imam's posts with tag: sosial
 | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Emha Ainun Najib |
Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yaitu ngelu-elu yang berarti mengatakan sesuatu tetapi mengharapkan efek yang berlawanan. Misalnya ketika seorang ibu mengatakan kepada anaknya: "Kono, dolano terus, rausah mulih", sana main terus jangan pulang sekalian, ibu itu bukan berarti menyuruh beneran agar anaknya tidak pulang, tetapi mengharap sebaliknya, anaknya tidak melulu main.
Membaca "Kagum Pada Orang Indonesia", buku kumpulan tulisan Emha Ainun Najib di Suara Merdeka antara tahun 2003 sampai 2007 dan satu transkrip ceramahnya di berbagai tempat, terasa bahwa Cak Nun sedang ngelu-elu kita sebagai orang Indonesia. Dalam buku ini, ia banyak memuji sikap dan perilaku orang Indonesia, entah sebagai rakyat, pemimpin atau sebagai komunitas berbangsa.
Misalnya, ketika Indonesia dipandang masyarakat dunia sebagai negara miskin karena krisis yang berkepanjangan tetapi perilakunya tidak menunjukkan kekrisisannya, ia menulis: Para pakar dunia di bidang ilmu sosial, ilmu ekonomi, politik dan kebudayaan, sudah terbukti terjebak dalam mempersepsikan apa yang sesungguhnya terjadi pada bangsa kita. Penduduk seluruh dunia membayangkan Indonesia adalah kampung-kampung setengah hutan yang kumuh, banyak orang terduduk di tepi jalan karena busung lapar, mayat-mayat bergeletakan, perampok di sana sini, orang berbunuhan kareba berbagai sebab. Negeri yang penuh duka dan kegelapan.
Padahal di muka bumi tak ada orang yang bersukaria melebihi orang Indonesia. Tak ada orang berjoget siang malam melebihi bangsa Indonesia. Tak ada masyarakat berpesta, tertawa-tawa, ngeses baass buuss baass buuss, jagongan, kenduri, serta segala macam bentuk kehangatan hidup melebihi masyarakat kita....(hal 14)
Tentang jagongan itu, ia benar, sudah sering saya lihat di warung-warung kopi, banyak orang nongkrong disitu, anak-anak muda sampai orang tua berkumpul ngopi bareng. Kalau tidak percaya, coba sekali-sekali berkunjung ke kampung saya, pasti pemandangan seperti itu mudah didapat. Malah sekarang, warung kopi di emperan-emperan toko menjamur dan tidak pernah sepi pengunjung.
Siapa bilang Indonesia itu krisis, "tentang berita krisis negara kita itu hanyalah sebagai ungkapan kerendahan hati", katanya. Kalau kita bilang "Negara kita sedang krisis", itu semacam tawadhu' sosial, suatu sikap yang menghindarkan diri dari sikap sombong. Kalau pemerintah kita terus berhutang trilyunan dolar, itu strategi agar kita disangka miskin. Itu taktik agar dunia meremehkan kita. Karena kita punya prinsip religius bahwa semakin kita direndahkan oleh manusia, semakin tinggi derajat kita di hadapan Allah. Semakin kita diperhinakan oleh manusia di bumi, semakin mulia posisi kita di langit... (hal 15)
Mungkin Cak Nun sudah geregetan, seperti ibu yang geregetan pada anaknya yang sukanya main terus, dengan cara apa lagi mengingatkan orang-orang Indonesia. Ia sudah ngomong berbusa-busa di berbagai tempat, ada pengajian padang bulan, ada kenduri cinta dan lain-lain, tetapi tidak ada hasilnya. Sebelumnya, Mochtar Lubis sudah mengingatkan kita dengan mengidentifikasi lebih dari sepuluh sifat orang Indonesia yang kebanyakan bernada negatif. Taufik Ismail pada 1998 yang lalu juga menyindir kita dengan menulis sebuah puisi yang berjudul "Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia". Dengan ngelu-ngelu, kagum pada orang Indonesia, Cak Nun berharap orang Indonesia menjadi sadar.
Memang, terkadang kita perlu diolok-olok, dihina dan direndahkan, agar kita bangkit. Kalau olok-olok dan hinaan itu terasa menyakitkan, sebenarnya ngelu-elu itu lebih menyakitkan lagi. Boleh kita sakit hati, menggerutu atau sedih, tetapi apababila tidak merubah sikap kita, selamanya akan seperti itu.
