imam's posts with tag: curhat
Kemarin saya ngobrol dengan beberapa teman tentang dunia tulis menulis, salah satunya membicarakan jurnalisme. Salah satu teman mengatakan, setengan menyindir "Ada orang yang tidak bisa menjadi jurnalis akhirnya membuat blog yang diisi sendiri" sambil senyum-senyum. Saya tahu arah sindiran itu kepada siapa. Saya merasa jengkel dan marah. Tapi saya berusaha manahan diri dan tidak menanggapinya. Tidak juga melakukan pembelaan apalagi mendebatnya. Saya hanya tersenyum saja, seolah mengiyakan perkataannya. Saya memang pernah meminta tolong padanya untuk menilai tulisan di blog saya. Saat itu dia bilang bagus. Ternyata penilaian itu cuma di bibir saja, tidak benar-benar keluar dari hati. Ia tidak memberi penilaian yang sesungguhnya, mungkin malah mengejek saya. Dia memang seorang jurnalis yang pernah bekerja di beberapa surat kabar ternama. Karena itu dia sangat menguasai teknik menulis dan paham betul dunia jurnalistik. Tulisan-tulisannya bagus. Selain di tempatnya bekerja ia juga sering menulis di majalah. Karena itu saya ingin sekali menimba ilmu pada orang seperti dia, salah satunya meminta menilai tulisan saya. Saya berharap ada koreksi dan perbaikan.
Memang harapan itu tercapai dengan ada sedikit koreksi darinya. Tapi setelah perkataannya itu saya jadi ragu dia benar-benar ingin membagi ilmunya pada saya. Saya benar-benar kecewa dan marah. Sampai di rumah saya merenung, apakah pantas saya kecewa dan marah ? Setelah lama merenung dan berpikir, saya mendapat jawaban, kenapa saya harus kecewa dan marah ? Sindiran itu harusnya menjadi koreksi diri bahwa tulisan saya memang kurang bagus dan perlu untuk diperbaiki. Harus lebih giat belajar, lebih banyak lagi membaca dan lebih tajam lagi mengasah pikiran dan perasaan. Dan, memang saya tidak ingin menjadi jurnalis. Saya menulis blog karena saya ingin berbagi. Yang lebih penting, saya menulis karena saya ingin menyusun sejarah saya sendiri. Apa yang saya alami, saya pikirkan dan saya rasakan bisa saya baca kembali di masa datang. Lebih senang lagi kalau anak cucu saya nanti bisa membacanya.
Alhamdulillah, saya menjadi tenang dan menerima apa yang dikatakan teman saya. Saya pun bersyukur, ada pemacu untuk terus belajar. Perkataannya itu keluar karena kekurangtahuan tentang apa niat saya menulis dan belum paham dunia blog. Saya yakin kalau dia mengetahuinya, tidak akan muncul perkataan itu.
Terima kasih teman, meski sempat jengkel, perkataanmu sangat berguna bagi pengembangan diri saya, memacu saya untuk terus belajar, belajar dan belajar lagi. Dan percayalah teman, menulis di blog itu sangat menyenangkan bagi orang biasa seperti saya, tanpa harus menjadi jurnalis.
