imam's posts with tag: renungan
Suatu saat saya ditanya oleh seorang bapak di sebuah stasiun kereta, bagaimana cara menuju suatu tempat. Saya menerangkan sepengetahuan saya. "Untuk menuju ke tempat itu harus pindah-pindah angkutan umum" kata saya. Eh, bapak itu bilang, "kalau begitu naik taksi saja, terlalu ribet kalau naik angkutan umum."
"Tidak apa-apa kalau Bapak mau naik taksi, tapi harus hati-hati, jangan sembarang naik taksi, nanti dibohongi," saya mencoba menyarankan.
Di luar dugaan, dengan tersenyum bapak itu menjawab, "tidak apa-apa, tiap hari kan kita sering berbohong, jadi tidak apa-apa sekali-kali dibohongi, wajar saja kan."
Wah saya kaget sekali. Belum pernah saya mendengar logika semacam itu. Yang sering saya dengar adalah nasehat para orang tua, "kalau tidak suka dibohongi, ya jangan berbohong", sama juga seperti "kalau dipukul itu sakit, ya jangan memukul".
Tapi pukul-memukul itu dianggap wajar dalam dunia tinju, malah diharuskan. Kalau seorang petinju tidak bisa memukul, ia akan kalah dan otomatis peringkatnya akan menurun. Kualitas seorang petinju diukur dari kualitas pukulannya, seberapa kuat pukulannya itu dapat merobohkan lawannya.
Nah, kalau berbohong itu sudah dianggap wajar, merujuk pada dunia pertinjuan, berarti kita hidup di dunia para pembohong. Dunia dimana kualitas orang diukur dari seberapa pintar orang itu melakukan kebohongan. Semakin sulit kebohongannya terungkap maka semakin terhormatlah Ia.
Kemuliaan pun diukur dari baju dan topeng yang dikenakan, bukan dari perilaku hidupnya sehari-hari. Karena itu, setiap hari orang disibukkan menghias dan mempercantik baju dan topengnya itu untuk mendapat kemuliaan. Saking sibuknya, orang lupa akan isinya. Sehingga banyak kita jumpai orang yang berparas tampan dan cantik, tapi lupa ketampanan dan kecantikan perilakuknya.
Bagaimana para pemimpinnya? Pemimpin yang terpilih adalah orang yang paling pandai merangkai kebohongan menjadi janji-janji. Terpilihnya Ia seolah menjadi pelita penerang dalam kegelapan, padahal Ia kegelapan itu sendiri. Janji mengentaskan kemiskinan, padahal kemiskinan itulah modalnya meraih kekuasaan.
Semakin sulit mencari orang yang tetap memegang kejujuran. Orang semacam itu sudah tersingkir dan terpinggirkan. Kalau pun ada hanya menjadi sampah yang mengotori, yang membikin sumpek dan sesak para pembohong. Sistem dibuat agar orang jujur terpaksa berbuat bohong. Karena jika kebohongan terungkap, semuanya akan kena.
Kejujuran menjadi barang langka dan sangat mewah. Justru karena langka dan mewah itu jarang sekali orang yang memegangnya. Paling-paling hanya melihat dan mengaguminya, lalu segera melupakannya.
 Pada kondisi yang sangat kritis karena kanker hati yang dideritanya, Yu Rah, pembantu di rumah kami tetap tersenyum. Setiap saya masuk ke kamarnya di rumah sakit tempatnya berbaring, ia selalu menunjukkan wajah yang sumringah, meski kondisi fisiknya tidak bisa berbohong, ia sangat lemah. Dokter yang menangani pernah mengatakan pada kami yang menungguinya, "ibu ini semangat hidupnya tinggi sekali, sangat membantu menstabilkan kondisinya. Biasanya, dalam kondisi seperti ini, pasien sudah shock dan koma." Sudah beberapa kali ia muntah dan berak darah. Dalam frekuensi yang hampir sama, cairan yang menumpuk dalam tubuhnya dikeluarkan melalui selang yang dimasukkan melalui hidung dan mulut. Tapi setiap kami bertanya tentang keadaannya, ia selalu menjawab, "alhamdulillah sudah lumayan enak kok." Semangat untuk tetap hidup memang lebih penting dibanding hidup itu sendiri. Orang hidup yang tidak mempunyai semangat layaknya mayat yang berjalan. Pembantu saya mempunyai seorang anak yang sudah duduk di bangku SMP. Suaminya sudah meninggal saat anaknya masih kecil karena penyakit yang sama seperti yang saat ini dideritanya. Kami menduga, ia tertular penyakit suaminya. Karena ia bekerja pada kami, anaknya dititipkan pada keluarganya di kampung. Awalnya memang agak berat meninggalkan anaknya sendirian tanpa ia tunggui. Tapi setelah beberapa saat ia mengetahui anaknya tumbuh lebih dewasa. Sekolah dan mengajinya tambah rajin. Berbeda ketika ia berada di rumah, semuanya tergantung padanya. Segala keperluan sekolah dan mengaji selalu ia yang menyiapkan. Makanpun sering minta disuapin. Karena itulah ia semakin tenang bekerja. Alasan lain, ia ingin mengumpulkan biaya untuk sekolah anaknya. Ia ingin agar anaknya bisa sekolah sampai setinggi-tingginya, tidak seperti dirinya, SD saja tidak tamat. Cita-citanya itulah yang membuat semangat hidupnya menggebu. Ia tidak perduli penyakit yang dideritanya itu apa, yang penting ia harus segera sembuh dan bekerja lagi. Hubungan baik antar sesama manusia menumbuhkan semangat dan menjadi alasan mengapa ia harus tetap hidup. Tidak hanya hubungan antara orang tua dan anak saja, hubungan persahabatan dan pertemanan yang baik sudah cukup menguatkan semangat hidup seseorang. Tidak salah jika agama menganjurkan agar selalu menjalin tali silaturahim antar sesama umat manusia. Janji bagi siapa yang menyambung tali silaturahmi akan dipanjangkan umurnya itu benar adanya. Masih kurang percaya? Saya kutibkan hasil studi ilmiah dari buku " Social Intelligence" yang ditulis Daniel Goleman. Studi itu tentang orang-orang tua yang dirawat di rumah sakit karena gagal jantung. Bagi mereka yang tidak mempunyai siapa-siapa yang bisa mereka andalkan untuk dukungan emosi, mempunyai kemungkinan tiga kali lebih besar untuk mengalami serangan yang lain yang membuat mereka perlu kembali ke rumah sakit untuk dirawat dibandingkan mereka yang mempunyai relasi yang hangat dengan orang lain. Nah, bagi yang ingin dipanjangkan umurnya, jadilah orang tua yang menyenangkan, bos yang menyemangati karyawan serta carilah teman atau sahabat sebanyak-banyaknya dan jalinlah relasi yang baik dengan mereka. Sebaliknya, jadilah orang tua yang kejam, bos yang bengis dan teman yang menyebalkan kalau kita ingin didoakan cepat meninggalkan dunia ini. ---------------------------------------- Gambar diilustrasikan oleh John Shakespear yang saya ambil dari sini
Membaca catatan Dahlan Iskan saat menjalani proses transplantasi hati memang sangat menarik. Selain gaya bahasanya yang ringan, juga ada banyak pelajaran dan pengetahuan yang didapat. Ada yang mencemooh, mengapa pengalaman yang "biasa" seperti itu dimuat di Jawa Pos sampai berseri-seri. Apa hanya karena ia pemimpin Jawa Pos sehingga tulisan-tulisan itu terus dimuat setiap hari. Coba kalau orang lain yang menulis, tentu banyak pertimbangan untuk dimuat di harian itu sekali terbit saja. Tapi banyak juga yang sangat senang dengan tulisan itu. Termasuk dari istri almarhum Nurcholis Majid yang sangat berterima kasih karena dalam salah satu serinya menjelaskan ketidakbenaran fitnah yang ditujukan kepada Cak Nur. Mengetahui banyak yang merespon positif, Jawa Pos menerbitkan 33 seri catatan Dahlan Iskan itu dalam sebuah buku. Judulnya "Ganti Hati". Luar biasa, hanya dalam waktu seminggu 30 ribu cetakan pertama sudah ludes. Rabu kemarin, Dahlan Iskan menulis kembali di harian yang sama, kini tentang "Kinerja 100 Hari Kabinet Organ setelah Ganti Hati". Yang menarik, ia mengisahkan banyak teman-temannya yang mengingatkan, bahkan mengancam bos Jawa Pos itu untuk