja sedang sakit parah. Seorang bijak mengatakan, raja akan sembuh jika memakan daging burung gagak yang patah sebelah sayapnya. Semua orang bingung, bagaimana mendapatkan obat bagi rajanya. Burung yang patah sayapnya tidak mungkin bisa terbang sangat sulit mencarinya kalau tidak menemukan sarangnya. Dimanakah sarang burung gagak?

Raja itu seorang yang bijaksana, sangat dipuja rakyatnya karena bisa mengusahakan kemakmuran bagi mereka. Semua petuahnya mendatangkan manfaat, termasuk petuah yang menganjurkan untuk baik-baik pada lingkungan. Pada alam yang menjadi gantungan hidup bagi semua. Tak heran jika seluruh wilayah kerajaan adalah tempat yang asri, indah dan nyaman. Peraturan dibuat agar semua rakyat tidak semena-mena memanfaatkan pohon, air dan batuan. Bahkan bercocok tanam pun diatur agar tidak membuat kerusakan lingkungan.

Tentu, semua rakyat bersedih karena sakitnya. Berbulan-bulan mereka mencari gagak yang patah sayapnya. Sampai pada puncak keputusasaan, mereka menaruh begitu saja jaring di bawah tebing bukit, tanpa berharap mendapatkan burung yang dimaksud. Beberapa kali ada burung yang tersangkut, tapi jelas bukan burung yang patah sayapnya karena jaring itu perangkap bagi burung yang bisa terbang. Sampai mukjizat itu terjadi, aku tersangkut jaring. Pantas saja mereka bersorak girang saat melihat sayapku.

Kini, aku mendapat teman yang baru. Jiwa raja yang bijak, jiwa yang hidup karena hatinya yang selalu mendengar dan melihat. Ketika bersamanya aku berkeliling menyusuri seluruh wilayah kerajaan, kami sampai di hutan, tempat teman-temanku dulu berada. Kami duduk diatas batu, kemudian batu itu berbicara, "berbahagialah kalian, karena pertemanan sejati adalah penyatuan jiwa."

 

Pada tengah malam yang sunyi, Sukabumi 2008


Blog Entry[cerpen] Di Dasar Jurang PringgitanNov 5, '07 10:45 PM
for everyone
Berjalan dalam gelap membuat mata seperti buta. Tidak ada yang bisa kulihat melainkan pekatnya malam. Justru karena itu aku berjalan seenaknya tanpa memperhitungkan ada jurang menganga di hadapanku. Meski Pringgitan bukan bukit yang cukup tinggi, tapi di lerengnya ada jurang yang dalam dengan dinding yang curam. Pemberani tidak selamanya orang yang tangguh, ada juga orang menjadi pemberani karena kebodohan dan ketidaktahuannya.
 
Sama sekali aku tidak mempersiapkan pendakian ini. Ini pelarianku dari semua masalah yang terus menerus datang. Bertubi-tubi menghantam setiap gerak dan langkah hidupku. Rasanya tak kuat aku menanggungnya. Kemudian aku teringat Pringgitan, sebuah bukit di selatan kota. Dari puncaknya aku bisa melihat cakrawala yang begitu luas. Dari sana pula aku bisa melihat kotaku seperti miniatur yang dipajang dalam kotak kaca.
 
Tak terhitung sudah beberapa kali aku sampai puncak Pringgitan. Dulu, tak kan pernah kubiarkan malam purnama terlewat tanpa menyusur lereng dan merebah diatas batu puncak Pringgitan. Sudah menjadi ritual kami, pelajar pecinta alam di SMA, bermalam di Pringgitan setiap bulan purnama. Adik dan kakakku pernah juga kuajak mencicipi keindahan kota dari puncak Pringgitan. Karena seringnya, sampai aku kenal Mbah Seto, penjaga warung kopi di kampung terakhir rute perjalanan. Warung ini menjadi tempat kami menanti kawan yang datang belakangan untuk kemudian naik bersama-sama menuju puncak.
 
