imam's posts with tag: pendidikan
 | Category: | Movies | | Genre: | Education |
Antara anak dan orang tua sering sekali terjadi pertentangan. Orang tua menginginkan anaknya kelak menjadi orang yang baik. Maka disusunlah nilai-nilai yang harus dipatuhi anak. Ditentukan siapa yang boleh menjadi teman dan siapa yang tidak. Anak harus pintar di sekolah, dengan sederet nilai akademis yang memuaskan. Di sisi yang lain, anak mempunyai keinginan dan minat. Mempunyai teman dan sahabat sendiri yang terkadang tidak sesuai dengan kriteria orang tuanya. "Jaman sudah berubah, anak muda harus ikut perubahan," katanya. Sosok orang tua adalah sosok yang kuno, kolot dan kaku. Sulit sekali menerima perubahan jaman. I Not Stupid, sebuah film lama, drama komedi produksi Singapura, memberi gambaran pertentangan itu. Tiga orang sahabat, Kok Pin, Boon Hock dan Terry Khoo, mempunyai nasib yang mirip. Ketiganya mendapat tekanan dari keluarganya masing-masing untuk mendapat prestasi akademis yang tinggi. Padahal sangat berat bagi mereka untuk mencapainya. Selain karena kemampuan mereka yang pas-pasan, lingkungan dimana mereka tinggal tidak mendukung untuk mencapai prestasi itu. Kok Pin, payah sekali kemampuan berhitungnya. Usaha sekeras apapun, nilai matematikanya tidak bisa melewati angka 5. Sampai ibunya putus asa dan menggunakan kekerasan saat mendampinginya belajar matematika. Lengannya dipukul dengan rotan jika ia sulit mengerti apa yang diajarkan ibunya. Ia pun harus menyiapkan lengannya kembali jika pulang dengan membawa hasil test yang jelek. Sebenarnya ia pandai sekali menggambar dan punya bakat dibidang itu. Tetapi ibunya tidak mau menerima, menggambar tidak bisa diandalkan untuk menghadapi masa depan kata ibunya. Boon Hock lahir dalam keluarga yang kurang mampu. Setiap hari ia harus membantu melayani para tamu di restoran milik keluarganya. Ditambah lagi kewajiban mengurus adiknya yang masih balita. Sangat sedikit sekali waktunya untuk belajar. Sebaliknya, Terry Khoo adalah anak seorang pengusaha sukses. Orangtuanya super sibuk. Waktu dan pikiran orang tuanya lebih banyak digunakan untuk mengurusi bisnis. Urusan anak menjadi tanggung jawab ibunya yang sayangnya juga sibuk berbisnis. Anak hanya dibekali aturan-aturan yang harus dipatuhi. Semua kegiatan anak harus sepengetahuan orang tua dan segala urusan anak harus diputuskan orang tua. Karena itu Terry menjadi anak yang lemah, kurang percaya diri dan tidak terbiasa mengambil keputusan sendiri. Kemudian muncullah Cheryl Chan sebagai wali kelas EM3 yang baru. EM3 adalah level terendah dalam sistem pendidikan di Singapura. EM3 berisi anak-anak yang mempunyai nilai akademis yang rendah, termasuk nilai matematika dan bahasa Inggris. Dalam pertemuan pertama dengan anak-anak kelas EM3, Chery Chan mengatakan, "dulu saya juga mempunyai nilai matematika yang rendah seperti kalian. Kemudian saya berusaha mengenal matematika lebih dekat dan mendalam. Lama kelamaan menjadi suka dan akhirnya nilai matematika saya menjadi bagus." Ia melanjutkan, "sebenarnya ketika saya mendapat nilai matematika yang bagus, bukan matematika yang saya taklukkan, tetapi diri saya sendirilah sebenarnya yang saya taklukkan." Kata-kata Cheryl itu membuat motivasi Boon Hock dan Terry berkobar. Keduanya berusaha mengenal matematika. Mereka belajar bukan hanya karena ingin mendapat nilai bagus, tapi juga ingin mengenal matematika lebih dekat dan mendalam sekaligus inging menaklukkan diri mereka sendiri. Sementara, Kok Pin tetap saja mendapat nilai yang rendah. Ia merasa bersalah tidak bisa membuat ibunya senang. Lebih sedih lagi, usia ibunya diperkirakan tinggal 3 bulan lagi. Leukimia yang diderita ibunya semakin parah. Kok Pin memberanikan diri menemui ibunya yang saat itu sedang terbaring lemah di rumah sakit. Dengan hujan air mata ia memohon maaf belum bisa menyenangkan ibunya. Rupanya ibunya sadar dan menerima keadaan anaknya, "melihat kamu berusaha keras, ibu sudah senang". Keadaan tambah haru ketika Cheryl datang membawa kabar baik. Kok Pin mendapat juara kedua lomba menggambar untuk anak sekolah di Amerika Serikat. Rupanya secara diam-diam Cheryl mengirimkan karya Kok Pin untuk ikut lomba itu. Diakhir cerita, ketiga sahabat tadi menyadari, meskipun tidak semua perkataan orang tua dapat mereka terima tetapi mereka yakin semua itu karena orang tua ingin mereka menjadi baik. Film ini sangat tepat menjadi tontonan keluarga. Gaya komedinya sangat menghibur. Keharuan yang ditampilkan bisa membuat yang bersitegang merenung, menyadari kekeliruan dan memahami sikap dan posisi masing-masing.     