 Ingin rasanya menjadi blogger yang sukses. Tulisan di blognya selalu dinanti banyak orang karena mendatangkan banyak manfaat. Menyuguhkan informasi yang menghibur, membakar semangat, menimbulkan inspirasi dan menggugah kesadaran. Meski belum seberani Budi Putra yang memilih untuk menjadi FULL TIME BLOGGER. Syarat utama menjadi blogger yang sukses tentu harus pandai menuangkan gagasan dan pikiran dalam sebuah tulisan ditambah dengan usaha untuk konsisten menulis. Menulis, sebuah usaha yang sangat berat bagi saya. Lingkungan masa kecil saya jauh dari budaya tulis menulis. Seingat saya, membuat tulisan hanya saya lakukan ketika ada tugas mengarang dari sekolah, itupun dengan keterpaksaan untuk mendapat nilai standar kelulusan untuk pelajaran bahasa. Semasa Sekolah Dasar, matematika dan IPA menjadi pelajaran terpenting sehingga setiap hari bapak selalu menggembleng saya mahir kedua pelajaran tersebut, sedangkan pelajaran bahasa diurutan paling belakang. Mahir menulis seiring dengan banyak dan seringnya membaca. Semakin banyak dan semakin sering membaca akan meningkatkan kemampuan menulis. Celakanya, saya baru suka membaca setelah kuliah. Semasa sekolah, saya dilarang membaca selain buku-buku pelajaran. Pernah saya menunjukkan pada bapak kartu anggota Perpustakaan Daerah yang baru saja saya perloleh, dengan muka marah dan penuh curiga bapak menyuruh saya menyimpan dan tidak menggunakan kartu itu. Bapak takut jika saya keasikan membaca buku di perpustakaan lupa dengan pelajaran sekolah. Tapi kurang bijaksana jika saya menyalahkan lingkungan dan masa kecil saya. Lebih baik segera memulai belajar menulis dan lebih banyak membaca. Konsisten menulis, ya itulah yang saat ini saya usahakan. Saya selalu membawa bolpoin dan buku tulis kemana-mana untuk menuliskan apa yang saat itu terlintas di pikiran saya. Meskipun kadang tulisan, lebih tepatnya disebut coretan, yang saya buat kurang, bahkan tidak, bermakna. Saya sangat senang berkenalan dan masuk di dunia blog. Bagi saya, dunia blog adalah salah satu anugrah dalam hidup saya, meskipun banyak orang di sekitar saya yang mencibir dan memandang sebelah mata. Banyak yang saya peroleh di dunia blog ini. Artikel dan jurnal teman-teman blogger sering memberikan inspirasi dan membangkitkan semangat saya untuk menulis. Yang lebih penting, saya mendapatkan informasi dan kesadaran baru tentang suatu hal. Secara moral saya pun harus berkontribusi memberikan sesuatu. Dunia blog tidak akan hidup tanpa ada komunitas yang saling memberi dan sekaligus saling menerima. Itulah yang menjadi keresahan saya akhir-akhir ini. Karena banyak halangan, saya jarang berjalan-jalan mengunjungi blog teman-teman, khususnya teman-teman MP. Juga, dalam waktu yang cukup lama, saya tidak menulis di MP. Saya jadi bisa memahami perasaan Mbak Anky yang berkenan untuk dihapus dari kontak karena mungkin dalam waktu yang cukup lama tidak bisa berblog ria, Mbak Anke akan boyongan dari Jerman balik ke Indonesia. Saya pun ingin memohon maaf pada teman-teman karena belum bisa menjadi bloger yang baik bagi teman-teman. Ya, sepertinya untuk menjadi blogger yang sukses terlebih dahulu harus menjadi blogger yang baik. Berusaha untuk terus berbagi, berbagi dan berbagi.
 Minggu-minggu terakhir ini saya jarang sekali nengok MP. Saya mendapatkan rahmat dari Allah untuk bisa merasakan sakit. Rahmat karena saya bisa merasakan begitu besarnya nikmat sehat itu. Awalnya saya menganggap biasa rasa kurang enak di badan ini, saya masih tetap bekerja seperti biasa. Hari itu pas hari Jum'at, sebentar lagi akan pulang ke Malang dan bisa istirahat dua hari di rumah. Seninnya saya tetap masuk kerja meski rasa kurang enak badan masih terasa bahkan bertambah parah. Benar saja, jam 3 sore sudah tidak kuat lagi. Saya minta ijin pulang. Sampai di rumah (di Surabaya saya tinggal di rumah kakak) saya minum jahe hangat dan makan roti dan langsung tidur. Jam 5 saya bangun, tapi badan kok terasa melayang dan kepala pusing. Wah ini sakit beneran pikirku. Saya langsung berkemas-kemas pulang ke Malang. Setelah dua hari ijin tidak masuk kerja, kamisnya saya balik ke Surabaya. Lumayan badan sudah enakan. Tidak lama setelah sampai di Surabaya, istri saya mengabari kalau anak saya sakit. Waduh...jadi tertular ke anak. Saya merasa bersalah membawa virus ke rumah...Istri saya langsung membawanya ke dokter dan benar kata dokter penyakitnya sama persis dengan saya. Tapi istri saya kawatir, di Malang sedang mewabah demam berdarah. "Dok apakah