Tapi malam ini tidak ada seorang kawanpun yang menyertaiku. Malam pun gelap gulita, selain bukan malam purnama, cahaya bintang tertutup mendung. Jarak terjauh yang bisa kulihat hanya dua atau tiga langkah kedepan. Suasana sepi, bahkan suara jangkrik pun tidak terdengar. Mbah Seto sudah menutup warungnya, berarti sudah lewat tengah malam.

Terus saja aku berjalan tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Semakin lama langkah semakin cepat. Aku sedikit berlari ketika kaki ini tidak menemukan pijakan yang kuat. Seperti berjalan di awang-awang. Ya aku menginjak bibir jurang dengan semak-semak yang menutupinya. Seketika itu badanku meluncur tanpa bisa kukendalikan. Masih untung aku tidak terantuk batu. Di musim hujan seperti sekarang ini, semak dan rumput tumbuh lebat. Jadilah aku seperti meluncur di perosotan mainan anak taman kanak-kanak.
 
Percuma saja aku berusaha naik lagi. Dinding sangat licin. Tidak mungkin pula berpegangan pada rumput dan semak. Akarnya tertanam di tanah basah sehingga tidak kuat menahan berat tubuhku. Dinding yang lain memang lebih keras, tapi sangat terjal dengan kemiringan yang susah untuk dinaiki tanpa menggunakan tali. Keinginan mencapai puncak tanpa perhitungan dan persiapan yang matang hanya membuat keinginan itu seperti bulan yang dirindukan pungguk. Bahkan keinginan itu hanyalah impian yang menghempaskan kita ke dasar jurang yang paling dalam.
 
Aku mencari tempat yang nyaman untuk berebahan. Udara dingin dan basah menyejukkan kepalaku yang pening sejak dari rumah. Dalam kesejukan itu aku tertidur dan bermimpi melihat anak kecil yang berlarian di padang rumput. Menendang bola plastik kesana kemari. Anehnya tidak jauh dari situ ada singa jantan mondar-mandir. Sesekali melihat anak kecil itu dengan tatapan yang tajam. Lidahnya menjulur keluar. Air liurnya menetes dari sela-sela taringnya yang tajam. Sepertinya singa itu menahan lapar yang sangat.
 
Ketika singa itu mendekat hendak menerkam anak kecil itu, muncul anak singa dari semak di belakangnya. Anak singa berlari menuju sasaran mendahuluinya. Singa jantan yang lapar itu menhentikan langkahnya saat melihat anaknya bermain bola dengan anak kecil itu. Ia berbalik dan masuk kembali ke hutan. Tak tega membunuh teman sepermainan anaknya.
 
Ternyata hewan buas itu mempunyai hati yang lebih jernih dibanding aku. Memang Ia harus memperoleh makanan untuk disantap bersama keluarganya, tapi menyantap anak kecil itu sama saja membunuh keceriaan anaknya. Ia rela mencari mangsa yang lain. Aku ini apa, lari dari masalah dan membiarkan anak dan istriku kelaparan di rumah.
 
Aku terbangun saat sinar matahari menerpa tubuhku. Kehangatan pelan-pelan mulai menyebar. Aku berada pada puncak kesadaran. Setiap mahkluk yang hidup pasti mempunyai masalah. Lari dari masalah akan menambah masalah yang baru. Justru karena masalah itu menandakan kalau aku ini masih hidup. Aku ingat, saat pengajian di kampung ustad bilang "dibalik masalah itu pasti ada penyelesaiannya, dan percayalah bahwa Tuhan tidak akan membebani masalah pada mahkluknya di luar batas kemampuannya".
 
Aku berdiri dengan semangat yang baru. Dengan kekuatan seperti Gatot Kaca yang baru keluar dari Kawah Candradimuka. Siap mengerahkan sekuat tenaga untuk menghadapi masalah yang datang, berapapun banyaknya. Tapi masalahnya bagaimana aku bisa naik keatas sana ? Hoooooiiiiiiii......... Aku berteriak sekencang-kencangnya berharap ada pencari rumput yang mendengarkannya.