Link: http://ocw.mit.edu/OcwWeb/web/home/home/index.htmWaktu mengikuti mata kuliah Probabilitas (teori peluang) selalu yang digunakan sebagai alat peraga adalah uang receh (koin) dan dadu 6 sisi. Peragaan itu menunjukkan, setelah pelemparan koin dilakukan berulang-ulang, jumlah angka yang keluar sebanding dengan jumlah gambar, artinya peluang muncul angka sama dengan gambar yaitu 1/2. Hari ini saya mendapatkan ejekan dari Open Course Ware (OCW), situs milik Massachussetts Institute of Technology (MIT), "Why flip a coin? Try these instead to increase the number of outcomes," sambil menampilkan dadu dengan berbagai macam bentuk. Kalau dulu sudah ada situs ini dan para pengajar di kampus saya menerapkannya, tentu mata kuliah probabilitas akan sangat menarik, tidak melulu hitung-hitungan angka yang bikin pusing dan membosankan. OCW adakah situs yang menyediakan seluruh mata kuliah di MIT yang dapat diakses secara cuma-cuma oleh masyarakan di seluruh dunia. Situs ini untuk mendukung komitmen MIT membagikan seluruh pengetahuannya untuk pendidikan di seluruh dunia. Ada lebih dari 1.700 jenis tema kuliah yang diambil dari kurikulum MIT dapat diunduh. Selain dalam bentuk materi kuliah, juga disediakan video yang menampilkan gambar dosen saat mengajar. Ini sangat menarik untuk perkembangan pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan di Perguruan Tinggi, tidak menutup kemungkinan juga bagi pendidikan menengah dan menengah atas. Bahan kuliah semakin banyak sumbernya dan semakin beragam. Mahasiswa mempunyai alternatif mendapat materi kuliah yang lebih murah. Ya tentunya dengan syarat, dosen dan guru pemberi materi, harus terbuka, mahasiswa dibebaskan untuk memilih sumber bahan dari mana saja, tidak terpaku pada satu buku yang direkomendasikan. Dosen dan guru juga harus terus belajar agar suasana dikelas menjadi menarik.  
 Waktu SMA saya mempunyai teman yang menurut saya sangat jenius, langganan ranking pertama di kelas. Mata pelajaran matematika, fisika dan kimia dikuasainya dengan baik, jauh diatas rata-rata kemampuan kami. Yang lebih mengagumkan, Ia berasal dari daerah terpencil di sisi selatan kota saya, yang ketika malam harus belajar di pos kamling untuk mendapat penerangan listrik.
Kenyataan itu membuktikan bahwa belum tentu anak kota lebih pintar dibanding anak desa. Jika anak desa diberi kesempatan yang sama untuk belajar dan dimudahkan mengakses informasi, mereka akan mempunyai kemampuan yang sama, bahkan bisa melebihi anak kota. Teman-teman kuliah saya, yang mempunyai kemampuan diatas rata-rata sebagian besar juga berasal dari daerah.
Masih ingat kisah Andrey Sakharoov Awoitauw, pemenang mendali emas Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun 2005 bidang matematika asal Papua ? Saat pertama kali Prof. Yohanes Surya bertemu dengannya, Ia bukanlah anak yang pintar, bahkan Ia kedodoran saat diminta menghitung 1/2 ditambah 1/3, jawabannya 1/5. Tentu jawaban itu bukan level jawaban siswa SLTP di sekolah-sekolah favorit di Jawa.
Tetapi kesempatan untuk belajar bersama Prof. Yohanes Surya merubahnya menjadi anak yang brillian. Ia mengalahkan juara dunia olimpiade matematika dan berhasil mendapatkan medali emas.
Saat ini di seluruh dunia terdapat kurang lebih dua miliar anak dari negara-negara sedang berkembang dan negara miskin tidak mendapatkan pendidikan yang layak, bahkan banyak yang tidak mendapatkan pendidikan sama sekali. Anak-anak itu terjebak dalam pergulatan negara yang berusaha mentas dari keterpurukan ekonomi.
Di negara-negara tersebut, pendidikan bukanlah prioritas yang utama. Dana yang dialokasikan untuk pendidikan sangat kecil, kurang dari $ 20 peranak pertahun. Bandingkan dengan dana yang dialokasikan pemerintah Amerika Serikat untuk pendidikan, $ 7.500 peranak pertahun.
Professor Nicholas Negroponte memandang keadaan ini tidak adil. Lingkaran setan ini harus diputus, setiap anak harus mempunyai kesempatan mendapatkan pendidikan yang sama, sehingga mereka mampu memaksimalkan potensi yang ada.
Tahun 2002, Negroponte memperkenalkan gagasan One Laptop per Child (OLPC), sebuah program komputer jinjing murah bagi anak-anak di negara-negara miskin dan sedang berkembang. Tujuannya, agar mereka mendapat akses yang cukup untuk pendidikan.