Detail Buku : Judul : Kagum Pada Orang Indonesia Penerbit : Progres Cetakan Pertama, Januari 2008 Tebal : 56 halaman Harga : Saya belinya Rp 10.000,- 
 Sore, 10 Februari 1990, saya melihat ada yang aneh dengan langit di sebelah timur. Matahari di barat masih tinggi, tetapi warna langit sebelah timur sudah gelap. Awalnya saya mengira itu gejala biasa aja, pertanda akan turun hujan. Awan gelap lama kelamaan bergerak semakin mendekat. Sudah mulai banyak debu putih yang berjatuhan. Malam harinya, debu putih turun seperti hujan. Pagi harinya saya baru tahu Gunung Kelud meletus. Beberapa minggu terakhir ini, aktifitas Gunung Kelud menunjukkan gejala-gejala akan meletus. Dilihat dari 3 letusan sebelumnya, tahun 1951, 1966, dan 1990, Gunung Kelut termasuk gunung berapi dengan perionde waktu letusan yang singkat, antara 10 sampai 25 tahun. Rentang waktu dari letusan yang terakhir sampai sekarang sudah 17 tahun, berarti sudah masuk periode letusan. Hasil pemantauan Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) juga menunjukkan tanda-tanda Gunung Kelud siap meletus. Danau kawah di puncak Gunung Kelud mengalami perubahan warna. Suhu air danau meningkat, pada kedalaman 15 meter suhunya mencapai 37 derajat celcius. Suhu normal pada kedalaman tersebut 33 derajat celcius. Dapur magma berada pada kedalaman 4,2 km di bawah danau kawah, padahal pada kondisi normal kedalamannya antara 5 sampai 10 km. Meski belum bisa dipastikan kapan terjadi letusan, sangat perlu untuk mempersiapkan upaya-upaya penanganan jika sewaktu-waktu Gunung Kelud benar-benar meletus. Pak Amien Widodo, Ketua Pusat Studi Bencana Alam LPPM ITS menghimbau agar masyarakat di sekitar Gunung Kelud bisa memberdayakan diri sendiri dan saling membantu untuk upaya penyelamatan saat terjadi krisis. Pak Amien berpendapat, upaya peberdayaan masyarakat lokal lebih efektif mencegah jatuhnya banyak korban saat bencana alam terjadi. Karena, masyarakat lokal lebih mengenal karakteristik wilayahnya sendiri dan mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi dengan wilayah bencana. Mereka juga mempunyai kemampuan yang bisa dipergunakan meskipun dalam keadaan darurat. Pemberdayaan masyarakat sangat tepat untuk diterapkan di Indonesia mengingat hampir seluruh wilayah Indonesia rawan terjadi bencana abaik karena pergerakan lempeng bumi maupun aktifitas gunung berapi. Pemberdayaan ini dapat meningkatkan kemampuan masyarakat menghadapi bencana yang sewaktu-waktu datang. Tujuan akhirnya adalah agar kemampuan masyarakat tersebut menjadi budaya dan kearifan lokal yang tanggap terhadap bencana. Kita semua berharap tidak ada lagi korban yang berjatuhan, atau paling tidak bisa menekan sekecil mungkin korban akibat ketidaktahuan dan ketidaksiapan menghadapi bencana. Kita juga mempunyai kewajiban untuk lebih peduli dan saling membantu saudara-saudara kita. Hari ini mereka, tapi mungkin suatu saat kita sendiri yang mengalaminya. Tautan terkait aktifitas Gunung Kelut :
Himbauan Pak Amien Untuk Masyarakat Di Sekitar Gunung Kelut. Bencana tsunami Aceh, gempa di Yogya dan Jawa Tengah, tsunami Pangandaran, meletusnya Gunung Merapi, gempa di Bengkulu-Padang dan bencana-bencana lain di Indonesia mestinya memberi pelajaran sangat penting untuk bangsa kita bagaimana menangani bencana dan bagaimana memulihkan keadaan setelah bencana. Kenyataanya hampir semua dampak bencana yang ditimbulkan selama ini masih menyisakan derita dan trauma bagi masyarakat yang terpapar.
Tim Vulkanologi : Mungkin Sudah Saatnya Gunung Kelud Meletus. Selama 7 hari terakhir, warna air di danau kawah menunjukan perubahan sebagai tanda-tanda Gunung Kelud meletus. Selain itu, hasil pengukuran deformasi dengan metode Laveling juga menujukan posisi tanah yang telah mengalami penurunan mencapai 20 centimeeter.
25 Paranormal Gelar Ritual di Danau Kawah Gunung Kelud. Aktivitas Gunung Kelud yang terus meningkat membuat khawatir. Tak kurang dari 25 paranormal yang berada di sekitar Gunung Kelud, Kamis (20/9/2007) menggelar ritual di sekitar danau kawah untuk meminta agar bencana letusan gunung api tidak terjadi.
 Terbentuknya sebuah negara yang bernama Indonesia tidak terlepas dari peran komunitas-komunitas penggeraknya. Lahirnya Boedi Oetomo berawal dari sekelompok pemuda pelajar yang melihat kenyataan bahwa bangsa Indonesia masih dilingkupi kebodohan sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang terindas dan tidak mempunyai kekuatan menentukan nasibnya sendiri. Sebagai golongan terpelajar, mereka merasa mempunyai tanggung jawab melepaskan bangsanya dari keterpurukan itu. Sebagai alat perjuangannya mereka mendirikan Boedi Oetomo, wadah untuk mrefleksikan sikap kritis dan keresahan intelektualnya. Misi utama Boedi Oetomo adalah menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan dan mendorong semangat rakyat melalui penerangan-penerangan pendidikan yang mereka berikan. Pergerakan Boedi Oetomo melahirkan kesadaran kebangsaan rakyat Indonesia terutama di kalangan pemuda pelajar dan mahasiswa. Terbentuklah banyak kelompok-kelompok studi kebangsaan dan organisasi-organisasi pemuda. Pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1928 diadakan Kongres Pemuda II. Pada penutupan kongres tersebut diucapkan janji setia pada persatuan bangsa yang dikenal dengan Sumpah Pemuda. Yang tidak kalah pentingnya adalah perjuangan para mahasiswa Angkatan'98 yang berhasil melahirkan reformasi di Indonesia. Pergerakan mahasiswa di kampus-kampus dengan kelompok studinya masing-masing menimbulkan kesadaran untuk berubah. Muncullah demonstrasi-demonstrasi mahasiswa di pusat maupun di daerah. Puncaknya pada pendudukan gedung DPR/MPR yang memaksa Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya. Tiga episode sejarah Indonesia diatas membuktikan bahwa lahirnya kebangkitan Indonesia berawal dari komunitas-komunitas yang terus-menerus berfikir bagaimana bangsa Indonesia keluar dari masalah yang dihadapinya. Periode 1908, Boedi Oetomo berhasil membangkitkan semangat kebangsaan dan kesadaran untuk merdeka yang sudah hilang dari benak rakyat Indonesia karena terlalu lama terjajah. Periode 1928 berhasil mempersatukan perjuangan pemuda-pemuda Indonesia yang semula masih terpecah-pecah dan bersifat