Catatan :
  • Pringgitan adalah bukit di daerah Slahung Ponorogo, biasa digunakan anak pecinta alam melatih pendakitan.
  • Gambar nyomot dari sini

Blog EntryCinta Seorang PembantuOct 8, '07 1:07 AM
for everyone
Saya tidak mengerti apa itu cinta, lagian saya ini seorang pembantu tidak pantaslah terus-menerus memikirkan cinta. Yang saya tahu, Si Mas orangnya baik, pengertian dan enak diajak ngomong. Ia juga suka membantu kalau saya bawa belanjaan yang banyak.

Saya kenal Si Mas setahun yang lalu. Ia buruh bangunan di gedung sebelah rumah majikan saya. Katanya, rumah Si Mas di kampung, di Jawa Tengah sana. Memang terlihat dari tindak-tanduk dan gaya bicaranya yang lembut dan sopan, Ia asli orang Jawa.

Saya semakin hari-semakin akrab dengannya. Beberapa kali saya keluar bareng, makan atau sekedar jalan-jalan di pasar kaget pinggiran kompleks perumahan. Majikan saya mengijinkan saya dekat dengan seseorang, tapi selalu mewanti-wanti jangan terlalu dekat dan mudah tergoda dengan seseorang.

"Ini kota besar nduk, orangnya banyak dan bermacam-macam, kita tidak tahu asal-usulnya dari mana. Nduk, kehidupan kota itu sangat keras. Orang yang kelihatannya baik bisa berubah jahat kalau kepepet."

Tapi, kelihatannya Si Mas tidak seperti sangkaan majikan saya. Ia orangnya tegas dan bertanggung jawab. Apalah artinya cinta tanpa tanggung jawab, nasehat majikan saya suatu waktu. Saya memegang kata-kata itu dan menjadi janji saya, kalau mencari jodoh harus pilih orang yang bertanggung jawab.

"Jum, maukan kau menikah denganku ?" kata Si Mas suatu sore di trotoar depan perumahan.

Saya kaget mendengarnya. Dada saya berdebar, mulut saya terkunci tidak bisa berkata-kata. Tidak pernah saya mendengar kata-kata seindah itu. Seumur hidup, saya menjadi manusia kelas bawah, kelas pembantu, selalu disuruh-suruh tanpa sekalipun menyuruh. Kali ini saya seperti terlahir kembali menjadi manusia yang setara, yang bebas memilih, menentukan masa depan saya sendiri.

Tapi saya tidak langsung mengiyakan. Kata orang tua, tidak baik langsung menerima lamaran orang tanpa pertimbangan. Saya meminta waktu barang dua-tiga hari untuk berfikir sekaligus meminta pertimbangan pada majikan saya. Mau minta pertimbangan orang tua, terlalu lama, di rumah saya tidak ada telepon, bisanya hanya berkirim surat. Belum tentu juga surat itu nyampek, terkadang terselip di meja pak sekdes. Majikan saya kan sudah saya anggap orang tua saya sendiri.

Majikan saya meragukan niat baik Si Mas karena tidak tahu asal-usulnya dari mana, orang tuanya siapa dan statusnya, perjaka, menikah atau duda. Tapi saya tetap ngotot, saya yakin Si Mas baik dan bertanggung jawab. Akhirnya majikan saya menyerahkan keputusan sepenuhnya pada saya. Majikan saya juga berpesan, kalau saya jadi menikah, saya diminta sebisa mungkin mengabari keluarga di kampung. Bagaimanapun, orang tua sayalah yang mempunyai tanggung jawab penuh untuk menikahkan saya.

Setelah enam bulan menikah ada yang berubah dari Si Mas. Ia menjadi pemarah dan susah sekali diajak ngobrol tentang masa depan rumah tangga kami. Saya yang sering mengalah. Saya tidak ingin bertengkar. Saya harus lebih bersabar, mungkin Ia capek sekali. Saya harus lebih pandai mencari waktu untuk mengobrol dengannya.

Suatu saat, Si Mas berkunjung ke rumah majikan saya. Saya sendang mencuci pakaian waktu itu. Oh ya, saya dan Si Mas ngontrak rumah, majikan saya juga yang membayar uang kontrakan kami. Ia bertanya, apakah saya punya uang, katanya untuk modal bisnis dengan temannya. Ia tidak mau terus-menerus menjadi buruh bangunan, Ia Ingin berubah.