Pada awalnya program ini mendapat banyak cemoohan. Boss Intel mengatakan bahwa komputer jinjing seharga $ 100 adalah mainan. Ada juga yang meragukan dari sisi teknis karena spesifikasi hard disk yang kurang. Sebagian yang lain memandang, negara-negara itu lebih membutuhkan sanitasi dan air bersih dibandingkan komputer jinjing.
Namun berbagai cemoohan itu dijawab Negroponte, "Ini adalah proyek pendidikan dan bukan proyek komputer".
Karena keteguhannya dan seiring dengan perubahan waktu, mereka yang dulu mencemooh akhirnya ikut bergabung. Di bulan July yang lalu, Intel siap bergabung bersama Negroponte.
Bisa dibayangkan bagaimana wajah dunia ketika OLPC bisa mewujudkan mimpinya, menjadikan seluruh anak di dunia mendapat pendidikan dan akses informasi yang layak.
Sumber inspirasi : 1. Laptop murah mulai diproduksi 2. Mencetak Juara Gambar dipinjam dari BBCIndonesia
 Senin kemarin hari pertama masuk sekolah. Saya tidak ingat bagaimana perasaan saya ketika pertama kali duduk di bangku Sekolah Dasar, senang atau biasa-biasa saja ? Yang masih ingat, saya senang waktu masuk SMP. Saya mendapatkan suasana yang berbeda dan punya banyak teman baru. Maklum saya anak desa yang sekolah di kota. Waktu masuk SMA, rasanya biasa-biasa saja. Tidak ada hal yang baru kecuali gedung dan guru-gurunya. Hampir seluruh teman SMA saya adalah teman-teman SMP juga. Masuk SMA seperti bedol sekolah saja. Orang tua tentu senang melihat anaknya bisa menapaki tangga demi tangga pendidikan formal. Mereka juga tidak diributkan dengan biaya sekolah, sumbangan, uang gedung, seragam atau apalah namanya. Semuanya tidak memberatkan meskipun bagi orang tua saya yang guru Sekolah Dasar. Tidak banyak permainan juga, penerimaan siswa baru hanya berpatokan pada nilai danem (daftar nilai ebtanas murni). Ada sih isu, ada teman yang masuk gara-gara nyumbang mesin ketik atau batu bata untuk membangun kelas, tapi tidak sampai menggemparkan. Sekarang saya bisa merasakan kondisi yang berbeda. Angga (saya pernah cerita disini) tidak jadi masuk SMK Grafika yang menjadi keinginannya, juga keinginan orang tuanya. Orang tua Angga tidak sanggup membayar melebihi peminat yang lain. Sebenarnya sudah disediakan Rp. 1,5 juta untuk daftar ulang, sesuai informasi yang diterima dari pihak sekolah sebelumnya. Tetapi ketika daftar ulang, Angga ditolak karena bangku sudah ada yang mengisi. Ibunya kemarin cerita ke istri saya, sambil menahan tangis. Sedih sekali tidak bisa memenuhi harapan anaknya gara-gara tidak bisa menyediakan biaya daftar ulang diluar perkiraannya. Sebenarnya Angga anak yang cerdas, nilai unas-nya 27 lebih, ia yakin anaknya bisa diterima. Tapi apa daya, Angga gagal masuk SMK Grafika. Kekecewaannya semakin menjadi setelah mendengar cerita Lia. Teman Lia bisa masuk SMA Grafika padahal nilai unas-nya jauh dibawah Angga. Lia sendiri juga kecewa. Ia tidak bisa masuk jurusan kesehatan yang diinginkannya gara-gara telat membayar uang daftar ulang. Padahal Ia dan Ibunya datang tepat sesuai dengan tanggal yang ditentukan sekolah, tetapi bangku sudah penuh terisi. Rupanya sebelum tanggal tersebut, banyak orang tua yang datang ke sekolah untuk melakukan daftar ulang sekaligus membayar biayanya. Saya dan istri hanya bisa sedih mendengar cerita-cerita mereka. Bagaimana pendidikan kita kalau semuanya ditentukan oleh kuasa uang ? Ya harus dong, sekolah butuh biaya Bung ! Iya, tapi apakah tidak bisa sekolah menyediakan sebagian bangkunya untuk mereka-mereka yang cerdas tetapi secara ekonomi kurang mampu. Kalau begini hanya orang kaya saja yang bisa sekolah. Lalu biaya operasional sekolah siapa yang naggung kalau banyak yang tidak mampu ? Ya biaya operasional harus dibuat se-efisien mungkin. Biaya-biaya yang tidak ada kaitan langsung dengan proses belajar mengajar dibuat sekecil-kecilnya. Tidak perlu sekolah berlomba membangun gedung-gedung yang megah dan fasilitas yang melebihi standar hanya untuk mengejar sebutan sekolah favorit. Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana negara ini menjalankan amanah Undang-Undang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa kalau semua masyarakat tidak mempunyai kesempatan yang sama duduk di bangku sekolah. Gambar dari : http://clearinghouse.dikmenum.go.id
 “Mbak, Lia enaknya dimasukkan ke jurusan apa ya, bidang kesehatan atau pariwisata ?”
