catatan kecil imam isnaini

imam's posts with tag: lingkungan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag lingkungan
Blog EntryHutan dan Kisah Anak dengan Coklat di TanganDec 5, '07 9:11 PM
for everyone
Suhu udara semakin panas. Sejak akhir abat-19 suhu permukaan bumi meningkat 1 derajat Fahrenheit. Suhu terpanas terjadi pada 15 tahun terakhir ini. Terjadilah pemanasan global sehingga es dan gletsyer di kutub mencair. Akibatnya permukaan air laut meningkat 4 sampai 10 inci sepanjang abad terahir.
 
Musim semakin tidak menentu. Hujan dan kemarau sudah tidak dapat diperkirakan lagi kapan datangnya. Curah hujan pun mengalami penurunan yang berakibat pada berkurangnya sumber air bersih bagi kehidupan manusia di Bumi. Kekeringan dimana-mana. Hidup dan kehidupan manusia di Bumi terancam.
 
Yang menjadi penyebab Bumi mengalami demam tinggi adalah karena kandungan karbon dioksida (CO2) dalam admosfir melebihi batas alaminya. CO2 terlalu banyak yang terlepas ke udara karena aktifitas pembakaran bahan bakar fosil tanpa ada yang menahannya.
 
Hutan, sebagai media penahan CO2 semakin menipis keberadaannya. Aktifitas ekonomi manusia memaksa melakukan penggundulan hutan untuk bahan baku industri atau pembukaan lahan pertanian dan perkebunan. Kini tinggal 8 persen saja hutan utuh yang tersisa di seluruh dunia.
 
Dunia berteriak-teriak agar sisa hutan itu dipertahankan, dijaga untuk kelestarian hidup seluruh manusia di Bumi. Pembukaan hutan dengan alasan apapun dikecam sebagai tindakan yang tidak perduli lingkungan. Tapi anehnya, yang menikmati hasil hutan itu juga negara-negara yang berteriak-teriak itu. Seperti hasil hutan Indonesia, 11 persennya dikirim ke Amerika dan 9 persennya ke Eropa.
 
Negara-negara yang masih punya sisa hutan diperlakukan layaknya seorang adik dalam kisah "Anak dengan Coklat di Tangah" yang ditulis Lie Charlie tahun 2004 yang lalu.
 
Ceritanya, ada dua orang kakak beradik. Mula-mula mereka mempunyai masing-masing sepotong coklat di tangan. Sang kakak tanpa berpikir panjang langsung melahap habis coklatnya. Si adik melongo melihat kelakuan kakaknya. Ia masih kecil dan belum punya nafsu macam-macam.
 
Setelah beberapa waktu, si adik bertambah besar. Keinginan untuk menikmati coklat mulai muncul. Coklat yang ada di tangannya kemudian didekatkan ke mulut untuk dicicipi. Sekonyong-konyong sang kakak marah besar dan menghardik adiknya, "Bodoh, jangan kau makan coklat itu.
 
Si adik tidak memahami kemarahan kakaknya, "memangnya kenapa kak?" tanyanya.
 
"Sebab kalau kau makan juga cokelat itu, kita tidak punya cokelat lagi!" jawab kakaknya enteng dan seenaknya dengan lagak berfilsafat.
 
Siapa sang kakak, saya kira kita sudah tau semua. Ya yang menghabiskan dan menikmati hutannya terlebih dahulu untuk keperluan mereka menjadi negara besar dan maju. Yang dengan pongahnya juga berlagak sebagai pahlawan dunia dengan melarang penebangan hutan yang tersisa. Kebetulan juga, sisa hutan itu berada di negara-negara yang sedang berkembang yang ingin menikmati hasil hutan untuk menjadi negara maju seperti yang dicapai sang kakak.
 
Bisa saja, si adik bilang kalau ini adalah haknya, bagiannya. Terserah, mau saya makan atau saya simpan bukan urusanmu. Tapi sepertinya si adik bukanlah orang yang serakah dan tidak peduli. Diajaklah semua berunding bagaimana menghadapi krisis bersama ini.
 
Lahirlah Protokol Kyoto. Kesepakatan itu menghasilkan komitmen untuk melaksanakan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Pembukaan hutan jangan asal tebang, harus dipikir kelestariaannya. Juga untuk sang kakak, jangan terlalu boros menggunakan energi yang berpotensi banyak membuang CO2 ke atmosfir Bumi.
 