Saya senang sekali mendengarnya. Kalau bisnis suami saya majua, tak usahlah saya menjadi pembantu. Biar saya di rumah saja, mengurus anak-anak. Terbayanglah kehidupan yang bahagia di masa depan. Tapi saya tidak begitu jelas bisnis apa suami saya itu.

"Pokokknya bisnis, kamu tidak usah banyak tanyak, yang penting menhasilkan uang," katanya.

Waktu itu saya tidak punya uang. Ada sih, tapi kan untuk hidup sampai akhir bulan. Ia tetap ngotot. Ini kesempatan yang baik, sayang kalau dilewatkan dan kesempatan itu tidak bisa datang dua kali, katanya. Saya juga ngotot tidak punya uang. Ia marah dan masuk kamar majikan saya.

"Jangan Mas, jangan" saya menangis dan meronta menghalanginya. Tapi badannya terlalu kekar untuk saya tahan. Setelah beberapa lama di dalam kamar, Ia keluar dan pergi begitu saja tanpa pamit kepada saya.

Beberapa hari kemudian majikan saya kaget, uang dan perhiasannya hilang. Nilainya cukup besar, puluhan juta rupiah. Saya menjadi tersangka utama. Saya hanya tertunduk dan menangis saat majikan saya menginterogasi. Saya pasrah, meski harus berhadapan dengan polisi dan jeruji besi.

Oh, saya semakin tidak mengerti apa cinta itu. "Semoga kamu tidak bernasip seperti saya, semoga kamu mendapat cinta yang sebenarnya," saya usapkan telapak tangan saya ke perut yang sudah kelihatan membesar ini.

Gambar pinjam dari Abstract-Life

Blog EntryMaafkan Aku Teman, Terpaksa MeninggalkanmuOct 3, '07 10:07 PM
for everyone
Lho, laki-laki kok punya suami ? Aku tidak bisa menyembunyikan keherananku. Meski dari dulu aku sudah tahu, ada laki-laki yang mempunyai kecenderungan suka pada laki-laki. Bahkan ada beberapa yang menginginkan bisa menikah dan dicatat sebagai pasangan yang syah. Tapi baru kali ini aku bertemu dan bertatap muka secara langsung.
 
Sunggu aku tidak pernah menduga. Di siang hari yang panas. Di tengah keramaian terminal. Dan di depan masjid. Aku mendapat pengalaman ini. Siang itu aku menunggu kakakku. Janjian bertemu jam 11. Masih satu jam lagi. Aku sengaja berdiri tepat di tengah halaman masjid yang bisa dilihat dari semua arah agar kakakku gampang menemukanku.
 
"Nunggu siapa Mas" kata lelaki yang datang kearahku.
 
"Teman" kataku.
 
Mulailah percakapanku dengannya. Dari basa-basi kenalan sampai pada pengakuannya yang sangat mengejutkan itu.
 
"Saya nunggu bojoku Mas, bojo lanang" ucapnya dalam dialek Surabaya yang kental. 
 
"Bojo lanang, suami maksud Mas" setengah tidak percaya aku mengulanginya.
 
Ia mengangguk dan berterus terang mengatakan bahwa Ia seorang gay. Mungkin jaman sudah berubah. Menjadi gay bukan hal yang perlu ditutup-tutupi lagi. Aku teringat sebuah artikel yang mengatakan sudah dari sononya manusia itu tercipta menjadi gay atau lesbi. Karena itu, sebenarnya ada empat jenis manusia, selain laki-laki dan perempuan, ada dua jenis lagi, gay dan lesbi. Keempat jenis itu sudah terpetakan dalam kode-kode genetik manusia.
 
Tapi, bukan karena percaya dengan kesimpulan artikel itu aku mau ngobrol dengannya. Sebagai sesama manusia, aku harus memperlakukannya selayaknya manusia yang lain. Menghormati dan berusaha tidak menyinggung perasaannya. Akupun menyembunyikan kecanggunganku. Rasa penasaranku juga muncul. Ingin rasanya mengetahui, mengapa Ia lebih memilih laki-laki daripada perempuan. Dan pada saat yang tepat aku menanyakannya.
 