tidak terlalu percaya diri karena merasa sudah sehat seperti orang normal lagi: jangan over convident!, kata teman-temannya Kemudian ia bertutur, "over convident" adalah musuh tingkat kedua dalam miniti jalan sukses hidupnya. Musuh tingkat dua ini lebih sulit dihadapi dibanding musuh tingkat satu, "rasa takut". Menghadapi musuh tingkat satu sangat mudah katanya, musuh ini tidak sakti. Banyak orang yang sudah sangat mahir mengalahkan rasa takut. Hanya sebagian kecil saja yang gagal. Ketika sudah bisa mengatasi rasa takut, orang jadi percaya diri. Kesuksesan demi kesuksesan diraihnya. Ketika sudah sukses, banyak orang yang lupa diri dan merasa mampu yang berlebihan sehingga gagal meraih sukses lanjutannya. Percaya diri yang berlebihan menjadi musuh orang yang sukses. Bagi yang berhasil mengalahkan musuh tingkat kedua, datanglah musuh tingkat ketiga yaitu "kekuasaan". Sebenarnya kekuasaan itu hasil dari kesuksesan yang didapat, tetapi kekuasaan akan menjelma menjadi musuh ketika orang lupa diri dan tidak pandai menggunakan kekuasaan itu. Orang yang gagal mengalahkan kekuasaan akan jatuh, akibatnya lebih sakit dibanding jatuh karena gagal meraih kesuksesan. Semakin sedikit orang yang berhasil mengalahkan musuh yang ketiga ini. Yang sedikit itu biasanya menjadi orang yang selalu dihormati karena kebijaksanaannya. Kata-katanya menjadi petuah yang selalu dituruti banyak orang. Kebahagiaan menyertai perjalanan hidupnya. Tetapi, sedikit orang inipun akan menghadapi musuh yang sangat sakti, yaitu "umur". Saking saktinya tidak ada satu orangpun yang bisa melawannya. Umur terus berjalan, mengurangi sedikit demi sedikit jatah hidup kita di dunia. Sampai suatu saat semua orang akan tunduk pada habisnya umur, alias mati. Hanya satu yang bisa dilakukan untuk menghadapinya, bukan melawan, yaitu mempersiapkan sebaik-baiknya menyongsong habisnya umur. -------------------------------------------- Catatan Dahlan Iskan : "Kinerja 100 Hari Kabinet Organ setelah Ganti Hati" dapat dibaca di sini.
"Bahagia" adalah salah satu misteri yang sampai sekarang belum ada definisi yang diterima oleh semua orang. Ya. Setiap orang mempunyai definisi sendiri-sendiri tentang bahagia. Terkadang, definisi yang satu berlawanan dengan definisi yang lain. Sebagian orang menganggap akan mendapat kebahagiaan jika memiliki uang yang berlebih. Dengan uang semua bisa diraihnya. Rumah, mobil, tempat-tempat rekreasi dan hiburan bahkan kekuasaan dan kehormatan pun bisa dibeli. Tetapi menurut sebagian orang yang lain, uang sama sekali tidak memberikan kebahagiaan. Rumah bisa dibeli dengan uang, tetapi kehangatan, kasih sayang dan keharmonisan rumah tangga tidak bisa dibeli, money can buy house, but can't buy home. Semua orang yang berduit dapat membeli sex, memuaskan hawa nafsunya. Tetapi siapa yang bisa membeli cinta yang tulus dari seorang istri atau suami ? Money can buy sex, but can't buy love. Menjadi orang yang berlebih harta terkadang juga tidak bisa tidur nyenyak. Ada orang yang selalu takut, mengapa Tuhan memberi kemudahan dalam mencari harta, sampai-sampai saat duduk santai di rumah pun ada saja rejeki yang datang. Jangan-jangan ada sesuatu yang harus saya kerjakan dengan harta itu. Kalau tidak, kemurkaan Tuhan akan menimpa diri dan keluarganya. Tapi ia belum tahu apa yang dimaui Tuhan. Apalagi harta yang dimilikinya hasil dari korupsi atau kejahatan. Hidupnya selalu dikejar-kejar ketakutan dan rasa was-was. Ada hansip nagih uang keamanan saja takutnya setengah mati. Money can buy bed, but can't buy sleep. Bagaimana mencapai bahagia ? Masing-masing mempunyai rumus sendiri-sendiri juga. Bagi orang yang percaya bahwa uang bisa membahagiakan, berpedoman untuk mencapai bahagia maka carilah uang sebanyak-banyaknya. Filosof mengatakan, kebahagiaan itu terletak dalam diri masing-masing orang, bukan pada semua yang ada diluarnya. Carilah kebahagiaan itu di dalam diri, karena tidak akan pernah ketemu di luarnya. Ustad menasehati, untuk mencari bahagia terus-menerus dekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Karena kebahagiaan paling hakiki adalah jika kita dekat dengan-Nya. Ada juga yang iseng mengatakan, bahagia itu akan didapat jika kita bisa berfoya-foya di masa muda, kaya-raya saat tua dan jika mati masuk surga. Ini rumus yang seenaknya sendiri. Nah, pagi ini saya membaca di Kompas yang mengulas khusus "Hari Asuransi Indonesia" yang jatuh pada tanggal 18 Oktober kemarin. Menariknya, ada rumus bahagianya, bahagia (b) dapat dicapai dengan mengikuti asuransi (a) apa saja, menyelesaikan premi (p1) yang sesuai dengan perencanaan (p2). b = ap2
Tentu teman-teman (boleh) punya rumus sendiri mencapai kebahagiaan. Bagaimana rumus kebahagiaan menurut teman-teman ?
 Saya bersyukur Allah menciptakan rasa kangen. Rasa yang membuat hubungan antar sesama insan menjadi indah. Rasa yang memberi warna hidup saling membutuhkan, menghargai, menyayangi dan mencintai. Menghilangkan kebecian dan kedengkian. Memenjarakan kejahatan. Suatu saat Azif, anak saya, bertanya pada pengasuhnya, "Mbak, ini Jum'at malam ya ?" padahal hari itu masih hari Selasa. "Memang kenapa Dik" tanya pengasuhnya. "Kalau Jum'at malam kan Ayah pulang." Mendengar cerita itu saya senang sekaligus sedih. Senangnya karena Azif masih mengharapkan saya datang padanya. Saya masih dibutuhkannya. Sedihnya karena tidak setiap hari saya bisa berjumpa dengannya. Tidak bisa selalu hadir saat ia membutuhkan saya. Saya dan anak saya saling membutuhkan, menyayangi dan mencintai. Ia sangat berharga bagi saya. Begitu pula sebaliknya, saya sangat berharga baginya. Karena itu, jika kami saling berjauhan, ada rasa kangen diantara kami. Komunitas MP ini juga memberi saya rasa kangen. Setiap hari, sebisa mungkin, saya selalu ingin "berjumpa" dan saling berkomunikasi dengan teman-teman semua. Sehari saja tidak membuka jurnal teman-teman rasanya tidak enak. Apakah saya kecanduan ? Hehehe nggak apalah kalau memang demikian. Semoga saja tidak menyebabkan hal yang tidak baik. Ditarik ke hubungan vertikal kepada Sang Pencipta. Adakah pada kita rasa kangen ? Rasa yang menyebabkan selalu ingin berjumpa dengan-Nya. Rasa yang memunculkan gairah untuk mengabdi kepada-Nya. Selalu berusaha berjalan dan beringkah laku sesuai dengan kehendak-Nya. Mengharap ridlo-Nya tanpa mempedulikan Surga dan Neraka. Atau puja puji. Ada atau tidak, yang pasti Ia sangat sayang pada kita. Sudah begitu banyak anugrah yang diberikan-Nya. Tak terhitung nikmat-Nya yang tercurah setiap waktu kepada kita. Tak terkira jumlah rejeki-Nya yang sampai pada kita. Tak habis-habisnya Ia memberi ilmu pengetahuan kepada kita. Sampai jika semua pohon menjadi pena dan air laut jadi tintanya, takkan cukup untuk menuliskannya. Karena ingin kita tidak bodoh dan terpuruk. Kembali, saya beryukur. Allah memberi rasa kangen pada saya dan Azif. Rasa yang membuat ia, setiap Jum'at malam, berlari dan memeluk saya dengan erat sambil berteriak, "Ayah pulaaaaaaaang." Gambar pinjam dari A Painting A Day of Eco Art
Saya punya pengalaman yang kurang menyenangkan dengan tukang semir sepatu. Ceritanya, sehari sebelum puasa, saya sholat dzuhur di masjid deket Pemkot Surabaya. Sepatu, saya taruh di depan teras, seperti orang-orang kebanyakan.
