catatan kecil imam isnaini

imam's posts with tag: psikologi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag psikologi
Blog EntryAnti SosialApr 25, '07 10:36 PM
for everyone
Manusia ditakdirkan menjadi mahkluk bersosial, artinya manusia mempunyai kebutuhan untuk berhubungan dengan manusia yang lain. Lihat saja mulai lahir sampai mati, manusia tidak bisa hidup sendiri. Manusia mandiri bukan berarti manusia yang terlepas sama sekali dengan manusia yang lainnya.

Manusia yang lari dari kebutuhan bersosialisasi, mengurung diri dan tidak mau bergaul menimbulkan efek negatif pada dirinya sendiri bahkan bisa membahayakan orang lain.

Dalam perjalanan hidupnya, seorang manusia tidak akan terlepas dari masalah. Agama sendiri mengajarkan bahwa manusia akan selalu mendapatkan ujian. Bukan karena Allah benci, justru ujian itu untuk menguatkan kemanusiaannya. Disini manusia berbeda-beda, ada yang menganggap masalah dan ujian sebagai beban dan meresahkannya, tetapi ada yang menganggapnya sebagai tantangan yang memacunya untuk tetap bersemangat menghadapinya.

Ada ungkapan yang sangat indah, "berbagilah ketika menghadapi masalah, niscaya masalah itu akan berkurang dan berbagilah pula ketika mendapat kesenangan, niscaya kesenangan itu akan bertambah". Berbagi menjadi kunci bagi manusia untuk menjalani hidup di dunia ini.

Tentu kita semua prihatin dan sedih membaca dan melihat berita pembantaian di Virginia Tech beberapa waktu yang lalu. Kitapun bertanya-tanya, mengapa pelaku dengan santainya melakukan pembantaian itu, bahkan sempat mengirimkan foto dan videonya ke media setempat ?

Pelaku terkenal sebagai orang yang tertutup, suka menyendiri dan susah bergaul. Enggan untuk bercakap-cakap dengan temannya. Jika ditanya ia hanya menjawab singkat-singkat saja.

Dilihat dari latar belakan keluarganya, memang banyak masalah yang dihadapinya. Keluarganya termasuk sangat miskin di tempat asalnya. Karena itulah mereka merantau ke Amerika untuk memperbaiki taraf hidupnya. Di Amerika, mereka tinggal di pinggiran kota Washington DC dan mempunyai usaha pencucian pakaian.

Kondisi keluarga yang jauh berbeda dengan lingkungannya menyebabkan ia merasa tersisih dari komunitasnya. Ia benci pada orang kaya dan pesta pora. Ia menyebut mereka sebagai penipu.

Saya sendiri tidak tahu pasti apakah peristiwa itu tidak terjadi jika pelaku adalah orang yang pandai bergaul, punya banyak teman dan bisa berbaur dengan lingkungannya. Tetapi penelitian seorang ahli psikologi membuktikan bahwa amarah dapat diredam jika ada seseorang yang mendampinginya.

Beberapa sukarelawan dikumpulkan dalam sebuah ruangan, seorang asisten ditugaskan untuk memarah-marahi mereka dan menunjukkan sikap yang tidak menyenangkan. Para sukarelawan diminta untuk memberi penilaian. Hasilnya sebagian besar sukarelawan memberi penilaian yang buruk.

Kemudian asisten yang lain masuk dan memberi penjelasan bahwa temannya tadi sedang mendapat banyak masalah, saat ini ia sedang mengerjakan tugas akhir yang selalu ditolak oleh dosennya. Ternyata penjelasan ini membuat sukarelawan mengerti dan merubah penilaiannya.

Sebagai mahkluk sosial manusia membutuhkan teman atau pendamping untuk berbagi dan saling membantu memahami lika-liku kehidupan yang dijalaninya. Manusia tidak bisa hidup dengan sikap anti sosial. Karena itu "Carilah teman yang sebanyak-banyaknya karena seribu teman masih kurang dan jangan cari musuh karena satu musuh pun sudah kebanyakan".

Blog EntryBunuh Diri Dan Pengendalian Emosi Pada AnakDec 25, '06 9:19 PM
for everyone
Bagi orang tua, sangat sulit memahami peristiwa bunuh diri yang dilakukan anak-anak pada tahun-tahun terakhir ini. Melihat dari usianya saja, sudah menimbulkan pertanyaan, bagaimana mereka, yang masih belasan tahun mempunyai pikiran mengakhiri hidupnya secara tragis ? Apalagi melihat penyebab yang melatarbelakanginya, hanya masalah sepele bahkan sangat sepele.

Kita buka arsip media tiga tahun terakhir. Tahun 2004, Yudianto (12) siswa SDN 1 Karangtengah, Kecamatan Ampelgading, Pemalang, meninggal bunuh diri di atas ranjang ibunya. Diduga Yudianto nekat bunuh diri karena kecewa mendapatkan nilai jelek untuk pelajaran IPA dan setelah dimarahi ibunya. (Suara Merdeka, 04 Agustus 2004)

Tahun 2005, Eko Haryanto (15) siswa kelas VI SD Kepunduhan 01, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, mencoba bunuh diri di rumahnya gara-gara merasa malu menunggak uang sekolah selama sembilan bulan. Setiap bulannya Eko dikenai biaya sekolah 5 ribu rupiah. Untung nyawanya masih bisa diselamatkan. (Kompas, 03 Mei 2005)

Bulan ini, 16 Desember, Tosan (11), warga RT. 09/04, Dusun Kotakan Utara, Desa Kotakan, Kecamatan Situbondo, ditemukan tetangganya sudah tidak bernyawa di pohon mangga dekat rumahnya. Gara-garanya sangat sepele, hanya karena kehilangan layang-layang dan benangnya. (tempointeraktif, 16 Desember 2006). Kalau lebih detail mencarinya, masih banyak kasus-kasus serupa di arsip media.