"Barang saya mati Mas" jawabnya.
 
Ia juga mengaku, barangnya sudah tidak berfungsi sejak kecil. Tapi, apakah hanya karena itu Ia menjadi gay ? Bukankan banyak orang yang bisa menyembuhkan kekurangannya itu ? Lihat saja iklan-iklan di koran, banyak yang menawarkan diri dengan caranya masing-masing. Dari cara yang sederhana menggunakan minyak oles sampai teknologi mutakhir layaknya dokter spesialis. Berarti tidak hanya karena itu kan ? Ada faktor-faktor yang lain.
 
Lalu faktor lain itu apa ? Pernah juga aku membaca. Dulu ada perdebatan yang sengit di kalangan ahli psikologi. Sebagian menyebutkan faktor genetislah yang mempengaruhi perilaku manusia. Ini membenarkan bahwa empat jenis manusia itu ada sejak awal penciptaannya. Sebagian yang lain tidak setuju dengan kesimpulan itu, yang paling menentukan adalah pola pengasuhan dan pengalaman yang diterima manusia di masa yang lalu. Jadi tidak benar manusia itu tercipta empat jenis.
 
Nah yang mana yang harus kuanut ? Belumlah sampai pada kesimpulan yang mana, aku dikejutkan lagi oleh kata-katanya. Dengan sedikit pelan Ia mengatakan,
 
"Mas ganteng lo, lebih ganteng dari bojoku"
 
Mekanisme pertahanan dalam diriku mulai memberi aba-aba. Lampu kuning tanda peringatan sudah menyala. Aku harus mencari cara, bagaimana menghindar darinya. Bukan, bukan karena aku tidak mau berteman dengannya. Aku tidak ingin kita berteman dengan cara itu. Meski tidak yakin Ia berbeda jenis denganku, aku mengerti mengapa Ia berperilaku seperti itu. tapi jangan paksa aku untuk bertindak seperti itu. Maafkan aku teman, terpaksa aku meninggalkanmu.


Gambarnya pinjam dari Sabin Corneliu Buraga

Blog EntryOrang Tua Renta Duduk di Pinggir JalanSep 19, '07 10:23 PM
for everyone
Ada orang tua renta duduk di pinggir jalan, bersimpuh dengan tongkat yang bersandar di sebelahnya. Aku tidak tau persis mengapa ia disitu. Pengemis ? Ah sepertinya bukan. Tidak ada kaleng di depannya, tangannya juga tidak menengadah. Sebaiknya jangan berprasangka buruk dulu, siapa tau ia menunggu seseorang, mungkin anaknya atau cucunya.

Setiap pergi ke masjid, aku selalu lewat jalan itu. Beberapa hari ini orang tua itu selalu ada di tempat itu. Kalau menunggu seseorang, mengapa begitu lama, sampai berhari-hari ?

Ketika lewat di depannya, ia selalu memandangku, seperti berharap, memohon sesuatu dariku. Tapi tangannya tidak menengadah, tidak juga ada kaleng di depannya. Beberapa kali aku hanya lewat saja tanpa menghiraukannya, kadang pura-pura tidak melihatnya.

Tapi lama-lama rasa iba merayap di dadaku, terus masuk menembus jantungku hingga dada ini bergetar semakin kencang saat mendekatinya. Aku merogoh saku celanaku, mengeluarkan lembaran uang dan memberikan kepadanya. Rasa terima kasih yang sangat terpancar dari wajahnya. Kedua tangannya memegang erat tanpa berkata-kata.

Esoknya dan esoknya lagi hal yang sama berulang. Dan tidak hanya aku saja yang menghampiri. Ada sedan berhenti persis di depannya, penumpangnya turun dan mengulurkan tangan padanya. Begitu senangnya, ia memegang tangan orang bersedan itu lama-lama sambil menatapnya. Tetap tanpa kata-kata.

Hari ini aku menyiapkan lembaran lima ribuan untuknya. Menjelang adzan dzuhur aku bergegas menghampirinya. Sampai di tempat ia biasanya duduk, aku tidak menemukannya. Ah, mungkin ia belum datang, kuberikan saja setelah sholat. Tapi tidak ada juga. Sholat Ashar dan setelahnya juga tidak ada. Ya sudah kuberikan besok saja.