Pas selesai sholat, sepatu saya tidak ada di tempatnya. Sempat berpikiran jelek, sepatu saya dicuri orang. Saya bingung sekali, sebentar lagi mau presentasi. Kalau benar-benar hilang, bagaimana mencari penggantinya dengan cepat. Tidak mungkin kan presentasi tanpa memakai sepatu ?
Saya masih berusaha mencari di sekeliling. Hati semakin lama semakin berdebar, takut kalau benar-benar hilang. Sampailah saya di depan tukang semir sepatu. Saya lihat satu persatu sepatu di depannya. Ternyata, salah satu diantaranya adalah sepatuku.
Penginnya mendamprat tukang semir itu, "saya kan tidak meminta untuk disemir, kenapa disemir ?" Atau langsung saja saya ambil sepatuku tanpa memberinya bayaran, salah sendiri kan, saya kan tidak minta disemir.
Tapi semua itu saya urungkan. Kemarin saya sudah janji tidak akan marah-marah selama bulan puasa, syukur kalau bisa terus sampai puasa berikutnya. Meski puasa kurang sehari saya ingin menepati janji itu, itung-itung buat latihan.
Ternyata janji itu ada ujiannya. Baru sehari saya berjanji, ujian sudah datang, padahal belum masuk bulan puasa. Syukurlah saya bisa mengatasinya. "Berapa Pak ?" tanya saya. "Dua ribu" jawab tukang itu. Akhir saya bisa presentasi dengan memakai sepatu.
Sebenarnya saya tidak mengenal Ayahanda Rizal, saya baru melihat beliau minggu kemarin (19 Sept) ketika sudah terbaring di rumah sakit. Ada kesan yang baik saat kami menjenguknya, para penjenguk banyak sekali, satu ruangan yang berisi 6 pasien dipenuhi kerabat, tetangga dan keluarga Rizal. Padahal saat itu yang sakit hanya beliau seorang. Oh ya, Rizal itu teman kantor saya, satu divisi dengan saya. Beberapa hari ia tidak masuk karena menunggui ayahandanya. Sebenarnya ayahandanya harus masuk kamar ICU, tapi keluarga meminta dipindah ke kamar biasa saja agar keluarga dan kerabat bisa leluasa menjenguk dan mendoakan, toh dokter sudah angkat tangan. Kalau di ruang ICU tidak bisa sembarang orang bisa masuk, dan jumlahnya terbatas. Dalam kesedihan, saya melihat kebahagiaan yang sangat di ruang itu. Tidak ada hal yang paling membahagiakan ketika kita sakit selain banyaknya teman dan kerabat yang datang menjenguk dan mendoakan kesembuhan kita. Dan tidak akan banyak yang menjenguk kita kecuali kita termasuk orang yang baik. Kami tidak melihat Beliau merasa tersiksa dalam sakitnya, seperti tidur pulas saja, hanya sesekali bernafas panjang dan menggigau. Keluarga, secara bergantian, membisikkan "Allah...Allah...Allah..." ke telinga Beliau. Sesekali ada yang membisikkan "Sudah, keluarga semua sudah ikhlas..." Waktu itu saya berdoa, "Ya Allah, kalau memang Engkau berikan kesembuhan padanya, segerakanlah. Dan jika memang sudah waktunya Beliau menghadap-Mu, segerakanlah pula" Beberapa hari setelah kami datang, tepatnya hari Jum'at, 21 September, Beliau menghadap Sang Khalik. Waktu Dwi SMS mengabarkannya, saya dalam bus, perjalanan pulang ke Ponorogo. Subhanallah, kepergian beliaupun di hari yang baik dan pada bulan yang terbaik. Siapa yang tidak ingin berakhir dengan baik begitu ? (*maaf teman-teman, tulisannya melompat-lompat dan kurang rapi, lain waktu diperbaiki*)
Sebentar lagi Ramadhan tiba. Alhamdulillah banyak yang mengingatkan saya untuk bersiap-siap menyongsongnya. Ada teman yang menanyakan apa target di bulan puasa besok ? Wah apa ya....
Beberapa waktu yang lalu saya membaca artikel yang sangat menarik di GusMus.net, "Cinta Tuhan, Cinta Sesama". Ada cerita sufi yang sangat menyentuh hati saya. Ternyata Tuhan sangat mencintai hambanya yang mencintai hambanya yang lain. Cinta Tuhan dapat dicapai dengan cinta sesama, malah mempunyai derajat yang lebih tinggi dibanding cinta untuk-Nya. Inilah ceritanya
Suatu malam, Abu Ben Adhim terbangun dari mimpinya yang indah. Dan ia lihat, di ruangan dalam cahaya terang rembulan, yang gemerlap ceria seperti bunga lili yang sedang merekah, seorang malaikat menulis pada kitab emas.
Ketenteraman jiwa membuatnya berani berkata kepada sang Sosok di kamarnya, "Apa yang sedang kamu tulis?" Bayangan terang itu mengangkat kepalanya dan dengan pandangan yang lembut dan manis ia berkata, "Nama-nama mereka yang mencintai Tuhan."
"Adakah namaku di situ?" kata Abu. "Tidak. Tidak ada," jawab malaikat. Abu berkata dengan suara lebih rendah, tapi tetap ceria, "Kalau begitu aku bermohon, tuliskan aku sebagai orang yang mencintai sesama manusia."
Malaikat menulis dan menghilang. Pada malam berikutnya ia datang lagi dengan cahaya yang menyilaukan dan memperlihatkan nama-nama yang diberkati cinta Tuhan. Aduhai! Nama Abu Ben Adhim diatas semua nama.
Mencintai sesama, ingin sekali saya menjadikannya sebagai target untuk bisa saya laksanakan di bulan Ramadhan mendatang. Banyak sekali perilaku saya, di waktu-waktu lalu, yang kurang pas untuk disebut mencintai sesama. Masih banyak orang yang tidak enak, tersinggung dan marah karena perilaku saya. Saya ingin itu semua bisa saya perbaiki.