Begitulah pertanyaan Mbak Fitri kepada istri saya ketika datang ke rumah. Lia, anaknya, sudah lulus SMP, Mbak Fitri memilih menyekolahkan Lia ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), tetapi masih bingung mau memilih bidang kejuruan apa. Sebenarnya ia cenderung untuk memilih bidang kesehatan, tapi apakah nantinya mempunyai masa depan yang menjanjikan. Kalau pariwisata, ia kurang begitu tertarik, karena persepsinya tentang pariwisata adalah dunia perhotel dan hiburan yang menurutnya kurang begitu baik, pakaian yang minim dan dunia malam. Tata boga, wah kayaknya Lia tidak suka masak-memasak. Istri saya memberi pertimbangan sesuai dengan pengetahuannya dan berusaha untuk tidak mengarahkan. Para orang tua di sekitar rumah saya memang banyak yang memilih SMK dibanding SMA. Alasannya, ingin anaknya cepat bekerja sehingga cepat bisa membantu orang tuanya. Sebagian besar tetangga saya memang mempunyai ekonomi yang cukupan saja, tidak kekurangan juga tidak berlebihan. Keluarga Mbak Fitri misalnya, suaminya bekerja sebagai kondektur bus sedangkan ia sendiri tidak bekerja. Sekarang ia belajar menjahit agar nantinya bisa menerima jahitan. Kalau SMA, lulusannya belum bisa diandalkan karena tidak punya ketrampilan atau keahlian. Lulusan SMA disiapkan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Padahal biaya kuliah di perguruan tinggi sekarang sangat mahal dan butuh waktu lebih lama untuk lulus. Belum tentu juga setela lulus bisa langsung bekerja. Anak-anak mereka sebenarnya termasuk anak yang pandai. Prestasi di sekolahnya termasuk diatas rata-rata. Bahkan Angga, anak sulung Pak Rahmat, penjual nasi dan mie goreng keliling, mendapat nilai unas 27 lebih (rata-ratanya lebih dari 9). Pak Rahmat ingin memasukkan Angga ke SMK Grafika, sekolah kejuruan cetak dan sablon. Pandangan beberapa orang tua tetangga saya sangat berbeda saat saya SMP dulu. Sekolah kejuruan ibaratnya sekolah buangan, murid-murid yang masuk sekolah kejuruan adalah murid yang tidak diterima di SMA. Daripada tidak sekolah, dimasukanlah mereka ke sekolah kejuruan. Karena sumbernya sudah seperti itu banyak masalah yang muncul kemudian. Tawuran antar sekolah di kotaku dulu pasti melibatkan anak STM. Sekarang, setidaknya bagi orang tua tetangga saya, sekolah kejuruan menjadi alternatif yang tepat untuk memperpendek usia sekolah tetapi lulus dengan bekal ketrampilan dan keahlian. Mereka segera dapat diandalkan orang tuanya untuk membantu ekonomi keluarga, atau setidaknya mereka cepat bisa mandiri. Tetapi, tetap saja semuanya tergantung pada tersedianya lapangan kerja. Setrampil dan seahli apapun lulusan sekolah kejuruan tanpa ada lapangan kerja yang menampung, mereka akan sulit untuk mendapat pekerjaan. Karena ketrampilan yang diajarkan di sebagian besar sekolah kejuruan hanya ketrampilan dasar saja.
Nah bagaimana jika sekolah kejuruan juga mengajarkan entrepreneurship atau kewirausahaan, sehingga setelah mereka lulus bisa membuka lapangan kerja sendiri, tidak harus menggantungkan pada lapangan kerja yang tersedia ? Bisa nggak ya ?
Endang Lestari, siswa SMP 1 Kerjo, Karanganyar, Jawa Tengah mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri karena tidak lulus ujian nasional (unas), Jawa Pos 25 Juni 2007.
Ini salah satu bukti bahwa pendidikan kita sangat rentan dan belum mampu menciptakan jiwa yang tangguh. Seharusnya mendidik itu mengarahkan dan membimbing jiwa anak agar bisa menghadapi kehidupan sesua dengan bakat dan kemampuannya. Bukan malah menghantarkannya ke gerbang kematian.
Sistem pendidikan kita masih belum bisa menghargai dan mengapresiasi banyak kemampuan yang dimiliki anak didik. Hanya beberapa bidang kemampuan saja yang menjadi fokus dan ukurannya. Inilah malapetekanya, anak dianggap bodoh jika tidak dapat menguasai bidang yang hanya beberapa itu.
Dalam sebuah seminar beberapa tahun yang lalu Kak Seto, panggilan akrab Seto Mulyadi, pemerhati pendidikan anak memberikan pertanyaan, "dari 5 Rudy, mana yang paling sukses ?" Rudy yang pertama adalah Rudy Habibie (BJ Habibie) yang genius, pintar bikin pesawat dan bisa menjadi presiden. Yang kedua, Rudy Hartono yang pernah beberapa kali menjadu juara bulu tangkis kelas dunia. Ketiga Rudy Salam pemain sinetron yang sangat terkenal. Keempat, Rudy Hadisuwarno, ahli bidang kecantikan dan punya banyak salon di beberapa kota. Dan yang kelima Rudy Choirudin, jago masak dan sering tampil memandu acara memasak di TV. Ternyata Kak Seto memandang kelimanya adalah orang yang sukses, tentu di bidangnya masing-masing.