kedaerahan menjadi perjuangan seluruh pemuda Indonesia. Semangat ini kemudian menjadi cikal bakal perjuangan kemerdekaan Indonesia. Angkatan'98 yang lahir dari keadaan krisis ekonomi dan pengelolaan negara yang tidak baik. Keadaan sulit pada waktu itu memberi semangat mereka untuk mengadakan perlawanan. Pergerakan Angkatan'98 berhasil menggelindingkan bola salju sehingga para tokoh-tokoh nasional satu persatu ikut bergabung dan mendukung cita-citanya. Saat ini, banyak masalah yang dihadapi bangsa Indonesia. Kemiskinan, kualitas pendidikan yang rendah, masalah lingkungan, bencana alam, TKI, disintegrasi, ancaman pencaplokan dari negara lain dan masih banyak lagi daftar masalah yang harus diselesaikan bangsa Indonesia. Di sisi yang lain, perkembangan teknologi internet melahirkan banyak komunitas-komunitas yang umumnya berasal dari kalangan masyarakat terdidik dan mampu secara inteltual. Banyak miling list terbentuk dengan beratus-ratus atau bahkan ribuan tema diskusi. Terakhir, muncul blog sebagai wadah ekspresi diri dan mencurahkan segala ide dan gagasan. Yang menarik para bloger membentuk komunitas yang bermula dari keinginan untuk kopi darat (kopdar) antar mereka. Kopi darat lama-kelamaan menjadi kegiatan rutin para bloger. Kemudian Kopdar yang awalnya hanya bertemu biasa, lama kelamaan menggagas sebuah aktifitas. Akhirnya, aktifitas tersebut berkembang menjadi aktifitas sosial yang banyak bermanfaat bagi masyarakat. Baksos Ramadhan MPers 2007 salah satunya. Kegiatan ini dirancang untuk berbagai dengan kaum dhuafa termasuk menyantuni adik-adik di Rumah Cahaya Penjaringan (RCP) yang sudah rutin dilakukan 2 kali setahun. Kegiatan baksos ini antara lain berkunjung ke panti jompo dan panti asuhan, kegiatan dengan anak yatim piatu dan anak jalanan serta Sahur Ont The Road. Sesuai dengan kegiatannya, tema baksos MPers adalah "Jangan Menyerah Karena Kemiskinan".  Kegiatan komunitas bloger Indonesia yang juga menarik adalah "Pesta Bloger 2007" yang rencananya akan dihadiri Menkominfo. Kegiatan ini dilandasi kesadaran para bloger bahwa blog sudah menjadi alternatif untuk bersuara. Banyak jurnal-jurnal yang ditulis bloger menjadi perhatian banyak pihak yang terkait untuk menanggapi atau bahkan memperkarakannya di pengadilan. Tjuan pesta ini adalah untuk menciptakan iklim ngeblog yang positif di Indonesia. Sudah selayaknya kita berharap pada para bloger dan komunitasnya untuk menjadi penggerak lahirnya Kebangkitan Indonesia Baru yang dapat mensejahterkan seluruh rakyat Indonesia. Semoga harapan ini dapat terwujud.
 Ya, benar, saya pernah menjadi pemulung dalam arti yang sebenarnya. Memungut barang-barang tak terpakai dan menjualnya ke pengepul. Tentu, dari situ saya mendapat imbalan sejumlah uang, tergantung jenis dan banyaknya barang yang bisa saya kumpulkan. Menjadi pemulung saya jalani ketika duduk di kelas 5 Sekolah Dasar. Awalnya dari ketidak sengajaan. Saat membantu Ibu membersihkan dan beres-beres rumah, ada banyak kaleng bekas susu yang berhasil saya kumpulkan. Nah, kaleng-kaleng itu saya jual ke pengepul yang tidak jauh dari rumah saya. Hasilnya lumayan untuk menambah uang saku. Karena hasilnya cukup, bahkan berlebih, saya berfikir, kenapa saya tidak mencari barang yang lain di sekitar rumah atau di tempat lainnya. Mulailah saya beraksi dengan alat sebuah karung beras milik Bapak. Pertama berputar-putar di sekeliling rumah, lama-lama sampai jauh ke pinggir desa. Uang hasil penjualan saya kumpulkan. Saya tidak ingat berapa perolehan saya waktu itu. Yang saya ingat, dari hasil menjual barang bekas itu, saya bisa pergi bertamasya dengan teman-teman ke rumah nenek. Saya bangga sekali bisa berpergian beramai-ramai dengan teman dengan uang jerih payah sendiri. Setelah beberapa hari menjadi pemulung, saya dipanggil Bapak. Saya diminta berhenti. Awalnya saya menolak, tetapi akhirnya setuju setelah diancam tidak diberi uang saku. Bapak tidak tahan omongan tetangga yang mengolok-olok Beliau, "Guru kok anaknya jadi pemulung." Maklumlah di desa tekanan sosial itu lebih hebat dari tekanan fisik. Orang desa bisa stres dan bunuh diri jika dikucilkan oleh lingkungan masyarakatnya. Ada tetangga saya yang stres dan dirundung malu berbulan-bulan sehingga menyebabkan ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Ia malu karena waktu pesta pernikahan anaknya yang pertama, hidangan yang disediakan kurang. Ada satu blok tamu tidak kebagian hidangan. Padahal sudah dilakukan perhitungan yang matang sebelum acara. Macam-macamlah omongan tetangga, ada yang menduga karena sabotase, ada yang mengira karena tukang masaknya yang kurang. Bahkan muncul fitnah, sengaja hidangan diirit agar tuan rumah mendapat untung yang besar dari buwuhan (sumbangan) undangan yang datang. Memang gunjingan orang di desa itu lebih kejam dibanding omongan orang di kota. Hidup di desa itu hubungan kekeluargaannya masih sangat erat. Ada tidak enaknya, tapi banyak sekali enaknya. Kalau kita sedang kesusahan banyak orang yang membantu. Tapi syaratnya harus pandai-pandai bergaul dan mengambil hati tetangga-tetangga. Harus bisa tahan juga dengan omongan-omongan yang negatif tentang kita, biarkan saja dan buktikan dengan tindakan bahwa omongan itu tidak benar. Kalau terlalu dimasukkan ke hati jadinya seperti tetangga saya yang satu itu. Memang gampang-gampang susah bergaul di masyarakat desa. Karena tekanan yang semacam itulah, Bapak memaksa saya berhenti menjadi pemulung. Setelah lebih dari 20 tahun dan setalah saya punya anak, istri saya sering mengumpulkan kaleng bekas susu dan sesekali ada orang yang datang membeli kaleng-kaleng itu. Saya sangat mendukungnya, bahkan tidak hanya kaleng, ada koran bekas, mainan anak saya yang sudah rusah, pokoknya semua yang bisa ditukar dengan uang kami kumpulkan. Lumayan untuk tambahan uang belanja. | Pesan : kalau akan membuang atau menjual kembali, kaleng atau kemasan bekas lebih baik dirusak dulu untuk menghindari pemalsuan produk. | |
Tadi pagi saya kagum sekaligus terharu pada warga korban lumpur di Sidoarjo karena bersedia mengembalikan kelebihan pembayaran ganti rugi lahan miliknya. Di saat-saat yang sulit ternyata mereka masih mempunyai hati nurani, tidak menggunakan yang bukan hak mereka.