Saya salah satu pembaca yang menikmati kisah bos Jawa Pos menjalankan transplantasi livernya. Setiap pagi saya selalu menunggu apa yang diceritakan di korannya. Semoga cerita itu berakhir bahagia. Salah satu yang menarik bagi saya adalah bagaimana dunia kedokteran sudah begitu majunya sehingga saat organ yang ada di tubuh kita ini rusak dapat diganti dengan organ lain yang lebih bagus. Tentu jika kita bisa mengganti biaya untuk melakukan proses itu. Dengan kemampuan ilmu kedokteran nyawa manusia seolah bisa disambung dan diperpanjang. Tentu kita semua sudah tahu, ilmu kedokteran berkembang untuk memperjuangkan kehidupan, dan salah besar jika ada beberapa oknum yang menyelewengkan ilmu itu untuk merenggutnya. Setelah membaca beberapa kali kisah penggantian liver Dahlah Iskan, muncul khayalan saya. Suatu saat seseorang dapat dengan mudah mengganti organ-oragan rusak dalam tubuhnya dengan resiko kematian yang sangat kecil. Kemudian tersiarlah ada orang yang kaya raya berhasil mengganti 90 % organ dalam tubuhnya. Sampai disitu khayalan saya berhenti dan kembali mundur jauh kebelakang, saat saya dilahirkan. Alhamdulillah, Saya lahir dalam kondisi yang lengkap, semua organ penunjang kehidupan ada pada saya, tanpa kurang satu sel pun. Bersamaan dengan perjalanan waktu, saya berkembang, tangan dan kaki saya berkembang, kepala dan isinya berkembang, organ-organ dalam tubuh pun juga berkembang. Tiga puluh satu tahun kemudian, bayi yang dilahirkan ibu saya menjadi saya saat ini. Nah seandainya, orang yang kaya raya itu saya. Dengan sebagian besar organ penunjang hidup saya diganti milik orang lain, saya bisa melanjutkan hidup sampai 30 atau bahkan 60 tahun lagi. Lalu siapa saya saat itu ?
 | Turut berduka atas terjadinya tragedi Desa Alas Tlogo, Lekok, Pasuruan
|
Tragedi kembali terjadi Warga lawan senjata api Meski kami berlari Akhirnya ada yang mati
Entah negeri apakah ini Aparat yang seharusnya mengayomi Berjuang demi keamanan negeri Malah membikin kami seperti dihantui
Sudah butakah hati tuan Menganggap kami seperti bebatuan Tak punya jiwa hingga harus disingkirkan Diinjak dan tidak dipikirkan
Tidak tahukah tuan Hidup kami sudah susah Kenapa ditambah resah Perkara tanah, darah kami tumpah

Bagi orang yang berkelebihan, sebaiknya memberi pada orang yang kekurangan.
Berkelebihan itu jangan diukur dari diri kita sendiri. Manusia itu tidak pernah merasa cukup, kalau merasa cupuk pun sulit, bagaimana bisa merasa berkelebihan. Ini yang sering menjadi penghalang bagi kita untuk memberi orang lain.
Berkelebihan itu diukur dari apa yang kita punya dibandingkan dengan yang dipunyai orang lain. Ketika kita punya segelas air dan disamping kita ada orang yang tidak punya, berarti kita berkelebihan dibanding orang itu. Wajib bagi kita untuk memberinya air meski sama-sama haus. Tentu tidak semuanya.
(Khotib Jum'at)
 Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mendapat informasi tentang sebagian masyarakat di Ponorogo yang kekurangan yodium. Kabarnya kekurangan zat itu mengakibatkan masyarakat di situ menderita cacat. Cacat yang paling ringan adalah gondok sedangkan yang paling parah menderita cacat ganda, fisik dan mental. Saat itu saya tidak percaya dengan informasi itu. Semasa SMP dan SMA saya punya hobi kelayapan ke rumah teman-teman. Hampir seluruh daerah di Ponorogo pernah saya datangi. Tetapi saya tidak menjumpai keadaan seperti itu. Setelah setua ini saya baru mengetahui kebenaran informasi itu. Wajah saya seperti tertampar ketika membaca di Majalah Tempo. Dalam liputannya, Tempo mengulas Dukuh Sidowayah, daerah terpencil di Kecamatan Jambon. Banyak penduduk di dukuh itu yang mengalami cacat fisik, bertubuh pendek dan terkena gondok. Ada beberapa orang yang terkenya gondok. Lebih parahnya, tidak cuma menderita cacat fisik tetapi juga mengalami keterbelakangan mental (idiot), orang Ponorogo biasa menyebut "mendo". Kemudian saya mencoba mencari tambahan informasi di internet tentang "masyarakat mendo" itu. Ada beberapa media yang telah mengulasnya. Saya semakin merasa berdosa ketika mengetahui bahwa penderitaan penduduk Sidowayah juga disebabkan karena kemiskinan dan terisolasinya mereka dari akses informasi. Bukankah tidak akan masuk surga mereka yang kenyang sementara tetangganya menangis kelaparan ? Memang belum diketahui secara pasti mengapa cacat fisik dan mental dialami mereka. Dukuh Sidowayah termasuk dearah yang tandus dan kering. Struktur tanahnya miskin kandungan yodium. Secara medis, kekurangan yodium dalam tubuh mengakibatkan perkembangan jaringan tubuhnya terhambat. Janin dalam kandungan yang kekurangan yodium kemungkinan besar terlahir cacat. Kondisi itu diperparah oleh ketidakmampuan secara ekonomi. Sebagian besar masyarakat di Sidowayah adalah petani. Tetapi lahan pertaniannya tidak bisa diandalkan karena tandus, mereka hanya bisa memanen padi satu kali setahun, itupun kalau curah hujannya cukup. Ini yang menyebabkan mereka tidak cukup mendapat asupan gizi, sehari-hari mereka hanya memamakan "thiwul" dan dedaunan. Hati ini semakin teriris membaca penuturan Katir, salah seorang warga Dukuh Sidowayah, "Entah kutukan apa yang menimpa kami? Sejak dulu hingga kini, kok keturunan kami tumbuh tidak sempurna". Katir mempunyai 7 orang anak, 4 diantaranya cacat, ada yang tunarungu, tunawicara, cacat fisik (gondok dan bertubuh pendek), serta mengalami keterbelakangan mental alias idiot. Katir sendiri bertubuh pendek dan kakinya melengkung serta menderita gondok sejak SD. Ya Allah, Tuhan seru sekalian alamSaya yakin, seyakin-yakinnyaHidup itu tidak berhenti di sini sajaJika mereka menderita di siniSaya yakin mereka akan mendapat derajat tinggi kelakJuga bagi mereka yang peduliYang dalam kelapangannya ingat saudaranya yang menderita
Gambar dari : Liputan 6
Ironi sekitar Peraturan Pemerintah Nomer 37 Tahun 2006 dan perjalanan demokrasi di Indonesia. Dalam struktur pemerintahan yang demokratis, rakyat adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Rakyatlah yang sebenarnya memegang kendali pemerintahan. Dalam konsep demokrasi yang ideal, rakyat yang langsung mengontrol jalannya pemerintahan, melakukan koreksi terhadap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Karena konsep ideal tersebut tidak mungkink dilaksanakan, maka di Indonesia dibentuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai perwujudan kekuasaan rakyat tersebut. DPR adalah wakil rakyat yang meneruskan suara dan aspirasi rakyat kepada pemerintah. Sedangkan pelaksanaan fungsi DPR di kabupaten/kota dilaksanakan oleh DPRD Namun demikian apa yang kita saksikan disekitar kontrofersi Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2006 (PP 37/2006) mengenai Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD yang sedang ramai dibicarakan ? Banyak elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, akademisi dan para tokoh masyarakat, menolak pelaksanaan PP 37/2006. Peraturan ini dinilai kurang memahami kondisi rakyat yang belum mentas dari kondisi krisis, ditambah lagi dengan banyak terjadinya bencana alam di berbagai wilayah Indonesia. Karena mendapat banyak protes akhirnya Pemerintah mencabut peraturan tersebut. Pencabutan itu disampaikan oleh juru bicara kepresidenan Andi Malarangeng bulan Januari kemarin. Penolakan terhadap PP 37/2006 juga disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan yang melakukan review terhadap pelaksanaan peraturan tersebut. Reaksi yang berbeda ditunjukkan oleh wakil rakyat di daerah, Senin pagi (12 Februari 2007) 500 orang delegasi anggota DPRD provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (Adkasi), Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia (Adeksi), serta Badan Kerjasama Pimpinan DPRD Provinsi Seluruh Indonesia (BKPDPSI) datang ke gedung DPR di Senayan, Jakarta. Kedatangan delegasi tersebut bertujuan untuk menuntut pemerintah melaksanaan PP 37/2006 secara konsisten tanpa takut pada tekanan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), akademisi dan elemen masyarakat yang lain. Tidak hanya menyampaikan tuntutan, mereka juga akan menempuh jalur hukum jika tuntutan tersebut tidak dilaksanakan pemerintah. Menurut mereka pencabutan harus melalui penerbitan PP yang baru atau atas dasar putusan MA melalui upaya judicial review. Sangat ironi, DPR yang seharusnya menyuarakan aspirasi rakyat justru memberikan suara berbeda yang bertentangan dengan aspirasi rakyat. Memang tidak semua anggota DPRD menuntuk pelakasanaan PP 37/2006, bahkan ada yang secara tegas menolak dan bersedia mengembalikan uang rapelan yang diterimanya. Tetapi secara institusi, Adkasi, Adeksi dan BKPDPSI melalui perwakilannya masing-masing menuntut pelaksanaannya. Pertanyaan yang muncul kemudian, DPRD itu mewakili siapa ? Rakyat kah ? atau siapa ?