Pendidikan kita masih menganggap Rudy Habibie-lah yang paling sukses, sedangkan Rudy-Rudy yang lain tidak. Endang Lestari menjadi korban paradigma yang timpang itu. Endang mempunyai rata-rata unas 5,71 dari nilai bahasa Indonesia 7,8, matematika 5,0 dan bahasa Inggris 3,33. Sebenarnya nilai rata-rata Endang sudah melampaui batas nilai rata-rata lulus yang 5,0. Tetapi tetap tidak lulus karena ada syarat tidak ada nilai matinya. Nilai bahasa Inggris Endang adalah nilai mati.
Dari nilai-nilai tersebut, sebenarnya Endang tidak cukup bodoh, dan itu diakui teman-temannya, Endang adalah anak periang dan mempunyai kemampuan akademik yang cukup baik (kompas.com). Nilai bahasanya sudah sangat baik, mendekati 8. Bagimana dengan kemampuannya yang lain, seni, olahraga, tata boga ? Tidak tahu dan tidak mau tahu. Endang tetap mendapat cap "Tidak Lulus".
Dan anehnya, para orang tua juga mengamini dan memberikan cap yang sama. Cap tidak lulus dan bodoh semakin tebal seolah menutup seluruh wajahnya. Sehingga orang yang berpaling padanya akan melihat dengan jelas cap itu.
Orang tua Endang, ibunya, juga memberikan cap yang sama, bahkan lebih tebal lagi. Endang sempat dimarahi di depan teman-teman sekolahnya. Sebenarnya pihak sekolah sudah berupaya menjaga perasaan siswa yang tidak lulus. Pengumuman ketidaklulusan tidak dipajang disekolah melainkan ada guru yang memberitahu orang tua masing-masing siswa di rumahnya. Rupanya, orang tua Endang tidak bisa menahan kekecewaan sehingga ibunya menjemput Endang di sekolah. Saat itu pula Endang sempat dimarahi.
Jika dunia pendidikan dan lingkungannya belum dapat menghargai dan mengapresiasi banyak kemampuan yang dimiliki anak didik bukan tidak mungkin ada lagi yang bakal menyusul Endang di setiap pengumuman kelulusan.
Gambar dari : wikipedia
Tadi malam saya sempat nonton News Dot Com, Setitik Kebanggaan Di Tengan Keterpurukan Bangsa, yang menghadirkan Tim Olimpiade Fisika hasil didikan Prof. Yohanes Surya. Berbeda dengan acara News Dot Com biasanya, tadi malam banyak diperagakan eksperimen-eksperimen fisika. Yang menarik, salah satu eskperimennya adalah berjalan diatas bara api. Beberapa personil News Dot Com menjadi aktor dalam peregaan itu.Hebat, semua bisa melakukannya. Apa rahasianya ? ternyata ada hubungannya dengan fisika. Yohanes Surya menjelaskan bahwa berjalan diatas bara itu tidak berbahaya asal tahu caranya, sebenarnya ini merupakan gejala fisika. Bagaimana terjadinya ? Yohanes Surya kemudian membawa dua balon, satu berisi udara dan satunya berisi air. Secara bergantian kedua balon disulut dengan korek api, ternyata balon yang berisi udara meletus sedangan yang berisi air tidak."Air menyerap energi panas sehingga api tidak membakar balon, sama seperti tubuh kita, darah menyerap panas dari bara sehingga tidak melukai kaki kita, asal jangan terlalu lama, maksimal 3 detik" jelas Yohanes Surya yang disambut tepuk tangan penonton di studio. Saya juga merasa kagum, ternyata belajar fisika itu menyenangkan, bisa dihungkan dengan peristiwa yang kita alami sehari-hari. Saya membandingkan dengan pelajaran fisika saya waktu di SMA. Wah beda banget, penuh dengan rumus-rumus yang harus dihafal dan minim alat peraga. Guru fisikapun cenderung menakutkan.
Sama halnya ketika belajar matematika, sangat menjemukan, papan tulis isinya angka melulu. Sampai-sampai ada salah satu teman saya yang trauma berat, setiap pelajaran matematika kepalanya pusing dan mau muntah. Pokoknya kalau lihat angka bawaannya perut mual.
Mungkin akan lain jika matematika itu diajarkan oleh Siradjudin, Kepala Sekolah SD 43 Mataram NTB. Belajar matematika versi Siradjudin ini banyak menggunakan peraga, contohnya menggunakan mobil-mobilan untuk mengajarkan konsep perkalian. Siradjudin menyadari bahwa belajar matematika itu menjadi momok bagi sebagian siswanya. Makanya dengan alat yang sederhana ia membuat alat banyak alat peraga untuk mengajarkan matematika sambil bermain. Ide membuat peraga dari mobil mainan itu juga dari mainan anak-anak hadiah dari membeli makanan ringan.
Jika saja Indonesia mempunyai banyak pendidik seperti Yohanes Surya dan Siradjudin, mungkin fisika dan matematika tidak lagi menempati urutan terakhir rata-rata nilai siswa dan banyak ahli dari kedua bidang tersebut lahir di Indonesia.