Saya mencoba mencari-cari berita tentang pengembalian ini. Ternyata, sebelumnya sudah ada beberapa warga yang melakukan hal serupa. Salah satunya adalah Waras, warga Desa Siring. Uang yang dikembalikan terbilang besar Rp 429,4 juta.
Setelah Waras kemudian menyusul Lestari dan Yayuk, keduanya warga Perum TAS. Lestari mengembalikan Rp 32 juta, sedangkan Yayuk sebesar Rp 25,2 juta.
Sikap yang ditunjukkan korban lumpur Sidoarjo seolah membuktikan gurauan yang sering saya dengar, sebenarnya korupsi itu dilakukan bukan oleh orang-orang yang kekurangan, tetapi oleh orang-orang yang bergelimang harta.Gambar pinjam dari Antara
Minggu kemarin anak saya merengek minta dipanggilkan becak goyang (ibu saya menyebutnya odong-odong), itu lho becak yang ada sepeda motor mainan yang bisa naik turun. Cara penghitungan biayanya unik, satu lagu (lagu anak-anak) dihargai seribu rupiah.
Saya kaget, ternyata pengemudinya adalah Pak Sarni. Dulu, semasa SD, Ia berjualan mainan di depan sekolah. Mainan-mainan dagangannya dibuat sendiri dengan barang bekas seperti kardus dan kaleng bekas. Tidak banyak pembelinya karena tersaingi mainan-mainan toko dari plastik.
Sejak lulus SD sampai saya kuliah, tidak pernah lagi bertemu dengannya. Kabarnya Ia tidak lagi menjual mainan, tapi makanan kecil yang juga hasil buatannya sendiri. Ibu bilang, Pak Sarni selalu berganti-ganti dagangan, waktu anak-anak sedang gandrung dengan cilok (bakso kecil-kecil), Ia pun membuat dan menjualnya.
Setahun yang lalu, saya bertemu dengannya. Ia menjadi tukang becak. Saat itu, becak masih menjadi kendaraan baru di kampungku. Jumlah becak yang beroperasi bisa dihitung dengan jari tangan, termasuk becak Pak Sarni. Kata Ibu, Pak Sarni memang kreatif, begitu ada peluang langsung disambutnya.
Terakhir bertemu dengannya ya Minggu kemarin. Usahanya sekarang mengoperasikan becak goyang. Setiap sore Ia keliling kampung, mendatangi tempat anak-anak berkumpul. Pelangannya banyak juga, termasuk anak saya ketika kami pulang kampung.
Usaha kreatif memanfaatkan peluang tidak seiring dengan perubahan nasib Pak Sarni. Masih saja Ia hidup di bawah garis hidup yang layak. Himpitan ekonomi masih bertahan membelenggunya. Tapi kesulitan itu tidak membuatnya bermuka masam, selalu ceria, bercanda dengan anak-anak pelanggannya.
"Mari Mas, Saya mau ke alun-alun, sudah ada yang menunggu di sana", Pak Sarni berpamitan setelah 3 lagu diputarnya.
Sampai bertemu kembali Pak Sarni. Entah usaha apa lagi yang akan Pak Sarni jalani ketika bertemu nanti, yang penting semoga nasib Bapak cemerlang, seperti cemerlangnya pikiran bapak.
 Waktu SMA saya mempunyai teman yang menurut saya sangat jenius, langganan ranking pertama di kelas. Mata pelajaran matematika, fisika dan kimia dikuasainya dengan baik, jauh diatas rata-rata kemampuan kami. Yang lebih mengagumkan, Ia berasal dari daerah terpencil di sisi selatan kota saya, yang ketika malam harus belajar di pos kamling untuk mendapat penerangan listrik.
Kenyataan itu membuktikan bahwa belum tentu anak kota lebih pintar dibanding anak desa. Jika anak desa diberi kesempatan yang sama untuk belajar dan dimudahkan mengakses informasi, mereka akan mempunyai kemampuan yang sama, bahkan bisa melebihi anak kota. Teman-teman kuliah saya, yang mempunyai kemampuan diatas rata-rata sebagian besar juga berasal dari daerah.
Masih ingat kisah Andrey Sakharoov Awoitauw, pemenang mendali emas Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun 2005 bidang matematika asal Papua ? Saat pertama kali Prof. Yohanes Surya bertemu dengannya, Ia bukanlah anak yang pintar, bahkan Ia kedodoran saat diminta menghitung 1/2 ditambah 1/3, jawabannya 1/5. Tentu jawaban itu bukan level jawaban siswa SLTP di sekolah-sekolah favorit di Jawa.