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Salah satu rahasia kehidupan adalah kematian itu sendiri. Tidak ada yang tahu kapan akan mati atau seberapa lama akan hidup. Yang pasti, semua yang bernyawa akan mati. Semua akan mengalami perjalanan hidup, mulai dari dilahirkan, dewasa, tua dan kemudian mati. Inilah perjalanan yang telah digariskan, hidup sesuai dengan kodrat. Hidup menyusuri perjalanan waktu. Tetapi, bagaimana seandainya kita bisa memilih untuk hidup sesuai dengan kodrat atau hidup yang abadi, kita akan memilih yang mana ? ---------------------------- Di suatu sore saya dan istri melihat film "Tuck Everlasting" dari CD yang kami sewa di rental dekat kontrakan kami. Film tersebut diangkat dari sebuah novel karya Natalie Babbitt dengan judul yang sama, menceritakan kisah seorang gadis, Winifred "Winnie" Foster (Alexis Bledel), yang melarikan diri ke hutan karena kehidupan yang menyesakkan dan penuh aturan di rumahnya. Karena terlalu jauh masuk ke hutan Winnie tersesat. Tidak disengaja ia bertemu dengan Jesse (Jonathan Jackson), anak bungsu dari keluarga Tuck yang tinggal jauh di pedalaman hutan. Pertemuan itu diketahui oleh kakak Jesse, Miles (Scott Bairstow). Kemudian Miles membawa Winnie ke rumahnya. Miles sangat marah karena Jesse berhubungan dengan orang asing karena dianggap membahayakan keluarga Tuck. Winnie diperlakukan dengan sangat baik oleh keluarga Tuck. Bahkan Mae (Sissy Spacek), ibu Jesse dan Miles, merasa sangat senang karena ada perempuan lain di rumahnya. Angus (William Hurt) kepala keluarga Tuck juga menunjukkan sikap yang baik.  Setelah beberapa hari berada di keluarga Tuck, terjalin hubungan asmara antara Jesse dan Winnie. Hingga di suatu malam Jesse mengatakan sebuah rahasia keluarga yang disimpan ratusan tahun. Sebenarnya Jesse saat itu berusia 104 tahun. Seluruh keluarga Tuck ditambah satu kudanya hidup abadi, tidak bisa mati. Ini disebabkan karena mereka meminum air dari mata air tepat di bawah pohon dimana dulu Jesse dan Winnie pertama kali bertemu. Karena itulah seluruh keluarga Tuck mengasingkan diri. Mereka takut kalau semua orang tahu rahasia itu sehingga akan terjadi kekacauan karena semua orang akan menginginkannya. Tidak ada seorangpun yang tahu kecuali keluarga Tuck dan menantunya, istri Miles yang saat ini dirawat di rumah sakit jiwa di kota. Seluruh keluarga Tuck mengetahui hubungan Jesse dan Winnie. Akhirnya Angus mengajak Winnie ke tengah danau. Diatas perahu, Angus menceritakan kisah keluarga dan mata air abadi itu. Angus menceritakan semuanya karena kawatir kejadian Ann berulang. Ann tidak pecaya akan rahasia itu, bahkan menuduh keluarga Tuck menjalankan ajaran setan. Ann meninggalkan keluarga Tuck dan sekarang menjadi gila. Angus tidak ingin Winnie menjadi seperti Ann. Tetapi Angus tidak bisa memaksa untuk meminum atau tidak air itu, semua terserah pada Winnie. "Semua orang menginginkan hidup abadi, sebenarnya yang lebih penting bukan seberapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita hidup" kata Angus kepada Winnie. "Jangan takut mati, takutlah akan kehampaan hidup" lanjut Angus. Tanpa diketahui Angus dan Winnie, seorang misterius berbaju kuning (Ben Kingsley) melihat mereka berdua. Orang misterius ini sudah sejak lama berkelana mencari keluarga Tuck untuk memiliki rahasia keabadian itu. Ia mendengar dari Ann yang berteriak-teriak menyebutkannya. Dengan cerdik, orang misterius itu melaporkan apa yang dilihatnya kepada keluarga Winnie yang sudah kawatir kehilangan putri satu-satunya. Ia bercerita bohong. Winnie berada di tangan penculik yang berbahaya dan jahat, sewaktu-waktu bisa melakukan apa saja terhadap Winnie. Keluarga Winnie meminta bantuannya. Ia menyanggupi tetapi dengan syarat hak kepemilikan hutan yang dimiliki keluarga Winnie di serahkan padanya. Dengan terpaksa permintaan tersebut disetujui. Dibantu polisi dan anjing pelacak, keluarga Winnie menyusur hutan ke tempat yang ditunjukkan orang misterius berbaju kuning tersebut. Keluarga Tuck sudah menduga keberadaannya diketahui oleh seseorang. Karena itu, mereka berencana pindah ke tempat yang lain dan mengantarkan Winnie pulang. Sesaat sebelum berangkat datanglah orang yang misterius itu. Orang tersebut meminta rahasia abadi itu dengan menyandera Winnie. Ia ingin menguasainya untuk dirinya dan untuk orang yang meninginkannya, tentu dengan sejumlah imbalan yang besar. Di tengah ketegangan itu, Mae mengendap-endap dan berhasil memukul kepala orang misterius itu dengan balok kayu. Orang itu roboh dan tewas. Tak seberapa lama rombongan keluarga Winnie dan polisi tiba di tempat itu. Angus dan Mae ditangkan, sementara Miles dan Jesse berhasil meloloskan diri. Angus dan Mae dimasukkan ke penjara. Mae mendapat hukuman mati karena melakukan pembunuhan. Sebelum hukuman mati dilaksanakan, pada suatu malam, Miles, Jesse dan Winnie berhasil mengeluarkan Angus dan Mae dari penjara. Mereka tidak ingin hukuman mati dilaksanakan karena Mae tidak bisa mati, semua orang akan mengetahui rahasia abadi itu dan kekacauanpun akan terjadi. Setelah berhasil mengeluarkan Mae dan Angus, keluarga Tuck berpisah dengan Winnie. Sebelum berpisah, Jesse meminta Winnie untuk meminum air abadi itu ketika suasana sudah aman. Suatu saat nanti Jesse akan menjemputnya.  Setelah berpuluh-puluh tahun berlalu, Jesse kembali untuk menjemput Winnie, tetapi yang dicarinya tidak ditemukan. Semua sudah berubah, kecuali Jesse dan keluarganya karena bagi mereka waktu itu tetap tidak bergerak. Kemudian Jesse pergi ke hutan tempat mata air abadi berada. Kembali Jesse tidak menemukan apa yang dicarinya. Mata air sudah hilang. Di atas bekas mata air itu ada sebuah makam, di nisannya tertulis Winifred Foster, tanggal dan tahun meninggalnya. Ternyata Winnie memilih untuk hidup sesuai kodrat, hidup menyusuri jalan waktu. ---------------------------- Bagi saya dan istri, film ini sangat bagus sekali. Sebenarnya kami tidak terlalu suka dengan setting filmnya, setting abad ke-19. Begitu juga bagi penggemar film action, jangan berharap ada adegan-adagan action yang menarik karena memang tidak ada. Kami tertarik dengan filosofi hidup dan kehidupan yang menjadi inti cerita film ini. "Yang terpenting bukan seberapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita menjalaninya. Jangan takut akan kematian, takutlah akan kehampaan hidup". 