Tapi dasar kakak yang keras kepala. Perundingan itu dia langkahi sendiri, tidak mau berkomitmen bersama. Alih-alih mengurangi pembuangan CO2, dia malah menjadi penyumbang terbesar CO2 ke atmosfir Bumi. Dan lagi-lagi berfilsafat "mengurangi pembuangan CO2 sangatlah penting karena menyangkut kehidupan manusia di seluruh dunia, tapi jangan sampai usaha itu menghalangi negara untuk memakmurkan rakyatnya."
 
"Okelah, kemakmuran rakyat adalah tujuan setiap negara seperti saya," kata sang adik. "Untuk itu kalian harus perduli juga,  saya juga ingin memakmurkan rakyat saya, untuk itu beri kami insentif untuk setiap usaha kami melestarikan hutan kami yang hasilnya juga kalian nikmati. Insentif itu akan saya gunkanan untuk memakmurkan rakya saya"
 
Perundingan dimulai lagi, si adik menawarkan usulah-usulan yang menurutnya berdasar pada keadilan bersama. "Sudah saatnya keadilah ekologi ditegakkan bersama-sama, untuk kemakmuran bersama dan untuk kelestarian hidup dan kehidupan di Bumi yang kita huni bersama ini," terang si adik.
 
Apakah sang kakak akan menerima usulan si adik dengan konsep keadilan ekologi dan bersedia mengikat perjanjian? Atau tetap pada kepongahan dan kesombongannya, seperti saat menolak Protokol Kyoto dengan perkataan yang menghina, "biaya relokasi penduduk kepulauan yang tenggelam lebih kecil dibanding pengurangan emisi." Perundingan masih berlangsung, kita tunggu saja apa hasilnya.

Saya tertarik dengan isu pemanasan global dan perubahan iklim yang saat ini sedang hangat dibicarakan media-media. Tidak saja karena ada sidang PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC) di bali tanggal 3 sampai 14 Desember ini. Juga karena sangat terasa sekali perubahan iklim yang terjadi beberapa tahun terakhir ini seperti tidak menentunya musim hujan dan kemarau, suhu udara terasa panas dan terjadinya banjir dan kebakaran hutan yang parah.

Kemudian, saya berjalan-jalan di dunia maya untuk mengunduh informasi tentang perubahan iklim ini. Mendaratlah saya ke situs WWF-Indonesia. Saya menemukan tanya jawab soal pemanasan global dan perubahan iklim. Sangat informatif dan banyak menambah pengetahuan.

Berikut isi tanya jawab itu, mudah-mudahan berguna bagi teman-teman semua.

Apakah yang dimaksud dengan Efek Rumah Kaca (ERK) dan penyebabnya?

Efek Rumah Kaca dapat divisualisasikan sebagai sebuahproses. Pada kenyataannya, di lapisan atmosfer terdapatselimut gas. Rumah kaca adalah analogi atas bumi yang dikelilingi gelas kaca. Nah, panas matahari masuk ke bumi dengan menembus gelas kaca tersebut berupa radiasi gelombang pendek. Sebagian diserap oleh bumi dan sisanya dipantulkan kembali ke angkasa sebagai radiasi gelombang panjang.

Namun, panas yang seharusnya dapat dipantulkan kembali ke angkasa menyentuh permukaan gelas kaca dan terperangkap di dalam bumi. Layaknya proses dalam rumah kaca di pertanian dan perkebunan, gelas kaca memang berfungsi menahan panas untuk menghangatkan rumah kaca. Masalah timbul ketika aktivitas manusia menyebabkan peningkatan konsentrasi selimut gas di atmosfer (Gas Rumah Kaca) sehingga melebihi konsentrasi yang seharusnya. Maka, panas matahari yang tidak dapat dipantulkan ke angkasa akan meningkat pula. Semua proses itu lah yang disebut Efek Rumah Kaca. Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan dampak dari Efek Rumah Kaca.

Apakah Efek Rumah Kaca merupakan proses alami?

Ya! Efek Rumah Kaca terjadi alami karena memungkinkan kelangsungan hidup semua makhluk di bumi. Tanpa adanya Gas Rumah Kaca, seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), atau dinitro oksida (N2O), suhu permukaan bumi akan 33 derajat Celcius lebih dingin. Sejak awal jaman industrialisasi, awal akhir abad ke-17, konsentrasi Gas Rumah Kaca meningkat drastis. Diperkirakan tahun 1880 temperatur rata-rata bumi meningkat 0.5 – 0.6 derajat Celcius akibat emisi Gas Rumah Kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia.

Apa buktinya bahwa Efek Rumah Kaca itu benar-benar terjadi ?