Tetapi kesempatan untuk belajar bersama Prof. Yohanes Surya merubahnya menjadi anak yang brillian. Ia mengalahkan juara dunia olimpiade matematika dan berhasil mendapatkan medali emas.
Saat ini di seluruh dunia terdapat kurang lebih dua miliar anak dari negara-negara sedang berkembang dan negara miskin tidak mendapatkan pendidikan yang layak, bahkan banyak yang tidak mendapatkan pendidikan sama sekali. Anak-anak itu terjebak dalam pergulatan negara yang berusaha mentas dari keterpurukan ekonomi.
Di negara-negara tersebut, pendidikan bukanlah prioritas yang utama. Dana yang dialokasikan untuk pendidikan sangat kecil, kurang dari $ 20 peranak pertahun. Bandingkan dengan dana yang dialokasikan pemerintah Amerika Serikat untuk pendidikan, $ 7.500 peranak pertahun.
Professor Nicholas Negroponte memandang keadaan ini tidak adil. Lingkaran setan ini harus diputus, setiap anak harus mempunyai kesempatan mendapatkan pendidikan yang sama, sehingga mereka mampu memaksimalkan potensi yang ada.
Tahun 2002, Negroponte memperkenalkan gagasan One Laptop per Child (OLPC), sebuah program komputer jinjing murah bagi anak-anak di negara-negara miskin dan sedang berkembang. Tujuannya, agar mereka mendapat akses yang cukup untuk pendidikan.
Pada awalnya program ini mendapat banyak cemoohan. Boss Intel mengatakan bahwa komputer jinjing seharga $ 100 adalah mainan. Ada juga yang meragukan dari sisi teknis karena spesifikasi hard disk yang kurang. Sebagian yang lain memandang, negara-negara itu lebih membutuhkan sanitasi dan air bersih dibandingkan komputer jinjing.
Namun berbagai cemoohan itu dijawab Negroponte, "Ini adalah proyek pendidikan dan bukan proyek komputer".
Karena keteguhannya dan seiring dengan perubahan waktu, mereka yang dulu mencemooh akhirnya ikut bergabung. Di bulan July yang lalu, Intel siap bergabung bersama Negroponte.
Bisa dibayangkan bagaimana wajah dunia ketika OLPC bisa mewujudkan mimpinya, menjadikan seluruh anak di dunia mendapat pendidikan dan akses informasi yang layak.
Sumber inspirasi : 1. Laptop murah mulai diproduksi 2. Mencetak Juara Gambar dipinjam dari BBCIndonesia
 Manusia ditakdirkan menjadi mahkluk bersosial, artinya manusia mempunyai kebutuhan untuk berhubungan dengan manusia yang lain. Lihat saja mulai lahir sampai mati, manusia tidak bisa hidup sendiri. Manusia mandiri bukan berarti manusia yang terlepas sama sekali dengan manusia yang lainnya. Manusia yang lari dari kebutuhan bersosialisasi, mengurung diri dan tidak mau bergaul menimbulkan efek negatif pada dirinya sendiri bahkan bisa membahayakan orang lain. Dalam perjalanan hidupnya, seorang manusia tidak akan terlepas dari masalah. Agama sendiri mengajarkan bahwa manusia akan selalu mendapatkan ujian. Bukan karena Allah benci, justru ujian itu untuk menguatkan kemanusiaannya. Disini manusia berbeda-beda, ada yang menganggap masalah dan ujian sebagai beban dan meresahkannya, tetapi ada yang menganggapnya sebagai tantangan yang memacunya untuk tetap bersemangat menghadapinya. Ada ungkapan yang sangat indah, "berbagilah ketika menghadapi masalah, niscaya masalah itu akan berkurang dan berbagilah pula ketika mendapat kesenangan, niscaya kesenangan itu akan bertambah". Berbagi menjadi kunci bagi manusia untuk menjalani hidup di dunia ini. Tentu kita semua prihatin dan sedih membaca dan melihat berita pembantaian di Virginia Tech beberapa waktu yang lalu. Kitapun bertanya-tanya, mengapa pelaku dengan santainya melakukan pembantaian itu, bahkan sempat mengirimkan foto dan videonya ke media setempat ? Pelaku terkenal sebagai orang yang tertutup, suka menyendiri dan susah bergaul. Enggan untuk bercakap-cakap dengan temannya. Jika ditanya ia hanya menjawab singkat-singkat saja. Dilihat dari latar belakan keluarganya, memang banyak masalah yang dihadapinya. Keluarganya termasuk sangat miskin di tempat asalnya. Karena itulah mereka merantau ke Amerika untuk memperbaiki taraf hidupnya. Di Amerika, mereka tinggal di pinggiran kota Washington DC dan mempunyai usaha pencucian pakaian. Kondisi keluarga yang jauh berbeda dengan lingkungannya menyebabkan ia merasa tersisih dari komunitasnya. Ia benci pada orang kaya dan pesta pora. Ia menyebut mereka sebagai penipu. Saya sendiri tidak tahu pasti apakah peristiwa itu tidak terjadi jika pelaku adalah orang yang pandai bergaul, punya banyak teman dan bisa berbaur dengan lingkungannya. Tetapi penelitian seorang ahli psikologi membuktikan bahwa amarah dapat diredam jika ada seseorang yang mendampinginya. Beberapa sukarelawan dikumpulkan dalam sebuah ruangan, seorang asisten ditugaskan untuk memarah-marahi mereka dan menunjukkan sikap yang tidak menyenangkan. Para sukarelawan diminta untuk memberi penilaian. Hasilnya sebagian besar sukarelawan memberi penilaian yang buruk. Kemudian asisten yang lain masuk dan memberi penjelasan bahwa temannya tadi sedang mendapat banyak masalah, saat ini ia sedang mengerjakan tugas akhir yang selalu ditolak oleh dosennya. Ternyata penjelasan ini membuat sukarelawan mengerti dan merubah penilaiannya. Sebagai mahkluk sosial manusia membutuhkan teman atau pendamping untuk berbagi dan saling membantu memahami lika-liku kehidupan yang dijalaninya. Manusia tidak bisa hidup dengan sikap anti sosial. Karena itu "Carilah teman yang sebanyak-banyaknya karena seribu teman masih kurang dan jangan cari musuh karena satu musuh pun sudah kebanyakan".