Perilaku menyimpang pada anak, seperti kasus bunuh diri, banyak disebabkan karena ketidaksiapan anak menyikapi kondisi lingkungan sekitarnya. Kecewa pada kondisi keluarganya yang miskin, rasa malu karena prestasi yang rendah dan amarah yang tidak terkendali. Penyimpangan yang terjadi bersumber pada ketidakmampuan anak mengelola dan mengendalikan emosinya.

Benar, sejak awal, anak-anak harus dibiasakan mengelola dan mengendalikan emosinya agar lebih bijaksanya merespon kondisi lingkungan yang dihadapinya. Lantas, bagaimana mengajarkan anak untuk bisa mengelola dan mengendalikan emosi ?

Masa perkembangan anak mulai bayi sampai akhir masa pubertas (16 sampai 18 tahun) merupakan masa yang sangat penting dan menentukan masa depan anak. Karena sangat pentingnya, masa ini biasa disebut sebagai masa emas perkembangan anak. Otak berkembang dengan sangat cepat. Ketika anak baru lahir, otak mempunyai sambungan syaraf yang lebih banyak dibanding masa dewasanya. Melalui proses yang dikenal sebagai "pemangkasan", otak terus menerus menghilangkan sambungan syaraf yang jarang digunakan, dan memperkuat sambungan yang sering digunakan. Otak dapat terbentuk karena pengalaman-pengalaman yang diterimanya.

Torsten Nils Wiesel dan David Hunter Hubel, peraih hadiah nobel untuk psikologi medis, membuktikannya. Kedua ilmuan ini melakukan percobaan pada hewan, kucing dan kera. Terdapat masa kritis perkembangan otak pada kedua hewan tersebut yang lamanya beberapa bulan sejak dilahirkan, otak menerima sinyal-sinyal yang dikirimkan oleh indranya. Selama masa kritis ini, salah satu mata ditutup sehingga jumlah sinyal yang dikirimkan ke otak berkurang, sedangkan sinyal dari mata yang terbuka tidak mengalami perubahan. Setelah masa kritis berakhir, penutup mata di buka kembali. Apa yang terjadi ? Mata yang ditutup mengalami kebutaan secara fungsional, tidak ada cacat pada mata itu, hanya sambungan saraf ke otak yang mengalami penyusutan sehingga terlalu sedikit sinyal yang diterima otak.

Hal yang sama akan terjadi pada manusia, hanya saja masa kritisnya lebih lama, kurang lebih enam bulan. Seandainya pada masa kritis tersebut, mata anak kecil ditutup selama beberapa minggu saja, akan terjadi penurunan kemampuan melihat pada mata tersebut.

Masa kritis untuk perkembangan emosi lebih lama dibandingkan wilayah indranya. Bagian otak tempat pengendalian diri, pemahaman dan respon yang bijaksana terus tumbuh sampai akhir masa pubertas, kurang lebih usia enam belas sampai delapan belas tahun. Kebiasaan mengelola emosi yang berulang-ulang pada masa ini akan memperkuat sambungan syaraf di otak sehingga sinyal yang diterima semakin banyak. Sambungan yang kuat ini akan menjadi permanen ketika anak menjadi dewasa nanti.

Orang tua hendaknya memperhatikan masa kritis ini. Kesalahan memberikan perlakuan kepada anak akan membentuk sikap emosi yang salah pada anak ketika dewasa. Tiga perlakuan pada anak yang umunya tidak efisien dan mengganggu perkembangan emosi anak adalah :

Mengabaikan perasaan anak. Menganggap emosi anak sebagai hal yang kecil atau gangguan. Respon yang diberikan kepada anak biasanya berupa bentakan, lebih parahnya menjurus kekerasan fisik. Orang tua dengan gaya seperti ini gagal memanfaatkan momentum emosi anak sebagai peluang membangun hubungan yang dekat dengan anak dan melewatkan kesempatan untuk memberikan pelajaran bagi anak trampil secara emosional.

Tawar-menawar yang cenderung menyuap. Orang tua ini sudah peka pada emosi anak, tetapi penyelesaian dilakukan dengan tawar-menawar yang cenderung menyuap. Misalnya, anak menangis ingin ikut ayahnya bekerja, ibunya mengiming-iming memberikan sesuatu dengan catatan harus berhenti menangis, tanpa ada penjelasan mengapa anak tidak boleh ikut ayahnya bekerja.

Mencela dan menghina. Orang tua semacam ini tidak menghargai perasaan anak. Setiap emosi anak ditanggapi dengan cacian, celaan dan kecaman. Kata-kata "bandel", "bodoh", "tak tahu aturan", sering terlontar pada anaknya.

Memang otak manusia terus berkembang selama hidupnya, tetapi akan lebih sulit memberikan pelajaran yang bersifat korektif pada anak ketika mereka sudah dewasa. Anak yang sudah trauma sulit sekali dikembalikan pada kondisi normal . Jadi orang tua harus berhati-hati memberikan pengalaman pada anak di masa kritisnya. Pengalaman yang diterima anak sangat berpengaruh pada masa depannya nanti.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help