 Segala sesuatu itu ada waktunya. Tidak selamanya bisa berjalan normal dan terus-menerus dipakai. Suatu saat kemampuan akan berkurang, daya tahan melemah dan kerja tidak maksimal. Saat itu perlu ada perbaikan kembali, waktunya menghimpun tenaga dan penggantian bagian-bagian yang rusak. Sepeda motor yang biasa saya gunakan terasa tidak nyaman, berat dan jalannya kurang sempurnya, akselerasi berkurang. Saya memutuskan untuk membawa ke bengkel untuk di reparasi. Memang menurut hitungan waktu sepeda itu sudah waktunya di reparasi dan olie harus diganti. Dan ternyata, rantai kampradnya sudah aus, waktunya diganti yang baru, maklum sudah tujuh tahun lebih berputar. Alhamdulillan setelah di reparasi, sepeda motor kembali nyaman dipakai, tarikannya kembali normal dan mesinnya halus. Sampai di rumah, saya ingat harus mengirim SMS kepada teman. Eh ternyata baterainya hampir habis, tinggal satu strip. Segera saya mengisinya kembali. Pernah suatu saat saya lupa membawa charger sehingga tidak bisa mengisi ulang bateri dalam waktu yang lama dan setelah berhasil meminjam charger, baterei sudah tidak bisa terisi kembali. Kata teman di servis HP, baterei jenis ini tidak boleh kosong, kalau sudah terlanjur kosong harus di treatmen khusus agar bisa diisi kembali. Terkadang saya merasa badan ini lemah sekali, bawaannya malas terus. Otak sulit sekali diajak berfikir, selalu mentok menabrak dinding. Hati pun terasa tidak tenang, gamang, seperti kapal yang terombang-ambing badai di laut. Apakah badan perlu di reparasi atau di-charge juga ? Mungkin iya, saya mencobanya. Dalam kondisi seperti itu saya beristirahat, mengembalikan tenaga melemaskan otot-otot yang tegang. Kalau sudah parah, saat badan terasa sakit semua, saya pergi ke Mas Ridwan, tukang pijat langganan saya. Untuk otak ternyata tidak bisa beristirahat, artinya tidak bisa berhenti berfikir sama-sekali. Apa boleh buat, digunakan mikir yang ringan-ringan saja, membaca koran, majalah atau buku dengan tema yang ringan, bisa juga membaca novel, atau bermain dengan anak. Untuk mengembalikan kondisi hati agar tenang, saya mengikuti anjuran ustad dan khotib, berdzikir, mengingat Allah. Dengan berdzikir, hati bisa kembali tenang. Alhamdulillah, setelah semua saya lakukan, kondisi kembali normal, ada semangat untuk bekerja kembali. Tapi kok masih malas balik ke Surabaya ya...enakan bermain dengan anak di Malang...Lha terus yang cari uang agar dapur bisa mengepul siapa ??? hehehehe... Gambar diambil dari Kompas.
 Bunga ini untukmu. Bawalah harumnya pergi menghadap-Nya. Kumohon bawalah, hanya ini yang bisa kuberikan, tanda terima kasihku padamu. Iya. Aku tahu kau tak butuh semuanya, kau tak butuh harumnya karena kau sendiri adalah harum itu. Kau juga tidak butuh terima kasih karena hanya rela yang kaupunya. Bunga ini hanyalah tanda. Bawalah harumnya karena hanya harum yang akan abadi, bunga sendiri akan layu dan mati. Sama seperti dirimu. Jasatmu memang layu, rapuh terpanggang dan kelam terendam. Tapi harummu abadi. Terus terkenang sepanjang pagi. Pertanda bagi kami yang lalai mengurus bumi. Serakah menguras isi dan lupa menyirami. Jika kau bertemu dengan-Nya, sampaikan sembah sujudku. Sampaikan pula permohonan ampunku. Tidak. Tidak yang lain. Hanya ampunan yang aku harapkan. Iya. Kaupun hanya menyampaikan saja, terserah pada-Nya berkenan atau tidak menerimanya. Bunga ini untukmu, bawalah harumnya karena hanya harumnya yang abadi, bunga sendiri akan layu dan mati.
Orang yang berjasa untuk terciptanya suasana yang memungkinkan setiap
manusia berkembang menjalankan tugas kehidupannya, itulah Pahlawan.
 Tanggal 10 November mempunyai sejarah tersendiri bagi bangsa Indonesia, lebih khusus lagi bagi masyarakat Surabaya. Lebih dari setengah abad yang lalu, sejarah mencatat terjadinya perlawanan dari rakyat Surabaya (yang lebih dikenal dengan sebutan Arek Surabaya) dengan senjata seadanya melawan tentara Sekutu yang bersenjata lebih modern. Pertempuran yang tidak seimbang itu mengakibatkan banyak Arek Surabaya yang gugur, menjadi Pahlawan. Saya tidak tahu persis siapa yang memenangkan pertempuran itu, Arek Surabaya atau tentara Sekutu. Saya hanya tahu dari informasi yang disampaikan guru sejarah saya waktu SMA dulu bahwa Arek Surabaya berhasil menjadikan tentara sekutu kalang kabut hingga Sang Jendral (Mallaby) tewas dalam pertempuran itu. Arek Surabaya juga berhasil merobek warna biru dari bendera Belanda sehingga hanya tersisa warna merah dan putihnya dan mengibarkannya kembali di tiang menara Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit).
Karena peristiwa itu, tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan dan Surabaya disebut sebagai Kota Pahlawan. Di pusat pertempuran itu juga dibangun Tugu Pahlawan sebagai tugu peringatan.
Pahlawan. Siapa sebenarnya pahlawan itu ? Orang yang berjasa, benar. Berjasa untuk apa ? Merebut kemerdekaan dan mempertahankannya, menjadikan bangsa kita menjadi bangsa yang terhormat sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia, menegakkan keadilan dan menciptakan kemakmuran, menjadikan dan mengupayakan kecerdasan bangsa, menjaga moral dan martabat bangsa, mengentaskan bangsa dari kemiskinan (bukan memberantas kemiskinan lho). Saya kira semuanya benar. Orang yang berjasa untuk terciptanya suasana yang memungkinkan setiap manusia berkembang menjalankan tugas kehidupannya, itulah Pahlawan.
Manusia yang hidup tertindas dialam penjajahan (manusia yang tidak merdeka), manusia yang bodoh, manusia yang tidak bermoral dan manusia yang hidup dalam kemiskinan tentu tidak bisa berkembang, tidak bisa menjalankan tugas kehidupannya. Atau paling tidak, mereka tidak bisa memaksimalkan potensi yang diberikan kepadanya untuk tugas kehidupannya. Seorang yang disebut Pahlawan berjasa untuk menghilangkan semua hambatan itu.
Siapa yang memberi gelar Pahlawan kepada seseorang ? Tentu bukan orang itu sendiri, tapi masyarakatlah yang memberikan pengakuannya. Semakin banyak masyarakat yang mengakui jasanya semakin tinggi pula kualitas kepahlawanannya.
Ada dua contoh menarik yang bisa kita renungkan di Hari Pahlawan ini.