 Tanggal 23 April kemarin diperingati sebagai World Book Day, hari buku sedunia. Baru pertama kali ini saya mendengar ada hari buku, mungkin aku bukan pecinta buku sejati. Di Indonesia sendiri baru dua kali dirayakan. Yang pertama tahun kemarin, atas prakarsa Forum Indonesia Membaca. Melihat sejarah dicetuskannya hari buku dunia memang unik. Dimulai jaman abad pertengahan, pada tanggal 23 April ada tradisi dimana laki-laki memberikan mawar kepada perempuan, kekasihnya. Sejak 1923, untuk menghormati Miguel de Cervantes, seorang pengarang dari Spanyol, para pedagang buku merubah tradisi mawar tersebut. Perempuan yang diberi mawar membalasnya dengan memberi buku. Tahun 1995, Konferensi Umum UNESCO di Paris memutuskan tanggal 23 April sebagai hari buku dunia. Seberapa pentingnyakah buku sehingga perlu ada hari buku setiap tahunnya ? Fasli Jalal dan Nina Sardjunani dalam sebuah papernya menghubungkan antara tingkat literasi (melek huruf) dengan harapan hidup masyarakat. Ternyata ada korelasi yang positif antara keduanya, artinya semakin tinggi tingkat literasi sebuah masyarakat semakin tinggi pula harapan hidupnya. Literasi sendiri secara sederhana diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis. Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, literasi mempunyai arti kemampuan memperoleh informasi dan menggunakannya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Menilik literasi negara-negara lain di dunia, Indonesia berada pada urutan ke-95 dari 176 negara, dibawah Malaysia, Vietnam, Singapura dan Filipina. Ya, kita harus berjuang lebih keras lagi. Untuk meningkatkan tingkat literasi masyarakat yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah meningkatkan minat bacanya. Masyarakat dengan minat baca yang rendah tentu tingkat literasinya juga rendah. Tetapi jangan salah, minat baca belum tentu dipengaruhi oleh keadaan ekonomi, orang kaya belum tentu mempunyai minat baca yang tinggi. Minat baca lebih dipengaruhi oleh persepsi masyarakat terhadap informasi. Apakah menilai informasi berguna bagi kelangsungan hidup dan masa depan atau tidak ? Kampanye meningkatkan minat baca lebih baik dimulai dengan penyadaran pentingnya informasi bagi kualitas hidup masyarakat dan menjamin masa depannya kelak.
 Mencermati dunia blog sangat mengasikkan. Tidak saja bisa saling tukar informasi tetapi yang lebih penting kita bisa berdiskusi dan saling berinteraksi. Salah satu blog yang sangat menarik untuk diperhatikan dan menjadi perbincangan bloger akhir-akhir ini adalah IPDNmania. Ditengah pandangan masyarakat yang menilai IPDN adalah suatu kecelakaan dalam dunia pendidikan, IPDNmania berdiri menentang arus itu. "Kami adalah putra putri terbaik bangsa" menjadi header pada blog itu. Dalam kasus kematian beberapa praja akibat sistem pendidikan bergaya militer, beberapa artikel dalam blog ini menganggap itu adalah sebuah kewajaran. Untuk menciptakan pemimpin yang berkualitas diperlukan mental dan fisik yang kuat. Kedisiplinan merupakan syarat mutlak untuk mencapai tujuan itu. Sehingga wajar jika ada sangsi yang tegas dan keras jika ada praja yang melanggarnya. Kematian adalah resiko bagi calon pemimpin bangsa. Bisa dibayangkan bagaimana kerasnya tanggapan pada blog tersebut. Hujatan, makian dan kata-kata kotor selalu menghiasi reply artikel-artikelnya. Teman saya juga berekasi sama ketika tahu dan membaca blog tersebut. Saya yakin jika dilakukan jejak pendapat mengenai IPDNmania, hasilnya tidak jauh beda dengan reply dan reaksi teman saya itu. Tidak ada sedikitpun informasi siapa penggagas dan pengelola IPDNmania. Ada yang menduga pengelolanya adalah praja atau mantan praja IPDN sendiri, setidaknya orang tersebut mempunyai hubungan yang dekat dengan IPDN. Tujuannya ingin mengimbangi atau sebagai tandingan informasi yang berkembang di masyarakat yang cenderung memojokkan institusi atau lembaganya. Salah satu artikenya yang berjudul " waspadai kontras kaya vs miskin dalam agenda anti ipdn", penulis ingin mengarahkan opini pembacanya untuk tidak ikut-ikutan anti IPDN karena ada agenda terselubung di baliknya. Penulis menduga ada pihak-pihak yang sengaja menciptakan pandangan yang jelek tentang IPDN dengan tujuan masyarakat bereaksi keras dan membubarkan IPDN. Lowongan pekerjaan Depdagri akan terbuka luas jika IPDN dibubarkan. Simak salah satu paragraf dalam artikel tersebut : kayaknya makin jelas kebaca deh semua agenda ini… supaya ipdn dibubarin lantas lowongan depdagri buat semua orang trus anak2 orang kaya dari univ keren pada masuk soalnya duit kan bukan soal buat mereka. dengan menguasai instansi pemerintah mereka akan lancar dalam sepak terjang bisnisnya Tapi menurut Ndoro Kakung, pembuat blog dimungkinkan juga bukan orang dalam IPDN, tetapi blogger yang sekedar ingin mengail popularitas di air yang memang sudah keruh. Mungkin juga kerjaannya teliksandi yang memang suka memancing-mancing, atau memang bukan siapa-siapa, semuanya tidak tahu. Bersikap BijakSaya sependapat dengan Ndoro Kakung, lebih baik jika kita tidak terlalu serius menanggapi blog yang semacam ini, apalagi ikut-ikutan perang, marah-marah, menghujat dan sebagainya. Santai saja, baca dan simak secara seksama. Syukur kalau kita bisa menanggapi dengan pemikiran yang lebih cerdas dan mencerahkan, akan sayang bermanfaat bagi orang lain daripada sekedar menghujat dan marah-marah. Selama belum ada pembatasan akses internet seperti di China, berbagai macam informasi dan tanggapan atau reaksi yang sangat beragam pasti akan kita temui. Mulai dari yang paling ekstrim sampai yang moderat, ada juga yang netral, tidak bersikap dan tidak menilai. Semuanya kembali kepada kita bagaimana memanfaatkan informasi tersebut dan memaknainya sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut. Memang akhirnya tidak ada kesimpulan yang benar-benar benar, semuanya serba relatif tergantung siapa yang menaknai dan meyimpulkannya.