Pulang dari kantor ada kerumunan orang di jalan besar depan perumahan. Rupanya ada kecelakaan. Kabar dari orang-orang yang kutemui, ada kakek-kakek tertabrak sepeda motor saat ingin menyebrang. Deg. Langsung saja teringat orang tua yang kucari.

Aku parkir sepeda motorku dan menuju ke kerumunan. Ada orang yang terkapar di tengah-tengahnya dengan koran bekas menutup seluruh tubuhnya. Untung tidak ada darah yang mengalir sehingga aku berani membuka penutup wajahnya. Dan benar aku melihat wajah yang kucari. Matanya tertutup tapi dengan raut muka yang cerah seperti saat kemarin aku memberikan lembaran uang padanya, dan tentu tanpa kata-kata.

Di dekatnya ada bungkusan tas plastik bertuliskan nama toko baju seberang jalan itu. Isinya, sebuah baju koko putih kecil. 

Blog EntryRamadhan Untuk SemuaSep 18, '07 12:05 AM
for everyone
Sekarang giliranku menjadi ketua panitia Pondok Ramadhan, setelah kedua temanku di Sie Kerohanian Islam (SKI), Danang dan Winanto masing-masing sudah melaksanakan tugasnya menjadi ketua panitia peringatan Isro' Mi'roj dan Maulid Nabi. Pondok Ramadhan ini juga menjadi penutup kegiatan SKI dan sekaligus kegiatan yang paling besar tahun ini. Karena itu kami bertiga ingin agar kegiatan terakhir ini dapat dilaksanakan dengan sukses.

Kami, terutama aku, ingin Ramadhan ini juga menjadi milik seluruh teman-teman kelas dua, tidak hanya milik pengurus OSIS saja. Aku usul kepada Danang dan Winanto, "Nang, Win, bagaimana kalau seluruh teman kelas dua dilibatkan menjadi panitia."

"Wah, apa tidak terlalu banyak" kata Danang

"Iya, kalau seluruhnya kurasa terlalu banyak, bagaimana kalau kita pilih saja yang menurut kita cakap dan mampu melaksanakan tugas, juga yang pantas menjadi contoh adik-adik, jangan sampai panitia berkelakuan jelek di depan peserta," kata Winanto memberi pertimbangan.

Kalau dipilih-pilih, tidak menjadi milik semua dong, hanya milik sebagian saja, pikirku. Aku ingin mereka semua bisa merasakan menjadi panitia, menjadi penyelenggara, juga untuk teman-teman yang terkenal preman sekolahan. Kapan lagi mereka dikenalkan kegiatan kerohanian kalau tidak dengan cara seperti ini. Memang sewaktu kelas satu mereka juga pernah merasakan menjadi peserta, tapi rasanya kan lain, mungkin dulu mereka terpaksa ikut karena diwajibkan, sekarang kan sukarela, rasanya lebih menyentuh.

"Tenang saja, aku sudah punya rencana, semuanya bisa diatur, tanpa terlihat terlalu banyak panitia" kataku pada Danang dan Winanto, "untuk para teman-teman preman, aku kenal mereka semua, aku yakin mereka cukup mengerti kalau ini kegiatan keagamaan, inysa Allah mereka tidak akan membikin ulah."

Sebenarnya dalam hati aku juga kawatir, mereka anak-anak liar yang sulit diatur. Aturan sekolah saja sering mereka langgar, apalagi mematuhi kata-kataku. Memang aku kenal mereka, tapi untuk mengatur mereka rasanya sulit sekali, bahkan mungkin tidak bisa. Tapi, kalau mereka disisihkan, siapa lagi yang akan mengenalkan mereka dengan kegiatan-kegiatan seperti ini, apalagi melibatkannya menjadi penyelenggara. Bismillah, aku bertekad untuk tetap menjalankan rencanaku.

Alhamdulillah, semua persiapan sudah tertata, teman-teman konsumsi siap dengan urusan saur dan buka puasa. Bagian kegiatan siap dengan rencananya, termasuk menghubungi penceramah yang mengisi ceramah tarawih selama Pondok Ramadhan berlangsung. Bagian lomba-lomba juga sudah siap dengan sederet lomba yang akan dilakukan untuk peserta.