Melalui beberapa bukti berikut:
  • Pertama, berdasarkan ilmu fisika, beberapa gas mempunyai kemampuan untuk menahan panas.Tak ada yang patut diragukan dari pernyataan ini.
  • Kedua, pengukuran yang dilakukan sejak tahun 1950-an menunjukkan tingkat konsentrasi Gas Rumah Kaca meningkat secara tetap, dan peningkatan ini berhubungan dengan emisi Gas Rumah Kaca yang dihasilkan industri dan berbagai aktivitas manusia lainnya.
  • Ketiga, penelitian menunjukkan udara yang terperangkap di dalam gunung es telah berusia 250 ribu tahun. Artinya:
    • Konsentrasi Gas Rumah Kaca di udara berbeda-beda di masa lalu dan masa kini. Perbedaan ini menunjukkan adanya perubahan temperatur
    • Konsentrasi Gas Rumah Kaca terbukti meningkat sejak masa praindustri.
Apa sajakah yang termasuk dalam kelompok Gas Rumah Kaca?

Yang termasuk dalam kelompok Gas Rumah Kaca adalah karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PFC), sampai sulfur heksafluorida (SF6). Jenis GRK yang memberikan sumbangan paling besar bagi emisi gas rumah kaca adalah karbondioksida, metana, dan dinitro oksida. Sebagian besar dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) di sektor energi dan transport, penggundulan hutan, dan pertanian. Sementara, untuk gas rumah kaca lainnya (HFC, PFC, SF6) hanya menyumbang kurang dari 1%.

Darimanakah emisi karbondioksida dihasilkan ?

Sumber-sumber emisi karbondioksida secara global dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bum dan batu bara):
  • 36% dari industri energi (pembangkit listrik/kilang minyak, dll)
  • 27% dari sektor transportasi
  • 21% dari sektor industri
  • 15% dari sektor rumah tangga & jasa
  • 1% dari sektor lain-lain.
Apakah penghasil utama emisi karbondioksida?

Sumber utama penghasil emisi karbondioksida secara global ada 2 macam.
Pertama, pembangkit listrik bertenaga batubara.
Pembangkit listrik ini membuang energi 2 kali lipat dari energi yang dihasilkan. Semisal, energi yang digunakan 100 unit, sementara energi yang dihasilkan 35 unit. Maka, energi yang terbuang adalah 65 unit! Setiap 1000 megawatt yang dihasilkan dari pembangkit listrik bertenaga batubara akan mengemisikan 5,6 juta ton karbondioksida per tahun!
Kedua, pembakaran kendaraan bermotor.
Kendaraan yang mengonsumsi bahan bakar sebanyak 7,8 liter per 100 km dan menempuh jarak 16 ribu km, maka setiap tahunnya akan mengemisikan 3 ton karbondioksida ke udara! Bayangkan jika jumlah kendaraan bermotor di Jakarta lebih dari 4 juta kendaraan! Berapa ton karbondioksida yang masuk ke atmosfer per tahun?

Lengkapnya unduh filenya di sini, kalau gagal lewat WWF Publication dulu cari di Factsheet-nya. Masih tidak bisa? Heheheh....Saya minta alamat email teman-teman, nanti saya kirim lewat japri.


Blog EntryManusia, Sang Penyelamat ?Jul 26, '07 12:40 AM
for everyone
Tanpa ada perilaku dan pola konsumsi manusia, juga tanpa ada upaya mereduksi emisi gas rumah kaca (GRK) untuk mengatasi pemanasan bumi, diperkirakan usia bumi tinggal 70 sampai 100 tahun lagi.

Perkiraan itu disampaikan oleh Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) berdasarkan tren kenaikan suhu udara hingga empat derajat celcius.

Keprihatinan tentang kehidupan di bumi juga disampaikan oleh fisikawan Stephen Hawking. Sekembalinya dari penerbangan gravitasi nol, 26 April 2007 yang lalu ia mengatakan, "Kehidupan di Bumi semakin berada dalam risiko untuk disapu oleh bencana, seperti pemanasan global mendadak, perang nuklir, virus hasil rekayasa genetika, dan bahaya lain."

Kondisi bumi yang semakin memburuk ini membuat manusia mencari alternatif tempat lain yang mempunyai sifat seperti bumi untuk tempat tinggal manusia disaat bumi tidak bisa ditempati lagi.

Beberapa planet dan satelit di lingkungan terdekat bumi dipelajari untuk mendapatkan kemungkinan menjadi tempat hidup manusia. Mars yang paling mirip dengan bumi ternyata masih membutuhkan rekayasa terutama untuk penyediaan udara dan bahan makan. Tentu rekayasa ini butuh energi yang sangat besar.