ada kemungkina kena demam berdarah ?" tanya istri saya. Dokter masih belum bisa memastikan karena masih hari pertama, demam berdarah bisa diditeksi setelah hari ketiga. "Ok saya pantau sampai sabtu, nanti dicek lagi" kata dokter. Sabtu, panas anak saya turun, sepertinya sakitnya sudah sembuh. Minggunya anak saya sudah bermain dengan teman-temannya. Saya dan istri sempat mengajaknya ke toko untuk belanja. Tapi senin pagi badannya panas lagi, semakin siang panasnya semakin tinggi, badannya lemas, seharian hanya tidur-tiduran saja. Malamnya saya membawanya ke dokter kembali. Dokter menyarankan untuk cek darah, ia curiga anak saya kena demam berdarah. Di arsip dokter ada tetangga saya yang sudah positif demam berdarah. Saya dan istri langsung lemas... Besoknya saya bawa anak saya ke laboratorium untuk cek darah. Hasilnya memang positif demam berdarah. Trombositnya di bawah batas normal. Saya dan istri hampir menangis. Kami dan dokter berunding bagaimana langkah selanjutnya yang harus diambil, apakah harus opname atau tidak. Setelah agak lama akhirnya diputuskan untuk dirawat di rumah saja, tapi dokter wanti-wanti untuk memberinya minum yang banyak, sewaktu-waktu kritis tidak sampai drop karena kehilangan cairan sehingga masih bisa tertolong. Kami berdua harus mengawasi perkembangan anak saya setiap saat. Setengah jam sekali saya bergantian dengan istri memegang telapak tangan dan kakinya. Kalau terasa dingin sekali harus segera dirujuk ke rumah sakit karena itu tanda-tanda syok dan harus segera dilakukan penanganan di rumah sakit. Alhamdulillah, malam itu tidak terjadi apa-apa. Paginya saya kembali membawanya ke laboratorium untuk dilakukan cek darah ulang, hasilnya trombositnya naik dan sudah dalam batas normal. Saya mengkonsultasikannya ke dokter, ia menyarankan besok cek darah lagi untuk memastikan perkembangannya. Saya dan istri berucap syukur, hasil cek yang ketiga ini trombositnya naik lagi, kondisi anaknya sudah kembali normal, ceria seperti semula.
 Segala sesuatu itu ada waktunya. Tidak selamanya bisa berjalan normal dan terus-menerus dipakai. Suatu saat kemampuan akan berkurang, daya tahan melemah dan kerja tidak maksimal. Saat itu perlu ada perbaikan kembali, waktunya menghimpun tenaga dan penggantian bagian-bagian yang rusak. Sepeda motor yang biasa saya gunakan terasa tidak nyaman, berat dan jalannya kurang sempurnya, akselerasi berkurang. Saya memutuskan untuk membawa ke bengkel untuk di reparasi. Memang menurut hitungan waktu sepeda itu sudah waktunya di reparasi dan olie harus diganti. Dan ternyata, rantai kampradnya sudah aus, waktunya diganti yang baru, maklum sudah tujuh tahun lebih berputar. Alhamdulillan setelah di reparasi, sepeda motor kembali nyaman dipakai, tarikannya kembali normal dan mesinnya halus. Sampai di rumah, saya ingat harus mengirim SMS kepada teman. Eh ternyata baterainya hampir habis, tinggal satu strip. Segera saya mengisinya kembali. Pernah suatu saat saya lupa membawa charger sehingga tidak bisa mengisi ulang bateri dalam waktu yang lama dan setelah berhasil meminjam charger, baterei sudah tidak bisa terisi kembali. Kata teman di servis HP, baterei jenis ini tidak boleh kosong, kalau sudah terlanjur kosong harus di treatmen khusus agar bisa diisi kembali. Terkadang saya merasa badan ini lemah sekali, bawaannya malas terus. Otak sulit sekali diajak berfikir, selalu mentok menabrak dinding. Hati pun terasa tidak tenang, gamang, seperti kapal yang terombang-ambing badai di laut. Apakah badan perlu di reparasi atau di-charge juga ? Mungkin iya, saya mencobanya. Dalam kondisi seperti itu saya beristirahat, mengembalikan tenaga melemaskan otot-otot yang tegang. Kalau sudah parah, saat badan terasa sakit semua, saya pergi ke Mas Ridwan, tukang pijat langganan saya. Untuk otak ternyata tidak bisa beristirahat, artinya tidak bisa berhenti berfikir sama-sekali. Apa boleh buat, digunakan mikir yang ringan-ringan saja, membaca koran, majalah atau buku dengan tema yang ringan, bisa juga membaca novel, atau bermain dengan anak. Untuk mengembalikan kondisi hati agar tenang, saya mengikuti anjuran ustad dan khotib, berdzikir, mengingat Allah. Dengan berdzikir, hati bisa kembali tenang. Alhamdulillah, setelah semua saya lakukan, kondisi kembali normal, ada semangat untuk bekerja kembali. Tapi kok masih malas balik ke Surabaya ya...enakan bermain dengan anak di Malang...Lha terus yang cari uang agar dapur bisa mengepul siapa ??? hehehehe... Gambar diambil dari Kompas.