Pertama, Muhammad Yunus, peraih nobel perdamaian 2006, seorang berkewarganegaraan Bangladesh. Keluarganya termasuk orang kaya sehingga Dia berkesempatan mengenyam pendidikan sampai memperoleh gelar Ph.D. Hidup berkecukupan dan jenjang pendidikan yang tinggi itu tidak membuatnya tercerabut dan melepaskan diri dari kondisi lingkungannya yang saat itu sedang terjadi bencana kelaparan. Kegelisahan melihat sesama warga yang menderita menggerakkan hatinya untuk ikut terjun membantu menyelesaikan bencana itu. Dia percaya, sebenarnya rayat miskin mempunyai kemampuan bertahan hidup yang tinggi, terbukti sampai saat ini dengan banyak keterbatasanpun mereka masih dapat bertahan. Jika mereka diberi kesempatan dan kemudahan akses pasti mereka dapat memperbaiki hidupnya. Dengan keyakinannya itu, didirikanlah Grameen Bank yang memberikan pinjaman kepada sesama warga yang miskin tanpa jaminan apapun. Dengan model pinjaman itu, banyak rakyat miskin terbantu dan berhasil keluar dari jurang kemiskinan.
Yang kedua. George W Bush, presiden AS saat ini. Dia mempunyai keyakinan yang kuat bahwa usaha-usaha yang dilakukannya saat ini adalah untuk menciptakan perdamaian dunia. Negara-negara yang dianggap mempunyai potensi membuat dunia menjadi kacau ditentangnya, bahkan sering kali penekanan-penekanan baik melalui jalur diplomatik maupun jalur militer dilakukannya. Banyak negara-negara yang sudah menjadi target operasinya. Beberapa contoh saja, Afganistan menjadi sasaran penyerbuan pasukan-pasukannya (dibantu sekutunya) karena dianggap sarang teroris yang membahayakan. Irak, karena isu senjata pemusnah masal, negara itu diluluh lantakkan. Iran, karena mempunyai riset nuklir juga dianggap berpotensi merusak perdamaian dunia sehingga dikecam dan dimusuhinya. Mungkin Indonesia bisa menjadi target operasi berikutnya, tinggal bilang saja ada sarang teroris yang berbahaya di Indonesia.Sekarang terserah Anda sekalian, siapa yang bisa dianggap Pahlawan dan siapa yang Pecundang.
 Seperti biasa pada lebaran ini saya dan keluarga mudik, pulang ke kampung halaman saya dan juga kampungnya istri. Kebetulan kami berasal dari daerah yang sama, jadi tidak terlalu sulit mengatur waktu kunjungan. Kebanyakan orang Indonesia juga melakukan hal yang sama, mudik menjadi tradisi yang khas masyarakat Indonesia yang mungkin tidak ditemui di negara-negara lain. Memang ada yang mempunyai tradisi mudik seperti itu tetapi tidak sebesar dan sefenomena seperti di Indonesia. Ada rasa bahagia, senang, gembira ketika bertemu kedua orang tua, kakak, adik, kemenakan dan saudara-saudara lainnya, termasuk teman-teman semasa kecil. Maklum, sudah setahun tidak bertemu, bahkan ada teman yang sudah tidak bertemu bertahun-tahun baru bertemu dan ngobrol lebaran kemarin. Suasana keakraban sangan terasa sekali. Kata ibu saya, lebaran menjadi momen yang sangat membahagiakan karena kembali menjadi ibu yang sebenarnya. Tapi ada sesuatu yang menggelisahkan hati saya tentang fenomeda mudik dan nasib kampung yang tidak banyak berubah. Selain segi positif dari mudik yang sudah saya sampaikan di awal tulisan ini, ada beberapa dampak negatif yang timbul karena tradisi mudik. Yang pasti terlihat adalah banyaknya kendaraan yang melintas di jalan khususnya di jalur mudik dalam waktu yang hampir bersamaan. Selain menimbulkan kemacetan yang luar biasa juga menambah jumlah kecelakaan laulintas, apalagi sekarang banyak pemudik yang menggunakan sepeda motor. Dari DKI Jakarta saja diperkirakan ada 1 juta pemudik yang menggunakan transportasi darat dan 300 - 400 ribu pemudik yang menggunakan sepeda motor. Seluruh Indonesia jumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor diperkirakan mencapai 3 jutaan. Pihak kepolisian mencatat jumlah kasus kecelakaan lalu-lintas meningkat dibanding tahun lalu. Selama arus mudik dan arus balik lebaran tahun ini terjadi 54 peristiwa kecelakaan lalu-lintas yang mengakibatkan 21 orang meninggal dunia, 44 orang luka berat dan 54 luka ringan. Secara sosial, pergerakan puluhan juta pemudik menimbulkan banyak kasus kriminal, apalagi di pusat-pusat keramaian seperti terminal, stasiun dan pusat-pusat perbelanjaan. Kasus pencurian dan perampokan juga sering terjadi di rumah-rumah yang kosong ditinggal mudik pemiliknya. Secara ekonomipun, fenomeda mudik ini menimbulkan inefisiensi. Milyaran bahkan triliunan rupiah habis untuk biaya konsumsi jangka pendek yang tidak banyak berpengaruh pada perkembangan ekonomi secara makro. Mungkin akan berbeda jika uang sebesar itu digunakan untuk investasi yang produktif. Memang tidak bisa kita hanya menyalahkan pemudik saja. Setiap manusia menginginkan kehidupan yang lebih layak yang lebih menjamin masa depannya. Saat ini keinginan tersebut belum bisa dipenuhi oleh kampung-kampung pemudik, kesempatan kerja lebih banyak berada di kota-kota besar. Kesenjangan ekonomi antara kampung dan kota masih besar. Daerah perkotaan yang di dominasi oleh kegiatan ekonomi modern (industri pengolahan, perdagangan, komunikasi, dan jasa keuangan) mengalami pertumbuhan yang jauh lebih cepat dibandingkan kampung yang didominasi oleh kegiatan ekonomi tradisional. Kondisi ini disebabkan karena kebijakan ekonomi yang tidak berpihak pada ekonomi tradisional khususnya bidang pertanian, sektor yang dominan di kampung. Pertanian tidak bisa berkembang mengikuti perkembangan ekonomi modern. Bekerja di sektor pertanian dianggap bukan profesi yang membanggakan sehingga banyak yang tidak berminat terjun di sektor pertanian. Di sebuah survey tentang pertanian mengungkapkan bahwa pekerja sektor ini kebanyakan berusia tua bahkan ada yang sudah lanjut usia. Memang benar pendapat beberapa orang ahli, pemerataan ekonomi akan mengurangi urbanisasi, mengurangi pergerakan orang dari kampung ke kota sehingga mengurangi arus mudik dan balik pada saat lebaran yang akhirnya menekan dampak-dampak negatifnya. Mungkinkah pemerataan bisa tercapai ? Kenapa tidak, sumber daya manusia yang handal di kota-kota kan banyak yang berasal dari kampung. Tinggal membangun komitmen dari sisi manusianya dibarengi usaha pemerintah untuk membangun infrastruktur dan menciptaakan peluang-peluang kerja di kampung. Referensi : Ekonomi Mudik (Republika Online 21/10/06)21 Tewas di Jalur Mudik Pantura Jawa Barat
(Tempointeraktif.com 30/10/06)Gambar dari: Otokir Plus