 Beberapa waktu yang lalu saya melihat berita di televisi tentang sekelompok orang yang mendatangi sebuah toko besi di Madura. Sekelompok orang tersebut mendengar kabar bahwa pemilik toko tidak mengijinkan karyawannya melaksanakan sholat jum'at padahal karyawannya adalah laki-laki muslim. Kedatangan mereka untuk meminta penjelasan pemilik toko. Ada dua hal yang menurut saya sangat menarik dari kejadian tersebut. Pertama, sekelompok orang itu melaksanakan tindakannya tidak hanya berdasarkan kabar (laporan) dan prasangka. Sebelum melaksanakan aksinya, salah seorang dari mereka menyamar menjadi karyawan di toko tersebut. Setalah enam hari bekerja, terbukti pemilik toko memang melarang karyawan laki-laki melaksanakan sholat jum'at. Kedua, saya tidak melihat ada kekerasan dalam aksi tersebut. Tidak ada barang yang dirusak, tidak ada kaca yang pecah bahkan tidak ada teriakan-teriakan provokatif yang memancing emosi. Meskipun dalam suasana yang tegang kedua belah pihak (pemilik toko dan kelompok orang yang berakasi), saling berdialog. Mereka menjelaskan kepada pemilik toko bahwa menjalankan sholat jum'at adalah wajib bagi laki-laki muslim. Sedangkan pemilik toko mencoba menjelaskan alasannya. Sebenarnya tidak masalah kalau karyawannya meminta ijin untuk menjalankan sholat jum'at, yang menjadi masalah karyawannya tidak meminta ijin terlebih dahulu kepadanya dan tidak segera kembali bekerja setelah sholat, seringnya mereka kembali ke toko setelah jam dua siang. Dalam kehidupan ini benturan antar kepentingan dan budaya pasti akan terjadi. Apalagi di jaman sekarang ini ketika teknologi informasi berkembang pesat dan transportasi semakin mudah membawa kita kemana saja yang kita inginkan. Yang lebih penting bukan bagaimana menghindari benturan itu terjadi tetapi bagaimana membuat benturan tersebut tidak sampai menimbulkan dampak negatif, kerusakan dan permusuhan. Kalau bisa benturan itu menimbulkan sikap saling pengertian dan saling menghormati. Alhamdulillah, sampai berita tersebut selesai disiarkan tidak terjadi peristiwa yang meresahkan, damai-damai saja. Semoga keduanya saling mengerti, pemilik toko mengerti bahwa ada kewajiban yang harus dilaksanakan oleh laki-laki muslim pada hari jum'at siang dan memberikan keleluasaan bagi mereka untuk melaksanakannya. Karyawannya juga harus mengerti bahwa ada tanggung jawab untuk menjaga toko sehingga tidak menggunakan kesempatan dan kepercayaan itu untuk kepentingannya pribadi. Akhirnya semoga terjadi hubungan yang harmonis yang saling menguntungkan. Pemilik toko dapat terbantu untuk menjalankan usahanya dan karyawanpun tertolong dengan mendapatkan pekerjaan.
 Saya pernah mendengar cerita, entah darimana sumbernya, tentang orang desa yang ingin membeli emas. Suatu hari orang desa, sebut saja Parjan, pergi ke toko emas di kota. Ia ingin membeli emas untuk istrinya. Sesampainya di toko, Parjan melihat-lihat emas yang akan dibelinya. Tetapi penjaga toko membentak dan mengusirnya. Rupanya penjaga toko curiga, Parjan dikira ingin mencuri. Memang pakaian dan tampang Parjan tidak seperti orang yang berduit. Mendapat bentakan itu Parjan tidak marah-marah, Ia malah tersenyum dan perlahan mengeluarkan kantong plastik dari sarung yang diselempangkan di bahunya. Dari kantong plastik itu dikeluarkannya segebok uang yang kalau dihitung dapat ditukar dengan 1 kg emas. Penjaga toko pun terbelalak.... Suatu hari terman saya bercerita, di dekat rumahnya ada seseorang yang kelihatannya tidak waras. Pakaiannya compang-camping dan dekil, rambutnya sebahu dan acak-acakan. Suatu hari teman saya mendekatinya dan mengajaknya ngobrol. Luar biasa, kata teman saya, saat ngobrol tentang Tuhan, orang gila itu bilang "Allah itu satu titik bukan koma"...Wow dalam sekali, kita yang mengaku waras sering sekali berucap "Allah itu satu titik", padahal dalam hati dan perilaku kita bukan titik tapi koma. Masih ada embel-embel di belakangnya. Dan terkadang embel-embel itu panjang sekali. Begitulah, dalam menilai orang sering sekali hanya melihat tampak luarnya saja, dari apa yang dikenakannya, dari tampangnya, dari potongan rambutnya dan sebagainya. Dan sering sekali kita keliru. Pengalaman tidak mengenakkan saya alami minggu kemarin saat menginap di sebuah hotel di Sanur, Bali. Sore hari saya dan teman saya ingin berenang di pantai. Tiba-tiba saya mendengar orang membentak dari belakang. Setelah saya menoleh ternyata ada satpam hotel dengan muka garang membentak dan menunjuk-nunjuk saya dan teman saya. Tidak hanya membentak, ia juga menyuruh kami menjauh dari pantai, karena pantai itu khusus untuk tamu hotel. Wah, sepertinya satpam itu belum tahu, kami juga tamu hotel, meskipun bukan dari biaya sendiri. Setelah kami memberi penjelasan, dengan berbasa-basi satpam itupun meminta maaf... Hehehe...memang tampang kami berdua tidak parlente seperti turis-turis itu....tetapi akan lebih enak kalau bicara dengan baik-baik. Coba kalau yang dibentak itu sakit hati dan menulis surat pembaca di koran, kan merepotkan....