 Sudah sekian lama aku tidak merasakan sejuk dan segarnya air hujan. Sebenarnya, menurut hitungan jaman dulu, bulan ini sudah masuk musim penghujan, puncaknya di bulan Desember. Kata orang-orang tua bulan Desember diartikan sebagai Gedhe-gedhene Sumber (sumber yang paling besar), maksudnya di bulan Desember air di sumur-sumur penduduk paling banyak. Tapi entahlah, Desember akan tiba, hujanpun belum juga turun. Untuk mengobati kerinduanku akan hujan, aku googling (berselancar di Google), mencari puisi-puisi tentang hujan. Dan menemukan satu puisi dari Sapardi Djoko Damono, " Hujan Bulan Juni" tak ada yang lebih tabahdari hujan bulan junidirahasiakannya rintik rindunyakepada pohon berbunga itutak ada yang lebih bijakdari hujan bulan junidihapusnya jejak-jejak kakinyayang ragu-ragu di jalan itutak ada yang lebih arifdari hujan bulan junidibiarkannya yang tak terucapkandiserap akar pohon bunga ituTeringat pula masa kecil di kampung ketika penghujan tak kunjung tiba, setiap habis adzan magrib, kami berpujian bersama di mushola dekat rumah memohon pada Yang Mengatur Musim untuk mendatangkan hujan. Duh Gusti AllahKulo nyuwun jawahJawah ingkang deresSarto nylametakenYa Allah / Kami mohon turunkan hujan / Hujan yang deras / Dan hujan menyelamatkan. Begitulah doa kami waktu itu yang sekarang menjadi doaku. Semoga Allah mendengarkan dan mengabulkan permintaanku.
 | Belenggu | Jul 18, '06 9:45 PM for everyone |
Sudah aku bilang. Aku butuh melompat dan berlari. Lompatan-lompatan itu
membangkitkan energiku. Jalan menjadi terang karena energi itu. Kamu
sudah merasakan kan ? Satu dua kali lompatan kemarin membuat jalan kita
terang, tujuan kita semakin nampak. Aku perlu berlari untuk sampai ke
tujuan itu dan membawamu kesana.
Kamu bisa merasakan kan ? begitu nikmatnya melompat dan berlari. Dengan
jalan yang terang dan tujuan yang jelas. Sudah lama kita berjalan dalam
kegelapan, berjalan tanpa arah dan tujuan. Mengejar sesuatu yang tidak
tampak.
Kamu bisa merasakan kan ? Kemarin kita bisa bernafas lega, menghirup
angin yang berhembus, merasakan udara kebebasan yang sejuk. Energi yang
melimpah ruah.
Tapi sekarang. Lompatan-lompatan tidak bisa kulakukan. Bola besi itu
terlalu berat, rantai itu terlalu pendek untuk melompat tinggi.
Jangankan untuk berlari, melangkah saja rasanya sulit sekali. Aku hanya
bisa bergeser, menyeret kaki.
Jalan redup kembali, energi itu tidak muncul lagi. Kembali kita berjalan dalam kegelapan. Tujuan tak terlihat lagi.
Apa sebenarnya maumu dengan memasang pemberat itu. Yang membuatku tidak
bisa bergerak, melompat dan berlari. Atau memang ini tujuanmu.
Menciptakan belenggu-belenggu.

Beberapa
hari ini aku mencoba menulis kembali buku harian. Aku ingin buku itu
menjadi kumpulan ide dan gagasan untuk referensi pribadi. Aku tidak
tahu ide dan gagasan itu akan menjadi tulisan sungguhan yang bisa
dinikmati juga oleh orang lain atau hanya sekedar coretan-coretan yang
tidak bermakna.
Niat
untuk menulis buku harian itu berawal dari berkurangnya akses ke blog
yang aku punya dan karena aktifitas pekerjaan yang banyak menguras
pikiranku. Aku sangat terbantu dengan adanya blog, terutama Multiply.