Para astronom mengembangkan penelitiannya lebih luas lagi, diluar Tata Surya. Bertemulah "Super-Earth" sebuah planet yang mengelilingi bintang redup Gliese 581. Para astronom menemukan di permukaan "Super-Earth" ada semacam aliran air seperti aliran sungai di bumi. Aliran air tersebut yang menjadi dasar para astronom mempercayai "Super-Eart" mirip dengan bumi.

Mungkin benar, diantara bermiliar benda di luar angkasa ada yang menyerupai bumi dan layak untuk menjadi tempat tinggal manusia. Namun untuk menuju kesana perlu pemikiran dan penelitian yang lebih jauh mengingat benda-benda angkasa berjarak sangat jauh. "Super-Earth" yang baru ditemukan mempunyai jarak sangat jauh. Sebagai perbandingan, jarak Gliese 581 dengan bumi 20,5 tahun cahanya. Berapa kilometer ? Kalikan saja 20,5 dengan 9.500.000.000.000 kilometer.

Bumi Tanpa Manusia.

Sebuah imajinasi menarik disampaikan oleh seorang wartawan, Alan Weisman, tentang kondisi bumi setelah manusia hengkang, entah karena pergi ke tempat lain atau karena binasa oleh bencana.

Menurutnya, gambaran bumi setelah ditinggal manusia akan menyerupai kawasan sekitar Chernobyl, daerah PLTN Uni Soviet yang pada April 1986 dan menyemburkan awan radio aktif. Daerah tersebut kini kosong tanpa ada satupun manusia yang tinggal.

Imajinasi Weisman berkembang dari Chernobyl menjadi dunia. Bagaimana dunia ini setelah ditinggal manusia ? Dalam tempo beberapa hari atau minggu PLTN di seluruh dunia akan mendidih dan meledak, menghamburkan radioaktif. Listrik akan mati.

Weisman menggambarkan kondisi yang lebih rinci di kota New York. Setelah penduduk New York pergi, banjir akan melanda, lantai beton akan membeku dan terlipat. Peninggalan terakhir manusia mungkin hanya patung perunggu yang bisa bertahan 10 tahun mendatang.

Bukan Langkah Bijak.

Mencari dan pergi ke alternatif tempat selain bumi, meskipun itu mungkin dilakukan di waktu mendatang, bukanlah langkah yang bijak. Bukankan manusia diturunkan ke bumi mempunyai tanggung jawab mengelolanya ? Mengelola bukan berarti mengeruk dan menguras kemudian meninggalkannya.

Tetapi, bukankan sudah menjadi takdir suatu saat bumi ini akan binasa ?

Memang, pada akhirnya semua alam semesta, termasuk bumi, akan rusak dan musnah. Tetapi bukan termasuk manusia yang baik, bahkan seburuk-buruknya manusia, yang menyaksikan kerusakan itu. Tentu kita tidak mau menjadi seburuk-buruk manusia bukan ? Tentu juga bukan anak cucu kita, maukah kita menyelamatkan bumi untuk mereka ?



Dicomot dari berbagai sumber :
1. Bumi Tanpa Manusia (Kompas, Rabu 25 Juli 2007)
2. "Super-Earth" dan Nasib Bumi-Manusia (Rabu 02 Mei 2007)
3. Usia Bumi Tinggal Seabad Lagi (Senin 28 Mei 2007)
Gambar-gambar dari The World Without Us



Blog EntryMenolak Plastik PembungkusJul 9, '07 4:32 AM
for everyone
Suatu saat saya menolak untuk menerima bungkus plastik terhadap barang yang saya beli. Bukan apa-apa, saya kerepotan untuk mengumpulkan plastik-plastik itu yang semakin menumpuk di rumah. Untuk di buang langsung ke tempat sampah rasanya eman, lagian saya tahu plastik itu tidak mudah terurai oleh oraganisme dalam tahah sehingga akan mengotori tanah dan tidak menyuburkan.

Melihat tumpukan sampah yang ada di tempat pembuangan akhir, begitu banyak sampah plastik yang tercampur dan harus dipisahkan jika ingin diolahnya kembali. Sangat menyulitkan.

Tapi apa komentar penjual, "plastik ini harus diterima karena menyangkut keberuntungan". Menurut kepercayaannya, jika pembeli tidak diberi plastik pembungkus keberuntungannya akan menurun.

Baru saja saya menemukan tips yang menurut saya sangat bagus untuk mengawali peduli lingkungan mulai dari rumah. Salah satunya menolak plastik pembungkus...





Tips itu :
10 Ways To Green Your Home


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help