 Bagi orang tua, sangat sulit memahami peristiwa bunuh diri yang dilakukan anak-anak pada tahun-tahun terakhir ini. Melihat dari usianya saja, sudah menimbulkan pertanyaan, bagaimana mereka, yang masih belasan tahun mempunyai pikiran mengakhiri hidupnya secara tragis ? Apalagi melihat penyebab yang melatarbelakanginya, hanya masalah sepele bahkan sangat sepele. Kita buka arsip media tiga tahun terakhir. Tahun 2004, Yudianto (12) siswa SDN 1 Karangtengah, Kecamatan Ampelgading, Pemalang, meninggal bunuh diri di atas ranjang ibunya. Diduga Yudianto nekat bunuh diri karena kecewa mendapatkan nilai jelek untuk pelajaran IPA dan setelah dimarahi ibunya. ( Suara Merdeka, 04 Agustus 2004) Tahun 2005, Eko Haryanto (15) siswa kelas VI SD Kepunduhan 01, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, mencoba bunuh diri di rumahnya gara-gara merasa malu menunggak uang sekolah selama sembilan bulan. Setiap bulannya Eko dikenai biaya sekolah 5 ribu rupiah. Untung nyawanya masih bisa diselamatkan. ( Kompas, 03 Mei 2005) Bulan ini, 16 Desember, Tosan (11), warga RT. 09/04, Dusun Kotakan Utara, Desa Kotakan, Kecamatan Situbondo, ditemukan tetangganya sudah tidak bernyawa di pohon mangga dekat rumahnya. Gara-garanya sangat sepele, hanya karena kehilangan layang-layang dan benangnya. ( tempointeraktif, 16 Desember 2006). Kalau lebih detail mencarinya, masih banyak kasus-kasus serupa di arsip media. Perilaku menyimpang pada anak, seperti kasus bunuh diri, banyak disebabkan karena ketidaksiapan anak menyikapi kondisi lingkungan sekitarnya. Kecewa pada kondisi keluarganya yang miskin, rasa malu karena prestasi yang rendah dan amarah yang tidak terkendali. Penyimpangan yang terjadi bersumber pada ketidakmampuan anak mengelola dan mengendalikan emosinya. Benar, sejak awal, anak-anak harus dibiasakan mengelola dan mengendalikan emosinya agar lebih bijaksanya merespon kondisi lingkungan yang dihadapinya. Lantas, bagaimana mengajarkan anak untuk bisa mengelola dan mengendalikan emosi ? Masa perkembangan anak mulai bayi sampai akhir masa pubertas (16 sampai 18 tahun) merupakan masa yang sangat penting dan menentukan masa depan anak. Karena sangat pentingnya, masa ini biasa disebut sebagai masa emas perkembangan anak. Otak berkembang dengan sangat cepat. Ketika anak baru lahir, otak mempunyai sambungan syaraf yang lebih banyak dibanding masa dewasanya. Melalui proses yang dikenal sebagai "pemangkasan", otak terus menerus menghilangkan sambungan syaraf yang jarang digunakan, dan memperkuat sambungan yang sering digunakan. Otak dapat terbentuk karena pengalaman-pengalaman yang diterimanya. Torsten Nils Wiesel dan David Hunter Hubel, peraih hadiah nobel untuk psikologi medis, membuktikannya. Kedua ilmuan ini melakukan percobaan pada hewan, kucing dan kera. Terdapat masa kritis perkembangan otak pada kedua hewan tersebut yang lamanya beberapa bulan sejak dilahirkan, otak menerima sinyal-sinyal yang dikirimkan oleh indranya. Selama masa kritis ini, salah satu mata ditutup sehingga jumlah sinyal yang dikirimkan ke otak berkurang, sedangkan sinyal dari mata yang terbuka tidak mengalami perubahan. Setelah masa kritis berakhir, penutup mata di buka kembali. Apa yang terjadi ? Mata yang ditutup mengalami kebutaan secara fungsional, tidak ada cacat pada mata itu, hanya sambungan saraf ke otak yang mengalami penyusutan sehingga terlalu sedikit sinyal yang diterima otak. Hal yang sama akan terjadi pada manusia, hanya saja masa kritisnya lebih lama, kurang lebih enam bulan. Seandainya pada masa kritis tersebut, mata anak kecil ditutup selama beberapa minggu saja, akan terjadi penurunan kemampuan melihat pada mata tersebut. Masa kritis untuk perkembangan emosi lebih lama dibandingkan wilayah indranya. Bagian otak tempat pengendalian diri, pemahaman dan respon yang bijaksana terus tumbuh sampai akhir masa pubertas, kurang lebih usia enam belas sampai delapan belas tahun. Kebiasaan mengelola emosi yang berulang-ulang pada masa ini akan memperkuat sambungan syaraf di otak sehingga sinyal yang diterima semakin banyak. Sambungan yang kuat ini akan menjadi permanen ketika anak menjadi dewasa nanti. Orang tua hendaknya memperhatikan masa kritis ini. Kesalahan memberikan perlakuan kepada anak akan membentuk sikap emosi yang salah pada anak ketika dewasa. Tiga perlakuan pada anak yang umunya tidak efisien dan mengganggu perkembangan emosi anak adalah : Mengabaikan perasaan anak. Menganggap emosi anak sebagai hal yang kecil atau gangguan. Respon yang diberikan kepada anak biasanya berupa bentakan, lebih parahnya menjurus kekerasan fisik. Orang tua dengan gaya seperti ini gagal memanfaatkan momentum emosi anak sebagai peluang membangun hubungan yang dekat dengan anak dan melewatkan kesempatan untuk memberikan pelajaran bagi anak trampil secara emosional. Tawar-menawar yang cenderung menyuap. Orang tua ini sudah peka pada emosi anak, tetapi penyelesaian dilakukan dengan tawar-menawar yang cenderung menyuap. Misalnya, anak menangis ingin ikut ayahnya bekerja, ibunya mengiming-iming memberikan sesuatu dengan catatan harus berhenti menangis, tanpa ada penjelasan mengapa anak tidak boleh ikut ayahnya bekerja. Mencela dan menghina. Orang tua semacam ini tidak menghargai perasaan anak. Setiap emosi anak ditanggapi dengan cacian, celaan dan kecaman. Kata-kata "bandel", "bodoh", "tak tahu aturan", sering terlontar pada anaknya. Memang otak manusia terus berkembang selama hidupnya, tetapi akan lebih sulit memberikan pelajaran yang bersifat korektif pada anak ketika mereka sudah dewasa. Anak yang sudah trauma sulit sekali dikembalikan pada kondisi normal . Jadi orang tua harus berhati-hati memberikan pengalaman pada anak di masa kritisnya. Pengalaman yang diterima anak sangat berpengaruh pada masa depannya nanti.