Nah untuk teman-teman yang dibilang preman, mempunyai tugas khusus. Aku bilang pada mereka untuk membantu bagian keamanan, menjaga keamanan lingkungan sekolah. Mereka akan begadang menjaga pos-pos dan berkeliling. Untuk itu, aku menyediakan rokok dan kopi untuk mereka. Ya, memang mereka sudah terbiasa merokok. Siangnya mereka boleh pulang. Nah dengan itu tidak terlalu tampak kebanyakan panitia.

Kami sangat terbantu dengan adanya teman-teman preman. Saat mempersiapkan ruang kelas menjadi tempat tidur peserta, merekalah yang giat mengangkut bangku dan kursi keluar kelas dan menatanya dengan rapi. Badan mereka kan besar-besar dan berotot. Sepertinya merekat tidak ada capeknya. Padahal waktu itu siang hari dan sudah masuk bulan Ramadhan. Apakah mereka puasa ? Hanya mereka sendiri yang tahu.

Pondok Ramadhan berjalan dengan lancar, semua panitia melaksanakan tugasnya dengan baik. Teman-teman penjaga malam juga mempunyai komitmen yang baik melaksanakan tugasnya. Aku senang semua rencanaku terlaksana, Danang dan Winanto akhirnya tau juga apa yang menjadi kemauanku melibatkan seluruh teman kelas dua.

Malam ini malam terakhir, peserta dikumpulkan di lapangan basket untuk menjalani renungan. Semua panitia juga berkumpul disana, kecuali teman-teman penjaga, tetap pada posnya masing-masing. Menjelang tengah malam, saya keliling, sekedar menyapa teman-teman penjaga. Di pos satu tidak saya jumpai seorang pun penjaga. Di pos dua juga demikian, sepi, hanya bangku dan kursi kosong, ada gelas bekas kopi tinggal separuh isi. Mendekati pos tiga ada bau aneh tercium hidungku, baunya agak menyengat. Aku mencermati dan menghirup dalam-dalam bau itu mencoba mengenali. Rasanya saya pernah mencium bau seperti ini, sepertinya ini bau alkohol dari minuman keras.

Aku mempercepat langkah, setengah berlari mendekati pos tiga yang kebetulah juga gudang OSIS. Cepat-cepat saya membuka pintu, bau alkohol menyengat sekali. Dan, benar, semua panita penjaga berkumpul disini, mereka sudah teler. Ada yang sudah tergeletak dilantai. Si Iwen yang badannya paling besar masih kuat berdiri, kaget melihat aku masuk. "Hei, apa-apan kalian, mana botol-botol itu" aku membentak dan merebut botol minuman keras dari tangan Iwen. Mereka kutarik keluar dan menyuruh mereka pulang. Dengan terhuyung mereka bergegas pergi meninggalkan sekolah.

Saat itu juga aku meminta panitia yang lain untuk ikut membantu menjadi penjaga keamanan. Aku tidak bercerita apa-apa tentang kejadian itu pada teman-teman panitia yang lain. Aku rasa bentakanku tadi sudah cukup memberi mereka peringatan, tidak perlu teman-teman yang lain ikut marah. Aku berdoa dalam hati, semoga mereka sadar dan tetap menjalankan komitmen sebagai penjaga malam.

Menjelang sahur ada panitia yang memberi tau, teman-teman penjaga malam sudah datang, "tapi mereka baunya aneh," katanya.

"Ya sudah, tinggalkan mereka" kataku sambil tersenyum, "mereka sudah tau tugasnya, lebih baik kita sahur saja, nanti aku sendiri yang akan mengirim mereka makan sahur di posnya masing-masing".

