imam's posts with tag: iptek
Saat ini keponakan saya sedang gandrung bermain gitar. Ya seperti masa-masa SMP saya dulu yang juga suka sekali memainkan alat musik ini, meski cuma hafal beberapa chord lagu populer masa itu. Kebetulan dirumah ada MP3 player, Ia langsung memasang CD MP3 koleksinya dan mencoba mencari chord-nya.
Saya ikut membantu mencarinya, tentu sebatas yang saya bisa. Ada satu lagu yang sudah berulah kali diputar masih belum ketemu juga bagaimana cara memainkannya. Saya ingat di dekat rumah saya ada warnet, langsung saja saya ajak Ia berselancar mencari chord lagu itu. Tidak lebih dari satu menit, chord lagu itu ketemu.
Senang bercampur heran terpancar dari ekspresi wajah keponakan saya itu. "Kok bisa semudah itu Om," katanya. Saya langsung menjawabnya sambil memperkenalkan bagaimana internet bisa berfungsi untuk kita belajar, belajar apa saja. Maklum di kampung saya, internet baru saja dikenal. Belum ada dua tahun internet masuk dan baru beberapa bulan ini warnet-warnet muncul.
Tapi saat saya bercerita ke istri, Ia langsung memperingatkan saya. Internet juga bisa menjadikan anak terjerumus ke hal yang tidak baik, pornografi misalnya. "Di internet kan banyak video-video porno yang sangat mudah diakses," katanya.
Benar juga pikirku. Tapi apakah dengan alasan itu lantas kita tidak perlu memperkenalkan internet pada remaja ? Saya pikir itu bukan langkah yang tepat. Beberapa hari ini saya merenung bagaimana caranya ya agar internet itu lebih memberi efek yang positif kepada remaja seperti keponakan saya itu.
Ini hasil perenungan saya :
- Perlu pendampingan terlebih dahulu sebelum melepas mereka berselancar sendiri di internet.
- Lebih banyak memperkenalkan hal yang menarik yang bisa memberi pemahaman yang positif tentang internet, misalnya menghubungkan dengan hobinya. Kalau suka bermain gitar, ya ajak mencari pelajaran bermain gitar di internet.
- Ajaran moral juga perlu ditanamkan untuk membentengi perilakunya dari efek negatif internet.
- Perlu polisi internet (?), hehehe...ini bukan hasil saya merenung, tapi baca di sini.
Teman-teman mau menambahkan ?
Gambar : Polisi Animasi Cina (newsmax)
 Sudah seminggu ini saya menggunakan sistem operasi ubuntu. Sebelumnya saya menggunakan mandriva. Ada beberapa keunggulan yang saya rasakan. Pertama, sound saya jadi bisa berfungsi, waktu pakek mandriva tidak terdeteksi (aneh). Kedua, sangat mudah melakukan install beberapa paket yang ada, tidak seperti mandriva yang terlalu berbelit. Bagi saya yang buta linux sangat menyulitkan. Yang ketiga, ada dukungan dan komitmen dari tim ubuntu yang sangat mempermudah dan menguntungkan. Berikut ini adalah komitmen publik tim Ubuntu untuk para penggunanya: - Ubuntu akan selalu bebas dari biaya, maka dari itu tidak akan ada biaya tambahan untuk "edisi enterprise", kami akan membuat semua pekerjaan terbaik Ubuntu tersedia untuk semua orang dengan istilah Bebas yang sama.
- Ubuntu juga menyediakan dukungan komersial dari ratusan perusahaan di seluruh dunia. Ubuntu dirilis secara tetap dan dapat Anda prediksikan; rilis Ubuntu terbaru tersedia setiap enam bulan. Setiap rilis akan didukung oleh Ubuntu dengan perbaikan pada keamanan dan perbaikan lainnya secara bebas selama sekurangnya 18 bulan.
- Ubuntu akan menyertakan terjemahan dan prasarana aksesibilitas terbaik yang dimiliki oleh komunitas Perangkat Lunak Bebas, hal ini berguna untuk membuat Ubuntu dapat dipergunakan oleh banyak orang. Kami juga bekerja sama dengan seluruh komunitas Perangkat Lunak Bebas dalam hal perbaikan bug dan saling membagi kode.