Dalam keadaan yang sulit, kita tentu bangga melihat anak-anak mampu memiliki cita-cita di masa depan. Tentu kita akan lebih bangga bila mampu memberikan kesempatan bagi mereka untuk mewujudkannya.Bersama seorang teman, saya berkunjung ke sanggar tempat anak-anak dari keluarga miskin berkumpul setelah pulang sekolah. Mereka sangat senang ketika ada orang baru datang berkunjung, apalagi tahu kalau mereka akan di foto, mereka berebut mengambil tempat paling depan sambil menunjukkan ekspresi wajah masing-masing. Mbak Novi, koordinator sanggar mendampingi kami dan menjelaskan kegiatan-kegiatan untuk anak-anak di sanggar. "Semua keigiatan disini bertujuan untuk memperluas pandangan anak-anak tentang masa depan, jangan hanya terpaku pada lingkungan sekitar, kami berharap mereka punya cita-cita yang beragam, tidak hanya ingin menjadi tukang becak, pemulung atau pedagang seperti orang tuanya" Mbak Novi menjelaskan visi dan misi sanggar. Sanggar ini melakukan pendampingan kepada anak-anak sejak usia sebelum sekolah (pra-sekolah) sampai mereka lulus Sekolah Menengah Atas. Pendampingan itu untuk mencegah anak-anak menjadi anak jalanan atau buruh anak, memberi mereka kesempatan pendidikan yang lebih baik sehingga dapat merasakan manfaat pendidikan bagi dirinya maupun keluarganya. "Mereka mempunyai hak untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam bercita-cita dan mewujudkannya" lanjut Mbak Novi. Memang anak-anak di sanggar itu sebagian besar berasal dari keluarga yang secara ekonomi kurang mampu sehingga terpaksa harus bekerja di jalan atau melakukan pekerjaan yang berbahaya dan beresiko pada kesehatannya. Karena kondisi itu hak mereka untuk mendapatkan pendidikan dikorbankannya. Saya sangat senang berada di tengah-tengah mereka, dalam himpitan ekonomi keluarganya mereka masih dapat bermain dengan riang gembira dan bersemangat mengikuti semua kegiatan di sanggar. Saya pun berkeliling melihat-lihat ruangan-ruangan belajar anak-anak. Di dinding ruang depan terpasang absen yang unik, nama-nama anak di tulis di kertas yang berbentuk buah. Anak yang masuk buahnya berwarna, sedangkan yang tidak masuk buah kertas dipasang terbalik sehingga hanya nama dan warna putih yang terlihat. Selain itu berbagai lukisan dan berbagai kerajinan hasil karya anak-anak sanggar dipamerkan di ruang ini. Saya pun melihat anak-anak bermain ular tangga di ruang tengah. Salah satu kotak ular tangga berisi perintah bercerita kegiatan dari pagi sampai sore ini. Salah satu dari mereka mendapat giliran bercerita. Dengan suara khas anak-anak iapun bercerita "Pagi saya bangun tidur lalu mandi pakai sabun, ondol dan sam-pooo. Setelah berpakaian saya berabgkat ke sekolah........" Saya tersenyum karena ia menyebut ondol untuk odol. Di sela kegembiraan saya, ada kegetiran yang terasa ketika Mbak Novi bercerita bagaimana sulitnya berkoordinasi dengan sekolah tempat akan-anak belajar, terutama masalah pendanaan. Banyak pungutan liar yang peruntukannya tidak jelas, "Setiap pengeluaran kami, harus kami laporkan ke donatur Mas, jadi kami tidak bisa memenuhi berbagai pungutan atau iuran di luar kegiatan belajar mengajar, itupun harus jelas dan ada buktinya. Terkadang kalau diminta bukti pembayaran, sekolah tidak mau memberikannya. Di situlah kami sering uring-uringan dengan sekolah" cerita Mbak Novi. "Ada satu lagi Mas" tambahnya, "Buku-buku penunjuang yang diberikan pada anak-anak sering kami beli dari luar, soalnya kalau beli di sekolah mahal dan lagi, bukti pembayarannya tidak bisa diminta, kan repot, bagaimana kami membuat laporan jika tidak ada buktinya" Kegetiran itu segera terlupakan ketika melihat Sugik, salah satu anak sanggar menerima suapan vitamin dari kakak mentornya, kami semua tertawa melihat ekspresinya. "Semoga vitamin itu bisa membuat kamu sehat, bisa bersemangat untuk sekolah dan bisa merangkai cita-citamu" doa saya. Suapan vitamin itu tanda kalau kegiatan sore ini berakhir, anak-anak pulang. Kami pun berpamitan dan mengucapkan banyak terima kasih karena diperbolehkan berkunjung ke sanggar ini. Mbak Novi sempat meminjamkan CD foto-foto kegiatan outbond, "tapi dikembalikan ya Mas" katanya sambil tersenyum.