Catatan kopdar MPers Jawa Timur di Panti Asuhan Sunan Giri Malang Ungkapan bahagia saya sampaikan berkaitan dengan acara buka puasa bersama hari Minggu (08/10/06) di panti asuhan Sunan Giri kemarin. Teman-teman yang ikut dalam kegiatan tersebut juga mengungkapkan hal yang sama. Intinya, kami merasa senang dan bahagia berbagi dengan teman-teman di panti asuhan. Sebuah pengalaman yang mungkin tidak akan terlupakan selama hidup. Membuat mereka tertawa, melupakan sejenak kesedihan dan kepenatan hidup yang selalu mereka hadapi sehari-hari meninggalkan goresan dalam benak kami semua.
Pengalaman yang sama pasti juga dialami teman-teman ketika ikut andil dalam kegiatan-kegiatan sosial, membantu saudara-saudara yang mengalami kesusahan untuk sedikit mengurangi beban hidup yang dipikulnya sehari-hari. Inilah menurut saya yang disebut kebahagiaan sejati, kebahagiaan saat kita berarti bagi orang lain. Mengapa sesuatu yang kecil menjadikan luapan emosi kebahagiaan yang begitu dasyat ? Sebuah percobaan dilakukan oleh Martin Seligman (penggagas psikologi positif) kepada mahasiswa yang diasuhnya. Sebagian mahasiswa diberikan uang untuk dibelanjakan sesuai dengan keinginannya, sebagian yang lain diikutkan dalam kegiatan-kegiatan sosial. Dalam waktu yang telah ditentukannya, dilakukan pengujian terhadap kedua kelompok mahasiswa tersebut mengenai kepuasan hidupnya. Dan hasilnya sangat mengejutkannya.
"Saya menemukan sesuatu yang mengejutkan; bahwa pengejaran terhadap kesenangan tampaknya tidak banyak menyumbang bagi kepuasan hidup, Namun keterlibatan dalam kegiatan hidup dan menemukan arti dalam hidup sangat banyak menyumbang bagi tercapainya kepuasan". Dalam teori tingkat kebutuhan manusia (Hierarchy of Needs) yang diperkenalkan oleh Maslow, tingkat teratas kebutuhan manusia adalah kebutuhan untuk dapat mengaktualisasikan diri. Pada akhirnya, setelah manusia tercukupi kebutuhan fisiknya (Physiological/biological needs), sudah merasa aman dalam lingkungannya (Safety), mempunyai keluarga dan komunitas yang baik (Love/belonging) dan menjadi manusia yang diperhitungkan dalam keluarga dan komunitasnya (Status/esteem), manusia membutuhkan pemaknaan hidupnya (Actualization). Dalam hubungan bermasyarakat, manusia butuh untuk menjadi bagian dan memberikan kontribusi yang berarti untuk menciptakan kehidupan yang baik. Dalam hubungannya dengan Penciptanya (terkait dengan agama dan etika moral), manusia butuh pengakuan bahwa segala yang dilakukannya mempunyai nilai yang baik dihadapan Penciptanya atau paling tidak memberikan citra yang baik sebagai manusia yang beretika dan bermoral. Namun demikian, apa yang kami rasakan kemarin memberikan pemahaman yang sedikit berbeda, bahwa untuk mencapai tingkatan teratas teori kebutuhannya Maslow tidak harus sesuai dengan tahapan seperti kalau kita naik tangga. Tetapi, setiap anak tangga memberikan kemungkinan kita mencapai kebutuhan teratas. Untuk berbagi dengan orang lain, mensedekahkan sebagian harta kita kepada orang lain yang membutuhkan tidak perlu menunggu kita menjadi kaya, sedikitpun asal iklas pasti akan bermanfaat bagi orang lain dan berefek positif bagi jiwa kita. Untuk berbagi-bagi ilmu tidak harus menunggu kita menjadi orang yang paling pandai, apa yang kita ketahui meskipun sedikit sudah cukup untuk kita bagi-bagikan kepada orang lain. Mungkin inilah yang dimaksudkan bahwa kita tidak akan kehilangan harta/ilmu yang kita sedekahkan, malah akan dilipatgandakan besarnya. Tentu pelipatgandaan itu bisa dalam bentuk yang sama berupa datangnya rejeki dari tempat yang tidak kita sangka-sangka atau berupa perasaan bahagia yang tidak ternilai harganya, atau bangkitnya suatu bangsa dari keterpurukan. Meminjam ungkapan Ustad Yusuf Mansur "bangsa ini akan bangkit dari keterpurukan jika kita bisa saling berbagi".
| |