- Ubuntu berkomitmen secara penuh terhadap prinsip-prinsip dari pengembangan perangkat lunak bebas; untuk ini kami mendorong masyarakat untuk menggunakan perangkat lunak bebas dan open source, lalu memperbaikinya dan kemudian menyebarkannya kembali.
Bagi teman-teman yang ingin mencoba silahkan saja, saya jamin akan tertarik... Dan jika ingin tahu lebih jauh tentang ubuntu silahkan berkunjung ke Komunitas Ubuntu Indonesia
Sekitar tahun 1997, terjadi perdebatan karena keberhasilan ilmuan melakukan kloning terhadap biri-biri yang kemudian diberi nama Dolly. Perdebatan semakin menghebat setelah ada berita bahwa kloning juga bisa dilakukan pada manusia. Kloning manusia dianggap sudah menyalahi kodrat manusia karena melakukan intervensi penciptaan manusia yang diyakini sepenuhnya, terutama bagi muslim, adalah hak Tuhan.
Ada kasus yang menarik tentang hubungan antara ilmu pengetahuan, etika dan agama yang terjadi di Kanada saat ini. Melanie Boivin (35 th), seorang Ibu warga negara Kanada, ingin membekukan telurnya untuk dipergunakan putrinya, Flavie, yang kemungkinan besar tidak bisa mempunyai anak karena menderita TURNER'S SYNDROME. Melanie ingin anaknya nanti bahagia karena bisa melahirkan anak.
Akhirnya Ia bertemu Profesor Seang Lin Tan, seorang peneliti dari McGill University Health Center. (MUHC). Pembekuan dan penyuntikan telur memungkinkan untuk dilakukan. Profesor Tan dan tim risetnya berhasil mengembangkan sebuah metode pembekuan yang tidak merusak telur sehingga dapat dipergunakan oleh perempuan yang menginginkannya.
Program Melanie dan Profesor Tan juga menimbulkan perdebatan. Jika program ini dilakukan, Flavie akan mengandung anak dan sekaligus adiknya. Ada persoalan etik disitu. Profesor tan meminta nasehat dari komite etik independen. Dan komite menyetujui program dilanjutkan dengan alasan si Ibu memberikan telurnya karena kasih sayang kepada anaknya.
Tetapi tetap, keputusan ada di tangan Flavie dan pasangannya nanti apakah akan menggunakan telur itu atau tidak. Juga pertimbangan etik saat program ini dilakukan nanti, etika bisa berubah karena pergeseran waktu.
"Pertimbangan etis berubah dengan pergeseran waktu. Siapa tahu seperti apa nilai etika 20 tahun dari sekarang," kata Profesor Tan.
Perkembangan ilmu pengetahuan memang tidak bisa berdiri sendiri tanpa campur tangan etika dan agama. Ilmu pengetahuan hidup di tengah masyarakat yang mempunyai nilai-nilai etika dan agama. Inilah pentingnya, seorang ilmuan harus dekat dengan ahli etika dan hukum agama agar penerapan ilmu yang dimiliki dapat diterima dan bermanfaat.
Hubungan yang harmonis antara ilmuwan, ahli etika dan agama akan menjamin hidup manusia lebih baik di masa yang akan datang.
Gambar dan sumber berita : Gadis Mungkin Mengandung AdiknyaSeorang Ibu Kanada membekukan telurnya untuk dipergunakan putrinya yang mungkin menjadi mandul.Kontroversi Kloning Manusia Dalam Perspektif SyariatPersoalan yang pertama adalah terkait dengan kontroversi adanya "intervensi penciptaan" yang dilakukan manusia terhadap "tugas penciptaan" yang semestinya dilakukan oleh Allah SWT.
 ---Dari sebuah buku "The Worl is Flat", Thomas L. Friedmen, 2006---
Tahun 1991, Thomas L. Friedmen, kolomnis hubungan luar negeri The New York Times memunculkan gagasan tentang globalisasi lewat bukunya " The Lexus and the Olive Tree".