 Dalam beberapa artikel yang saya baca menyebutkan bahwa berbagai masalah yang dialami bangsa Indonesia dapat diselesaikan, salah satunya dengan meningkatkan tingkat pendidikan masyarakat. Pendidikan adalah investasi sebuah bangsa. Pembangunan sektor pendidikan diyakini dapat menumbuhkembangkan sektor-sektor yang lain. Untuk itu sejak 1984 pemerintah melaksanakan program wajib belajar (wajar) 6 tahun dan sepuluh tahun kemudia, 1994 ditingkatkan menjadi 9 tahun. Komitmen pemerintah dalam bidang pendidikan tercermin juga pada alokasi anggaran untuk pendidikan. Pada 2007 mendatang, anggaran pendidikan ditingkatkan menjadi 14,7 persen atau Rp 43,489 trilyun, lebih besar dibanding 2006 yang hanya 12 persen. Usaha itu mendapatkan hasil, berdasarkan laporan UNDP 2004, angka partisipasi sekolah untuk penduduk usia 7 sampai 12 tahun mencapai 96,1 persen dan usia 13 sampai 15 tahun 79,3 persen. Artinya hampir seluruh penduduk Indonesia sudah dapat menikmati sekolah sampai sekolah dasar (SD) dan 79,3 persen sampai tingkat SMP. Prestasi tersebut cukup menggembirakan dan kita pantas berharap bangsa ini mempunyai sumber daya manusia yang cukup untuk membawa bangsa ini tumbuh menjadi bangsa yang besar. Namun demikian pencapaian tersebut perlu dibandingkan dengan indikator-indikator yang lain agar jangan menjadi fatamorgana yang menyesatkan. Tadi pagi saya mengikuti sebuah diskusi yang membicarakan tentang keterkaitan antara partisipasi sekolah dan pengangguran. Kresnayana Yahya, sebagai salah satu pemateri menyampaikan adanya kecenderungan daerah-daerah di Jawa Timur yang mempunyai angka partisipasi sekolah yang tinggi juga mempunyai tingkat pengangguran terbuka (usia 15 tahun keatas) yang tinggi pula. Menurut saya dan sebagian peserta diskusi yang lain merasa ini sebuah keanehan. Bagaimana bisa kecenderungan itu terjadi ? Lalu, apakah dapat disimpulkan bahwa pendidikan tidak membawa dampak pada penyerapan tenaga kerja, sehingga banyak yang menganggur ? Masih menurut Kresnayana Yahya, fenomena ini disebabkan karena pendidikan kita lebih banyak menyiapkan anak didiknya untuk bekerja di bidang industri dan kecenderungan masyarakat kita yang mendambakan bekerja menjadi pegawai negeri, terbukti dengan semakin banyaknya pendaftar dalam setiap tes pegawai negeri. Padahal lapangan kerja untuk sektor industri semakin sempit dan daya tampung pegawai negeri juga kecil. Pendidikan belum mampu menyiapkan anak didiknya untuk kreatif dan inovatif menciptakan lapangan kerja. Itu kasus di Jawa Timur, bagaimana dengan Indonesia ? Saya iseng-iseng mencari data partisipasi sekolah dan tingkat pengangguran daerah-daerah di Indonesia. Saya menemukannya di laporan UNDP 2004. Dari angka partisipasi sekolah SD dan SMP digabung dengan tingkat penganggurannya, saya membuat dua kelompok daerah. Kelompok I, daerah-daerah dengan rata-rata partisipasi sekolah SD 96,96 persen dan SMP 84,96 persen. Kelompok II, rata-rata partisipasi sekolah SD 92,34 persen dan SMP 72,97 persen. Ternyata kecenderungan di Jawa Timur terjadi juga pada Indonesia. Dareah-daerah dengan partisipasi sekolah tinggi, Kelompok I, mempunyai tingkat pengangguran yang lebih tinggi dibanding daerah-daerah dengan angka partisipasi sekolahnya rendah, Kelompok II. Jadi, usaha untuk meningkatkan tingkat pendidikan yang sudah terlihat keberhasilannya, harus dibarengi dengan peningkatan mutu pendidikan agar lulusannya menjadi manusia yang lebih kreatif yang mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.
| |