 Tadi malam saya bersama istri berbuka puasa di luar. Anak saya sudah mudik duluan, dijemput neneknya kemarin, tanggung mau masak sendiri. Beberapa kali kami berembuk untuk menentukan menu makanan, dan beberapa kali juga kami mlongo karena warung tutup atau sedang ramai. Baiklah, kami memutuskan untuk jalan saja dulu, menu makanan kita pilih sambil jalan. Sampailah kami di depan sebuah warung. Sudah lama kami tidak makan di warung itu, akhirnya kami berhenti dan makan di warung itu. Sambil makan kami ngobrol. "Memang sudah menjadi rezeki warung ini. Pemberi Rezekilah yang membawa kita sampai di warung ini" kataku. Ya itulah misteri rezeki. Rezeki sudah ada yang menentukan. Manusia hanya berusaha, mencarinya sekuat tenaga, tapi yang menetapkan ya Sang Pemberi Rezeki sendiri. Suatu saat untuk menghidupi keluarganya, Bibi saya ingin mendirikan warung klontong. Suaminya meninggal beberapa bulan sebelumnya. Ada rasa kawatir di benak Bibi saya. Sudah banyak warung klontong yang berdiri satu jalan dengan rumahnya, malah ada yang sudah terkenal dan besar. Tapi Bibi saya tetap jualan, selain tidak punya keahlian lain, Bibi saya sudah tua, jadi tidak kuat bekerja terlalu berat. Mulanya memang sepi, setelah beberapa bulan mulai ada yang membeli, satu dua orang. Dan sekarang, Bibi saya sudah punya pelanggan. Apakah warung-warung lama berkurang ramainya ? Ternyata tidak, mereka punya pelanggan sendiri-sendiri. Rezeki memang sudah ada yang mengatur. Kalau rezeki itu sudah ada yang mengatur, mengapa kita masih diwajibkan untuk berusaha mencarinya ? AA Gym pernah mengatakan, ada rezeki yang diberikan Allah tanpa harus mencarinya, sudah tersedia melimpah di alam, tinggal mengambilnya saja. Udara yang kita hirup dan panas matahari contohnya. Di beberapa tempat, air bersih juga rezeki yang melimpah. Ada juga rezeki yang kita dapatkan setelah kita berusaha mencarinya, jika tidak berusaha mencarinya, rezeki itu tidak akan kita dapatkan. Lalu, ada orang yang sudah berusaha mati-matian mencari rezeki tetapi tidak didapatkannya atau hanya mendapatkannya sedikit, nah untuk apa berusaha ? Sayangnya, dunia ini tidak disusun berdasarkan konsep hitam dan putih, tetapi tersusun berdasarkan konsep probabilistik. Banyak ketidakpastian yang terjadi di dunia ini. Kita belajar dengan sungguh-sungguh karena besok akan ujian. Apakah dengan belajar sungguh-sungguh itu, kita pasti bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan besok dengan benar ? Tidak bukan. Belajar itu memperbesar kemungkinan kita bisa mengerjakan soal ujian dengan benar. Katakanlah, dengan belajar sungguh-sungguh, 99% kita bisa mengerjakan soal ujian itu dengan benar. Begitu juga misalnya kita berdagang di pasar. Kita berjalan mengelilingi pasar dan berteriak-teriak menawarkan barang dagangan kita. Tentu, usaha itu akan memperbesar kemungkinan dagangan kita habis terjual. Bandingkan jika kita berdiam diri di rumah, siapa yang mau beli dagangan kita ? Mungkin ada, tapi kecil sekali kemungkinannya bukan ?. Nah....terakhir saya ingin berbagi cerita dari keluarga Ali bin Abi Tholib dan Fatimah binti Rosulullah yang patut kita tauladani tentang bagaimana mereka menyikapi rezeki yang diberikan Allah kepada mereka. ---------------------------------------- Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang asar. Fatimah binti Rasulullah menyabut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar.
Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun."Fatimah menyahut sambil tersenyum, "Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta'ala."
"Terima kasih," jawab Ali. Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan salat berjama'ah. Sepulang dari sembahyang, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. "Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?" Áli menjawab heran. "Ya betul. Ada apa, Tuan?''
Orang tua itu merogoh kantungnya seraya menjawab, "Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya."Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari.Ali pun bergegas berangkat ke pasar.
Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, "Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan."
Tanpa pikir panjang lebar, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya.Fatimah, masih dalam senyum, berkata, "Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan menutup pintu surga buat kita."
----------------------------------------
Catatan kopdar MPers Jawa Timur di Panti Asuhan Sunan Giri Malang Ungkapan bahagia saya sampaikan berkaitan dengan acara buka puasa bersama hari Minggu (08/10/06) di panti asuhan Sunan Giri kemarin. Teman-teman yang ikut dalam kegiatan tersebut juga mengungkapkan hal yang sama. Intinya, kami merasa senang dan bahagia berbagi dengan teman-teman di panti asuhan. Sebuah pengalaman yang mungkin tidak akan terlupakan selama hidup. Membuat mereka tertawa, melupakan sejenak kesedihan dan kepenatan hidup yang selalu mereka hadapi sehari-hari meninggalkan goresan dalam benak kami semua.
Pengalaman yang sama pasti juga dialami teman-teman ketika ikut andil dalam kegiatan-kegiatan sosial, membantu saudara-saudara yang mengalami kesusahan untuk sedikit mengurangi beban hidup yang dipikulnya sehari-hari. Inilah menurut saya yang disebut kebahagiaan sejati, kebahagiaan saat kita berarti bagi orang lain. Mengapa sesuatu yang kecil menjadikan luapan emosi kebahagiaan yang begitu dasyat ? Sebuah percobaan dilakukan oleh Martin Seligman (penggagas psikologi positif) kepada mahasiswa yang diasuhnya. Sebagian mahasiswa diberikan uang untuk dibelanjakan sesuai dengan keinginannya, sebagian yang lain diikutkan dalam kegiatan-kegiatan sosial. Dalam waktu yang telah ditentukannya, dilakukan pengujian terhadap kedua kelompok mahasiswa tersebut mengenai kepuasan hidupnya. Dan hasilnya sangat mengejutkannya.
"Saya menemukan sesuatu yang mengejutkan; bahwa pengejaran terhadap kesenangan tampaknya tidak banyak menyumbang bagi kepuasan hidup, Namun keterlibatan dalam kegiatan hidup dan menemukan arti dalam hidup sangat banyak menyumbang bagi tercapainya kepuasan". Dalam teori tingkat kebutuhan manusia (Hierarchy of Needs) yang diperkenalkan oleh Maslow, tingkat teratas kebutuhan manusia adalah kebutuhan untuk dapat mengaktualisasikan diri. Pada akhirnya, setelah manusia tercukupi kebutuhan fisiknya (Physiological/biological needs), sudah merasa aman dalam lingkungannya (Safety), mempunyai keluarga dan komunitas yang baik (Love/belonging) dan menjadi manusia yang diperhitungkan dalam keluarga dan komunitasnya (Status/esteem), manusia membutuhkan pemaknaan hidupnya (Actualization). Dalam hubungan bermasyarakat, manusia butuh untuk menjadi bagian dan memberikan kontribusi yang berarti untuk menciptakan kehidupan yang baik. Dalam hubungannya dengan Penciptanya (terkait dengan agama dan etika moral), manusia butuh pengakuan bahwa segala yang dilakukannya mempunyai nilai yang baik dihadapan Penciptanya atau paling tidak memberikan citra yang baik sebagai manusia yang beretika dan bermoral. Namun demikian, apa yang kami rasakan kemarin memberikan pemahaman yang sedikit berbeda, bahwa untuk mencapai tingkatan teratas teori kebutuhannya Maslow tidak harus sesuai dengan tahapan seperti kalau kita naik tangga. Tetapi, setiap anak tangga memberikan kemungkinan kita mencapai kebutuhan teratas. Untuk berbagi dengan orang lain, mensedekahkan sebagian harta kita kepada orang lain yang membutuhkan tidak perlu menunggu kita menjadi kaya, sedikitpun asal iklas pasti akan bermanfaat bagi orang lain dan berefek positif bagi jiwa kita. Untuk berbagi-bagi ilmu tidak harus menunggu kita menjadi orang yang paling pandai, apa yang kita ketahui meskipun sedikit sudah cukup untuk kita bagi-bagikan kepada orang lain. Mungkin inilah yang dimaksudkan bahwa kita tidak akan kehilangan harta/ilmu yang kita sedekahkan, malah akan dilipatgandakan besarnya. Tentu pelipatgandaan itu bisa dalam bentuk yang sama berupa datangnya rejeki dari tempat yang tidak kita sangka-sangka atau berupa perasaan bahagia yang tidak ternilai harganya, atau bangkitnya suatu bangsa dari keterpurukan. Meminjam ungkapan Ustad Yusuf Mansur "bangsa ini akan bangkit dari keterpurukan jika kita bisa saling berbagi".
| |