Kemudian, globalisasi menjadi wacanya yang banyak dibicarakan
masyarakat seluruh dunia. Banyak negara yang menganggapnya sebuah
tantangan, maka harus dilakukan persiapan untuk menghadapinya agar
tidak tergilas dan tertinggal arus. Tetapi ada juga yang menganggapnya
sebagai ancaman yang harus dilawan, maka dengan segala upaya
diciptakanlah kekuatan yang menandinginya.
Belum tuntas wacana globalisasi dibicarakan, muncul wacana baru tentang
dunia yang semakin datar. Sebenarnya bukanlah wacana pengganti, hanya
mempertegas bahwa globalisasi masih terus berlangsung. Bahkan bergerak
semakin cepat dan semakin banyak pemain yang turut ambil bagian
mendorong arusnya. Bukan lagi negara pelakunya, tetapi masing-masing
individu bisa perperan membuat dunia semakin datar.
Ketika negara-negara Eropa melakukan misi pencarian rempah-rempah, emas
dan penyebaran agama, sebenarnya gerbong globalisasi mulai bergerak.
Friedmen menyebut era ini dengan Globalisasi 1.0. Beberapa negara
mengglobal, mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang luas, melebihi
batas-batas negaranya. Era ini berlangsung hingga sekitar tahun
1800-an. Pertanyaan yang muncul, dimanakah posisi dan peluang negaraku
dalam persaingan global ini ?
Tahab globalisasi selanjutnya adalah mengglobalnya
perusahaan-perusahaan untuk kepentingan pasar dan tenaga kerja.
Pelakunya adalah perusahaan multinasional dengan modal gabungan yang
sangat besar. Produk atau layanannya meluas ke hampir seluruh pelosok
dunia. Tahap ini dinamakan Globalisasi 2.0. Pertanyaan yang kemudian
muncul, dimana posisi dan peluang perusahaanku dalam ekonomi yang
mengglobal ?
Dunia semakin datar, sekat-sekat negara bukan lagi menjadi batas yang
tegas memisahkan wilayah di belahan bumi yang satu dengan wilayah di
belahan bumi yang lain. Akses informasi semakin mudah, dalam sekian
detik saja informasi dapat menyebar ke seluruh dunia. Individu dapat
berkomunikasi dan berinteraksi dengan individu yang lain dimanapun
berada. Orang di Indonesia dapat berkorespondensi dengan saudara atau
temannya di Amerika tanpa harus menunggu berhari-hari atau
berbulan-bulan sampai pak pos mengetuk pintu. Dengan e-mail, berbagai
kabar dapat sampai ketujuan hanya dalam hitungan detik. Bahkan, saat
ini dimungkinkan saling bercakap dan melihat wajah tanpa harus bertemu
langsung.
Fakta-fakta menunjukkan bahwa saat ini peran individu sudah mengglobal.
Masing-masing individu mempunyai kekuatan untuk saling bersaing dengan
individu lain di seluruh belahan bumi. Seseorang dari Bangalore, India
dapat bersaing dengan orang dari Dallian, China untuk menjadi bagian
sebuah proyek besar dari perusahaan di Amerika tanpa harus pergi
bermil-mil ke Amerika, masing-masing tetap di wilayahnya bahkan bisa
dilakukan dari rumahnya. Kemudian, individu-individu mulai menyadari
akan dihasilkannya kekuatan yang lebih besar lagi jika mereka saling
bekerjasama, saling membantu. Beberapa proyek dapat dipecah-pecah dan
dikerjakan oleh ahlinya masing-masing dari tempat yang berbeda-beda,
proyek dapat diselesaikan dengan kualitas yang optimal. Inilah
Globalisasi 3.0. Akhirnya setiap individu bisa dan harus bertanya :
dinama posisi saya sebagai individu di tengah persaingan global dan
bagaimana saya harus bekerjasama dengan individu lain untuk
menghasilkan kekuatan yang lebih besar ?
Menjadi Pemain atau Korban ?
Sejarah membuktikan, di era Globalisasi 1.0 dan Globalisasi 2.0, kita
mengalami kondisi yang memprihatinkan. Negara kita bukanlah negara yang
mengglobal pada era Globalisasi 1.0, bahkan menjadi korban sebagai
negara terjajah. Di era Globalisasi 2.0, bukan kita yang lebih
menguasai pasar dunia, melainkan kita yang menjadi target pasarnyanya.