Meski Yusuf dan Rohana bisa dikatakan pacaran tetapi tidak pernah sekalipun mereka jalan berduaan, pergi ke tempat hiburan bersama atau sekedar makan di warung pojok pinggir jalan. Tempat satu-satunya untuk mereka bertemu adalah di rumah Rohana, itupun tidak mesti seminggu sekali. Mereka mempunyai prinsip semuanya tidak boleh dilakukan sebelum menikah dan mereka mempunyai komitmen untuk melaksanakan prinsip itu. Pernah suatu saat ada pasar malam di alun-alun kecamatan. Tidak sengaja mereka bertemu di alun-alun itu, Rohana bersama teman-temannya sedangkan Yusuf sendirian saja. Mereka hanya saling menyapa dan berpisah melanjutkan niatnya masing-masing.

Cinta mereka berdua bersemi ketika sama-sama datang ke pengajian akbar di alun-alun kecamatan. Secara tidak sengaja pandangan mereka saling bertemu dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Sebenarnya Yusuf tidak pernah menyatakan cinta kepada Rohana, begitupun Rohana. Tapi mereka sama-sama tahu, meskipun mulut mereka tidak bicara tetapi hati mereka yang bicara.

Semakin hari hubungan mereka semakin dekat. Kebetulan keduanya mempunyai banyak kesamaan. Yusuf adalah anak seorang kiai yang sangat terpandang di desanya. Ayah Yusuf sering diundang menjadi pembicara acara kawinan, memberikan wejangan bagi pasangan yang baru menikah. Ketika ada perselisihan antar warga, ayah Yusuflah yang dipercaya menjadi penengahnya. Setiap sholat berjamaah di masjid desa, ayah Yusuf yang sering menjadi imamnya, sering juga ia menjadi khotib jum'at. Meskipun agak risih, Yusuf terkana imbasnya juga, terkadang jamaah masjid tempat ayahnya menjadi imam memanggilnya Gus. Rohana juga anak seorang terpandang, yang meskipun tidak sehebat ayah Yusuf. Ayah rohana juga punya banyak santri, sebagian besar adalah tetangga-tetangganya sendiri.Tetangga-tetangga Rohana memanggilnya ustad. Rumah rohana yang sekaligus menjadi tempat sholat berjamaah juga sering digunakan untuk pengajian bersama para tetangganya. Pengajian itu diisi oleh ayah Rohana sendiri.

Ayah rohana tidak melarang hubungan mereka berdua karena ia percaya pada anaknya. Rohana sudah besar sudah tahu mana yang boleh dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan. Pikir ayah Rohana, pengetahuan agama Rohana sudah cukup untuk menjaga hubungan mereka agar tidak mengarah pada perbuatan yang dilarang. Yusuf juga sering ditanya oleh ayah Rohana tentang keluarganya ketika sempat nimbrung dengan mereka berdua. Keterangan dari Yusuf membuat ia semakin yakin mereka berdua tidak akan berbuat macam-macam. Mereka berdua sama-sama punya dasar agama yang kuat.

Kedua keluarga sudah saling kenal meskipun tidak pernah bertemu. Hanya dari keterangan anak-anaknya saja mereka saling mengenal. Ayah Yusuf juga tidak melarang mereka, malah terus mendesak Yusuf kapan mereka akan menikah, “Sebentar Bi, kami masih belum membicarakan itu, masih banyak yang harus kami persiapkan” kata Yusuf ketita ditanya ayahnya. “Tunggu apa lagi, kalo masalah makan, keluarga kita masih sanggup menerima satu anggota keluarga lagi, jangankan satu, lima sekaligus kita masih sanggup memberinya makan” desak ayah Yusuf. “Menikah kan tidak hanya makan saja Bi, sudah Bi jangan mendesak Yusuf terus, nanti kalo kami sudah siap pasti bilang ke Abi”. Kedekatan kedua keluarga itu tidak hanya sebatas antar hati saja, tetapi berlanjut sampai perilaku saling memberi. Ketika suatu saat pohon mangga di belakang rumah Yusuf banyak berbuah, ibu Yusuf memetik beberapa buah, dibungkusnya dan disuruh Yusuf mengantar ke rumah Rohana. Begitu juga keluarga Rohana, ketika Yusuf pulang sering diberi kue-kue buatan ibu Rohana sendiri. Begitulah saling memberi itu sering terjadi. Tetapi tetap mereka tidak saling bertemu, hanya dari keterangan anak-anaknya saja mereka merasa semakin dekat.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help