Media itu membantu menampung ide dan membuat aktifitas menulis jadi
menyenangkan.
Menulis
memang menyenangkan, karena itulah aku berusaha untuk selalu menulis
tanpa menghiraukan hambatan dan keterbatasan yang aku alami. Menulis di
buku harian, mungkin inilah jalan yang terbaik untuk mengatasi kendala
dan keterbatasan akses internet. Hanya satu saja kendala yang ada untuk
menulis buku harian, yaitu tidak adanya kemauan, kalau ini bisa diatasi
pasti lembar demi lembar buku harian akan terisi. Terbukti, pagi tadi
pikiranku lagi blank, mencoba mencari ide tulisan tidak muncul, aku
paksa membuka buku harian dan muncullah tulisan ini.
31 Me1 2006
Pagi
ini tidak ada ide yang muncul untuk kutuliskan baik di buku ini maupun
di MP. Pikiranku benar-benar kosong tanpa selintaspun bahan tulisan.
Karena itu pagi ini aku bermalas-malasan di tempat tidur. Saking
parahnya, minat untuk membaca sesuatu baik buku atau koranpun tidak
ada. Parahlah pokoknya.
Tidak
bermakna memang, tapi cukuplah untuk membuktikan pada diriku sendiri
bahwa hanya kemauanlah yang paling penting untuk memulai menulis
sesuatu.
Aku
sangat sedih ketika mengawali menulis buku ini karena bersamaan dengan
bencana gempa di Jogja, kota kenangan yang tak pernah kulupa. Halaman
pertama buku ini berisi keprihatinanku dan menyampaikan turut berbela
sungkawa untuk saudara-saudaraku yang sedang berduka di Jogja.
Awalnya
aku mengira tidak terjadi apa-apa dengan gempa yang juga aku rasakan di
rumahku Sabtu pagi kemarin. Sampai ketika mengantar istriku ke
kampuspun aku masih bertanya-tanya melihat di depan kampus ada
mahasiswa yang menyodorkan kotak sumbangan yang bertuliskan SUMBANGAN
UNTUK JOGJA. Ada apa dengan Jogja ?
Setelah
itu aku mampir ke warnet dan baru tahu. Ternyata gempa yang tadi pagi
bersumber di laut sebelah selatan Jogja. Gempa itu cukup besar, 5,9 SR.
Banyak korban yang meninggal dunia selain banyak bangunan yang rata
dengan tanah.
Masyaallah, malamnya breaking news
di televisi menyebutkan lebih dari 100 orang meninggal dan hari ini
tercatat lebih dari 5 ribu orang meninggal, masih dimungkinkan korban
akan bertambah karena banyak tempat yang masih belum terjangkau. Semoga
Sang Penguasa Alam menguatkan hati mereka dan membukakan hati kita
semua untuk membantunya.


Dalam angkot menuju terminal. Aku sangat gelisah waktu itu. Kuperiksa
kembali semua kantong baju, celana dan jaket yang melekat di tubuhku.
Juga kantong-kantong tas yang kubawa. Tapi aku tidak menemukan 2.000
rupiah untuk membayar angkot.
Aku mengeluarkan dompet dan kulihat lagi isinya, hanya 2 lembar 50
ribuan. Waktu berangkat aku lupa menyiapkan uang pas. Sambil
menenangkan diri aku berdoa semoga sopir angkot punya uang kembaliannya.
"Peron Pak" aku menyebutkan dimana aku harus turun.
Tepat di depan peron, depan terminal, angkot berhenti. Aku turun. Dari
jendel pintu depan angkot sebelah kiri aku memberikan 50 ribuan kepada
sopir angkot dengan tetap berdoa ia punya kemballian. Sopir angkot
marah-marah, tancap gas dan langsung pergi. Ternyata uang yang ada
padanya belum cukup untuk memberiku kembalian. Mungkin hari masih pagi,
ia baru berangkat dari rumah
Aku berjalan masuk ke terminal dengan hati yang sedih. Hari ini, aku
telah mengurangi penghasilan sopir angkot 2.000 rupiah dari yang
seharusnya ia terima
"Maafkan aku Pak, aku benar-benar lupa." gumamku dalam hati.
Aku harus lebih cermat lagi setiap kali akan naik angkot, memeriksa kembali apakah sudah aku siapkan uang pas untuk membayarnya.

| |