Produk dan layanan perusahaan kita tidak banyak yang menyebar ke
pelosok dunia, melainkan banyak produk dan jasa dari luar yang masuk ke
negara kita.
Sekarang Globalisasi 3.0 sedang berlangsung, akankah kita menjadi
pemain atau lagi-lagi menjadi korban ? Tidak, jika kita segera bangun
dan menyiapkan diri. Beruntung, setiap kita diciptakan berbeda-beda dan
unik. Tidak ada individu lain di dunia ini yang sama persis dengan
kita. Setiap individu pasti berbeda, meskipun bagi mereka yang kembar
identik sekalipun. Setiap individu mempunyai kelebihan dibanding dengan
individu yang lain. Inilah potensi yang harus dikembangkan oleh setiap
individu, sesedikit apapun kelebihan itu. Untuk apa ? Untuk menutupi
kekurangan individu yang lain. Karena, selain mempunyai kelebihan,
setiap individu juga mempunyai kelemahan. Interaksi individu yang
demikianlah yang akan mewujudkan cita-cita hidup seluruh individu di
dunia, mencapai kemakmuran dan kebahagiaan hidup.
Jadi tidak usah kawatir dengan globalisasi sampai berapapun tahapnya,
selagi kita mampu mengetahui dan mengoptimalkan kelebihan kita.

Tidak mudah memang menjadi ilmuan, selain harus punya etos kerja yang
tinggi, punya ketelatenan dan punya semangat yang prima untuk
mempelajari sesuatu, seorang ilmuan juga harus punya jiwa yang besar
ketika suatu saat nanti teori yang dikembangkannya (ditemukannya) tidak
dipakai lagi (gagal) karena ada teori baru yang lebih menunjukkan
kebenarannya.
Hari Kamis kemarin (24/08/06) para Pekerja Astronomi Internasional (IAU) memutuskan untuk mencoret Pluto
dari deretan planet dalam tata surya kita. Kini Tata Surya dengan Matahari sebagai pusatnya hanya mempunyai 8 planet saja
(Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus dan Uranus).
 Pluto ditemukan pada 18 Februari
1930 oleh seorang astronom dari Amerika, Clyde William Tombaugh
(February 4, 1906 – January 17, 1997). Pada saat itu Tombaugh menemukan
sebuah objek yang bergerak (moving object) dari foto-foto yang
diambilnya pada 23 dan 29 Januari tahun yang sama. Berita penemuannya
itu kemudian dikirimkan ke Harvard College Observatory pada 13 Maret
1930.
Setelah lebih dari 70 tahun akhirnya status Pluto direvisi menjadi
planet kerdil. Persatuan Astronomi
Internasional merumuskan ulang definisi palnet. Setelah melalui
perdebatan yang sengit, definisi planet disepakati. Menurut definisi
yang baru tersebut, benda-benda luar angkasa yang dapat disebut planet jika
memenuhi syarat-syarat :
-
Mengorbit ke Matahari
-
Memiliki massa yang cukup untuk bergravitasi sendiri sehingga memiliki bentuk yang relatif bulat.
-
Tidak membagi orbitnya dengan benda-benda lain yang berukuran relatif sama besarnya selain satelitnya sendiri.
Pluto tidak memenuhi syarat yang ketiga karena pada orbit pluto masih
ada benda angkasa lain yang termasuk kelompok Trans Neptunus. Dengan demikian, buku-buku ilmu pengetahuan atau ensiklopedia yang menjadi referensi tentang planet-planet harus direvisi.
Orbit
of Pluto – polar view. This 'view from above' shows how Pluto's orbit
(in red) is less circular than Neptune's (in blue), and also shows how
Pluto is sometimes closer to the Sun than Neptune. The darker halves of
both orbits show where they pass below the plane of the ecliptic. The
positions of both are marked as of April 16th, 2006; in April 2007 they
will have barely changed by about 1 pixel.
|  |
Begitulah, jika anda ingin menjadi seorang ilmuan, belajarlah untuk
menerima kebenaran dari orang lain meskipun kebenaran itu bertentangan
dengan kebenaran yang kita yakini sebelumnya.

| |